
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya sampai juga di rumah sakit. Yulian kembali membantu Khadijah duduk di kursi rodanya, lalu mendorongnya hingga ke ruangan Alex.
“Assalamu'alaikum,” ucap Yulian dan Khadijah bersamaan.
“Walaikumsalam,” jawab Ahtar dari dalam.
Yulian dan Khadijah masuk dengan membawa rantang makanan yang sudah diisi dengan nasi putih, clapshot dan juga mince & tattie. Semua masakan itu khas dari Skotlandia yang sudah dimasak oleh Cahaya dan bik Inem tadi pagi.
Ahtar yang sedari tadi perutnya sudah keroncongan tak segan mengambil duduk untuk membuka rantang yang sudah diletakkan di atas meja.
“Pelan-pelan bukanya, Ahtar. Nanti...”
“Bunda tenang saja, tak akan tumpah kok.” Ahtar menebarkan senyum paginya kepada Khadijah.
Khadijah pun membalas senyum itu dengan geleng-geleng melihat Ahtar yang seperti tidak makan satu minggu saja. Begitu lahap setelah membaca doa sebelum makan. Hal sama pun dilakukan Yulian dan Alex, keduanya tertawa geli melihat Ahtar. Sedangkan Ahtar tidak mempedulikan mereka yang mentertawakannya, karena rasa lapar yang mendera telah mengalahkan rasa malunya.
“Bagaimana kondisi Papa saat ini? Apa masih merasa sakit di dada, Papa?”
“Tidak kok, Yulian. Tenang saja, Ahtar tidak pernah mengabaikan setiap detiknya kondisi Papa. Dia... anak yang baik, sepertimu Yulian.” Alex memgudarakan senyumnya seraya menatap Ahtar yang masih makan dengan lahap.
Yulian ikut tersenyum, sifat baik yang ada dalam diri Ahtar membuatnya bangga sebagai orang tuanya. Dan sebagai orang tua Yulian tidak ingin menjerumuskan Ahtar dalam lubang zina, seperti saat itu. Mengingat dua wanita yang masih tersangkut paut dalam kehidupan Ahtar, membuat Yulian merasa tidak tenang.
“Kenapa kamu tidak menjodohkan Ahtar dengan Zuena saja, Yulian,” celetuk Alex.
Alex memang tidak tahu bagian kisah Humaira, hanya merasa cocok saat pertama kali melihat kebersamaan Ahtar dengan Zuena tanpa sengaja di ruangan itu.
“Yulian tidak mauenjodohkan siapapun disini, Pa. Yulian hanya ingin jodoh untuk Ahtar datang dengan sendirinya.”
Alex menghela napas panjang, karena Alex tahu betul bagaimana Yulian yang akan ber pasrah kepada Allah sebagai Tuhannya.
Khadijah tersenyum bangga melihat sikap bijak Yulian. Karena Yulian tidak akan bersikap egois dan semaunya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Ahtar dan kedua wanita itu.
Khadijah mengusap lengan Yulian, memberikan sedikit kehangatan dan kekuatan untuk Yulian dalam menghadapi segala cobaan yang hadir silih berganti dalam kehidupan mereka.
“Yang sabar ya, Hubby. InsyaAllah orang yang sabar akan dipermudahkan segala urusannya sama Allah SWT.” Khadijah mengulas senyum.
Meskipun tertutupi dengan cadar tetapi mata Khadiajh yang terlihat menyipit sudah membuat Yulian yakin jika saat itu Khadijah tengah tersenyum kepadanya.
Yupian membalas senyuman Khadijah dengan mengecup keningnya. Hal itupun ditangkap oleh Alex dan membuat Alex semakin yakin jika Khadijah akan mendapatkan kebahagiaan dari Yulian.
“InsyaAllah, setelah Papa sudah sembuh total Yulian mau ijin untuk mengurus bisnis Yulian di Lebanon bersama Tristan.”
Deg...
Khadijah terhenyak, karena sebelumnya ia tidak mendengar akan hal itu dari Yulian. Bahkan Yulian juga tidak mengatakan apapun, sehingga itu mengejutkannya seketika.
