
Masih terdiam dalam keheningan. Dan Khaira masih berdiri di posisi yang sama. Sedangkan yang lainnya masih berharap jika Khaira mau berbalik dan mengatakan iya atas ajakan Arumi. Akan tetapi, Khaira merasa enggan untuk berbalik dan mengatakan iya. Karena ia takut akan terjebak dalam keluarga Yulian.
”Maafkan saya, saya akan tetap menolaknya. Saya harus pergi, permisi! Assalamu'alaikum,” tegas Khaira.
Khaira kembali melanjutkan langkahnya tanpa kembali memandang mereka yang berada dibelakang punggungnya. Sedangkan Arumi, ia merasa ada sesuatu hal yang berbeda atas sikap Khaira tersebut. ”Aku yakin bahwa itu kamu.” Batin Arumi, ia terus menatap punggung Khaira yang kini tidak mampu terlihat oleh pandangannya.
”Kita cari saja model yang lainnya. Dan lupakan tentang Khaira.” Pinta Yulian tanpa memandang ke arah Arumi dan Luisa.
”Tidak, Yulian. Aku akan tetap mencari cara agar Khaira mau menjadi modelnya.” Pekik Arumi.
”Jangan bilang kalau kamu akan memaksanya, Arumi. Itu tidak baik, jelas Dia sudah menolak mentah-mentah permintaan kita. Lagipula ... kenapa kamu ingin memaksanya?”
Yulian sedikit memiliki rasa penasaran dengan apa yang ada di dalam pikiran Arumi. Dan Yulian ingin tahu alasan Arumi yang hendak memaksa Khaira untuk mau melakukan hal yang sudah jelas ditolak mentah oleh Khaira.
”Izha main dulu ya sama bik Inem. Abi mau bicara dulu sama Mama Arumi.” Yulian menurunkan Hafizha dalam gendongannya.
Sejenak Yulian menatap Luisa untuk meminta penjelasan tentang maksud dari Arumi. Namun, hasilnya nihil, karena Luisa hanya mengendikkan bahunya saja_Luisa benar-benar tidak tahu apa tujuan Arumi. Dan kembali, Yulian dibuat penasaran dengan Arumi. Sedangkan Arumi sendiri tidak menyadari bahwa sedari tadi Yulian meminta jawaban atas rasa penasaran. Karena Arumi hanya sibuk dengan benda pipihnya yang ada dalam genggaman tangannya.
”Assalamu'alaikum, bisakah kamu membantuku?” tanya Arumi yang dikirim melalui ponselnya.
Sau detik....
Dua detik...
Tiga detik...
”Wa'alaikumsalam, aku bisa bantu kamu apa?” balas dari seseorang dari seberang.
”Tolong kamu cari tahu wanita yang bernama Khaira! Dia baru saja keluar dari rumah Yulian.”
”Baiklah! Aku akan usahakan mendapatkan informasi tentang wanita itu sesuai dengan gambar yang sudah kamu kirim.”
”Iya, terimakasih!”
__ADS_1
”You are welcome.”
Pesan singkat Arumi dengan seseorang dari seberang kini telah berakhir. Dan setelah ia memasukkan kembali benda pipihnya ke dalam tas, baru ia menyadari bahwa Yulian masih berada di sana. Duduk dan sesekali menatapnya. Arumi yang sudah mengenal Yulian bertahun-tahun, ia pun tahu apa maksud dari tatapan seorang Yulian_tatapan menyelidik. Dan akhirnya Arumi tidak memiliki pilihan lain kecuali menceritakan apa tujuannya yang begitu antusias mencari tahu tentang Khaira.
”Baiklah, aku akan mengatakan kenapa aku begitu ingin Khaira menjadi model di Aisyah Galery. Tapi ... ada syaratnya?” Arumi mendesah pelan.
”Kenapa harus ada syarat?” Yulian mencebik.
”Tinggal katakan mau atau tidak?” tanya Arumi seraya membuang muka.
”Baiklah! Sekarang katakan tujuan kamu akan hal itu. Kamu kan, tahu ... kalau aku tidak mau memaksa orang lain, terutama wanita.”
”Sudahlah, ikuti saja aku! Kalau kamu mau dengan syaratnya, itu akan mempermudah jalanku mendekati Khaira.”
”Terserah kamu saja. Tapi apa syaratnya, Arumi?”
”Tetaplah bersikap baik kepada Khaira apapun yang terjadi. Hormati Dia selayaknya seorang ibu yang sudah melahirkan anak kamu, Yulian.”
Satu detik...
Dua detik...
