
Setelah lima belas menit berada dalam suasana tegang yang bergelut dengan rasa khawatir menyelimuti diri dalam setiap keluarga Yulian, akhirnya terdengar suara yang begitu nyaring dari dalam ruang operasi. Bayi mungil telah dibersihkan dari bekas darah, lalu dibawa keluar dan meminta sang ayah untuk segera mengadzankan.
”Silahkan, pak Arjuna!”
Arjuna mengangguk, lalu ia mengumandangkan adzan di telinga bayi lelaki yang memiliki tubuh berisi. Bayi kemerehan itu telah diberi nama Garda Ranggi. Dengan senyum mengembang Yulian dan lainnya menyambut kehadiran Garda yang begitu dinanti sedari dulu.
Setelah Arjuna usai mengumandangkan adzan di telinga Garda, kini Garda harus berada di ruangan yang berbeda. Ruangan khusus untuk bayi yang baru lahir di rumah sakit itu. Dan hanya bisa dari luar saja saat ingin melihatnya.
”Lucu sekali bayi itu.”
”Ehm...” Yulian berdehem.
”Hubby, ada apa? Hubby batuk?”
”Tidak, hanya saja ... pengen itu.” Mata Khadijah seketika membulat.
Khadijah tidak mengerti apa yang dimaksud Yulian saat mengarahkan telunjuknya ke ruang bayi. Dan melihat kepolosan Khadijah membuat Yulian merasa semakin gemas dengannya. Bahkan ingin rasanya Yulian membuat kejutan kecil agar Khadijah mau memuaskan nya kembali dengan rayuannya.
'Tuh kan, Yulian mau nyogok Khadijah.’
Cahaya dipindahkan ke ruang rawat inap dan Yulian memilih ruangan VVIP, agar keluarga bisa leluasa saat menjenguk ataupun menjaga Cahaya selama masih berada di rumah sakit. Tak lupa pula Yulian memberi kabar kepada Ahtar, yang kini sudah lulus kuliah. Hanya menunggu wisuda saja di sana.
”Selamat Yulian, kamu sudah menjadi seorang opa.”
Tristan menepuk pundak Yulian yang dibalas dengan senyuman. Dan obrolan ringan pun mereka lakukan untuk mengisi keheningan. Karena Arjuna sibuk menemani Cahaya, sedangkan Arumi dan Khadijah, mereka sibuk dengan beberapa pakaian bayi fersi laki-laki yang ingin dibeli di toko baju anak.
”Aku tahu sekarang aku sudah semakin menua. Tapi ... apa salah jika aku ingin anak bersama Khadijah?”
__ADS_1
Seketika Tristan mengarahkan pandangannya dan menatap Yulian yang tengah menikmati kopi hangat. Lalu, senyum tipis terukir di bibir Tristan setelah mendengar pertanyaan Yulian. Tristan tidak menyangka jika Yulian sampai memikirkan hal itu setelah pernikahannya dengan Khadijah.
”Entahlah! Aku pun juga menginginkan hal sama denganmu, membuat baby fersi cowok. Bisa tidak, ya?”
”Bwahahaha...”
Tawa Yulian pun pecah, ternyata Tristan menginginkan hal yang sama dengannya. Umur mereka memang semakin menua, tapi semangat mereka untuk saling memuaskan wanitanya saat beradu di ranjang seperti jiwa anak muda saja. Tak mau kalah dengan pasangan yang lainnya, sehingga dua lelaki yang tengah kembali merasakan kasmaran kini memutuskan untuk membuat keluarga berencana fersi cowok dan cewek.
”Kamu benar, aku akan usahakan untuk buat yang fersi cewek. Dan kalau berhasil, aku mau mereka nanti kita jodohkan. Agar persahabatan kita semakin mengental pada kata Be... san.”
Seketika tawa keduanya pecah, obrolan yang benar-benar mereka ingin wujudkan satu persatu mereka lakukan. Dan hal pertama untuk membuat sang wanita mereka benar terpukau, mereka harus membeli parfum, lalu baju yang sedikit membuat bentuk tubuh mereka terlihat maco dan tidak lupa baju seksi untuk wanita mereka. Dan dengan segera mereka bergerak menuju ke sebuah mall yang jaraknya dekat dengan rumah sakit.
--------
”Bagaimana Khadijah, apa kamu sudah memilih topi untuk Garda? Sepatu? Oh iya, dan ... kereta dorong untuk Garda.”
”Ah tidak, kalau sudah kita bayar saja. Nanti malah tidak bisa bawanya lagi.” Khadijah mengiyakan apa yang dikatakan Arumi.