“Kenapa tidak bilang sama, Neng? Terus, kenapa minta ijin sama Papa? Hubby lupa sama Neng begitu,” cecar Khadijah dengan beberapa pertanyaan introgasinya.
Yulian terdiam, ia benar-benar lupa tak mengatakan apapun kepada Khadijah. Melihat Khadiajh yang sibuk menyiapkan sarapan membuat Yulian lupa mengatakan hal itu. Dan lagi-lagi Yulian harus membujuk Khadijah yang tengah merajuk.
“Maafkan Hubby, Neng. Tadi Hubby lupa mau bilang sama Neng, lagian CEO nya juga dadakan telpon Hubby. Maafin Hubby ya, Neng!” bujuk Yulian.
Khadijah hanya diam sembari mengerucutkan bibirnya ke depan. Hal itu semakin membuat Yulian bingung saja, karena baru kali itu Khadijah merasa susah dibujuk.
Ahtar yang mendengar ucapan Yulian seketika menghentikan makannya. Lalu berjalan dan menghampiri Yulian yang masih bersama Khadijah serta Alex.
“Abi, kenapa harus dadakan pergi kesana nya? Dan yang Ahtar dengar disana masih belum aman... antara Israel dan Lebanonasoh saling menyerang. Bagaimana kalau...” Ahtar mengudarakan suaranya.
“Tuh Hubby, Ahtar saja tahu bahaya di sana. Bagaimana Neng bisa mengijinkan Hubby pergi begitu saja?”
__ADS_1
Khadijah semakin merajuk dan semakin sulit untuk dibujuk. Hingga Alex pun ikut turun tangan membantu Yulian untuk membujuk Khadijah. Meskipun sedikit sulit, akhirnya Khadijah pun megijinkan Yulian pergi ke Lebanon bersama Tristan.
“Iya, Neng akan ijinin Hubby pergi ke Lebanon. Tapi Hubby harus ingat! Hubby harus telepon Neng setiap jam nya.”
“Iya ... Neng yang cantik.” Yulian mengusap puncak kepala Khadijah.
Alex hanya tertawa saja melihat Khadiajh yang super manja terhadap Yulian, sedangkan bersamanya saja tidak pernah. Hanya ada penderitaan yang diberikan Alex kepada Khadijah.
‘Maafkan Papa, Nak. Papa tidak bisa menjadi seorang Ayah yang baik untuk kamu. Bahkan Papa sudah merusak citra mu sebagai seorang wanita. Tapi... kamu beruntung, karena Yulian mampu menerima segala kekurangan dan keburukanmu di masa lalu.’
Alex merutuki kebodohannya yang pernah dilakukan hingga merusak kehidupan Khadijah. Namun semua itu sudah berlalu, Yulian maupun Khadijah bahkan Hafizha pun sudah memaafkan dan melupakan masa gelap itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua hari sudah berlalu, Alex pun sudah diijinkan pulang oleh Ahtar. Namun Alex tidak pulang di kediamannya, melainkan Alex diminta untuk tinggal di kediaman Yulian. Sebagaimana orang tua Khadijah, Alex menurut saja dengan keputusan Yulian. Karena Yukian jiga tidak ingin memisahkan jarak antara Ayah dengan putrinya.
“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga di rumah.” Ahtar menghembuskan napas lega.
Kedatangan Yulian, Khadijah, Ahtar, Arjuna dan Alex telah disambut dengan penuh kegembiraan oleh Hafizha, Cahaya, Garda, Abdullah dan juga Abizzar.
“Siapa anak kecil itu, Khadijah? Apa... Dia juga putra Arjuna?”
Abizzar yang sudah bisa bicara dan berjalan dengan lancar tengah berdiri tepat di hadapan Alex, karena hendak menyalami para tetua yang ikut hadir menyambut Alex, sang kakek.
“Bukan, Pa. Dia... Abizzar, buah hati Khadijah dengan Hubby Yulian.” Khadijah mengulas sentum ketika langkah Abizzar semakin dekat.
