
Saat pertama kali menatap layar ponsel Yulian mengembangkan senyum dengan sempurna, memberikan sebuah pesan lewat gambar jika keadaannya baik-baik saja kepada Khadijah yang saat ini bertatapan dengannya.
“Hubby benar-benar baik-baik saja, kan? Tidak terluka atau bagaimana begitu, kan?” tanya Khadijah dengan khawatir yang membuncah dada.
“Neng... tenang saja, Hubby baik-baik saja. Jangan khawatir seperti itu, sekarang sudah lihat bagaimana keadaan Hubby disini. Tuh lihat! Hubby baik-baik saja, kan?”
Untuk membuat Khadijah percaya Yulian memperlihatkan tubuhnya ke full kamera. Dan saat itu juga Khadijah serta anak-anak Yulian percaya jika benar adanya Yulian tidak terkena dampak bom yang meledak dengan amat besar.
“Tapi Neng masih merasa khawatir, apa... Neng kesana saja, Hubby?”
“Neng, jangan bertingkah seperti itu! Disini masih belum benar-benar aman, lebih baik Neng tunggu saja di rumah jika sudah aman baru Hubby akan pulang bersama Tristan, Arumi dan Humaira.” Yulian membujuk rayu Khadijah agar tak melakukan tindakan yang bisa membahayakan jika Khadijah bertekad untuk menyusul ke Beirut.
“Maaf Abi, jika memang keadaan di sana belum bisa dipastikan benar-benar aman... Zuena bisa bantu Abi untuk kembali ke Edinburgh lagi,” potong Zuena dengan nada sopan.
Arjuna, Cahaya, Khadijah, Alex, Ahtar dan juga Hafizha hanya bisa saling pandang dan sesekali membulatkan mata ke atas dengan sempurna, mencoba mencerna ucapan yang dilontarkan Zuena baru saja. Bukan hnya mereka saja yang masih bekerja otak, tetapi juga Yulian, Arumi, Tristan dan Humaira pun juga melakukan hal sama.
“Maksud kamu apa... Zuena?” tanya Yulian memastikan.
‘Mungkin ini memang sudah saatnya mereka tahu siapa aku. Maafkan aku... Adam.’ Zuena bermonolog dalam hati.
Sebelum menjawab pertanyaan Yulian sejenak Zuena menghembuskan napas panjang, mencoba mengatur napasnya agar tidak merasa gugup.
“Saya... akan meminta helikopter milik teman saya untuk menjemput kalian semua. Karena saya... tadi sudah bilang kepada teman saya untuk mengantarkan Bunda dan semuanya kesana kalau memang ingin kesana.” Terang Zuena dengan alasan aliby nya agar tak mencurigakan.
Khadijah yang memang ingin bertemu dengan Yulian seketika mengiyakan saja, lalu diikuti dengan Alex, Arjuna dan Ahtar. Sedangkan Cahaya harus tinggal di rumah menjaga Garda dan Abizzar yang ditemani Hafizha.
Berhubung semua sudah menyetujui usulan Zuena, seketika Zuena meminta pengawalnya untuk menerbangkan helikopter ke atap rumah Yulian. Dan setelah helikopter mendarat semuanya masuk ke dalam, tepat saat itu juga Antar duduk berhadapan dengan Zuena. Membuat keduanya menjadi kikuk, tak berani saling tatap ataupun sekedar tegur sapa.
Saat helikopter mengudara tak ada satupun suara yang menemani mereka, hanya deru helikopter terbang yang mampu terdengar ditelinga.
Setelah hampir satu jam lebih perjalanan akhirnya helikopter mendarat di sekitar area bom meledak. Pagi itu sudah nampak jauh lebih baik suasana di Beirut. Semua korban sudah dilarikan ke rumah sakit, hanya saja di sana Yulian dan Tristan masih ikut mengevakuasi tempat di mana terjadinya ledakan bom berlangsung.
“Hubby,” teriak Khadijah setelah mendapati Yulian di sana.
Seketika Yulian menoleh, menatap pemilik suara yang tengah dirindukan oleh Yulian selama ini. Dan dengan jarak dua kilometer Yulian menangkap wajah Khadijah yang sendu, mata yang sembab sehabis menangis dan masih terlihat diselimuti kesedihan dan rasa khawatir. Meskipun Khadijah memakai cadar, tetapi Yulian sangat hapal bagaimana kesedihan masih dirasakan oleh Khadijah.
Tuk... Tuk... Tuk...
Yulian melangkah pelan, tetapi lama kelamaan langkah itupun ia percepat untuk segera sampai ke tempat di mana Khadijah duduk di atas roda miliknya.
“Neng... kenapa kesini? Bukankah tadi Hubby sudah bilang jangan ke sini. Tapi...” Yulian menggantungkan ucapannya ke udara.
