Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 135 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Khadijah membereskan beberapa baju yang tidak bisa dipakai lagi dengan layak, lalu dibuang ke tong sampah untuk di bakar. Beberapa lembar foto yang sudah tidak bisa lagi dilihat ikut dibuang, beberapa juga di antaranya hiasan dinding seperti lukisan yang sudah kumuh dan jelek.


Acara hati pertama di rumah itu tak lain adalah bersih-bersih sebelum diadakan acara kirim doa untuk mengingat mendiang Aisyah dan seluruh anggota keluarga Aisyah sekaligus ibu kandung Yulian dan juga ibu kandung Khadijah.


“Bik Irah, biar Khadijah saja yang naik buat ambil lukisan yang itu. Sepertinya... itu juga sudah tidak bagus lagi,” ujar Khadijah.


Bik Irah hanya mengangguk saja, menuruti apa yang dikatakan Khadijah. Dan Khadijah menaiki kursi yang cukup tinggi untuk mengambil lukisan tersebut. Namun, tangan Khadijah tidak sampai untuk mengambilnya, hal itu pun membuat Khadijah hilang keseimbangan dan ... terjatuh.


“Eh... Eh... Eh... Bik Irah...” Khadijah mulai goyang-goyang di atas kursi.


Blukk!


Bik Irah yang tadinya merasa panik seketika bernapas lega setelah Khadijah mampu ditangkap oleh Yulian secara tepat waktu. Sehingga tubuh Khadijah tidak terjatuh di lantai hingga membuatnya terluka sedikit pun.


“Neng, kenapa harus naik kursi segala sih? Coba kalau Hubby tidak bisa nangkap, pasti jatuh ke lantai, kan? Dan lihat, lantai itu keras loh, Neng.” Tidak hentinya Yulian menggerutu, merasa kesal sendiri dengan sikap Khadijah yang pemberani.


“Ya maaf, Hubby! Tadinya sih, mau ambil itu lukisan tapi, tetap saja tidak sampai hingga keseimbangan Neng hilang terus goyang-goyang deh kursinya.” Khadijah memberikan jawaban yang lugu.


“Ya sudah, lain kali hati-hati. Jangan seperti ini lagi, jika tidak bisa bilang saja sama Hubby.” Khadijah mengangguk.


Lalu Yulian menurunkan Khadijah dari gendongannya. Yulian mengusap lembut kepala Khadijah, membuat bik Irah senyum-senyum sendiri di kala Tuannya bucin.


Bucin? Ya jelas, Yulian kembali bucin setelah menduda dan biar pun pernikahannya dengan Khadijah sudah dua tahun tetapi tetap saja selalu romantis setiap waktu. Dan itu terlihat jelas saat ini, di mana Yulian tidak ingin Khadijah terluka sedikit pun.


“Ya sudah! Hubby mau lanjut bersihin yang ada di sana.” Yulian menunjuk ruang yang tidak pernah dipakai untuk tidur hanya digunakan sebagai tempat barang-barang bekas saja.


Khadijah dan bik Irah kembali membersihkan beberapa ruang, seperti menyapu dan mengepel hingga semua ruangan telah rapi dan bersih.

__ADS_1


Dan sampai akhirnya mereka mengakhiri pekerjaan itu setelah mendengar suara adzan dzuhur, semua beranjak membersihkan tubuh untuk melakukan sholat dzuhur berjamaah di Masjid yang tidak jauh dari sana. Hanya saja Khadijah dan bik Irah tidak ikut berjamaah di Masjid, karena mereka harus menyiapkan beberapa catering yang akan dijadikan makanan dalam acara kirim doa nanti.


“Alhamdulillah, tepat di siang ini sudah selesai semuanya. Dan sekarang, bagaimana dengan urusan makanannya, Neng? Apakah sudah siap?”


“Sudah kok, Hubby. Alhamdulillah, pihak catering nanti akan mengirimkan makananya sebelum maghrib. Jadi, kita bisa mempersiapkan lebih awal,” jelas Khadijah.


Yulian manggut-manggut, tanda jika ia mengerti. Jika semua keperluan sudah selesai diurus, bukan berarti kesibukan sudah berakhir dan tinggal menunggu sambil bersantai. Jawaban tidak, Khadijah harus menidurkan Abizzar yang sudah mengantuk. Sedangkan yang lainnya merapikan tempat yang akan dijadikan acara nanti.


Yulian membentangkan tikar hingga memenuhi ruangan yang disediakan. Begitu juga dengan papa Adhi dan Alex, ikut serta membantu pekerjaan Yulian agar segera selesai.


“Alhamdulillah! Selesai juga.” Yulian bernapas lega.


