Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 24


__ADS_3

”Aku dimana?” tanya Yulian sesaat, setelah ia menyadari tempat yang begitu asing baginya.


”Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga. Bagaimana rasanya tubuhmu saat ini, Yulian?”


”Khadijah? Kenapa kamu bisa ada disini?”


”Jelaslah kalau Khadijah ada disini, ini kamar Khadijah.” Yulian mengalihkan pandangannya dan menatap Abdullah yang berdiri di ambang pintu.


Yulian Megedarkan pandangannya untuk memastikan apa yang dikatakan Abdullah itu benar. Dan akhirnya Yulian menemukan beberapa foto yang berbingkai dengan indah, tak lain itu foto Khadijah yang terbidik saat mempelajari Islam bersama warga Khairo.


Yulian tersenyum melihat foto Khadijah yang memperlihatkan senyum merekah, meskipun tidak terlihat jelas tetapi, dalam sorot mata Khadijah yang menyipit telah menandakan bahwa Khadijah saat itu telah tersenyum.


”Tapi ... kenapa aku bisa ada disini? Dan ... bajuku kenapa berganti?”


’Tidak. Tidak mungkin kan, jika Khadijah mengganti pakaianku yang basah?’ tanya Yulian dalam hatinya.


Yulian menatap tajam Khadijah. Dan tatapan itu sukses membuat Khadijah menundukkan pandangannya karena merasa malu akan tatapan itu, tatapan yang seringkali mengunci netranya. Dan Abdullah segera memecahkan pikiran kotor Yulian. Pasti pembaca penasarankan, bagaimana Abdullah menerawang dengan benar apa yang ada dalam pikiran Yulian?


"Jangan kamu tatap Khadijah seperti itu! Aku yang sudah mengganti pakaian mu tadi. Hilangkan pikiran kotormu itu, Yulian.”


”Tidak. Aku sama sekali tidak memiliki pikiran seperti itu. Aku hanya...”


”Sudahlah Yulian, kamu itu tidak pandai berkilah. Tatapanmu terlalu jujur dan itu membuatku mudah menebaknya.” Skak mat, Yulian sudah tidak bisa lagi memiliki alasan untuk berkilah dari Abdullah, karena selama tiga taun tinggal bersama Yulian seolah sudah hafal akan tingkah dan sikap Yulian seperti apa.


Hening...


Satu detik...


Dua detik...


’Aku harus bicara apa lagi dengannya? Haruskah aku menyatakan cinta kepadanya? Mungkinkah secepat itu? Ya Allah, mengapa lebih sulit daripada dulu saat aku mendekati Aisyah.’ batin Yulian.

__ADS_1


Suasana masih diselimuti keheningan dan canggung itu sudah pasti. Yulian yang masih merasa kaku, ia pun tak. pandai merangkai kata untuk merayu Khadijah yang kini benar-benar menutup auratnya, bukan seperti dulu. Menjadi wanita bar-bar di kala remaja sebelum kehamilannya diketahui. Seringkali keluar masuk bar untuk menghilangkan kepenatan. Sekarang Khadijah berbanding balik, ia sudah hafal mana yang dilarang oleh Islam dan mana yang wajib dilakukan.


”Aku ... akan pergi ke dapur dulu untuk membuat bubur. Kamu tunggu saja disini, ada Abdullah yang menemani kamu.”


”Bubur untuk siapa? Apakah untukku?”


”Iya. Karena aku rasa... mungkin kamu membutuhkan bubur terlebih dahulu untuk mengisi perut kamu yang kosong. Akan lebih baik bubur yang menjadi asumsi untukmu saat sakit,”


”Apa kamu memperdulikan aku, Khadijah? Jika iya, apakah kamu juga memberikanku kesempatan untuk merasakan cinta bersamamu?”


Khadijah seketika terdiam, mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh Yulian terhadapnya. Terlihat jelas bahwa Khadijah memberikan perhatian kepada Yulian. Namun, ada rasa yang tak ingin menguasai hatinya, yaitu cinta. Bukan berarti Khadijah tidak mencintai Yulian, bahkan sedari dulu saat pandangan pertama Khadijah sudah jatuh hati kepada lelaki yang memiliki hati baik, wajah tampan dan berkharisma. Akan tetapi, cinta itu tidak ingin menguasai hatinya karena, Khadijah tidak ingin melukai Aisyah.


