Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 61


__ADS_3

Langkah pun telah di pilih Tristan. Karena jam sudah menunjukkan waktu untuk sholat dzuhur, di mana Tristan segera menunaikan ibadah sholat dzuhur yang di ekori Arumi saat menuju ke mushola rumah sakit.


“Abi, maafkan Juna. Karena Juna akan mengatakan hal yang membuat kita bersedih semua.”


Arjuna keluar dari dalam ruang UGD. Lalu ia menyampaikan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukannya kepada Yulian, Abinya sendiri.


Yang diucapkan Arjuna membuat Yulian begitu penasaran. Bahkan jantungnya seolah berhenti berdetak, sedangkan berita itu belum disampaikan sepenuhnya oleh Arjuna.


“Ap maksud kamu, Juna? Katakan dengan jelas, Abi tidak mengerti.”


“Bunda harus segera dioperasi sekarang juga, jika tidak maka ... akan membahayakan nyawa Bunda atau dedek bayinya.” Terang Arjuna.


“Kenapa bisa seperti itu? Bukankah ... kandungan Bundamu masih tujuh bulan, kenapa harus dilakukan operasi sekarang?”


“Pendarahan nya yang dialami Bunda terlalu banyak, Abi. Jika tidak segera di selamatkan akan membahayakan nyawa mereka.”


“Ples...”


Yulian begitu rapuh mendengar hal itu dari Arjuna. Kini kembali ia dihadapkan dengan rasa khawatir dan pilihan yang begitu sulit. Jika operasi caesar dilakukan maka bayinya akan lahir secara prematur. Namun jika tidak segera di lakukan operasi caesar, bisa saja nyawa keduanya akan melayang.


“Baiklah, jika itu pilihannya Abi minta sama kamu untuk melakukan yang terbaik saja.”


“Baik, Abi. Juna akan usahakan menyelamatkan nyawa Bunda dan dedek.”


Yulian bergegas menuju ke ruang administrasi untuk melakukan pembayaran. Dan setelah selesai melunasi semuanya, Arjuna segera meminta perawat kandungan untuk segera mempersiapkan operasi caesar.


Air mata Yulian menggenang di matanya, sehingga membuat pandangannya tidak bisa melihat dengan jelas. Sesekali ia menyeka air mata yang menetes, saat terlihat sayatan mulai dilakukan oleh Arjuna.


‘Khadijah, kembali aku diposisikan seperti ini. Dulu aku melihatmu melahirkan Hafizha dengan sayatan itu, tapi aku bukanlah siapa-siapa. Hanya lelaki yang sudah beristri dan diminta untuk menikahimu wanita yang tidak aku kenal sama sekali. Dan kini, aku harus kembali menyaksikan sayatan itu saat kamu melahirkan buah hati kita.’

__ADS_1


Yulian melihat sekilas saat Arjuna memberikan luka sayatan di perut Khadijah bagian bawah. Dan dokter kandungan telah memperjuangkan nyawa di dalam ruangan yang mencekam itu. Hal itupun juga membuat Arjuna mengingat kembali ketika operasi itu sudah dilakukan untuk yang kedua kalinya kepada Khadijah.


“Ya Allah, sekamatkanlah nyawa Khadijah dan bayi nya. Hamba tahu ... hanya Engkaulah yang mampu memberikan sesuatu hal yang pasti.”


Do'a dan istighfar tak hentinya dilantunkan oleh Yulian sebelum mendapatkan hasil yang membahagiakan hatinya. Dan selang beberapa menit kemudian kabar itu telah hadir dalam kehidupan baru Yulian.


“Oek... Oek... Oek...”


Tangis bayi mungil pun terdengar begitu menggema di dalam ruangan itu. Dan tidak lama kemudian perawat membawa bayi itu ke sisi kiri ruang operasi yang diberikan pembatas sebuah tembok. Dan di sana lah Yulian mengadzankan bayinya yang diberi nama Abizzar Cahya Atmajaya. Karena bayi itu adalah bayi laki-laki yang terlihat tampan, meskipun berat badannya hanya dua kilo, tetapi Abizzar memperlihatkan keaktifannya kepada semua orang.


“Bagaimana dengan keadaan Bundamu, Juna?”


“Alhamdulillah, Bunda sudah melewati masa kritisnya, Bi. Mungkin beberapa jam lagi Bunda aka sadar.” Terang Arjuna.


“Alhamdulillah... terima kasih Ya Allah.”


