Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 137 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Hampir dua bulan Yulian kembali berkutat dengan aktivitas di kantor dan juga di butik Aisyah Galery yang ada di kota Medan. Karena Papa Adhi sudah mulai menua tidak mungkin lagi bagi lelaki paru baya itu untuk melanjutkan pekerjaan di kantor maupun pekerjaan yang lainnya. Sehingga semuanya harus Yulian yang mengurus, seperti dulu jauh sebelum Yulian memutuskan untuk meninggalkan kota Medan dan melanjutkan hidup di kota Edinburgh.


“Saya mau semuanya ikut dalam diskusi kali ini, karena saya tidak ingin jika saya yang memutuskan masalah ini maka, kalian akan... menolak meskipun tidak secara terang-terangan di hadapan saya.”


Yulian mengumpulkan semua pekerja yang ada di Aisyah Galery, lalu meminta para karyawan dan karyawati untuk mengambil duduk yang sudah disediakan oleh Yulian di sana. Memang pegawainya tidak banyak, tetapi dalam diskusi apapun Yulian ingin mereka ikut andil di dalamnya.


“Tapi, Pak. Apapun yang Pak Yulian akan putuskan kami akan menyetujuinya,” ujar lelaki muda yang bernama Argantha.


“Iya, Pak. Itu benar,” sahut pegawai yang lain.


Hal serupa juga dilakukan oleh yang lainnya, ikut menyetujui apapun yang menjadi keputusan Yulian nantinya. Tapi... tidak dengan Yulian. Karena Yulian akan tetap memutuskan jika mereka harus ikut andil.


“Oh, tidak. Saya bukan kalian yang akan langsung bilang setuju di saat saya memang tidak setuju. Setuju dalam ucapan itu memang gampang, tapi tidak dalam hati. Jadi, saya akan tetap meminta kalian untuk ikut dalam diskusi pembangunan Aisyah Galery di cabang Bandung.”


“Dan sekarang, kalian bisa tenang sebentar? Saya akan menjelaskan secara detail apapun yang harus diperlukan.”


Tidak ada yang bisa menolak lagi dengan keputusan Yulian, karena mereka teetaplah bawahan tetapi, Yulian tidak pernah menganggap jika mereka hanyalah bawahannya saja. Mereka adalah orang yang paling berjasa bagi Aisyah Galery.


Yulian pun mulai menjelaskan apa saja yang diperlukan, persiapan dalam membuat baju, alokasi gedung dan hal lainnya lagi. Hingga mereka semua akhirnya ikut berpartisipasi dalam pembangunan Aisyah Galery cabang Bandung.


“Ok. Saya akan mengucapkan banyak terimakasih karena kalian semua mau ikut dalam diskusi ini.” Yulian berdiri, lalu mengakhiri diskusi siang itu.


“Iya, Pak. Kami juga sangat berterima kasih dengan semuanya, termasuk perlakuan pak Yulian terhadap kami semua.” Para pegawai menyalami Yulian secara bergantian.


Semua pegawai keluar dan acara diskusi telah dibubarkan. Sedangkan Yulian kembali disibukkan dengan layar ponselnya. Biarpun Yulian sibuk dalam pekerjaannya, tetapi Yulian tidak pernah mengabaikan satu pesan pun dari Khadijah yang berada di rumah.


Setelah menetap di kota Medan, Khadijah hanya diminta untuk menjadi ibu rumah tangga saja yang hanya mengurus Abizzar, anak laki-laki mereka yang kini sudah beranjak usianya.


[Assalamu'alaikum, Hubby!]


Yulian menarik pangkal ujung bibirnya hingga terbentuk senyuman yang begitu menawan.

__ADS_1


[Walaikumsalam, Neng. Kenapa sudah kirim pesan di jam segini? Apa sudah rindu sama Hubby, Neng?]


Dari seberang juga melakukan hal yang sama. Khadijah tersenyum dibalik cadar nya, karena meskipun Yulian sudah tidak lagi muda tetapi, perlakuannya bak masih anak muda saja. Romantis itu sudah pasti, karena Yulian akan selalu menjadikan Khadijah sebagai ratu dalam hidupnya.


[Ish, terlalu percaya diri itu namanya. Bukan rindu, tapi Neng mau mengabarkan jika anak-anak sudah mendarat di Bandara Kualanamu. Kalau Hubby tidak sibuk, bisa sekalian jemput mereka.]


Kedua alis Yulian bertaut, ia lupa jika anak-anaknya sudah berangkat ke kota Medan. Arjuna dan Ahtar sudah mengurus perpindahan kerja mereka ke kota Medan, sedangkan Hafizha sudah... lulus.


[Astaghfirullahalazim, iya, Neng. Maaf, Hubby lupa dengan hal itu. Kalau begitu sekarang Hubby akan segera ke Bandara. Terimakasih,ya, Neng, sudah mengingatkan suamimu ini.]


Dari kejauhan Khadijah terkekeh geli dengan tingkah suaminya yang belum tua banget tetapi, sudah mulai pikun. Ya , harap maklum saja ya, Yulian terlalu sibuk orangnya, tetapi tidak pernah melupakan kasih sayang untuk keluarganya.


