Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 40


__ADS_3

Malam itu telah menghanyutkan dua insan dalam kobaran api yang menggairahkan. Hingga tanpa disadari oleh mereka suara adzan subuh telah dikumandangkan begitu menggema. Untung saja Yulian sudah memasang alarm tepat pukul empat pagi. Sehingga keduanya tidak bangun terlambat dan ketinggalan sholat subuh.


Dengan lembut Yulian mengecup kening Khadijah. Dan membuat Khadijah merasa dicintai oleh lekaki yang tepat baginya, tidak pernah menuntut apapun darinya. Bahkan Yulian selalu menjaga bentengnya, hingga Khadijah sendirilah yang menyerahkan dan merobohkan benteng itu sendiri.


”Bagaimana? Enak tak tadi malam? Apa ... mau lagi?” tanya Yulian sedikit menggoda.


Khadijah seketika menggelengkan kepalanya, karena ia masih merasakan perih dibagian organ intimnya setelah semalam melakukan kewajibannya yang memuaskan Yulian. Dan hal itu membuat Yulian merasa sedih melihat bagaimana Khadijah, berjalan saja terasa susah. Meskipun itu bukanlah untuk yang pertama kali bagi Khadijah, tetapi rasanya seperti saat pertama kali melakukannya. Terasa perih setelah adanya kenikmatan yang menguras gairah.


”Bagaimana kalau kita mandi bersama?”


’Duh Yulian, mulai melunjak kan. Di kasih jantung malah minta hati.’


”Nggak mau ah, mandi sendiri-sendiri saja. Masih perih ini.” Rintih Khadijah yang membuat Yulian terkekeh.


”Ya sudah, mandi dulu sana gih! Apa perlu disiapkan air hangat?”


”Emm ... tidak perlu sajalah, Hubby.”


Yulian mengangguk, lalu ia membiarkan Khadijah mandi terlebih dahulu. Sedangkan Yulian sendiri, ia menunggu Khadijah yang hendak mandi sembari membayangkan malam yang indah, yang sudah dilalui olehnya bersama Khadijah. Dan benih-benih cinta telah tumbuh bahkan tertanam di dalam hatinya hanya untuk Khadijah seorang.


 


Di dalam kamar mandi Khadijah tak hentinya menarik dua ujung bibirnya. Ada rasa bahagia dan juga cinta yang mendalam dalam hatinya untuk Yulian. Khadijah benar-benar menjatuhkan hatinya kepada Yulian, hanya Yulian seorang yang mampu membuat Khadijah merasakan kenyamanan.

__ADS_1


’Ya Allah ... betapa indahnya malam itu. Dan kali ini aku mempercayai cinta yang indah. Cinta yang dijalin untuk saling memiliki dan saling menghargai satu sama lain.’ batin Khadijah.


Setelah melakukan rutinitas pagi di kamar mandi, kini Khadijah menunggu Yulian yang berganti untuk mandi lalu, melakukan sholat subuh bersama dengan keluarga. Seperti apa yang sudah dilakukan selama ini, sehingga tidak ada anak Yulian yang bangun terlambat bahkan sengaja meninggalkan sholat subuh.


Setelah melakukan dua rakaat pagi, Khadijah kembali disibukkan dengan peralatan dapur yang dibantu oleh bik Inem. Dan saat hendak memulai memasak, Khadijah bersama bik Inem telah dikejutkan dengan suara teriakan dari Cahaya. Entah dimana keberadaan Cahaya pagi itu.


Semua orang yang mendengar teriakan Cahaya seketika berlari dan mencari keberadaan pusat suara itu. Dan akhirnya mereka menemukan Cahaya yang tergeletak di lantai kamar mandi. Bahkan mereka dikejutkan dengan cairan yang bercampur darah keluar dari organ intim Cahaya. Cairan itu keluar dengan begitu derasnya, sehingga membuat kepanikan menyelimuti mereka semuanya. Dan rasa hawatir serta takut telah beradu menjadi satu.


”Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Arjuna, gendong Khadijah dan Abdullah ... kamu siapkan mobilnya.”


Semua bergegas sesuai dengan perintah Yulian. Khadijah pun ikut terjun membantu mempersiapkan beberapa baju dan perlengkapan lainnya yang harus dibawa ke rumah sakit. Siapa tahu saja Cahaya akan melahirkan hati itu juga. Karena mengingat kandungan Cahaya yang sudah memasuki sembilan bulan.


