
Semua keluarga Yulian pagi itu berkumpul di ruang makan untuk melakukan sarapan bersama. Beberapa masakan kesukaan mereka telah dihidangkan di atas meja makan yang panjang dengan beberapa minuman sesuai pilihan masing-masing. Ada susu ibu hamil, ada secangkir kopi, teh dan susu hangat.
Seperti biasa, seusai membaca do'a makan tidak ada lagi suara yang bergeming dalam ruangan itu sampai makanan mereka benar-benar tiada sisa di atas piring yang berada di hadapan masing-masing.
Lima belas menit kemudian acara sarapan pagi telah usai. Namun, Cahaya seketika pergi dari ruang makan dan menuju ke kamar mandi.
”Uwek... uwek... uwek...”
Cahaya memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya. Seolah kehamilan mudanya itu menolak asupan gizi yang dikunyah sedari tadi. Dan kini Cahaya merasa tubuhnya begitu lemas, tidak bertenaga sama sekali. Lalu Arjuna mengantarkan Cahaya untuk beristirahat di kamarnya sembari membawa susu hangat khusus ibu hamil yang memang belum sempat Cahaya minum seusai sarapan tadi.
”Minumlah susu nya ... mumpung masih terasa hangat. Setidaknya akan membuat kamu bertenaga, sayang.” Cahaya mengangguk untuk mengiyakan permintaan Arjuna.
Cahaya meneguk pelan susu itu secara perlahan sampai habis. Setelah itu, Arjuna mengambil gelas yang kosong dalam genggaman Cahaya untuk dibawa ke dapur. Sebelum pergi Arjuna tidak lupa mengusap kepala Cahaya dengan pelan dan mencium keningnya.
”Istirahatlah! Kalau perlu apapun ... kamu bilang sama aku ya, sayang.” Cahaya kembali mengangguk tanpa mengudarakan suaranya.
Arjuna pergi dari kamar nya dan meninggalkan Cahaya sendiri agar bisa beristirahat di kamar dengan tenang. Saat hendak menuju ke dapur Arjuna menatap Yulian yang berdiri di depan figura yang bergambar foto Aisyah.
”Aisyah, aku tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Melupakan mu amat terasa sulit bagiku, walaupun sudah dua tahun lebih kamu meninggalkanku ... tapi masih saja dengan hasil yang sama. Sulit untuk membuka hati terhadap wanita manapun.” Arjuna menepuk pelan baju Yulian yang merosot.
”Rindu itu wajar, melupakan itu terlalu amat sulit untuk dilakukan. Tapi setidaknya ... melangitkan do'a adalah kunci utama dari sumber permasalahan itu, Bi.” Sontak Yulian merasa terkejut mendengar penuturan Arjuna yang terasa begitu dalam.
”Roda itu terus berputar pada porosnya. Begitupun dengan manusia yang akan terus berusaha seraya melangitkan do'a.”
”Abi tahu ... kamu sedang menyindir Abi, bukan?”
”Iya. Karena Arjuna tidak ingin Abi membohongi perasaan sendiri setelah Arjuna melihat rekaman CCTV yang ada di rumah ini.”
”Terlihat jelas tatapan Abi terhadap wanita yang mengenakan cadar itu. Ada tatapan yang berbeda, yang hampir sama saat Abi menatap umi seperti dulu.”
”Abi berhak mengelak saat ini ... saat berada di hadapan Juna, tapi ... sadarkanlah kembali bagaimana perasaan itu sudah tumbuh dalam hati.” Yulian mengepalkan tangannya begitu erat, terlintas bayangan Khaira dalam pelupuk matanya.
__ADS_1
Arjuna pergi begitu saja meninggalkan Yulian yang masih berdiri di depan foto Aisyah. Bukan Arjuna tidak memiliki rasa sopan dan santun, tetapi Arjuna hanya ingin Yulian merasakan kehadiran seorang Khaira dalam hidupnya setelah kepergian Aisyah.
’Ya Allah, bukakanlah pintu keajaiban-Mu untukku. Pertemukanlah kembali aku dengan Khadijah agar hubunganku dengan anak-anak ku kembali terjalin yang diselingi dengan canda dan tawa.’ batin Yulian.
-------
”Khaira, tolong kamu selesaikan tugas ini sekarang juga, ya!”