Abizzar menyalami samua tetua yang ada di sana, setelah itu Abizzar meminta gendong kepada Arjuna. Karena Arjuna adalah kakak yang lebih dekat dengannya daripada Ahtar.
“Bagaimana Pa, apa... Dia tampan?” tanya Khadijah memastikan.
“Iya, sangat tampan. Seperti... Abinya,” jawab Alex penuh bangga.
”Neng, Hubby mau siapkan beberapa berkas dan baju untuk berangkat nanti malam. Jadi, kalau perlu seuatu bisa temui Hubby di ruang kerja, ya.” Yulian memberikan kecupan kepada Khadijah.
Khadijah mengangguk, tanda ia mengerti. Setelah siang sudah berlalu dan hampir menjelang ashar, Khadijah meminta bik Inem untuk membantunya membuat makanan kesukaan keluarga. Bahkan ada beberapa menu yang wajib ada saat makan malam nanti, karena malam itu Yulian sudah mengundang Zuena, Adam, Tristan, Arumi dan juga Humaira.
Deg...
Ada jantung yang seketika berdebar, merasa gelisah setelah mendengar obrolan Khadijah dengan bik Inem saat berada di dapur.
“Bun, boleh Ahtar bertanya?”
Ahtar mendekati Khadijah yang tengah memotong beberapa bahan di dapur.
“Ada apa Nak, hmm?” Khadijah berbalik bertanya tanpa memandang Ahtar.
“Apa benar Abi mengundang keluarga om Tristan dan juga Zuena sekaligus Adam?”
“Iya, Nak.” Khadijah mengangguk saja. ”Abi mu mengundang mereka karena ingin menciptakan suasana kebersamaan dan menjalin silaturahmi dengan mereka.”
Khadijah masih melanjutkan aktivitasnya. Dan tanpa disadari Ahtar sudah berubah murung. Dalam hatinya benar-benar merasa gelisah, ingin rasanya ia pergi saja dari rumah tetapi, pasti Abinya akan marah jika tahu.
“Bun, boleh tidak jika Ahtar ijin tak ikut acara makan malam nanti?” tanya Ahtar sedikit ragu.
Mendengar pertanyaan Ahtar seketika Khadijah menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Ahtar yang duduk di sebelah kirinya.
“Ahtar, Bunda tahu kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Humaira dan Zuena secara bersamaan. Tapi kamu perlu tahu, ketika seorang lelaki mampu menjaga sikap dan attitudenya di hadapan wanita, itu adalah lelaki yang mampu menjaga marwah seorang wanita.”
”Bunda tahu kamu adalah lelaki yang bisa mengendalikan perasaan antara marah dan juga cinta.” Khadijah mengangguk, meyakinkan Ahtar yang masih nampak gelisah.
__ADS_1
Ahtar mendesah, otaknya berpikir keras tentang menjaga sikap jika saja akan dihadapkan dengan Humaira dan Zuena. Namun Ahtar tidak bisa berpikir, hingga ia pun memutuskan untuk ke kamar Alex. Semenjak sering merawat Alex di rumah sakit, keduanya semakin dekat dan akrab.
“Kenapa datang kesini, hmm? Opa tahu... pasti ini tentang acara nanti malam, bukan?” todong Alex.
”Iya, Opa.” Ahtar mengangguk dengan wajah lesu. “Ahtar bingung harus bersikap bagaimana.”
Alex menggelengkan kepalanya, karena apa yang dirasakan Ahtar pernah dirasakannya dulu saat kisah asmara mulai dirajut dengan wanita nyang dicintainya. Akan tetapi wanita itu bukan ibu dari Khadijah, melainkan seorang wanita yang dari kalangan sederhana.
“Opa tahu bagaimana rasanya, Ahtar. Itu sangatkah sulit, tapi kita tidak bisa mekundurkan waktu ... bahkan kita juga tidak bisa mempercepat waktu. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti garis takdir yang sudah ditentukan. Hanya bisa menerimanya dengan besar hati.”
“Opa tahu, kamu pasti bisa melewatinya dan akan menemukan jodoh dari Allah.” Alex menepuk pundak Ahtar.
