Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 90 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Yulian meyakinkan dirinya hendak mengambil duduk di sisi Khadijah, tetapi raut wajah Yulian seketika berubah saat Khadijah menatap nanar dirinya. Seolah Khadijah tengah merasakan jika kakinya sulit untuk digerakkan. Akan tetapi, Yulian berusaha untuk menutupi akan hal itu, agar Khadijah tidak merasa curiga sama sekali. Serapat mungkin Yulian akan menutupi, tetapi Allahu aklam jika Khadijah memang harus mengetahui akan hal itu.


“Kenapa menatap Hubby seperti itu, hmm?”


Yulian menautkan alisnya, berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang akan dikatakan Khadijah.


“Hubby... tidak sedang menyembunyikan sesuatu kepada Neng, kan?”


“Menyembunyikan apa maksud, Neng?”


“Neng... merasa sulit menggerakkan kaki Neng, Hubby. Apa yang terjadi dengan kaki Neng ini? Apa ada masalah?”


Deg...


‘Ya Allah... maafkan hamba jika hamba berusaha berbohong.’ Yulian bermonolog dalam hati.


“Neng, Neng tenang dulu, ya! Siapa tahu saja kaki Neng memang belum bisa digerakkan saat ini. Lagipula Neng juga baru sadar, pasti masih lemas kaki dan tenaganya.” Terang Yulian dengan jawaban alibinya.


“Tidak mungkin jika itu alasannya, Hubby. Jika hanya karena masih lemas saja pasti Neng merasakan sakit saat Neng berusaha mencubit nya. Tapi ini... Neng tidak bisa merasakan apapun, Hubby. Hiks... hiks... hiks...”


Khadijah mulai merasa panik, ketakutan memenuhi dirinya saat ini. Yang membuat Yulian merasa kwalahan untuk menenangkan Khadijah saat Khadijah mencubit kakinya bahkan memukul dengan amat keras.


“Katakan yang sebenarnya kepada Neng, Hubby. Ada apa?” paksa Khadijah.


“Tidak terjadi sesuatu, Neng. Mungkin ini efek operasi yang sudah Neng jalani karena kecelakaan waktu itu.” Bujuk rayu terus dilakukan oleh Yulian untuk menenangkan hati Khadijah.


Namun, Khadijah tetap saja tidak mempercayai perkataan Yulian. Dan Khadijah kembali berusaha untuk menggerakkan kakinya. Tetapi, masih saja tidak bisa bahkan terasa begitu berat saat Khadijah ingin mengangkatnya untuk mencoba berdiri.


“Jangan lakukan ini, Neng! Kondisi Neng masih belum kuat untuk melakukan banyak aktivitas seperti ini. Tolong, dengarkan Hubby mu ini!”


“Tidak. Neng ingin mencoba berdiri sebentar saja, Hubby. Neng mau memastikan jika memang benar kaki Neng masih berfungsi... masih bisa untuk berjalan, Hubby. Hiks... hiks... hiks...”


Khadijah mengangkat satu persatu kakinya di atas lantai. Dengan bantuan tiang infus Aletha berusaha untuk berdiri.

__ADS_1


“Brukk.” Khadijah seketika ambruk ke bawah.


Kaki Khadijah memang tidak berfungsi untuk berjalan, jangankan berjalan bahkan berdiri pun tidak bisa. Namun Khadijah terus berusaha untuk mencobanya sampai-sampai Khadijah ambruk bukan hanya dua kali saja bahkan lebih dari lima kali. Hal itu membuat Yulian merasa sangat bersedih, seolah hatinya tengah dihunus belati tajam.


“Neng, sudah ya mencoba untuk berdirinya! Lihat, apa tidak kasihan sama diri Neng sendiri?”


“Tidak, Hubby. Neng pasti bisa berdiri, Neng akan mencobanya sekali lagi.” Rasa yakin masih dimiliki Khadijah.


Dengan kembali memegang selang tiang infus Khadijah berusaha untuk berdiri. Tetapi belum sempat mengerahkan tenaganya tubuh Khadijah ambruk, ia pun jatuh pingsan.


“Khadijah,” pekik Yulian.


Dengan segera Yulian mengangkat tubuh Khadijah ke dalam gendongannya. Setelah itu merebahkan kembali tubuh Khadijah di atas brankar, lalu Yulian berlari keluar untuk memanggil dokter Jhonson.


“Pak Yulian yang tenang ya! Saya akan memeriksa kondisi Nyonya Khadijah terlebih dahulu.” Dokter Jhonson pun meminta Yulian untuk menunggu di luar.


Dengan menurut saja Yulian menunggu di luar ruangan itu dan perasaan yang campur aduk telah menjadi satu di dalam hatinya. Rasa khawatir, takut, sedih dan amarah tidak bisa diungkapkan oleh Yulian.


