
Terpukau akan kecantikan Khadijah membuat Yulian tidak berkedip sama sekali. Meskipun hanya mengenakan gamis simpel yang berwarna coklat dengan cadar yang menutupi wajahnya, itu sudah memperlihatkan kecantikan dan keanggunan yang dimiliki Khadijah. Bukan hanya Yulian saja yang melihat Khadijah hampir meleleh, para tamu undangan dalam acara kantor yang diadakan oleh Yulian pun ikut meleleh, terutama para kaum adam yang melihatnya.
”Cantik sekali wanita yang berdampingan dengan Pak Yulian itu, siapa Dia?”
Khadijah menebar senyum kepada semua orang yang menyapanya dengan sopan santun, meskipun tak tampak dengan jelas bibirnya yang mengembang sempurna, tetapi matanya yang menyipit sudah memberitahukan kepada semua orang bahwa Khadijah tengah tersenyum.
’Khadijah, kamu cantik. Tapi aku merasa ada yang berdesir dalam tubuhku, aku ... tidak menyukai tatapan mereka yang seperti itu terhadapmu.’ batin Yulian.
Rasa cemburu pun sudah mulai berkobar di dalam jiwa Yulian. Namun hal itu masih tak kunjung di sadari olehnya. Rasa cinta yang seakan sulit untuk dirasakan, kini mulai menjalar dan matanya. Tatapan itu memperlihatkan dengan sangat jelas ada cinta di dalamnya, cinta yang tak lain untuk Khadijah.
”Jangan cemburu seperti itu! Cukup biasa saja,”
”Aku tidak merasa cemburu, Tristan. Aku yakin, akulah yang menjadi pemenangnya. Lihat saja nanti.” Penuh dengan rahasia, sehingga membuat Tristan menatap Yulian dengan taapan yang sulit diartikan.
Acara pesta pun akan segera dimulai, Yulian sejenak ikut bergabung dengan beberapa para pebisnis yang datang dalam acara tersebut. Canda dan tawa riuh menemani mereka dalam acara tersebut, sehingga tidak ada suasana sunyi yang menyelimuti mereka. Dan hal sama telah dirasakan oleh Khadijah, Rahma, Arumi serta istri Abdullah. Mereka berbincang ala kadarnya saja, karena mereka bukan kalangan pebisnis melainkan wanita biasa, tetapi dapat menarik perhatian para kaum lelaki.
”Khadijah, apa yang kamu rasakan saat ini setelah kami semua mengetahui siapa kamu?” tanya Arumi tanpa mengurangi rasa sopan dan santun.
”Awalnya ... aku merasa takut untuk bertemu kalian, terutama Yulian dan Aisyah. Tapi saat aku masih memiliki nama Khaira, aku mengetahui bagaimana Aisyah. Sedih, kehilangan sahabat seperti Dia yang selalu baik terhadap siapapun. Dan saat ini ... rasa takut itu hilang, setelah surat itu aku baca...”
”Jadi, kamu sudah tahu melalui surat itu? Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Khadijah? Apa kamu akan memenuhi permintaan ... Aisyah?”
"Entahlah! Aku tidak tahu langkah mana yang akan aku pilih, Arumi. Dulu ... aku benar-benar tidak menginginkan pernikahan itu, bahkan sampai saat ini pun...”
Saat Khadijah ingin menuntaskan penjelasannya kepada Arumi, tiba-tiba suara yang memekik telinga semua orang membuat Khadijah mengalihkan pandangannya. Saat terlihat, Yulian sudah berada di atas panggung dengan mikrofon yang berada di depannya. Entah apa yang akan dilakukan Yulian di atas sana.
”Apa yang akan dilakukan Yulian di sana?” bisik Arumi kepada Tristan saat Tristan menghampirinya yang masih bersama dengan yang lainnya.
”Sepertinya ... Dia ingin memikat hati seorang wanita. Bahkan Dia mengatakan bahwa Dia akan menjadi pemenangnya.” Ucapan Tristan sukses membuat kaum hawa itu membulatkan mata dengan sempurna.
__ADS_1
Tak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Yulian di atas sana. Begitupun dengan Abdullah, ia juga tidak mengetahui apa rencana sahabatnya itu. Hanya menatap tajam Yulian dengan menerka-nerka apa yang akan Yulian lakukan.
