
Khadijah dan Yulian seketima terkekeh mendengar ucapan Ahtar yang kini seharusnya sudah menempuh kehidupan baru dengan berumahtangga. Namun ya... Allah belum mempertemukan Ahtar dengan jodohnya. Dan pembaca pasti penasaran siapa jodoh Ahtar, kan? Pantengin terus setiap episodenya ya!
“Sini Abi ... Bunda, makan cilok buatan bang Ahtar.” Hafizha memamerkan semangkuk cilok buatan Ahtar.
“Cilok? Sejak kapan kamu bisa membuat cilok, Ahtar? Abi saja tidak pernah melihatmu ... masak.” Yulian terkekeh.
“Sejak tuh adek Ahtar minta, Bi. Dan berhubung di sini hampir tidak ada yang jualan itu makanan, ya... Ahtar mencoba membuatnya. Dan hasilnya... tak kalah nikmat sama buatan babang cilok yang di Indonesia.” Ahtar tertawa dengan ucapannya sendiri.
Tawa itupun menular ke Hafizha, Yulian, Khadijah dan juga Humaira yang tidak sengaja melihat Ahtar melepas tawanya.Dan batu kali pertama Humaira melihat tawa mempesona yang membuat hati Humaira melejit, semakin jatuh hati dengan kesempurnaan yang dimiliki Ahtar sebagai lelaki.
‘Andai kamu tahu bagaimana rasa ini tercipta. Dan... andai saja kamu tidak mengatakan hal itu saat pertemuan kita. Tapi tak apa, karena aku akan tetap mencintaimu, bang. Dan aku akan tetap memperjuangkan rasa ini.’
Humaira menyeka air mata yang perlahan menetes membasahi cadar nya. Dan saat itu tanpa sengaja netra tajam Hafizha menatap Humaira yang tengah berdiri dan bersandar di tembok.
‘Kenapa kak Humaira ada di sana? Apa Dia... sedang menangis?’
Humaira terhenyak setelah menyadari akan tatapan tajam Hafizha, sehingga membuat Humaira seperti salah tingkah. Karena tidak ingin Hafizha merasa curiga dengan apa yang sedang dilakukannya di sana Humaira segera pergi.
‘Ya Allah, hamba mungkin masih terlalu kecil untuk memahami peran seorang wanita dan lelaki dewasa. Namun hamba ingin Engkau membuat kak Humaira dan bang Ahtar terhindar dari segala zina.’ Hafizha melantinkan doa dalam hatinya.
Hafizha segera mengalihkan tatapannya, mencari alasan untuk pergi dari Ahtar, Yulian dan Khadijah jika saja mereka merasa aneh dengan tingkahnya.
“Ketawa mulu, jadi merasa haus kan, aku nya.” Hafizha memegang tenggorokannya. “Izha ijin mau ambil air dulu ya!”
Hafizha beranjak ke dapur, mencari gelas untuk mengambil air putih. Dan sebenarnya Hafizha memang merasa haus, sehingga segelas air putih yang terisi penuh telah habis dalam satu tegukan. Setelah itu Hafizha kembali berkumpul di tengah-tengah Yulian, Khadijah dan Ahtar. Namun itu tidak berlangsung lama, karena semua harus kembali ke kamar masing-masing untuk merebahkan tubuh dan meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
“Neng, tidur yuk! Tapi sebelumnya... Neng mau dibacakan surat apa, hmm?”
“Surat apa saja Neg mau kok, Hubby. Atau... bagaimana kalau kisah Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah r. a.?”
__ADS_1
Sejenak Yulian terdiam, memikirkan bagaimana cara untuk mengawali cerita romantis Nabi Muhammad SAW dengan istri pertamanya Khadijah ra. Karena Yulian sudah mengiyakan permintaan Khadijah, membacakan kisah itu sebelum tidur.
“Tapi Hubby mau tanya dulu sama Neng. Kenapa Neng meminta diceritakan kisah romantis Nabi dengan Khadijah istrinya?” tanya Yulian menatap Khadijah yang duduk di sampingnya.
“Neng tidak pernah mengalami yang namanya kisah cinta yang romantis. Semasa muda... hanya kisah pahit yang Neng jalani. Jadi, Neng mau mendengar kisah itu dari Hubby, suami Neng.”
Yulian mengenal nafas panjang, lalu ia kembali mengangguk. Dan sebelum memulai bercerita Yulian meminta Khadijah untuk menyusui Abizzar terlebih dahulu, karena Abizzar beringsut dari tidurnya yang diperkirakan tengah merasa haus. Sehingga Khadijah harus merengkuh Abizzar dalam gendongannya.
“Neng, duduk sini coba!”
Khadijah menurut saja, duduk di dekat YulianYulian sembari menyusui Abizzar yang memang merasa haus. Setelah itu, Yulian mulai menceritakan kisah romantis Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah ra.
