Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 31


__ADS_3

Suara adzan subuh telah memekik telinga Yulian dan Khadijah. Sehingga membuat keduanya membuka mata dan menggeliatkan pandangan masing-masing. Seketika mereka terhenyak dari tempat tidur setelah menyadari bagaimana posisi tidur mereka di kala subuh itu. Dan terciptalah keheningan di antara keduanya.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


”Khadijah, aku ... minta maaf sudah melakukan hal itu kepadamu di luar kesadaranku.”


Khadijah hanya mengangguk pelan, ada rasa yang begitu aneh saat mengingat pelukan itu. Meskipun tanpa sadar mereka melakukannya, tetapi begitu terasa nyata kehangatan yang tercipta di antara keduanya. Dan Khadijah tidak mau memiliki sifat yang dibenci sama Allah, sifat munafik dalam diri manusia. Mustahil jika Khadijah tidak merasa nyaman dan juga tidak ingin mengulangi nya lagi. Akan tetapi, rasa malu telah menguasai Khadijah.


”Sekarang, mandilah terlebih dahulu! Dan kita akan melakukan sholat subuh berjamaah.” Khadijah kembali mengangguk, mengiyakan perintah Yulian. Lalu Khadijah mengambil pakaian yang menggantung di dalam almari beserta pakaian dalam untuk berganti.


’Banyak juga persediaan pakaian dalamnya. Apa Dia juga yang memilih semua ini? Tak ada rasa malu kah Dia saat berbelanja?’ batin Khadijah.


”E ... itu bukan aku yang menyiapkan semuanya ... tapi Arumi. Karena aku yang meminta bantuannya.” Yulian nyengir.


Yulian seketika menghampiri Khadijah yang terlihat masih termangu di depan almari. Dan Yulian juga berpikir bahwa Khadijah tengah memikirkan benda-benda yang tertata rapi di dalam sana. Karena Yulian sendiri juga terkejut ketika mendapatkan pesan dari Arumi yang memberitahu bahwa Arumi telah menyiapkan banyak lingerie dan pakaian dalam yang sangat sexy.


”Oh ... Arumi. Iya tidak apa-apa kok. Aku ke kamar mandi dulu, ya!”


Seketika Khadijah mempercepat langkah kakinya menuju ke kamar mandi. Dan setelah berada di dalam, Khadijah sejenak meluapkan rasa malunya seraya menatap kaca lebar yang menempel di dinding.


”Khadijah, bagaimana bisa kamu berpikir bahwa Yulian yang sudah menyiapkan semuanya. Tidak mungkin juga, kan. Kamu itu hanya terlalu baper dan percaya diri saja, kalau Yulian sudah peduli denganmu.”


Khadijah segera mengguyur tubuh nya untuk menghilangkan rasa yang berkecamuk di dalam dada. Setelah usai mengambil air wudhu akhirnya Khadijah merasa jauh lebih baik. Dan ketika Khadijah keluar dari kamar mandi, ia mendapati pemandangan yang membuatnya kembali merasa malu, bahkan sangat malu.


”Aa...!” teriak Khadijah sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


”Ada apa, Khadijah? Kenapa kamu berteriak?” tanya Yulian sedikit panik.

__ADS_1


”Itu.” Khadijah mengarahkan telunjuk tangannya ke tubuh Yulian.


Seketika tawa Yulian pun pecah setelah menyadari apa yang dipakainya. Di mana ia hanya mengenakan handuk yang menutupi separuh tubuhnya, dan perut Yulian yang terlihat bagaikan roti sobek telah menjadi pemandangan indah di pagi itu bagi setiap wanita yang melihatnya.


”Kenapa malah ketawa sih? Cepat pakai baju sana!”


”Kenapa harus pakai baju? Aku kan, mau mandi. Masa iya mandi pakai baju?”


Sungguh menguji iman saja kau itu Yulian. Tak tahu apa kalau degup jantung Khadijah sudah berdetak kencang. Khadijah... kau sedang diuji nyalinya... wkwkwk.


”Iya aku tahu. Tapi bisa kan ... lepas bajunya di kamar mandi saja.”


”Memangnya kenapa? Ada masalahkah? Kita itu sudah menjadi suami istri, mengapa harus malu untuk ... melepas baju? Dan kenapa juga kamu tidak ... melepas cadarmu saat hanya kita berdua di kamar ini?”


Khadijah hanya diam dan masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tak bergeming sedikitpun, tetapi hatinya bersuara bahkan ada desiran hebat yang menjalar ke tubuhnya. Namun, entah itu apa. Sedangkan Yulian, ia sudah lama enyah dari hadapan Khadijah.


