Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 55


__ADS_3

Tiba-tiba Ahtar menerima panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dan saat Ahtar melangkah pergi, kembali ada sepasang mata yang dengan berani untuk menatap setiap langkah itu.


’Mengapa aku ... merasakan kagum padanya Ya Allah? Apakah salah jika hamba merasakan hal itu? Hamba hanyalah manusia yang terkadang tidak bisa menahan dan melawan gejolak rasa yang dibumbui nafsu yang menggebu. Ampunilah hamba Ya Allah, biarkanlah rasa ini tumbuh di hati hamba.’


Khadijah melihat tatapan itu dengan penuh rasa kagum. Karena tatapan itu tidak bisa menipu siapapun yang melihatnya.


’Mengapa binar mata Humaira mengatakan ada yang berbeda saat menatap Ahtar? Apa ... Humaira menyimpan rasa cinta itu?’ batin Khadijah.


Namun Khadijah tidak ingin ikut campur terlalu dalam tentang bagaimana kisah Ahtar yang masih menjaga sikapnya sebagai seorang lelaki. Karena di usia Ahtar yang ke dua puluh tiga tahun ia masih baik-baik saja dengan singlenya. Entah belum bisa menemukan wanita yang baik, atau memang belum pernah mengenal bagaimana rasa cinta itu tumbuh.


”Semuanya sudah merasa lelah atau masih mau lanjut? Jika masih mau lanjut kita akan langsung pergi ke Pentland.” Tawar Yulian setelah mereka semua berkumpul.


”Lanjut saja bagaimana, Hubby? Neng masih pengen naik kuda lagi di Pentland.” Khadijah nyengir.


Tidak ada kata lain selain mengiyakan wanita hamil satu itu. Hingga mereka siap meluncur ke Pentland. Tempat yang nomor dua untuk mereka kunjungi bersama, meskipun di sana sama saja. Tempat untuk menunggangi kuda di Swanston, Edinburgh. Dan akan lebih menyenangkan jika musim dingin menyambut. Akan tetapi tak apalah jika musim dingin masih belum menyambut kota Edinburgh, tetap saja menyenangkan asalkan tercipta kebersamaan.


”Hubby, Neng duduk saja ya disini... Neng capek.”


Sesampainya di Pentland Khadijah justru ingin duduk santai saja tanpa menunggangi kuda. Dan hal itu membuat Yulian hanya bisa menelan salivanya sendiri. Mungkin jika ia lelaki yang tidak bisa menjaga perasaan istri, maka akan ada perang yang membuat mereka bertengkar. Untung saja Yulian bukanlah lelaki yang seperti itu. Sehingga ia hanya mengiyakan keinginan Khadijah walaupun membuat hatinya jengkel.


”Iya, tak apa kok, Neng. Neng duduk saja di sana.”


”Sabar saja ya...” bisik Tristan yang seakan mengejek Yulian.


Yulian hanya menatap nanar Tristan yang berjalan melintas di hadapannya. Karena yang lain sudah bersiap untuk menunggangi kuda lagi di tempat yang berbeda.


”Kalian tidak menunggangi kuda lagi?” tanya Yulian saat mendapati Arjuna dan Cahaya duduk di sebelah Khadijah.


”Tidak, Bi. Kita perlu waktu untuk bersama Garda. Soalnya ... sedari tadi Garda hanya bersama Kakek dan Ahtar. Malah sekarang mereka berdua ngilang entah kemana.” Arjuna nyengir.

__ADS_1


Yulian manggut-manggut membenarkan perkataan Arjuna. Dan kini meraka berempat hanya duduk melihat pemandangan Pentland bersama. Dan untuk mengisi kekosongan waktu Yulian mencari sesuatu hal untuk membuat suasana romantis tercipta.


Setelah berjalan cukup panjang Yulian mendapatkan penjual es krim di sana. Tak segan Yulian membeli es krim dengan banyak rasa. Bahkan tidak hanya satu bungkus saja, ada sekitar enam bungkus es krim yang dibeli Yulian untuk menyenangkan hati Khadijah dan anak-anaknya.


”Abi ... Abi lagi nyidam makan es krim?” tanya Cahaya setelah mendapatkan es krim dengan pilihan rasa strawberry.


”Sudahlah Dek, biarkan saja. Daripada nanti merajuk disini malah merepotkan Bunda yang lagi hamil.” Cahaya menahan tawa.


Sungguh Yulian sukses dibuat malu sama putra dan menantunya itu. Karena baru kali itu ia merasakan yang namanya nyidam saat istri sedang mengandung, bahkan jika tidak dituruti akan merajuk dan lama untuk membujuknya.


Semuanya menikmati es krim yang melumer saat berada di dalam mulut. Gelak tawa riuh telah menemani meraka dalam suasana kebersamaan. Ingin rasanya kebersamaan itu tak segera usai, tetapi jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sehingga mereka memutuskan untuk kembali pulang.