”Baiklah! Aku akan memfotocopy kan berkas-berkas ini sekarang juga.” Salah satu teman mengajarnya selalu menyunggingkan senyum saat melihat semangat Khadijah yang luar biasa.
Khaira membawa beberapa lembar kertas yang harus segera difotocopy pagi itu juga. Lalu memasukkan kertas-kertas itu ke dalam tasnya, setelah itu ia mengambil sepeda yang bertengger di bagian sisi kanan masjid itu.
Rasa semangat yang luar biasa membuat Khaira bersemangat saat mengayuh sepeda. Menikmati setiap perjalanan itu adalah hal yang paling disukai oleh Khaira.
------
”Arjuna_Cahaya ... Abi pamit dulu untuk pergi ke kantor.”
Yulian kembali membalikkan tubuhnya lalu, menuju ke bagasi untuk berjumpa dengan mobil yang sangat ia sayangi. Dan tidak lupa dengan Abdullah yang selalu dijadikan sopir pribadinya.
Tidak lama kemudian mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang. Dan tidak lupa mereka akan menghiasi setiap perjalanan dengan obrolan ringan. Saling memotivasi itu selalu dilakukan oleh mereka.
”Bagaimana, Yulian? Sudahkah kamu menemukan jawaban tentang tidak menipu Allah?” tanya Abdullah.
”Maafkan aku, Abdullah. Tapi aku belum bisa menemukan jawaban sebagaimana semestinya. Bisakah kamu menjelaskannya kepadaku agar aku dengan mudah memberikan jawaban itu kepadamu.” Abdullah hanya menggelengkan kepala, lalu mendesah pelan.
”Ikuti kata hatimu, Yulian! Karena itu adalah kunci utama dari perkataanku.” Yulian menatap Abdullah yang berada disampingnya.
Yulian terdiam dan berusaha mencerna kembali ucapan Abdullah.
Hening...
__ADS_1
Mobil terus dilajukan dengan kecepatan sedang, dan kini di antara keduanya tidak saling bertukar cerita ataupun saran. Fokus, itulah yang dilakukan Abdullah saat mobil masih berada di tengah jalan raya. Sedangkan Yulian, ia terdiam seraya mengulas senyum sungging dari bibirnya saat mengingat tentang Khaira.
”Abdullah, kita turun saja di depan tempat fotocopy itu. Aku harus mengurus beberapa hal di sana.” Anggukan pelan telah dilakukan oleh Abdullah sebagai tanda mengiyakan permintaan Yulian.
Perlahan mobil mereka menepi di pinggir jalan. Lalu keduanya turun dari mobil menuju ke tempat fotocopy yang menjadi tujuan mereka saat ini. Beberapa foto Khadijah telah terpampang begitu lebar dalam sebuah kertas. Dan Yulian perlu mencetak untuk dijadikan beberapa lembar lagi agar mempermudahkan dirinya dalam melakukan pencarian.
”Bruk...”
Tabrakan pun terjadi antara Yulian dengan seseorang yang memang tidak mudah dikenalinya. Karena wanita itu tengah mengenakan cadar, dan yang terlihat hanyalah matanya saja.
”Maafkan saya! Saya tidak sengaja menabrak Anda.” Wanita itu terus mengemasi beberapa lembar kertas yang berserakan. Hanya anggukan pelan sebagai tanda ia membalas permohonan maaf Yulian.
”Maafkan saya, saya harus pergi. Assalamu'alaikum,”
Tanpa mendengar jawaban salam dari Yulian wanita itu pergi begitu saja tanpa memandang sedikitpun ke arah Yulian. Sedangkan Yulian, ia masuk ke dalam tempat fotocopy itu untuk mencetak beberapa foto yang terbidik.
”Assalamu'alaikum, Tuan Ares. Bagaimana kabarnya hari ini?” tanya Yulian.
”Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah Yulian, saya selalu bersyukur sudah diberikan kesehatan oleh Allah. Bagaimana denganmu?”
”Sebenarnya saya ... sedang merasakan bingung. Seolah saya ... kehilangan arah, Tuan Ares.”
”Ingatlah satu hal, Yulian. Serahkan lah semuanya kepada Allah, karena Allah lah yang akan membolak-balikan hati yang bimbang.” Yulian tersenyum.
Hening...
Satu detik...
Dua detik...
’Mungkin benar apa yang dikatakan Tuan Ares, hanya kembali kepada Allah maka ... aku akan menemukan titik terangnya.’ Batin Yulian.
__ADS_1