“Hubby akan mulai menceritakan kisah romantis Nabi dengan Khadijah, siapa tahu saja Abizzar juga mendengarnya.” Yulian mengembangkan senyum.
“Memiliki istri semulia Khadijah ra. adalah salah satu anugerah terindah dalam kehidupan Rosulullah SAW. Dialah wanita teristimewa yang sangat dicintai Nabi SAW, Dia telah mendampingi Nabi selama seperempat abad tanpa mengeluh, menghapus resah dan kekhawatiran sang suami di saat-saat kritis di tengah intimidasi kaum kafir Quraisy, menopang finansial da’wah dengan kapasitas bisnisnya, sabar mendampingi Nabi di kala jihad yang berat, membelanya dengan kemuliaan nasab, dan... masih banyak lagi yang harus dilalui untuk memperjuangkan Islam.”
“Dan sang Baginda begitu menyayangi Khadijah, bahkan selalu mengingat kisah cinta dan perjuangan-Nya dengan Khadijah meskipun saat itu sesudah menikah dengan Aisyah, istri kedua Baginda.”
“Pasti indah kisah Beliau. Kenapa Neng jadi iri ketika mendengarnya?”
“Oh... Neng iri ya? Bagaimana kalau Hubby saja yang membuat kisah romantis dengan Neng?”
“Memangnya Hubby bisa bersikap romantis?”
Yulian mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan entah kemana kaki membawanya melangkah. Dan Khadijah terus memidai setiap pergerakan Yulian yang masih terlihat dalam pandangannya hingga Yulian kembali dengan membawa segelas air dan juga setangkai bunga mawar.
“Jika Neng meragukan keromatisan Hubby, maka Hubby akan membuktikannya.”
Yulian duduk di samping Khadijah, lalu meneguk separuh air putih yang berada di gelas. Dan seoaruhnya lagi Yulian memberikannya kepada Khadijah, meminta Khadijah untuk menghabiskan sisa air putih yang masih separuh gelas.
__ADS_1
“Tapi Neng tidak haus, Hubby.”
Yulian tersenyum, kembali ia menceritakan kisah Sang Rosulullah SAW dengan Siti Aisyah, istri kedua Rosulullah SAW.
“Jadi, teguk lah separuh air yang tersisa di gelas ini, Neng. Meskipun nanti kisah cinta dalam rumahtangga kita tidak seromantis kisah cinta Rosulullah SAW, setidaknya kita mengerjakan sunnah nya.” Yulian menyodorkan separuh air di dalam gelas kepada Khadijah.
Khadijah tersenyum dan mengangguk, lalu ia meneguk air putih itu secara pelan sampai habis tidak tersisa lagi. Dan setelah itu Yulian melakukan aksi romantis ala remaja dengan memberikan setangkai bunga mawar kepada Khadijah. Namun sayang, bunga mawar itu hanyalah bunga kertas sebagai bunga hiasan saja. Membuat Khadijah terkekeh geli, tetapi Khadijah menghargai setiap pemberian Yulian dengan setulus hati.
“Sudah malam, rebahkan kembali Abizzar lalu tidurlah, Neng.”
Khadijah mengangguk, lalu beranjak dari duduknya menuju ke ranjang Abizzar untuk merebahkan kembali di sana. Dan setelah itu Khadijah menghampiri Yulian yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Mau dimanja sama Hubby tidak, Neng?”
Khadijah membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Memikirkan ucapan Yulian yang memang tidak bisa dimengerti olehnya.
“Jangan dipikirin terlalu dalam, Neng! Sini, Hubby dekap Neng biar hangat.”
Yulian menarik pinggang Khadijah lalu memeluknya dari belakang. Dan Khadijah merasa nyaman bahkan sangat nyaman sekaligus merasa hangat, hingga membuat Khadijah tertidur entah pada jam berapa keduanya tidak lagi terjaga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tok... tok... tok...” Suara pintu telah diketuk.
Hafizha yang memang masih terjaga dengan binar mata yang sangat terang, seketika membuka pintu kamarnya setelah mendengar ketukan dari luar. Namun, setelah membuka pintu Hafizha tidak mendapati seorang pun yang sudah mengetuk pintu kamarnya tadi.
“Kok tidak ada orang sih? Terus siapa yang sudah mengetuk pintunya tadi?”
Hafizha menyapu setiap sisi, siapa tahu saja ia menemukan orang yang sudah mengetuk pintu kamarnya. Namun nihil, Hafizha tifak mendapatkan apapun hanya saja secarik kertas yang dituliskan tinta hitam di atasnya telah berada di bawah ia berdiri saat itu. Karena merasa penasaran Hafizha segera mengambil secarik kertas itu untuk membaca isi dari surat itu.
__ADS_1
Bersambung...