Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 124 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama untuk Ahtar menerima panggilan itu, meskipun tak mengenal siapa pemilik nomor yang menghubunginya Ahtar tidak perduli.


“Assalamu'alaikum,” sapa Ahtar dengan ramah.


“Maaf, Dokter Ahtar. Saya mungkin sudah menganggu waktu Anda tengah malam seperti ini, tapi...”


Hanya dari nada suaranya saja Ahtar sudah mengenal bahkan merasa yakin jika pemilik suara itu Zuena.


“Zuena. Ada apa kamu menghubungi ku tengah malam? Apa terjadi sesuatu dengan Adam?” tanya Ahtar to the point.


Ahtar tidak mau hanya sekedar basa-basi saja yang akan menimbulkan fitnah meskipun hanya melalui udara.


“Bukan, bukan itu. Tapi... Saya sudah ada kabar tentang Abi Yulian.” Terang Zuena dengan amat pelan.


Deg...


Khadijah tanpa sengaja mendengar percakapan antara Ahtar dan Zuena. Dan setelah mendengarnya Khadijah meminta obrolan itu dialihkan kepadanya. Karena ia ingin mendengar secara langsung jika benar Zuena sudah menemukan Yulian di Beirut.


“Jika tidak keberatan saya akan datang ke rumah Bunda Khadijah sekarang juga. Tapi... kalau Bunda keberatan saya akan jelaskan di ponsel saja,” ujar Zuena.


“Datanglah kesini, saya akan bukakan pintu untukmu. Jangan lupa bawa Adam sekalian untuk chek up kesehatan. Karena saya beberapa hari ijin tidak masuk ke rumah sakit.”


“Baik, Dok.”


Tak membutuhkan waktu yang lama, pengawal Zuena mengantarkannya ke rumah Khadijah bersama Adam. Saat dalam perjalanan obrolan ringan telah menemani keduanya.


“Zuena... kamu tidak sedang jatuh cinta dengan Dokter Ahtar, bukan?” tanya Adam menohok.


“Eee... tidak.” Zuena menggeleng. “Lagian, bagaimana bisa kamu memiliki pemikiran seperti itu, Dam? Aku cukup tahu diri, siapa aku dan siapa Dokter Ahtar.”


“Aku harap kau bisa jaga perasaan mu itu, Zuena. Karena aku tidak tahu pasti bagaimana respon kelaurag Abi Yupian jika tahu yang sebenarnya tentang kita,” ucap Adam penuh penekanan.

__ADS_1


Zuena mengangguk dengan pelan, tapi dalam hati kecilnya ia merasakan perih yang menusuk hingga relung jiwa. Karena baru kali itu ia merasakan jatuh cinta, tetapi ia harus bisa menjaga perasaannya bahkan jika bisa perasaan cinta itu harus ia kikis hingga tiada tersisa.


Dua puluh menit sudah akhirnya Zuena dan Adam sampai di rumah Khadijah. Seperti yang sudah dikatakan Ahtar tadi, ia membukakan pintu setelah tahu Zuena dan Adam tiba di rumahnya.


Ahtar mempersilahkan masuk keduanya, untung saja Zuena meminta pengawalnya itu untuk segera pergi setelah mengantarkan hingga di rumah Khadijah. Dan hal itu tidak bisa dilihat oleh Ahtar, karena pengawal Zuena sudah pergi jauh dari halaman rumahnya.


“Adam, kamu bisa rebahan dulu di kamar saya. Mari, saya antar!”


Adam hanya mengangguk saja, ia di tuntun menuju ke kamar Ahtar yang berada di lantai dua. Sedangkan Zuena harus memberikan penjelasan kepada Khadijah, Arjuna, Cahaya, Alex dan juga Hafizha.


Di ruang tamu Khadijah memulai obrolan dengan Zuena, karena ia tidak sabar ingin Zuena segera mengudarakan suara dan mengatakan tentang keadaan Yulian.


“Katakan darimana kamu tahu tentang Abi mu itu, Nak?” tanya Khadijah dengan ramah.


“Saya... Tahu dari salah satu teman saya yang saat ini berada disana, Bunda. Dan alhamdulillah, Abi disana baik-baik saja hanya luka sedikit di bagian kakinya. Itupun juga tidak parah, dan saya... akan mencoba menghubungi teman saya itu.”


“Iya, nak Zuena. Coba kalau bisa Bunda juga mau bicara sama Abi mu.” Khadijah sudah menaruh harapan untuk bisa berbicara dengan Yulian.


