Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 64


__ADS_3

Setelah dirasa sudah rapi, Cahaya dan bik Inem berlanjut ke dapur untuk membuat hidangan makan siang. Meskipun Arjuna dan Ahtar tidak bisa ikut makan bersama, tetapi wajib bagi mereka menyiapkan makanan di meja makan. Lagipula siang itu Khadijah sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


“Assalamu'alaikum, kak Cahaya maaf jika Izha telat pulang nantinya. Izha mau ikut ke rumah Om Abdullah sebentar.”


Hafizha mengirim pesan singkat kepada Cahaya yang meminta ijin untuk ikut ke rumah Abdullah untuk menjemput istri dan anak Abdullah yang akan ikut menyambut kedatangan Khadujah nantinya.


”Wa'alaikumsalam, ya sudah. Hati-hati di jalan!” balas Cahaya.


Cahaya kembali melanjutkan membuat makan siang bersama bik Inem. Hanya menu sederhana untuk yang akan dihidangkan untuk siang ini, karena setok belanjaan pun sudah habis. Dan bik Inem juga belum sempat untuk membeli semuanya.


“Nanti atau besok saja kita belanja bersama, bik. Besok kan, hari libur jadi Mas Juna bisa jagain Agam di rumah.”


“Baik, Non cantik.”


Setelah usai membuat masakan Cahaya menelpon Yulian untuk menanyakan sampai di mana mereka saat ini. Karena dia jam sudah berlalu sejak mulai dari rumah sakit, sedangkan prediksi Cahaya seharusnya sudah sampai dai lima belas menit lalu, itupun jika tidak terkena macet di jalan.


“Halo, assalamu'alaikum abi.”


“Wa'alaikumsalam, Cahaya. Ada apa kamu menelpon?”


“Cahaya mau tanya saja, sekarang Abi dan rombongan sampai dimana? Seharusnya kan, sudah sedati tadi sampainya.” Tanya Cahaya tidak mengurangi rasa sopan.


“Maafkan Abi jika tidak memberi kabar kepadamu, ini tadi Bundamu masih memilih beberapa belanjaan untuk besok. Biar kamu tidak perlu repot,”


“Baiklah, hati-hati di jalan, Bi.”


Begitulah Khadijah dan Yulian, mereka selalu mengurangi beban bik Inem ataupun Cahaya yang selalu mengurus bagian dapur saat Khadijah tidak bisa membantu. Dan hanya hal itu yang bisa membantu bik Inem untuk mengurangi rasa lelah. Tidak bisa dibayangkan jika bik Inem harus mengurus seisi rumah, memasak dan juga menjaga Agam jika Cahaya sedang keluar. Sedangkan Hafizha sudah beranjak remaja, tidak perlu lagi dijaga oleh bik Inem. Akan tetapi Hafizha selalu manja kepada bik Inem, bisa dibayangkan sejak kecil hanya bik Inem yang selalu ada setiap waktu untuknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Hafizha, Om tinggal tunggu sebentar disini. Jangan kemana-mana, jangan sampai turun dari mobil. Jika itu terjadi, maka Om jelas akan kena ... marah.”

__ADS_1


“Siap!”


Hafizha duduk bersantai di dalam mobil sembari mengutak-atik handphone nya. Namun, apa yang dilihat Hafizha harus dalam pengawasan Yulian dan juga Khadijah, selain kedua orang tuanya ada satu kakak laki-laki nya yang selalu memanjakan akan dirinya, Ahtar.


“Assalamu'alaikum, Bang.” Pesan singkat pun telah dikirm ke nomor Ahtar.


“Wa'alaikumsalam, dek. Pasti ada sesuatu nih.” Ahtar yang saat itu sedang tidak sibuk pun segera membalas pesan Hafizha.


“Ha... Ha... Ha..., bang Ahtar tahu saja kalau ada sesuatu. Izha ... mau dong di ajak jalan-jalan ke Tattu Edinburgh. Izha mau makan di sana.”


“Emm... lihat saja nanti ya, jika Abang tidak ada pasien yang dadakan... Abang akan antar kamu. Tapi... Abang tidak janji.”


“Baiklah, sekarang Izha mau pulang. Tapi mau ke rumah Om Abdullah dulu.”