Suara merdu telah mengudara dengan alunan musik yang mengiringinya, membuat semua orang berantusias untuk mendengarkan dengan ketajaman telinga mereka. Hal begitu romantis, Yulian menyanyikan sebuah lagu dalam acara yang dihadiri oleh banyak orang.
For the rest of my life
Selama sisa hidupku
I'll be with you
Aku akan bersamamu
I'll stay by your side honest and true
Aku akan mendampingimu dengan jujur dan tulus
Till the end of my time
I'll be loving you, loving you
Aku akan mencintaimu, mencintaimu
For the rest of my life
Selama sisa hidupku
Thru days and night
Siang malam
__ADS_1
I'll thank Allah for open my eyes
Aku akan bersyukur pada Allah karena telah membuka mataku
Now and forever i'll be there for you
Kini dan selamanya aku akan ada untukmu
Semua tamu pun terpukau atas penampilan Yulian yang menyanyikan lagu Maher Zein, yang berjudul For the rest of my life. Terdengar begitu merdu, membuat Khadijah ikut terpukau akan penampilan Yulian, bukan hanya itu saja... rasa malu tengah menyelimuti Khadijah karena lagu itu ditujukan untuknya. Jelas pipi Khadijah memerah, untung saja ada cadar yang menutupinya, sehingga tak ada yang tahu akan hal itu.
’Malu, aku malu Ya Allah. Tapi ... semoga saja dengan seperti ini aku mampu meluluhkan hati Khadijah,’ batin Yulian.
Selain rasa malu yang dirasakan Yulian, saat bernyanyi pun keringat sebesar jagung telah mengucuri punggungnya. Andai tudak ada orang bayak di sana, mungkin Yulian akan membuka bajunya untuk melepas rasa gerah. Namun yang terlihat, begitu banyak orang yang menatapnya bahkan setelah lagu itu usai dinyanyikan, semua orang bertepuk tangan riuh memberi sorak untuk Yulian atas penampilannya.
”Terima kasih atas tepuk tangan yang kalian berikan kepada saya. Dan ... saya juga masih ada kejutan lagi untuk kita semua, terutama Khadijah. Wanita yang akan menjadi pendamping hidup saya.” Teriak Yulian yang membuat mata semua tamu menatap Khadijah.
Sorak dan tepuk tangan kembali terdengar, begitu memekik telinga semua orang yang berada di sana. Rasa penasaran pun membuncah dada Khadijah, jantungnya berdebar tak karuan. Bukan hanya Khadijah saja, para sahabat Yulian pun ikut merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Yulian pada jam berikutnya.
Saat semua tamu tengah menanti acara inti dilangsukan, tiba-tiba mobil mewah telah tiba bersama rombongan. Mereka hadir dan menerobos tamu yang tengah menikmati acara sampingan. Semua mata membulat saat ada Kyai Hasyim, Arjuna, Cahaya, Hafizha dan tidak lupa dengan bik Inem. Bukan hanya itu saja, ada juga pak penghulu yang ikut dalam rombongan itu.
”Ada apa ini sebenarnya? Apa yang akan Yulian lakukan dengan kehadiran mereka semua? Apa mereka akan ikut menghadiri acara kantor ini?” ujar lirih Tristan.
”Tidak, Mas. Aku rasa ... Yulian akan melangsungkan akad nikah dalam acara ini.” Khadijah yang mendengarnya pun sontak menatap Arumi dengan tajam.
’Apakah benar apa yang dikatakan Arumi?’ batin Khadijah.
Jantung Khadijah berdebar hebat, ia merasakan hal yang berbeda, rasa gugup, takut dan semuanya telah beradu menjadi satu. Hingga membuat Khadijah tidak berani menatap Yulian yang kini derap langkah kakinya mampu terdengar tengah menuju ke arahnya yang masih berdiri di posisi awal.
”Maukah duduk denganku?”
__ADS_1
Sejenak Khadijah terdiam, membuat semua orang kembali menatap dua insan yang tengah bersama. Rasa penasaran pun kian membuncah dada setiap tamu yang melihatnya. Membuat mereka semua menerka-nerka apa. yang akan terjadi selanjutnya.