Yulian tiada hentinya mondar-mandir di depan pintu ruangan Khadijah saat dokter Jhonson tak kunjung keluar. Hal itu membuat Arjuna dan Ahtar separuh berlari saat mendapati Yulian yang melakukan hal tudak wajar.


“Iya, Abi. Apa... ada sesuatu hal yang terjadi dengan Bunda?” imbuh Ahtar.


Arjuna dan Ahtar ikut merasakan khawatir saat Yulian menatap keduanya dengan binar mata kesedihan. Yulian tidak bisa menyimpan air mata yang hampir tumpah memenuhi pelupuk matanya.


“Bunda kalian... Bunda... sudah merasakan bahwa kakinya tidak bisa berfungsi.” Yupian menceritakan semuanya kepada Arjuna dan Ahtar setelah Khadijah mulai menyadari kelumpuhan di kakinya.


“Abi, kita pasrah saja sama Allah SWT. Seberapa rapat kita menyimpan hal itu, pasti Bunda akan merasakan kelumpuhan nya.” Arjuna berusaha menguatkan Yulian, karena hati Yulian benar-benar merasakan kesedihan.


“Benar apa yang dikatakan bang Juna, Abi. Serahkan semua kepada Allah SWT, karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan,” imbuh Ahtar.


Ketiganya saling peluk untuk menguatkan satu sama lain. Dan setelah cukup tenang Yulian menyeka air matanya. Dokter Jhonson pun keluar setelah memeriksa kondisi kesehatan Khadijah yang sempat jatuh pingsan.


“Bagaimana, Dok, kondisi istri saya?”

__ADS_1


“Nyonya Khadijah hanya merasa syok saja, mungkin... beliau sudah merasakan kakinya yang tidak bisa berfungsi. Terasa berat untuk sekedar berdiri.” Papar dokter Jhonson kepada Yulian, Arjuna dan Ahtar.


“Lalu... kami harus bagaimana, Dok? Apa itu akan mempengaruhi proses pemulihan tenaga Bunda saya, Dok?” tanya Ahtar.


“Kemungkinan iya, Dokter Ahtar. Sepertinya Anda sudah mengerti akan hal seperti ini. Ibarat jantung... jika mengalami syok maka akan fatal. Tapi... jika kalian berusaha untuk jujur dengan kondisi Nyonya Khadijah yang sebenarnya di awal seperti ini dan kalian semua bisa menguatkan, menegarkan dan selalu ada di sampingnya pasti akan jauh lebih baik dari prediksi kita.” Papar dokter Jhonson yang panjang lebar tetapi mudah dimengerti oleh Yulian, Arjuna dan Ahtar.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!” ijin dokter Jhonson.


“Iya, Dok, Silahkan!”


Arjuna dan Ahtar membiarkan Yulian masuk sendiri ke dalam ruangan Khadijah. Dan saat Yulian berdiri di sisi Khadijah, air mata kembali menetes. Rasanya Yukian tidak sanggup jika harus mengatakan kelumpuhan Khadijah. Namun Yulian harus tetap mengatakan hal itu, karena Yulian juga tidak ingin membuat Khadijah merasa dibohongi olehnya dan seluruh keluarga.


“Ya Allah... kuatkan hati hamba dan tegarkan hati hamba saat akan mengatakan semuanya kepada Khadijah. Jangan sampai bibir ini membungkam rahasia dan jangan sampai air mata ini tumpah saat di depannya.” Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah.


Yulian duduk di sisi brankar dan menunggu kesadaran Khadijah kembali sembari memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Rasa pusing tiba-tiba mendera kepala Yulian, tetapi sekuat tenaga Yulian berusaha untuk menahannya.


Yulian memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak saja agar rasa pusing yang mendera bisa hilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Dek, abang merasa lapar. Kamu... bagaimana?”


“Emm... iya Bang, sama. Aku juga merasa lapar, apalagi setelah aku mendapatkan pasien yang benar-benar harus ekstra sabar saat menghadapinya, membuat aku menjadi sangat lapar sekarang.”


“Terus kamu mau kemana? Ke kantin atau...”


“Di kantin saja, bisa hemat pula nanti, Bang.”


Hiks...


Arjuna meraba dadanya melihat Ahtar adik lelakinya itu bertingkah yang tidak wajar. Wajah tampan, bodynya ok, pekerjaan sudah mapan dan gajinya juga besar, tapi tetap saja mau hemat.


‘Arjuna... kenapa kamu bisa memiliki adik yang seperti ini? Terlalu hemat pada uang dan juga perasaan terhadap wanita. Tapi jangan sampai lah Ahtar jadi perjaka tua.’

__ADS_1


Bersambung...


.


__ADS_2