Zuena menciba mengubungi kembali pengawalnya yang ditugaskan di Beirut untuk mencari Yulian. Setelah beberapa menit kemudian akhirnya panggilan itu telah tersambung dan bahkan gambar Yulian pun juga tersorot di handphone Zuena.


Pov Yulian.


“Terimakasih, Anda sudah menyelamatkan saya dari ledakan tadi.” Yulian bersyukur karena sudah selamat.


“Iya, Pak. Lagipula itu sudah menjadi tugas saya.” Axel mengembangkan senyumnya.


Yulian yang mendengar ucapan Axel hanya menautkan alis saja sembari berpikir. Akan tetapi hal itu sementara Yulian tepiskan saat mengingat tentang Tristan, Arumi dan juga Humaira yang belum bertemu dengannya paska ledakan bom yang besar.


“Arrrggghhh!” raung Yulian.


Yulian merasakan sedikit ngilu dengan kakinya saat melangkah, dan ternyata kakinya tengah terluka tetapi tidak terlalu parah. Dalam gedung yang kosong dan dapat dipastikan aman Axel mencoba mengobati Yulian dengan alat seadanya saja. Hanya dasi miliknya yang dijadikan kain untuk mengikat kaki Yulian yang terluka agar perdarahan nya berhenti untuk sementara waktu.

__ADS_1


“Pak Yulian tunggu disini saja, saya mau mencari bantuan dari tim medis untuk mengobati Anda, Pak.” Axel keluar dari gedung itu lalu mencari tim medis yang masih bertugas.


‘Aku... khawatir dengan orang dirumah, jika mereka tahun kabar ini pasti mereka akan khawatir dengan kondisiku. Dan Tristan... bagaimana dengan mereka.’ Yulian bermonolog dalam hati.


Yulian merogoh saku celana miliknya untuk mengambil ponsel. Tetapi sangat disayangkan, ponselnya hilang saat kekacauan tadi tengah berlangsung. Hal itu membuatnya lesu, beberapa kali ia juga melantunkan istighfar. Berharap ada sebuah pertolongan untuknya dan bantuan mencari keberadaan Tristan sekaligus bisa menghubungi keluarga yang ada di rumah.


Setelah beberapa menit kemudian Axel telah kembali bersama seorang tim medis dan juga Tristan.


“Yulian,” pekik Tristan.


“Tristan, alhamdulillah... syukur kalau kamu selamat dari ledakan tadi. Lalu... bagaimana dengan Arumi dan Humaira? Mereka selamat juga, kan?”


“Iya.” Tristan mengangguk, lalu ia memeluk Yupian untuk melepas rasa khawatir nya.


Tangis Tristan hampir pecah saat pelukan yang seperti teletubbies itu masih berlangsung. Untung saja air mata tak sampai jatuh, masih berada di ujung pelupuk mata saja. Dan Yulian segera melerai pelukan itu, lalu mengajak Tristan untuk menghampiri Arumi dan Humaira berada.


“Alhamdulillah kalau kalian berdua juga ikut selamat.” Yulian mengudarakan suaranya setelah bertemu dengan Arumi dan Humaira.


“Alhamdulillah, kamu juga selamat. Kami begitu khawatir dengan keadaan kamu, bahkan kami tidak sanggup jika Khadijah menanyakan kondisi kamu kepada kami,” ucap Arumi.


Tring... Tring... Tring...


Sebuah ponsel telah berdering, menandakan ada panggilan masuk ke ponsel Axel. Dan tak lain itu adalah Zuena. Atas permintaan Khadijah dan seluruh anggota keluarga nya Zuena harus bisa menghubungi Axel lalu disambungkan ke Yulian.


“Ada apa, Zuena?” sapa Axel.


Sebelum melakukan panggilan Zuena sudah mengirim pesan terlebih dahulu kepada Axel, di mana Zuena meminta kepada pengawalnya itu untuk memanggil namanya saja dan bukan dengan embel-embel Nona di depannya. Dan Axel harus bisa akting se ahli mungkin agar penyamarannya tidak akan ketahuan.


“Axel, bisakah aku bicara dengan Abi Yulian? Ada seseorang yang ingin mengobrol dengannya,” jawab Zuena melalui udara.


“Baiklah! Tunggu sebentar, aku akan tunjukkan keberadaan Abi Yulian yang berdiri disampingku.”

__ADS_1


Axel cukup memberikan ponsel nya kepada Yulian yang memang berdiri di sampingnya. Setelah itu Zuena menyapa terlebih dahulu, lalu dilanjut oleh Khadijah.


Bersambung...


__ADS_2