Beberapa menit kemudian Yulian kembali mengudarakan suaranya dan menyapa Khadijah yang masih melakukan hal konyol. Dan sampai-sampai Khadijah tidak menyadari Yulian telah usai melakukan aktivitasnya di kamar mandi.


”Mau sholat subuh tidak? Atau ... hanya berdiri saja di sana?”


”Ya sudah, kita sholat.” Khadijah berjalan lalu membentangkan sajadah di belakang Yulian.


Dua rakaat pun telah usai dilaksanakan. Seperti biasa, Yulian menyodorkan tangannya dan Khadijah menyambut lalu mencium punggungnya. Setelah itu Yulian memberikan kecupan lembut di kening Khadijah dan mengusap puncak kepala Khadijah. Yang membuat Khadijah merasa nyaman, bahkan seolah perhatian kecil itu menandakan bahwa kasih dan sayang Yulian sudah diberikan untuknya.


”Mumpung masih pukul lima pagi, bagaimana kalau kita membaca mushaf bersama.”


”Boleh...”


Yulian dan Khadijah sama-sama membuka Al-quran, lalu Khadijah membacanya dengan merdu. Dan sesekali Yulian membenarkan bacaan Khadijah jika ada yang salah. Hingga jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, mereka baru saja menyelesaikan bacaan mereka.


’Ya Allah, betapa indahnya kebersamaan pagi ini. Tak pernah menyangka diri ini bisa bersamanya sedekat ini setelah dulu dijauhkan dengan jarak yang begitu jauh.’ batin Khadijah.

__ADS_1


”Khadijah, kamu mau sarapan pakai apa?”


Suara Yulian seketika menyadarkan lamunannya saat menatap Yulian tanpa mengedipkan matanya.


”E ... terserah...”


”Panggil saja, Mas Yulian. Atau kamu mau panggilan yang lain kepadaku?”


”Panggil apa ya ... enaknya?”


”Panggil saja Hubby ... dan aku akan memanggilmu ... Humaira ku. Bagaimana? Mau tidak?”


Anggukan oelan tekah dilakukan Khadijah untuk mengiyakan perkataan Yulian. Dan setelah itu keduanya menyantap sarapan pagi yang sudah diantar oleh staf hotel. Setelah itu, Yulian mengajak Khadijah untuk berjalan-jalan setelah hari pernikahannya.


”Bagaimana kalau kita ... jalan-jalan saja hari ini? Apa kamu keberatan?”


”Tidak, kok. Terserah...”


”Hubby, jangan lupa panggil dengan nama itu.” Yulian mengulas senyum, lalu mengusap lembut puncak kepala Khadijah.


Yulian menyiapkan mobilnya untuk dijadikan sebagai kendaraan saat bersama Khadijah mengelilingi kota Edinburgh hari itu. Dan tidak lama kemudian mesin mobil dinyalakan, lalu dilajukan dengan kecepatan sedang.


Cahaya mentari pagi sudah mulai menyingsing, menghangatkan kota Edinburgh setelah dingin menerpa mereka di kala malam. Satu persatu tempat wisata telah dikunjungi mereka, hingga satu tempat yang menjadi persinggahan mereka yang paling terakhir, yaitu Tattu Edinburgh.


Mereka menikmati suasana di dalam restoran itu seraya menanti makan malam yang sudah mereka pesan.


”Bagaimana dengan hari ini? Apa kamu menyukainya, Humaira ku?”


”Alhamdulillah, terima kasih atas apa yang sudah Hubby lakukan hari ini. Karena begitu menyenangkan bagiku, bahkan aku tidak pernah sebahagia ini.”


”Syukurlah, kalau kamu menyukainya. Aku ikut bahagia,”

__ADS_1


Yulian memberikan perhatiannya kepada Khadijah dengan mengusap lembut puncak kepala Khadijah yang tertutup jilbab. Dan setiap perlakuan Yulian yang seperti itu, membuat hati Khadijah semakin luluh. Sedikit demi sedikit Yulian merasakan cinta itu yang menelisik hatinya hingga menemukan puncak kedamaian, menatap mata teduh Khadijah.


’Yulian dan Khadijah mulai bucin. Tapi ego masih menguasai mereka, sehingga gengsi pun terasa begitu besar.’ tepok jidat sama-sama yuk untuk pasangan pasutri yang malu-malu kucing. Wk... wk... wk...


__ADS_2