Pesan pun telah diakhiri dan Ahtar kembali melakukan visite kepada pasiennya setelah menjalankan operasi jantung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khadijah menunjuk ke arah sup leek dan tattie, salah satu menu makan siang yang sangat cocok dalam cuaca dingin yang saat ini menyerang kota Skotlandia. Dan seperti biasa, Yulian tidak mampu menolak keinginan Khadijah. Karena baginya hal yang membuat Khadijah merasa senang, ia merasa sudah memenuhi tanggungjawabnya.


“Mau apa lagi? Kita sudah ditunggu sama Cahaya. Tidak kasihan apa sama Cahaya dan bik Inem yang sudah capek-capek masak loh tadi.”


“Bukannya tidak kasihan, Hubby. Tapi, Neng mau menyambut kebersamaan kita lagi dengan menu yang khas dari Skotlandia. Kita bisa makan bersama nantinya, toh ada keluarga Abdullah juga nanti. Perlu banyak masakan yang harus dihidangkan.”


Yulian meghela nafasnya, memang benar apa yang dikatakan Khadijah. Sehingga ia hanya pasrah jika saja Khadijah akan memborong semua makanan di salah satu restoran tempatnya saat ini berpijak.


Untung saja mbak penulis baik hati yah, sudah menempatkan Yulian menjadi CEO ternama Se-Indonesia dan juga di Edinburgh. Sehingga bisa memborong apapun yang Khadijah mau. Wkwkwk...


Setelah selesai membeli bahan makanan dan beberapa makanan yang siap saji, kini Yulian melakukan mobilnya menuju kerumah. Dan di sana sudah disambut dengan penuh senyum dari anak dan cucunya.


“Bunda, Izha rindu sama Bunda.”

__ADS_1


Hafizha seketika melayangkan pelukan kepada Khadijah, lalu berganti ke Yulian.


“Bunda dan Abi juga kangen sama kamu, sayang.”


Obrolan ringan menemani mereka di ruang tengah sebelum melanjutkan makan siang. Dan beberapa menit kemudian mereka pun menyantap bersama sup leek dan tattie serta makanan yang sudah di masak oleh bik Inem dan juga Cahaya.


“Izha nanti saja makannya, kak Cahaya makan saja dulu. Agam biar Izha yang jaga.”


Cahaya mengangguk, karena ia begitu hafal dengan adiknya itu. Hafizha jarang sekali mengikuti makan siang bersama, karena ia lebih memilih menjaga Agam yang kini sudah berusia dua tahun. Sifat lemah lembut yang diwarisi Khadijah begitu melekat di dalam diri Hafizha, apalagi saat berada dibawah didikan Yulian, Hafizha tumbuh dengan sikap yang bijaksana. Sehingga ia tidak pernah marah sedikitpun jika saja Agam ngompol dan mengenai pakaiannya.


“Agam, aunty mau ke toilet sebentar ya! Agam disini main saja dulu.”


Agam mengangguk, meskipun belum bisa bicara dengan sempurna tetapi Agam mengerti jika saja ada orang yang tengah bicara dengannya. Dan Hafizha selalu mengajarkan hal baru kepada Agam, membuat Agam tumbuh menjadi seorang putra yang cerdas seperti Arjuna.


“Agam, kenapa kok sendirian saja? Sini main yuk sama Om Brian.”


Brian tak lain adalah putra Abdullah, yang kini sudah tumbuh remaja. Aka tetapi lebih dulu Hafizha, hanya beberapa bulan saja.


“Brian, kamu kenapa disini? Tidak ikut makan siang?”


“Tidak kak, aku... merasa kenyang. Soalnya tadi sudah makan siang sama teman di sekolah tadi.”


Hafizha manggut-manggut, setelah melihat Agam ada teman ia memilih untuk pergi ke kamar terlebih dahulu, sekedar mengambil handphone.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Arumi, aku mau bicara sama kamu. Bisakah kita bicara empat mata saja?”


Setelah usai makan siang Khadijah mendekati Arumi dan memintanya untuk bicara empat mata saja. Karena Khadijah tidak bisa menyimpan rasa itu sendirian saja, sedangkan Khadijah sudah tahu betul Humaira menyimpan perasaan terhadap Ahtar. Dan perasaan itu terlihat sudah terlalu dalam, Khadijah mampu merasakan sebagai seorang perempuan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2