Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 115 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Ahtar nampak diam saja, mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan Alex tentang dirinya yang jelas akan semakin menua.


Bagi seorang Ahtar pernikahan bukanlah hanya sebuah kisah yang akan mengikat dua hati saja, bahkan bukanlah penyatuan dua insan yang berbeda, tetapi pernikahan itu adalah suci. Hubungan yang sakral_yang semata-mata tidak bisa dibuat permainan. Jika cinta, maka akan selalu bersama dan ketika sudah bosan ataupun tak sejalan lagi maka, lebih memilih untuk saling meninggalkan.


“Mungkin benar apa kata Opa Alex. Lebih baik menikah di usia muda daripada hati akan semakin jauh dikuasi oleh hawa nafsu. Tapi... Ahtar saja tidak pernah mengenal seorang wanita secara spesial. Apalagi menikah, tidak mungkin terjadi, Opa.” Ahtar mendelik, merasa malu saat menyebut wanita.


Alex pun tertawa mendengar ucapan Ahtar, bahkan Alex mengakui jika hal semacam itu tidak bisa dilakukan oleh Ahtar, karena Yulian benar-benar memperketat penjagaan setiap anaknya dalam perilaku sopan, santun, tutur kata dan juga menjaga marwah seorang lelaki.


“Sepertinya... Zuena terlihat cocok denganmu, Ahtar. Apa... kalian terlibat sebuah kisah?”


Deg...


Ahtar terdiam, ia mencerna ucapan Alex. Dalam diam Ahtar mengingat tentang lantangnya saat berbicara hal cinta yang ia pilih waktu berada di hadapan Humaira. Namun rasa cinta itu tak mampu ia yakini sbegitu saja, karena takdir hanya Allah yang menentukan.

__ADS_1


“Entahlah! Opa. Ahtar serahkan semua kepada Allah SWT, insyaAllah akan dipermudah jika hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam mencari jodoh.” Ahtar melepas tawanya begitu saja.


Alex pun ikut tertawa melihat tingkah absurd Ahtar yang kini dianggap cucu olehnya. Dan obrolan yang terus bergulir membuat terciptanya sebuah keakraban diantara Alex dengan Ahtar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yulian dan rombongan akhirnya sampai juga di rumahnya, dengan siaga Yulian membantu Khadijah menuruni mobil dan memindahkannya di kursi roda. Setelah itu mendorong kursi tidak Khadijah untuk masuk rumah sekaligus langsung menuju ke kamar, karena Khadijah harus sejenak berselonjor di atas kasur untuk meregangkan otot kakinya yang hampir seharian penuh hanya duduk saja.


Sedangkan Khadijah hanya mengangguk saja, mengiyakan apa yang akan dilakukan oleh Yulian. Karena perhatian kecil semacam itulah yang dirindukan Khadijah dari sosok suaminya, Yulian.


“Terserah Hubby saja, Neng nurut.” Khadijah mengulas senyum.


Yulian mengangguk, lalu mengambil satu set baju gamis, cadar dan hijabnya. Setelah usai menyiapkan baju Yulian seketiake menuju ke kamar mandi untuk menyalakan kran bagian air hangat.

__ADS_1


“Sudah, Neng. Mau mandi sekarang atau... mau santai dulu di sini?” tanya Yulian.


“Emm... mandi saja lah, nanti malah keburu sore lagi.” Khadijah memutuskan untuk membersihkan tubuh dengan segera.


Yulian kembali mengangguk, lalu membantu Khadijah untuk berdiri. Bahkan Yulian menuntun Khadijah sampai ke kamar mandi.


“Waktu mandinya perlu bantuan Hubby, tak?” tanya Yulian memastikan.


“Ish... masa iya mau ngintip? Lagian sih, Neng ini bukan buta mata Hubby, tapi hanya mengalami lumpuh di kaki.” Tangan Khadijah menunjuk kakinya yang mencoba untuk berdiri.


“Ish... masa iya mau ngintip? Lagian sih, Neng ini bukan buta mata Hubby, tapi hanya mengalami lumpuh di kaki.” Tangan Khadijah menunjuk kakinya yang mencoba untuk berdiri.


“Ish... masa iya mau ngintip? Lagian sih, Neng ini bukan buta mata Hubby, tapi hanya mengalami lumpuh di kaki.” Tangan Khadijah menunjuk kakinya yang mencoba untuk berdiri.

__ADS_1


__ADS_2