Yulian seketika meraih kunci mobilnya yang berada di atas nakas, tidak lupa jas yang tersampir di kursi kerjanya kini menempel kembali di tubuhnya. Dengan langkah yang penuh semangat Yulian menuju ke tempat parkir yang ada di halaman depan Aisyah Galery.


Mobil BMW berwarna silver itupun melaju dengan kecepatan rata-rata. Mengingat siang itu jalan raya kota Medan tidak terlalu padat seperti di Jakarta, Yulian bisa bebas tanpa terjebak macet yang berkepanjangan. Dan hanya memakan waktu kurang lebih setengah jam saja untuk sampai ke bandara.


“Abi!” teriak Hafizha.


“Kalian,” ujar Yulian.


Yulian mengulas senyum saat melihat, Arjuna, Ahtar, Cahaya, Hafizha dan Garda berdiri tidak jauh dari tempatnya saat itu berpijak. Yulian pun melangkah gontai untuk menghampiri mereka.


“Assalamu'alaikum, Abi.” Semua anaknya menyalami punggung tangan Yulian.


“Waalaikumsalam,”


Setelah menyalami Yulian, mereka semua sejenak mengambil duduk yang ada di sana, tetapi itupun tidak berlangsung lama. Karena Yulian akan mengajak anak-anaknya serta cucunya ke sebuah warung Soto Kesawan Jaya, jaraknya pun tidak jauh dari Bandara,hanya 1km saja.


“Soto kesawan jaya itu makanan seperti apa sih, Bi? Kok, Izha baru dengar juga.” Hafizha membulatkan kedua bola matanya, ia berpikir keras makanan yang akan dijadikan santapan siang mereka.


“Ha ha ha... Sudah deh, pokoknya yang pasti makanan soto kesawan jaya itu enak pol. Mantap!” ujar Ahtar yang mengancungkan jempolnya.

__ADS_1


“Ish! Sok iye bang Ahtar itu,” desis Hafizha.


“Sudah-sudah, jangan ribut! Kita langsung saja pesan, daripada kamu nanti semakin pemasaran saja.” Yulian melerai pertikaian dua anaknya itu.


Setelah memesan sekitar sepuluh menit lalu, kini akhirnya penjual mengantarkan soto Kesawan jaya yang mereka pesan. Soto berkuah santan, yang disajikan dengan beberapa isian di dalam soto tesebut. Di antaranya ada ayam yang di suwir, daging sapi yang dipotong, jeroan hingga udang.


Seperti biasa, saat makan mereka semua tidak ada yang bersuara_tanda jika mereka berdiam untuk menikmati makanan mereka tanpa ada yang mengganggu.


Sekitar lima belas menit sudah mereka menyantap soto kesawan jaya dengan penuh khidmat. Bahkan Hafizha terlihat menyukai soto Medan itu, begitu juga dengan Garda dan yang lainnya.


“Ya sudah, kalian habiskan dulu minuman kalian. Abi mau membayar sekalian membeli soto lagi untuk orang yang ada di rumah.” Yulian beranjak dari kursinya, lalu menuju kasir.


Untuk menyegarkan tenggorokan mereka, mereka memesan es jeruk, dan kini tengah mereka teguk hampir tidak tersisa. Mungkin saking hausnya.


“Setelah sampai di rumah nanti Izha mau keliling taman,” ujar Hafizha menerawang.


“Jangan aneh-aneh dulu, dek. Kamu itu baru sampai, nanti kalau hilang bagaimana?” canda Ahtar.


“Ya tidak mungkin hilang dong, Bang. Kan, tamannya dekat sama rumah Abi.” Hafizha menjulurkan lidahnya.


“Iya, bang Ahtar tahu tapi, kamu itu masih belum hapal sama kota Medan. Kalau nyasar pas mau pulang bagaimana? Sudahlah, jangan aneh-aneh!” larang Ahtar dengan keras.


Hafizha tidak bersuara lagi, tetapi dalam hatinya sangat merasa kesal dengan larangan dari Abang nya itu. Dan tidak lama kemudian Yulian kembali dengan membawa sepuluh soto kesawan jaya yang di masukkan ke dalam plastik kantung berwarna putih.


Semua menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobil BMW berwarna silver milik Yulian. Lalu, mobil dilajukan dengan kecepatan sedang. Hati yang sudah hampir sore itu membuat jalan raya sedikit macet, bahkan banyak kendaraan bermesin yang memenuhi jalan raya, hingga menimbulkan kemacetan di sana.


Namun, Yulian selalu menanamkan rasa sabar jika terjebak hal seperti itu. Yulian juga selalu tertip dengan rambu-rambu lalu lintas, itupun dilakukan sebagai warga yang baik.


Tidak lama kemudian mobil BMW berwarna silver itupun memasuki pelataran rumah Yulian. Da kedatangan mereka sudah disambut oleh Papa Adhi, Khadijah, Abizzar dan ketiga pekerja di rumah itu. Bukan hanya itu saja, tetapi ada juga kendaraan bermesin yang siap untuk ketiga nya.


‘Semoga kalian suka dengan hadiah ini,’ ucap Yulian dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2