“Ya sudah, kita istirahat saja dulu! Sambil menunggu adzan ashar, bagaimana kalau kita duduk di teras saja.” Papa Adhi mengajak keduanya untuk duduk dan leyeh-leyeh sejenak.


Suara adzan ashar pun menggema di telinga, tetapi ketiga orang itu masih saja duduk di teras depan. Bukan berarti mereka sengaja untuk meninggalkan sholat, tetapi mereka hendak membantu bagian catering menata makanan yang baru saja tiba.


Dan alhamdulillah lah nya, belum sampai waktu sholat ashar selesai pekerjaan itu sudah lebih dulu selesai. Sehingga masih ada waktu untuk segera mandi dan menunaikan sholat ashar.


“Walaikumsalam, Nak.” Yulian mengangkat bibirnya saat menyapa Arjuna dari seberang.


“Oh iya, Abi. Bagaimana acaranya di sana? Apa sudah mau dimulai?”


“Belum, Nak. Tapi ini sudah berdatangan para santri dan beberapa tetangga. Doa kan saja semoga acaranya lancar ya, Nak?”


“Tentu, Abi. Arjuna akan mendoakan nya.”


“Oh iya, dimana istri, anak dan adik-adikmu? Mengapa mereka tidak terlihat di layar?” tanya Yulian penasaran, karena sadari tadi tak melihat satupun dari mereka.

__ADS_1


“Cahaya sedang ada di dapur bersama bik Inem, Garda masih bersiap mau sekolah, begitu juga dengan Hafizha, sedangkan Ahtar... Dia sudah sibuk dari tadi Abi. Sebelum pindah ke Medan, Ahtar ingin jadwal operasi nya selesai tepat waktu. Jadi, sudah berangkat ke rumah sakit deh dari tadi.” Arjuna terkekeh geli.


Yulian hanya manggut-manggut saja, ia tahu dan bahkan hafal bagaimana seorang Ahtar bisa menyelesaikan tanggung jawabnya. Dan setelah itu obrolan telah di akhiri, karena acara inti akan segera di mulai.


Banyak kajian, sholawat dan tidak lupa juga dengan dzikir telah terdengar di ruangan itu secara serempak. Dan setelah acara selesai, mereka semua tidak langsung pulang, ada acara selanjutnya yaitu... makan.


Semua santri dan beberapa tetangga yang ikut menghadiri acara itu diberi makan dalam wadah piring yang akan disantap di tempat yang sama. Dan setelahnya, ada juga makanan yang dibagikan lagi untuk dibawa pulang. Lumayan, kan? Dapat makanan double.


“Untuk acara ini saya akhiri dengan mengucapkan hamdalah dan salam. Dan untuk Bapak Yulian sekeluarga, saya mewakili yang lain mengucapkan banyak terimakasih sudah diundang dalam acara besar ini.” Pak Kyai yang memimpin doa dan acara itu telah berpamitan.


“Sama-sama, Kyai Hasan. Saya mewakili sekeluarga juga mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran Kyai beserta santri-santri dan juga Bapak-bapak semua.” Yulian bertutur dengan amat sopan.


Setelah semua selesai para tamu menyalami sang tuan rumah yang sudah berdiri dan berjejer di teras depan. Di mana tuan rumah itu tak lain adalah Yulian, papa Adhi dan juga Alex, tidak termasuk Khadijah, ya.


Rasa lelah seketika menghampiri Yulian dan semuanya, setelah bekerja seharian penuh. Hingga mereka memutuskan untuk melanjutkan istirahat setelah menunaikan solat isya' bersama.


Terlihat di bibir kasur Khadijah tengah duduk ber selonjoran sembari memijat kakinya yang terasa pegal. Hal itupun dilihat oleh lelaki yang berdiri di sisi pintu setelah baru masuk.


“Kenapa, Neng? Apa lelah?”


Suara itu sontak membuat Khadijah seketika mendongakkan kepalanya. Dan Yulian pun menghampiri Khadijah yang masih terdiam di tempat yang sama.


“Kalau kakinya capek, sini angkat! Hubby bisa pijitin, kok.” Yulian duduk di samping Khadijah, lalu meminta Khadijah untuk mengangkat kakinya dan meletakkan dalam pangkuannya.


”Tidak perlu, Hubby. Neng tahu kok, pasti Hubby sendiri juga merasa capek. Iya, kan?” tolak Khadijah.


“Tidak apa-apa, Neng.”

__ADS_1


Tanpa persetujuan Khadijah, Yulian langsung saja mengangkat kaki Khadijah dan meletakkan dalam pangkuannya lalu, memijit nya secara perlahan. Dan saat perlakuan Yulian semacam itu membuat Khadijah merasakan sesuatu hal yang... aneh.


Bersambung...


__ADS_2