Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 91 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Dek, abang merasa lapar. Kamu... bagaimana?”


“Emm... iya Bang, sama. Aku juga merasa lapar, apalagi setelah aku mendapatkan pasien yang benar-benar harus ekstra sabar saat menghadapinya, membuat aku menjadi sangat lapar sekarang.”


“Terus kamu mau kemana? Ke kantin atau...”


“Di kantin saja, bisa hemat pula nanti, Bang.”


Hiks...


Arjuna meraba dadanya melihat Ahtar adik lelakinya itu bertingkah yang tidak wajar. Wajah tampan, bodynya ok, pekerjaan sudah mapan dan gajinya juga besar, tapi tetap saja mau hemat.


‘Arjuna... kenapa kamu bisa memiliki adik yang seperti ini? Terlalu hemat pada uang dan juga perasaan terhadap wanita. Tapi jangan sampai lah Ahtar jadi perjaka tua.’


Sesampai di kantin Arjuna dan Ahtar saling memesan makanan untuk dijadikan santapan siang mereka. Dan pasti kalian tahu kan, makanan di kantin rumah sakit ya cukup sederhana saja.


Saat menanti pesanan mereka tiba sejenak obrolan ringan menemani mereka. Dan pastinya tidak ada bahasan lain selain tentang Khadijah.


“Bang, mau sampai kapan kita menyimlan rahasia tentang Bunda dan Hafizha? Jujur... aku merasa sangat kasihan sama Hafizha, aku tidak pernah membayangkan bagaimana perasaannya kalau tahu yang sebenarnya.”


“Iya, Dek. kamu benar, mengingat Hafizha yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Mendapatkan tapi cuma sebentar, itupun usianya belum genap tiga bulan.”


Masa kecil Hafizha begitu melekat dalam ingatan Arjuna dan Ahtar, di usia yang baru saja lahir Hafizha sudah ditinggalkan oleh Khadijah. Dan ketika di usia belum genap tiga bulan Hafizha harus ditinggalkan oleh Aisyah. Semenjak itu Yulian membawa Hafizha tinggal di kota Edinburgh sampai usia Hafizha hampir lima belas tahun.


”Entahlah! Bang. Yang pasti kita harus bantu Abi menyimpannya sampai Abi sendiri yang akan mengatakan kepada Hafizha. Lebih baik... kita makan saja. Aku sudah merasa lapar. Hehehe...” Ahtar mengusap perutnya yang sudah berbunyi.


Makan yang mereka pesan pun sudah tiba, tidak lupa keduanya menengadahkan kedua tangan untuk membaca doa sebelum makan terlebih dahulu. Setelah itu baru lah mereka memakan nasi sesuap demi sesuap hingga nasi pun habis tak tersisa.


“Alhamdulillah,” ucap Ahtar setelah makanan yang ada di piringnya sudah habis.


Dan dua menit kemudian berganti Arjuna, meskipun makanan yang mereka makan sama tetapi Arjuna lebih lama makannya. Bukan berarti Ahtar juga terlalu tergesa-gesa saat makan, tetapi ya memang begitulah cara keduanya makan. Yang penting mereka menjalankan ajaran Islam, tidak makan berlebih, tidak makan kurang dan akan makan secukupnya saja hingga habis tidak tersisa.


“Dek, masih ada waktu tersisa sedikit sebelum kembali bekerja. Mau tidak jika kita mengobrol sebentar?” ajak Arjuna.


“Boleh. Mau ngomong apa bang Juna, hmm?”

__ADS_1


“Ini tentang... jodoh. Kamu... mau sampai kapan jomblo terus? Ingat umur sudah tua,” pekik Arjuna.


“Bang, aku pun juga tidak tahu mau sampai kapan aku jomblo begini. Sebenarnya sih... aku juga tidak mau begini, tapi mungkin saja Allah SWT belum mempertemukan aku dengan jodohku. Berarti aku harus... sabar.” Selalu seperti itu jawaban Ahtar.


Arjuna tahu betul jika adiknya itu sudah banyak sekali wanita yang mendekati Ahtar. Tetapi ya kebanyakan wanita selalu patah hati ujungnya, karena selalu ditolak oleh Ahtar.


Humaira yang begitu sholehah saja Ahtar menolak, memang tidak ada rasa apapun saat bertemu maupun bersama Humaira. Dan cinta tidak akan mudah dipaksa, karena cinta akan datang dari dalam hati dengan sendirinya tanpa diundang.