“Karena Neng khawatir sama Hubby, jadi... jangan marah jika Neng melakukan semua ini.” Khadijah menunduk, menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Hati Yulian merasa terhunus belati tajam melihat kesedihan Khadijah karena terlalu mengkhawatirkan dirinya. Dan sebagai seorang suami Yulian tidak mau lagi melihat kesedihan itu, lalu Yulian mengajak Khadijah dan anggota keluarga yang lain untuk pergi dari area itu.
__ADS_1
“Khadijah dan... kalian semua?” ujar Arumi menyambut kedatangan Khadijah bersama yang lain.
“Iya, Arumi. Alhamdulillah, kalian semua disini selamat dan tidak mengalami luka apapun.”
Arumi memberikan pelukan kepada Khadijah, sedangkan Humaira ia menyalami Khadijah dan Zuena, sedangkan terhadap Arjuna, Alex dan Ahtar Humaira hanya menangkup kan kedua tangan mereka.
“Kamu tidak apa-apa kan, nak Humaira?” tanya Khadijah setelah melerai pelukannya.
“Tidak kok, Bunda Khadijah. Alhamdulillah, Humaira baik-baik saja.” Humaira mendekatkan dirinya di hadapan Khadijah ketika Khadijah ingin merengkuh nya dalam pelukan.
“Syukur alhamdulillah ya sayang, Bunda sangat khawatir dengan kondisi kalian semua di sini.”
Humaira tersenyum, terlihat saat matanya menyipit. Lalu Humaira berkata, “Bunda Khadijah tidak perlu merasa khawatir, sekarang bisa lihat sendiri kami semua baik di sini.”
Khadijah mengangguk, lalu mengulas senyum di bibirnya. Berhubung di sana sudah mulai pagi Yulian meminta bantuan tim penyelamat agar menyiapkan beberapa makanan dan minuman seadanya untuk korban yang terluka dan selamat. Begitu juga untuk dirinya beserta keluarganya.
Saat menunggu sarapan pagi tiba Yulian mengobrol dengan Khadijah dan yang lainnya. Dan sesekali Yulian menatap ke arah Zuena yang duduk di samping Humaira. Meskipun Zuena hanya diam saja, tetapi Yulian merasa curiga dengan Zuena setelah mendengar cerita dari Khadijah tadi.
‘Kenapa harus sekarang teleponnya? Benar-benar tidak tepat waktunya,' Zuena mendesah dalam hati.
“Maaf permisi! Saya ijin keluar dulu untuk menerima telepon.”
“Iya, silahkan!” balas semuanya bersamaan.
“Hubby, Neng itu... merasa takut sekali jika kita tidak bisa saling bersama lagi,” bisik Khadijah.
Sejenak Yulian mengulas senyum, lalu diusap nya puncak kepala Khadijah. Setelah itu Yulian mencoba meredakan rasa takut yang sempat menyelimuti hatinya.
“Neng... kenapa harus takut coba. Neng itu harus ingat bahwa kematian itu akan selalu ada. Dan kita sebagai hamba Allah tak akan bisa menghindari yang namanya kematian jika sudah waktunya tiba.”
“Neng, biarpun Hubby nanti akan pergi dan menghadap Allah lebih dulu tak apa. Jangan bersedih dan jangan sampai ada air mata yang berlebih, karena pada dasarnya manusia akan kembali menjadi tanah tanpa kita minta dan tanpa bisa menolaknya.”
Khadijah mengangguk, tanda ia mengerti dengan semua yang diucapkan Yulian. Setelah itu acara sarapan bersama telah digelar di ruangan yang dikhususkan untuk mereka. Bukan berarti mereka spisal, tetapi itu atas dasar Yulian yang sudah ikut membantu menyiapkan donasi bencana bom.
Saat acara sarapan pagi tak ada suara apapun yang berdenting, semua menikmati makanan seadanya itu. Begitu hal nya dengan Zuena, meskipun Zuena tidak tahu bagaimana tata cara islam saat makan, tetapi Zuena menikmati arti diam semua orang.
‘Sebenarnya dalam hati ini masih merasa curiga dengan gadis itu, meskipun terlihat Dia sangat baik tetapi... entah kenapa aku merasa ada yang sedang disembunyikan dibelakang kita semua.’
Sesekali Yulian mengedarkan tatapannya ke arah Zuena, menelisik hal yang masih disembunyikan oleh Zuena darinya. Dan Yulian juga tidak ingin jika nanti Ahtar akan mendapatkan wanita yang tidak baik, dalam arti tidak bisa beribadah kepada Allah dan akan sring menyembunyikan jal sekecil apapun.
“Alhamdulillah,” pekik semua bersamaan.