Setelah semua barang yang mereka pilihkan untuk Garda sudah lengkap, dengan segera mereka membayar apa saja yang sudah berada di bagian kasir. Setelah itu, mereka memasukkan semuanya ke bagasi dengan bantuan karyawan toko. Setelah itu Abdullah siap mengantarkan mereka kembali ke rumah sakit.
Banyak sekali obrolan yang Khadijah dan Arumi bicarakan, dan obrolan mereka masih meliput tentang Garda. Acara aqiqah dan penyambutan telah mereka rencanakan setelah Cahaya dan baby mungil sudah boleh dibawa pulang nanti. Jauh berbeda dengan obrolan antara Yulian dan Tristan saat berada di mall.
Sesampai di rumah sakit Khadijah dan Arumi hanya membawa beberapa baju Khadijah untuk berganti dan juga baju untuk Garda dengan model yang lucu dan bagus. Dan barang yang lainnya diminta untuk di antar pulang saja kepada Abdullah.
”Arjuna, dimana Abimu dan juga Om Tristan?”
”Arjuna tidak tahu Bun, mereka dimana. Tadi hanya pamit mau minum kopi di kantin. Tapi ... sampai sekarang belum kembali.”
__ADS_1
Seketika mata Arumi dan Khadijah menyipit, dan mereka juga tengah memikirkan hal yang sama. Dengan segera mereka melangkahkan kaki untuk memastikan keberadaan Yulian dan Tristan seperti yang dikatakan Arjuna.
”Khadijah, bagaimana kalau mereka tidak ada di kantin? Bagaimana jika mereka diam-diam sengaja pergi dan bertemu dengan Jejen itu?”
”Kita lihat saja dulu, Arumi. Dan apabila benar jika mereka tidak ada di sana, maka kita hubungi mereka untuk memastikan dimana mereka.” Arumi pun mengangguk untuk mengiyakan.
Khadijah tidak mau gegabah dalam memutuskan hal, dan kini ia harus menjadi wanita dewasa. Bagaimana bersikap dan berpikir seperti apa yang pernah dituturkan oleh bik Inem kepadanya kalau malam itu. Meskipun diri tifak dapat dibohongi sekalipun, karena hati telah dikuasai api cemburu jika Yulian terlihat bersama dengan wanita lain.
Seketika kemarahan membuncah dada Arumi, karena Tristan maupun Yulian tidak nampak terlihat di kantin rumah sakit. Dan kini Khadijah bertindak, melacak nomor Yulian setelah ia memasang aplikasi pelacak di handphone nya yang di tautkan dengan nomor Yulian.
”Mall?”
Seketika Khadijah dan Arumi saling pandang saat menatap jelas keterangan keberadaan suami mereka. Mall, memang benar Yulian dan Tristan masih berada di sana. Bahkan mereka tengah sibuk memilih baju lingerie dan baju lain yang terlihat terbuka fersi di kota Edinburgh.
”Bagaimana kalau baju ini? Warnanya juga pas untuk malam dengan lampu yang remang.”
Tristan menenteng baju lingerie berwarna hitam dan juga hijau. Dan Yulian yang melihatnya pun sangat tidak menyukai pilihan Tristan. Karena bagi Yulian itu warna yang tidak menarik, sedangkan warna yang menarik adalah warna yang mencolok, seperti merah terang, pink dan ... kuning.
”Bagaimana kalau warna merah saja. Tapi kita memilih model yang berbeda saja.”
Tristan menyetujui pendapat Yulian. Dan kembali dua lelaki itu disibukkan dengan pakaian yang hendak mereka pilih. Sampai akhirnya mereka pun menemukan pakaian yang tepat untuk dijadikan adu ranjang dengan pasangan masing-masing saat malam nanti. Setelah selesai mereka pun segera membayar, tanpa ada rasa malu mereka menunjukkan baju itu.
”Ini untuk istrinya ya, Pak?”
”Iya dong mbak, masa iya untuk kami pakai.”
”Iya kali juga mbak, kalau kita pakai baju yang seperti itu. Nanti dikira kita bencong lagi.” Ujar Tristan seraya mengikuti gaya seorang banci.
__ADS_1
Dan kelakuan absurd dua lelaki itu sungguh membuat mbak kasir yang cantik dengan tubuh seksinya tertawa lepas. Bahkan Yulian dan Tristan pun ikut tertawa. Namun, tanpa disadari ada mata uang telah mengintai apa yang mereka lakukan saat ini.