Yulian benar-benar tidak mampu membendung air matanya yang sudah menggenang. Air mata itupun luruh berderai membasahi pipinya. Arjuna yang melihat akan hal itu hatinya ikut perih. Karena Arjuna tahu benar bagaimana dulu Yulian dengan Aisyah saat melahirkan Ahtar. Perjalanan yang berliku dan cobaan yang bertubi membuat Arjuna merasakan perih dan getir kehidupan.


Jika penasaran dengan kisah Yulian saat bersama Aisyah bisa dibaca novel saya yang berjudul Hijrah Cinta.


Edisi promosi, wkwkwk...


...****************...


“Izha, jaga adek dirumah bersama bik Inem ya! Kak Cahaya mau ke rumah sakit dulu sama Om Abdullah. Okay, cantik!”


“Okay, Kak. Hafizha akan jaga adek, kak Cahaya tenang saja.”


Cahaya seketika bergegas ke rumah sakit setelah menyiapkan beberapa perlengkapan bayi dan pakaian untuk Khadijah berganti saat masih di rumah sakit. Karena tidak memiliki persiapan apapun, bahkan baju bayi laki-laki belum sempat dibeli oleh Yulian dan Khadijah akhirnya kini mampu diselesaikan oleh Cahaya.

__ADS_1


“Om Abdullah, kita mampir dulu ke supermarket milik Abi. Cahaya mau ambil susu untuk Abizzar.” Abdullah mengangguk.


Cahaya memilih salah satu susu formula yang terbaik untuk seusia bayi yang baru lahir sebelum mendapatkan ASI dari ibunya. Setelah itu Abdullah melanjutkan kembali perjalanannya.


...----------------...


“Karena aku bayi itu terlahir prematur. Bagaimana ini? Bagaimana jika Pak Yulian melaporkan aku ke polisi?”


William merasa takut dan dihantui dengan rasa bersalah. Karena perbuatannya hampir menyelakai Khadijah dan bayinya. Namun, William tidak ingin mengaku salah kepada Yulian, karena William merasa takut jika ia akan masuk ke jeruji besi dan mendekam di sana.


William masih menatap Yulian yang duduk sendiri di ruang tunggu. Karena kebetulan Arumi dan Tristan sedang mencari makanan untuk dijadikan santapan malam itu. Sedangkan Arjuna, ia harus melakukan visit pada pasien yang baru menjalani operasi caesar.


“Brukk!”


Suara seseorang telah jatuh ke lantai. Karena tidak sengaja William menabrak seorang perawat kandungan yang sedang bertugas. Sehingga keberadaannya yang tengah sembunyi akhirnya diketahui oleh Yulian. Tanpa berpikir panjang Yulian pun menghampiri William.


Setelah berlari menelusuri setiap lorong rumah sakit, akhirnya Yulian bisa bertatap muka dengan William. Dan Yulian mengajak William duduk di taman dengan obrolan ringan yang menyelingi kebersamaan mereka.


“Saya tahu, di dalam hati kecil kamu masih ada rasa khawatir terhadap seseorang. Sehingga membawamu pergi kesini walaupun tak memperlihatkan wajahmu di hadapan saya.”


William hanya menunduk. Ia tidak berheming dari tempat duduknya, bahkan bersua pun tidak. Akan tetapi, tangannya begutu kentara gemetar. William masih takut jika Yulian akan melaporkan dirinya ke polisi.


“Jangan takut! Aku hanya hamba Allah yang masih diberikan kebebasan bernafas, bersyukur dan diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada siapapun.”


Yulian mencoba memegang tangan William, pemuda yang berusia sekisar 22 tahun, seperti usia Ahtar.


Obrolan pun bergulir dengan tenang dan damai, tanpa adanya amarah yang tersimpan dari dalam diri Yulian terhadap William, walaupun Yulian tahu William sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Jika saja Khadijah tidak segera dilarija ke rumah sakit dan segera melakukan operasi caesar, maka bisa saja nyawa Khadijah dan Abizzar akan melayang saat itu juga.


“Itu bukannya ... Abi? Tapi ... dengan siapa itu?” gumam Ahtar.

__ADS_1


Ahtar melihat Yulian yang masih berusaha meluluhkan hati William saat berada di taman rumah sakit. Karena merasa penasaran Ahtar pun menghampiri keberadaan Yulian.


BERSAMBUNG...


__ADS_2