“Ya sudah, ayo kita kerja lagi. Abang kesal ngobrol sama kamu jawabannya sama terus. Masa iya sebanyak wanita yang dekat sama kamu tak ada yang nyantol.” Arjuna mendengus kesal melihat Ahtar yang selalu menolak wanita.


Keduanya meninggalkan kantin dan kembali ke ruangan masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah waktunya sholat ashar, Yulian juga sudah siap dengan sarung, peci, baju koko dan juga sajadah nya. Berhubung Khadijah masih terpengaruh karena obat bius untuk menenangkan jiwa Khadijah tadi, kini Yulian memutuskan untuk meninggalkan Khadijah dan menunaikan sholat ashar.


Yulian membentangkan sajadah nya lalu ia pun membaca niat sholat ashar dan setelahnya mengucapkan takbir.


“Ya Allah ya Tuhan kami... hamba kembali mengadu kepada Engkau saat hamba tidak bisa membuat istri hamba terluka. Akan tetapi hamba juga merasa tidak kuasa jika saja istri hamba memang harus mendengar kelumpuhan di kakinya.”


Setelah melamgitkan doa Yulian membaca mushaf sejenak untuk mengisi waktu luangnya dan menenangkan hatinya yang tengah bimbang. Bahkan cacing yang ada diperutnya pun diabaikan begitu saja, sejak pagi Yulian tidak makan apapun. Namun Yulian tetap bertahan dengan rasa laparnya.


‘Ya Allah... hamba bukanlah wanita yang sempurna. Hamba... wanita yang sedang Engkau uji kakinya, hamba tidak bisa berjalan lagi seperti sedia kala.”


“Ya Allah, masih pantaskah jika hamba menjadi istri Yulian? Lelaki yang begitu baik akan hatinya, selalu menjaga kemurnian hatinya dari setiap wanita yang bukan makhramnya.”


Tes...


Tanpa Yulian ketahui Khadijah sudah sadar dan tengah menatapnya begitu tajam, yang membuat Khadijah merasa tidak pantas jika tetap bersanding dengan Yulian yang amat sempurna baginya.


“Ya Allah, Khadijah,” pekik Yulian.


Yulian mendengar isak tangis yang berpusat dari posisi Khadijah membaringkan tubuhnya. Seketika itu juga Yulian menghentikan bacaannya dan menoleh ke arah Khadijah untuk sekedar memastikan jika pendengarannya tidak sedang bermasalah.


“Neng, kenapa Neng menangis?” tanya Yulian selembut mungkin.

__ADS_1


Hening...


Khadijah hanya menangis saja dan tidak sekalipun menjawab pertanyaan Yulian. Bahkan Khadijah juga merasa enggan untuk sekedar melihat wajah Yulian, sedari tadi Khadijah memalingkan wajahnya dari Yulian.


“Neng, jawab pertanyaan Hubby. Neng kenapa menangis, hmm?”


“Neng makan saja ya kalau begitu, dari tadi belum makan loh!” pinta Yulian selembut mungkin.


Khadijha tetap saja tidak memberikan jawaban kepada Yulian. Namun dengan sikap yang lembut Yulian berusaha untuk tetap melayani kebutuhan Khadijah, dari menyuapi dan lain sebagainya.


“Neng bisa makan sendiri, tidak perlu juga disuapi.” Terdengar begitu sangat dingin, sedingin es.


“Tidak apa-apa kok, Hubby juga mau menyuapi Neng. Ini kewajiban Hubby sebagai seorang suami untuk merawat istrinya.” Yulian mengambil sesendok nasi lalu ia arahkan ke bibir Khadijah.


Hening...


Sudah lima menit Yulian menyodorkan sendoknya di depan bibir Khadijah, tetapi selama itu pula Khadijah tidak mau membuka mulutnya untuk memakan sesuap nasi saja.


“Makan ya Neng, sedikit saja!” rayu Yulian dengan lembut.


“Tidak.”


“Ayolah Neng, sedikit saja.”


Yulian meminta Khadijah untuk membuka mulutnya, tetapi sesuatu hal telah terjadi saat itu juga.


“Prakkkcahh...”


Khadijah menepis tangan Yulian, bahkan piring dalam genggaman Yulian seketika terjatuh dan pecah di lantai, hingga makanannya pun berserakan di mana-mana.


“Khadijah, apa maksud kamu menampiknya seperti itu?” tanya Yulian.


“Jangan perdulikan Neng lagi, Hubby. Neng sudah lumpuh. Neng tidak bisa... hiks... hiks... Neng tidak bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk Hubby.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2