Yulian masih terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan Arumi sebagai syarat untuknya. Tapi sayang, lelaki sejenius Yulian tidak mampu menangkap inti dari syarat Arumi. Sedangkan Arumi sendiri sudah berlalu dari kediaman Yulian dan meninggalkannya dalam otak yang tengah memikirkan jawaban yang pasti_tidak ambigu. Tapi, hasilnya masih saja nihil.
”Astaghfirullah hal azim, bisa gila aku memikirkan inti dari perkataan Arumi ini. Ya Allah, bantu hamba menemukan jawabannya!”
Yulian tidak mau mengambil pusing tentang Arumi, sehingga ia berlalu dari rumahnya untuk pergi ke kantor lalu, bertemu dengan Tristan_suami Arumi. Karena berada dalam. pemikiran buntu, akhirnya Yulian bercerita kepada Tristan sesampai di sana.
-------
”Maafkan aku, Arumi. Mungkin kamu sudah mengenali siapa aku? Dan aku tidak mau berhubungan lagi dengan kisah masa lalu bersama Yulian. Akan ku biarkan Dia hidup bahagia.” Batin Khaira.
Khaira melupakan sejenak apa yang melibatkan ia dalam keluarga Yulian tadi pagi setelah sampai di sebuah tempat yang tidak asing. Di mana tempat itu kini semakin berkembang di Edinburgh_ Edinburgh University. Karena mulai hati berikutnya Khaira akan mengajarkan Islam di sana.
__ADS_1
Udara siang itu terasa begitu sejuk_ angin berhembus pelan, apalagi saat berada di masjid Edinburgh, masjid satu-satunya di sana yang cukup terkenal. Sekarang Islam tidak asing lagi bagi masyarakat Edinburgh, sehingga Islam masuk dengan begitu mudah di sana. Bukan haya itu saja, banyak kaum hawa yang kini menutup aurat mereka.
”Assalamu'alaikum, ukhti Khaira.” Sapa seorang wanita yang berhijab.
”Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ukhti Sabrina.” Balas Khaira dengan sopan.
”Mari saya antar ke tempat saya, agar ukhti Khaira bisa beristirahat di sana.” Ajak Sabrina. yang tidak lepas senyum.
Khaira mengangguk pelan_mengiyakan ajakan Sabrina. Sabrina adalah seorang wanita yang memiliki hati mulia, penuh dengan kesopanan dan Dia juga sahabat dari Khaira. Sehingga tidak ada lagi kecanggungan antara keduanya untuk saling bertukar perasaan saat kegundahan tengah melanda mereka. Bukan hanya itu saja, bahkan Sabrina mengetahui bagaimana lika-liku perjalanan Khaira saat memperdalam Islam.
”Silahkan beristirahat, ukhti Khaira.” Ajak Sabrina setelah membuka pintu rumah miliknya.
”Sudahlah Sabrina, jangan panggil aku dengan ukhti. Bukankah ... kita sudah bersahabat lama, jadi panggil saja dengan namaku.” Senyum manis terukir dari bibir Khaira.
"Baiklah, Khaira!” Sabrina terkekeh.
Gelagak tawa kini menghiasi rumah sederhana itu. Meskipun hanya tinggal berdua, tetapi Khaira dan Sabrina tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan membuat mereka bahagia dengan status singgle di usia yang seharusnya sudah memiliki pasangan. Bukan mereka tak ingin mencari, tetapi semuanya mereka percayakan kepada Allah, Sang pembuat takdir kehidupan mereka.
”Khaira, kapan kamu mulai mengajar?”
”InsyaAllah besok, Sabrina. Doakan saja semoga semua mahasiswinya mampu menerimaku.” Khaira kembali tersenyum.
”Tentu.”
--------
”Aku akan menanyakan apa maksud dari Arumi setiba di rumah nanti. Jujur ... aku juga penasaran, kenapa bisa Dia mengajukan syarat aneh itu? Memangnya siapa sebenarnya Khaira?”
”Entahlah! Aku sudah pusing memikirkannya dari tadi.” Yulian akhirnya sudah pasrah.
Hari telah berlalu dengan begitu cepat. Jam sudah menunjukkan pukul dua sore. Dan saat hendak makan siang, tiba-tiba benda pipih milik Yulian yang berada di saku celananya telah berdring. Ada panggilan masuk ke nomornya, entah itu siapa?
Yulian segera merogoh saku celananya untuk memastikan siapa yang begitu ingin berbicara dengannya melalui udara. Dan setelah tahu nama siapa yang tertera, seketika ia pun tersenyum.
__ADS_1