’Mbak penulis, please dong beritahu Khadijah kalau Aisyah meminta Ahtar untuk mendekatkannya dengan Yulian. Bahkan diminta untuk menikahkan Khadijah dengan Yulian.’ ungkap pembaca, iya kah, seperti itu?


’Para pembaca ku, ini proses pemberitahuan kepada Khadijah. Jangan berisik dulu, ya!' pesan penulis.


”Aku ...”


’Yulian nerfous.’ batin penulis.


-------


”Nomor tidak dikenal? Siapa? Mungkinkah jika itu ... Alex?” tanya Khadijah dalam hati.


Ada rasa takut untuk menerima panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal saat mengingat Alex sudah keluar dari sel tahanan. Namun, dengan mengucap bismillah Khafijah akhirnya menerima panggilan itu. Karena ia berpikir panggilan itu penting, dan benda pilih dalam. genggamannya terus berdering.


”Halo, assalamu'alaikum, Bunda Khadijah.” Sapa dari seberang melalui udara.


”Wa'alaikumsalam, ini siapa ya? Kenapa memanggil saya dengan sebutan Bunda?”


”Ini Ahtar, panggilan itu diajarkan sama Umi Aisyah. Ahtar menelfon Bunda hanya ingin memberitahukan kepada Bunda Khadijah bahwa Ahtar melampirkan sebuah surat di atas meja kamar Bunda. Dan Ahtar selipkan dalam buku tebal di sana.” Mata Khadijah membulat, memikirkan tentang surat yang dikatakan Ahtar.

__ADS_1


”Surat apa itu, Ahtar? Kenapa kamu tidak memberikan langsung kepada saya?”


”Itu surat dari Umi dulu, sebelum meninggal. Bukalah, Bunda! Ahtar harus pergi, harus kembali ke Korea pukul tujuh malam nanti. Tolong jaga Abi, Bunda!”


Panggilan itu diakhiri dengan ucapan salam. Setelah berakhir, Khadijah kembali memikirkan surat itu. Sedangkan Ahtar, ia sudah bersiap di bandara untuk menunggu jam penerbangannya.


---------


Khadijah kembali masuk ke kamarnya dan mencari surat yang dimaksud oleh Ahtar, tanpa mempedulikan Yulian yang masih merebahkan tubuhnya di atas kasur itu, Khadijah mengobrak-abrik buku yang menumpuk di atas meja.


”Kamu sudah kembali Khadijah? Tapi ... kenapa tidak membawa buburnya? Apa kamu sedang mencari buku resep pembuat bubur lezat untuk orang sakit?”


Tuh kan, Yulian malu-malu tapi mau. Dasar laki-laki yang punya gengsi gede.


Abdullah menahan tawa setelah mendengar pertanyaan absurd Yulian yang malu-malu tapi mau dengan bubur buatan Khadijah. Rasa harap, mungkin itu yang singgah di hati Yulian. Namun, Khadijah benar-benar tidak menghiraukan suara Yulian yang memberikan pertanyaan berulangkali kepadanya.


Setelah mengobrak-abrik tumpukan buku yang berada di atas meja, akhirnya Khadijah menemukan surat itu. Namun, ia enggan membaca di depan Yulian. Rasanya tidak mungkin pula jika ia membaca di depan lelaki seperti Yulian, yang membuat jantungnya berdebar dalam setiap tatapan yang mengunci netranya.


”Aku akan buatkan buburnya, kamu tilunggu disini.” Khadijah melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Yulian diam, namun netranya terus memidai derap langkah kaki Khadijah yang semakin jauh.


”Abdullah, apa dia sudah menemukan buku resep membuat bubur lezat? Sehingga Dia pergi membawa selembar kertas?”


’Aku rasa itu bukan buku resep, tapi surat untuknya dari Ahtar.’ batin Abdullah.


Abdullah seketika tertawa renyah, ia tidak bisa lagi menahan tawa setelah Yulian kembali mengatakan buku resep pembuat bubur lezat. Sejak tahun berapa membuat bubur pakai buku resep, Yulian? Dasar, Yulian itu lugu, pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu? Tepok jidat buat Yulian yuk para pembaca! Wkwkwkwk...


”Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, Abdullah? Malah tertawa seperti itu.” Yulian menatap tajam Abdullah.


Abdullah tidak menghiraukan tatapan tajam Yulian terhadapnya, bahkan tawa Abdullah semakin terpingkal saja.

__ADS_1


__ADS_2