Secara serempak acara sarapan telah usai, tak lupa mereka mengucapkan hamdalah sebagai tanda rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada mereka.
“Apa rencana kita setelah ini Yulian? Kita tidak mungkin jika akan terus menerus berada di sini. Takutanya... ada bom yang akan mengancam nyawa kita semua lagi.” Tristan memijat keningnya yang merasa berdenyut.
__ADS_1
“Kita akan kembali ke Edinburgh sekarang juga. Aku juga tidak mau mengambil resiko terlalu jauh jika hal seperti kemaren akan terjadi lagi. Apalagi disini sudah ada istri dan anak-anakku, aku tidak mau mereka terluka.” Yulian mengedarkan kembali pandangannya ke arah Zuena.
Yulian sengaja mengatakan hal itu agar Zuena mendengar dan akan membantunya dalam penerbangan melalui helikopter seperti saat menawarkan bantuan kepada Khadiajh menuju Beirut kala itu. Dan ternyata benar saja, Zuena kembali menawarkan dirinya.
“Zuena, masalah helikopter itu apa temanmu tidak akan merugi jika hanya membantu kami yang tidak dikenal olehnya? Karena menurut saya... bahan bakar itu cukup mahal,” tanya Yulian menyelidik.
“Abi... bisa kita berbicara di luar sebentar?” ajak Zuena.
“Baiklah!”
Yulian mengikuti Zuena dari belakang, lalu mencari tempat yang cukup aman dari banyak orang. Karena Zuena tak ingin semua orang tahu tentang siapa ia yang sebenarnya.
Dengan sedikit gugup dan ragu Zuena ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Yulian, tetapi saat itu ada kendala yang amat darurat sehingga membuat Zuena tak bisa mengatakan siapa ia yang sebenarnya kepada Yulian.
Ahtar datang menghampiri Yulian dan Zuena, karena Ahtar mendapatkan kabar jika Abizzar demam. Dan itu membuat Yulian merasa panik, jadi tidak ada pilihan lain selain ikut dengan helikopter Zuena.
“Ayo semuanya masuk saja!” pinta Yulian setelah helikopter telah mendarat.
Setelah semua dipastikan sudah masuk ke dalam helikopter, Yulian pun masuk paling akhir. Kembali ia mengedarkan pandangannya menatap Zuena yang duduk di sebelah Khadijah.
‘Kira-kira tadi Zuena mau ngomong apa, ya? Kenapa aku jadi merasa penasaran begini?’ batin Yulian.
Pikiran Yulian kini harus terbelah, memikirkan Abizzar yang demam dan juga memikirkan Zuena dengan segala rasa penasarannya. Namun hal itu tidak ingin diperlihatkan secara langsung di hadapan semua orang, terutama di hadapan Khadijah. Karena Yulian tidak ingin membuat pikiran Khadijah kembali terbebani.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk segera sampai di bandara, dan setiba di sana ada Abdullah yang sudah siap dengan mobil yang selalu dijadikan kendaraan olehnya.
Semua naik ke dalam mobil itu, lalu dilajukan dengan kecepatan sedang. Saat perjalanan tiba-tiba mobil mereka dihadang beberapa preman. Hal itupun mebuat mobil yang dikendarai Abdullah berhenti secara terpaksa.
“Hei! Cepat turun! Ayo turun semuanya!” gertak preman itu.
Semua kaum wanita seketika merasa takut, kecuali Zuena. Meskipun seorang wanita tetapi Zuena jago dan ahli dalam bela diri, karena sudah dilatih sejak kecil. Akan tetapi Zuena tidak langsung memberikan perlawanan, begitu juga dengan Abdullah, Yulian, Tristan, Arjuna dan Ahtar.
“Bagaimana ini, Abi? Jika kita keluar makan kita akan diserang, lalu siapa yang akan menjaga para wanita di dalam mobil?” tanya Ahtar.
“Tunggu sebentar! Kita diam dulu, jika semua preman itu akan memberi perlawanan teelbih dahulu naka kita baru turun. Jika tidak... kita bisa lolos.” Yulian mengedarkan pandangannya keluar.
Abdullah, Tristan, Arjuna dan Ahtar mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Yulian. Dan semuanya masih bertahan di dalam mobil_membiarkan preman yang ada di luar sana terus menodongkan pistol dan senjata tajam lainnya. ke arah mereka.
Srett... Srettt... Srettt...
Di luar dugaan mereka, preman itu meberikan sayatan dibagian ban mobil. Bahkan ke empat ban mobil itu diberikan sayatan dengan pisau. Sehingga ke empat ban itu seketika mengalami bocor.
“Ya Allah ya robbi... lindungilah kami semua!” teriak Khadijah dan Arumi bersamaan.
Bersambung...
__ADS_1