Semuanya masuk dalam satu mobil, kecuali bik Inem. Bik Inem tidak ikut ke rumah sakit, karena ia harus menemani dan menjaga Hafizha di rumah. Saat berada di perjalanan, Khadijah berusaha menghubungi Arumi agar ikut menusul ke rumah sakit. Dan setelah mendengar berita itu Arumi segera meluncur ke rumah sakit bersama Tristan.


Khadijah mendekap tubuh Cahaya yang berada di pangkuannya. Sekilas bayangan masa lalu saat ia melahirkan dulu telah memenuhi matanya. Bahkan Khadijah ingat betul bagaimana Aisyah menenangkannya dan Aisyah juga meminta Arjuna untuk melakukan operasi caesar dalam menyelamatkan dirinya serta bayi yang ada di dalam kandungannya.


Khadijah tiada hentinya melangitkan do'a untuk keselamatan Cahaya dan juga bayi yang masih ada dalam kandungannya. Dan Khadijah juga meminta do'a kepada Aisyah.


’Aisyah, do'a kan Cahaya dan calon cucu mu ini. Agar diberi keselamatan untuk keduanya.’ batin Khadijah.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, tapi tetap berhati-hati dalam menjaga keamanan, agar tidak terjadi seuatu hal yang tidak diinginkan. Setelah setengah jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kedatangan mereka di smabut oleh beberapa perawat yang berjaga pagi itu. Dengan segera tubuh Cahaya dipindahkan ke atas brangker lalu di dorong menuju ke ruang UGD.


”Banyak berdo'a, semoga Cahaya baik-baik saja.” Arjuna mengangguk saat Khadijah mengusap lembut punggungnya.

__ADS_1


”Perbanyak berdo'a dan perluas sabar. Kamu tahu betul bagaimana Abi berjuang saat Umi mu melahirkan Ahtar.” Yulian menepuk-nepuk pundak Arjuna.


Dokter yang baru datang segera menuju ke ruang UGD untuk melakukan tindakan kepada Cahaya. Dan setelah melakukan pemeriksaan terhadap Cahaya, dokter keluar untuk sekedar memberitahukan kepada seluruh keluarga bahwa sebentar lagi Cahaya harus di operasi. Karena Cahaya telah kehabisan cairan, sehingga tidak mungkin tim dokter meminta Cahaya untuk mengeluarkan bayi nya melalui jalan yang seharusnya diterjang. Apalagi melihat bagaimana kondisi Cahaya yang sangat lemah. Tidak mudah untuk Cahaya mengejar, sehingga tim dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi caesar dengan segera. Jika tidak, maka akan berbahaya bagi bayinya.


”Bagaimana pak Arjuna, apakah bisa kita mengoperasi Bu cahaya sekarang juga?”


”Silahkan, Dok! Mulai saja operasinya sekarang.”


Tim dokter mengiyakan persetujuan yang diberikan Arjuna. Dengan segera tim dokter mendorong brangker Cahaya menuju ke ruang operasi. Dan tidak lama kemudian operasi caesar telah dijalankan setelah lampu yang begitu terang dari dalam ruang operasi sudah dinyalakan.


”Sabar, hubby. Pasti Cahaya tidak akan apa-apa.” Yulian mengangguk dan memberikan senyuman yang begitu tipis.


’Kamu begitu khawatir memikirkan Cahaya, bahkan kamu menyimpan mata sendu untuknya. Kamu ... memang lelaki yang berbeda, walaupun Cahaya hanyalah menantu di rumah mu, tapi rasa pedulimu seperti seorang Ayah terhadap putrinya yang sedang berjuang. Jujur ... salut dan merasa kagum kepadamu, Hubby ku.’ batin Khadijah.


Khadijah memilih duduk di sebelah Yulian, sedangkan Arjuna, ia berdiri di depan pintu operasi dengan hati yang berkecamuk. Rasa khawatir dan takut telah beradu menjadi satu. Dan satu keinginan dari mereka semua, rasa bahagia yang menyelimuti.


-----------


”Berikan saya pisau bedah.”


Suster mengikuti intruksi dokter. Dan dokter anestasi siap melakukan pekerjaannya secara profesional, membantu dokter bedah dalam menjaga detak jantung.


”Pisau bedah.”

__ADS_1


”Baik, Dok.”


Semua tim dokter melakukan tugasnya dengan ketajaman mata yang penuh konsentrasi. Dan itulah resiko dokter yang selalu melakukan pekerjaan menguji adrenali. Harus siap dalam segala hal.


__ADS_2