Ahtar menggangguk, ia mengerti dan mencoba untuk mencerna setiap kata yang diucapkan Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua sudah berkumpul di meja makan, bahkan sudah siap untuk menyantap makanan yang sudah disajikan di atas meja. Malam itu Zuena berusaha untuk memakai pakaian yang layak saat berada di tengah-tengah keluarga Yulian yang menjaga sebagaimana itu Islam. Namun bukan berarti Zuena memakai hijab panjang menjuntai. Hanya saja Zuena memakai kaos panjang dan juga celana levis panjang.
‘Apa Abi dan mereka semua selalu begitu sebelum makan?’ Zuena bertanya dalam hati.
Zuena kembali melihat Yulian dan sekeluarga menengadahkan tangan dan berdoa, kecuali Alex dan keluarga Tristan. Karena keluarga Tristan hanya membaca doa dalam hati saja.
“Ya Allah, semoga saja apa yang hamba rencanakan malam ini semua berjalan dengan lancar.” Yulian berdoa dalam hati.
Semua makanan yang tersaji sudah disantap. dengan penuh khidmat. Tidak lupa mereka mengucap hamdalah setelah usai menyantapnya. Zuena yang mendengar ucapan hamdalah dari mereka semua hanya bisa mengucapkan terimakasih saja, mencoba mengikuti apa yang mereka ucapkan setelah menghabiskan makanan yang berada di atas meja berbentuk memanjang itu.
“Hubby akan berangkat jam berapa?”
“Jam sepuluh malam. Neng tenang saja, doakan Hubby selamat sampai tujuan.”
“Mana bisa Neng tenang, Hubby. Bukankah Hubby tahu baru kali ini Neng ditinggal jauh oleh Hubby. Mana dua minggu lagi di sana.”
Yulian terkekeh mendengar ucapan Khadijah. Sebagaimana sikap istri pada umumnya saja, rasa cemburu pasti akan terselip di hati mereka jika jauh dengan suami.
“Pokoknya Hubby harus ingat pesan Neng yang satu ini. Hubby tidak boleh jelalatan matanya dan terus hubungi Neng setiap satu jam sekali.” Khadijah menyodorkan jari kelingkingnya.
“Iya, Neng.” Yulian mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Khadijah.
Setelah mengobrol sejenak berdua di kamar kini Yulian dan Khadijah kembali keluar dan mereka semua yang diundang oleh Yulian tadi.
‘Abi tahu, dengan cara seperti itu mereka tidak akan berani menatapmu dengan lantang, Nak. Dan Abi percaya itu caramu menghindari zina mata.’ Yulian bermonolog dalam hati.
Ahtar terlihat merajuk dengan ponselnya saat semua tengah berkumpul di ruang keluarga yang cukup lebar setelah Yulian membentangkan ambal untuk duduk bersama.
“Ahtar, Zuena dan juga Humaira... bisa kita bicara bersama?”
Deg...
Ketiganya seketika merasa gelisah, jantung berdebar hebat dan juga rasa yang tidak beraturan telah menyesakkan dada. Meskipun tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Yulian, tetapi jantung ketiganya sudah berdebar semakin kuat.
Yulian berjalan di depan dan menuju ke ruang samping, tak lain adalah halaman samping yang kerap dijadikan tempat olahraga pagi dan tempat bersantai. Ahtar berjalan tepat di belakang Yulian, lalu Humaira dan yang akhir Zuena. Mereka mengekori setiap gerakan Yulian dari belakang.
“Abi hanya ingin bertanya kepada kalian tentang beberapa hal. Tolong kalian jawab dengan jujur.” Yulian menatap tajam ketiganya.
Ahtar duduk di depan Yulian, sedangkan Humaira dan Zuena duduk di samping kanan dan kiri. Sehingga duduk mereka membentuk persegi empat.
Hening...
Yulian menyiapkan beberapa pertanyaan kepada ketiganya, dan itu membuat Ahtar, Humaira dan Zuena semakin sesak saja.
__ADS_1
Bersambung...