”Neng, mampir dulu ke toko alat musik sebentar ya! Hubby pengen beli sesuatu.” Yulian manoel Khadijah.


Lalu Yulian masuk ke salah satu toko alat musik. Dan membeli sebuah gitar untuk dibawa pulang. Setiba di mobil, Khadijah merasa heran dengan yang Yulian bawa.


”Untuk apa Hubby membeli gitar seperti itu? Kayak anak muda saja,” pekik Khadijah.


”Baiklah, jika bagus Neng mau Hubby melanjutkannya tapi ... kalau suaranya jelek Neng tidak mau mendengarnya.”


”Bisa dijamin pokoknya, Neng. Neng akan jatuh hati sama suara Hubby nanti.” Khadijah terkekeh geli mendengar ucapan Yulian yang seakan ingin menunjukkan sisi romantisnya.


Yulian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena rumahnya pun juga tidak jauh dari toko alat musik yang sempat dikunjunginya tadi. Dan lima belas menit kemudian sampailah mereka di rumah.


Yulian begitu bangga walaupun hanya membawa gitar itu masuk ke dalam rumah. Dan seaamoai di dalam para sahabat dan keluarganya yang masih berkumpul, merasa heran dengan tingkah Yulian yang sedang membawa gitar di tangannya.


”Yulian, buat apa kamu membawa gitar seperti itu? Kayak masih muda saja, padahal sudah tuwir. Banyak tingkah pula.” Pekik Tristan.


”Iya, nyebut sama umur lah... ” Sambung Abdullah.

__ADS_1


”Kalian belum pernah tahu bagaimana aku memetik senar gitar sambil mendendangkan lagu. Di jamin kalian akan terpesona dengan penampilanku.” Seketika semuanya tidak bisa menahan tawa dengan kepercayaan diri Yulian.


Yulian tidak menghiraukan sama sekali bagaimana pendapat mereka semua. Yang ada hanyalah niatan yang murni dari hati ingin membuat suasana romantis untuk Khadijah. Bahkan Yulian ingin membuat Khadijah merasa bahwa kasih sayangnya tidak main-main.


Setelah perjalanan yang cukup jauh dan liburan yang melelahkan seusai menunggangi kuda, mereka semua tidak merasa lelah sama sekali. Bahkan mereka membuat acara lagi di taman rumah Yulian yang cukup luas. Mengadakan makan malam di sana dengan nuansa anak muda, di mana banyak lampu yang akan menghiasi setiap pohon yang sudah dipotong rapi oleh Abdullah beberapa hari lalu.


”Yulian, cepatlah kamu pasang lampunya di sebelah sana.”


”Baiklah, aku akan pasang. Dan pastikan semuanya ok sebelum pukul delapan.”


Semuanya mengangguk secara bersamaan, mengiyakan keinginan Yulian dan mereka semua. Karena bagi Yulian tidak akan leluasa jika belum menjalankan sholat isya' dalam merayakan kebersamaan yang akan diadakan dengan tema ala remaja.


”Arumi, kenapa aku kok merasa ...”


”Ada apa denganmu, Khadijah? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Arumi dengan nada khawatir.


”Aku tidak baik-baik saja, aku ... tiba-tiba pengen makan haggis dan cranachan sebagai pencuci mulut. Dan maunya sekarang.” Khadijah nyengir, binar matanya pun tidak bisa menipu jika ia benar-benar menginginkan makanan itu.


”Ya ampun... aku kira kenapa. Tunggu sebentar, aku akan sampaikan kepada suami tercinta kamu itu. Okay...”


Khadijah mengangguk, ia duduk di kursi dapur dan menanti Arumi yang sedang memanggil Yulian. Dan keinginan Khadijah membuat Arumi harus berlari, karena Arumi tidak ingin jika Yulian akan kehabisan waktu untuk membeli makanan yang diinginkan Khadijah.


Mungkin waktu memang bisa ditempuh, tapi makanan yang diinginkan Khadijah hanya di jual dari beberapa restoran saja. Dan makanaan tersebut adalah makanan khas Edinburgh yang wajib untuk di cicipi saat berkunjung kesana. Sehingga bukan hanya warga Edinburgh yang menjadi penikmatnya. Oleh karena itu makanan yang bernama haggis dan cranachan bisa saja cepat habis.


”Yulian, aku ada perlu denganmu.”


”Kenapa yang dicari Yulian? Kenapa bukan aku?” umpat Tristan.


”Memangnya kamu mau melayani Khadijah? Karena ini adalah permintaan Khadijah, Dia ingin makan haggis dan cranachan sekarang juga.”

__ADS_1


Sontak Tristan menggelengkan kepala, karena sudah salah menilai tujuan Arumi yang mencari Yulian. Sedangkan Yulian segera berlari mengambil kunci mobil untuk mencari kedua makanan tersebut. Dan Yulian tidak ingin jika Khadijah kecewa jika tidak segera mendapatkan makanan itu.


__ADS_2