
Pov Khadijah
Khadijah memang menolak saat Yulian meminta tanda cinta darinya. Tetapi bukan berarti Khadijah tidak takut dengan dosa ataupun tidak mencintai Yulian lagi. Namun, Khadijah sengaja melakukan hal itu karena ingin memberikan kejutan untuk diberikan kepada Yulian jika malam sudah tiba.
“Baju ini sengaja aku menyimpannya setelah ku beli dari toko beberapa hari lalu. Dan aku akan memakainya saat Yulian tiba dari Beirut. Berarti itu... malam ini.” Khadijah menenteng baju lingerie warna merah menyala.
Baju lingerie itu sengaja dibeli untuk membuat Yulian terpesona dengan Khadijah, meskipun Khadijah belum bisa berjalan secara sempurna dan tetap berada di atas kursi roda setidaknya Khadijah berusaha untuk membuat Yulian bahagia.
Namun, di luar ekspetasi semuanya. Allah SWT telah berkehenfak lain, memberikan hidayah yang begitu besar. Khadijah mampu berjalan lagi setelah di kepung oleh beberapa preman saat berada di tengah jalan waktu itu.
“Terimakasih Ya Allah... karena karunia yang Engkau berikan kepadaku, aku mampu membuat kejutan ini untuk suamiku. Berkahilah segala usahaku yang ingin membahagiakan suamiku.”
Khadijah melipat kembali baju lingerie berwarna merah menyala itu, lalu disimpannya di dalam almari tetapi tidak bisa dilihat oleh Yulian. Dan setelah menyimpannya di almari Khadijah menyiapkan beberapa bunga mawar putih dan merah yang akan ditaburkan di atas ranjang.
“Beres juga sekarang. Alhamdulillah, semoga usahaku dilancarkan sama Allah. Dan juga... semoga Hubby suka dengan ini semua.”
Setelah menyiapkan kejutan itu Khadijah keluar dari kamar dan Khadijah bersikap seperti biasa, seolah tidak ada hal yang disembunyikan agar tidak menaruh curiga. Dan hal itupun dilakukannya sampai acara Alex telah usai.
Dan saat acara makan bersama barulah Khadijah menghias keranjangnya dengan taburan bunga mawar merah dan mawar putih. Bukan hanya keranjangnya saja yang Khadijah hias, melainkan setiap sudut sudah Khadijah siapkan hiasan bunga di sana. Hingga terciptalah suasana romantis saat berada di dalam sana.
Deg...
Yulian terkejut setelah membuka gagang pintu kamarnya. Dan Khadijah yang berada di belakang tubuh tegap Yulian hanya tersenyum saja, menyimpan rasa malu hingga membuat pipinya memerah.
“Neng, ini semua...?”
Khadijah hanya mengangguk saja, mengiyakan pertanyaan Yulian. Dan tidak membutuhkan waktu lama lagi bagi seorang Yulian yang sudah menahan hawa nafsu nya_yang kian sudah menggebu. Hasrat teedalam yang beberapa hari tersimpan kini siap untuk ditumpahkan, bahkan darah seolah berdesir hebat hingga menjalar ke seluruh tubuh Yulian.
“Baiklah! Ayo masuk sekarang, Neng!”
__ADS_1
Yulian menarik lengan Khadijah begitu saja dan masuk ke dalam kamar lalu berdiri di sisi tembok, membuat Khadijah merasa di penjara oleh Yulian.
“Neng, mau melakukan yang tadi pagi sekarang juga?”
Khadijah mengangguk dengan pelan, tanda jika ia menyetujui ajakan Yulian. Dan setelah Khadijah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tidak biasa itu, baru lah Yulian mulai beraksi melampiaskan hasrat yang menggebu. Adegan beradu ranjang pun telah di lakukan malam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang kelam membuat seorang Ahtar melamun di balkon kamarnya sendirian. Menatap rembulan yang terang saat menyinar kan cahayanya, hingga terciptalah kehangatan meskipun semilir angin telah menerpanya.
“Umi, Ahtar tiba-tiba merindukan kehadiran Umi. Semoga Umi tenang di sisi Allah SWT.” Ahtar mengulas senyum saat bayangan Aisyah melintas begitu saja.
Saat rasa tenang dan damai menemani Ahtar tiba-tiba saja ada rasa penasaran yang menyelinap begitu saja dalam benaknya setelah tatapan mata elangnya memidai pergerakan Zuena yang berada di teras rumah.
‘Bukankah itu Zuena? Tapi... kenapa Dia ada bawah saat malam seperti ini?’
Ahtar berperang dengan pikirannya, menerka-nerka apa yang akan dilakukan Zuena di luar sana. Dan itu membuat hati Ahtar merasa tidak tenang, tiba-tiba saja lamgkahnya teegerak mengikuti kemana pun Zuena akan pergi.
‘Aku harus mengikutinya, paling tidak... jika terjadi sesuatu aku bisa menjaganya.’
Ahtar mengekori Zuena dari belakang, kemana pun kaki Zuena melangkah Ahtar dengan setia mengikuti langkah gontai itu. Dan keberadaan Ahtar yang sedikit mengendap-endap membuat Zuena seketika menghentikan langkahnya.
‘Seperti ada yang mengikutiku. Tapi, siapa?’ tanya Zuena dalam hati.
Zuena mengarahkan pandangannya ke seluruh sisi untuk memastikan siapa yang tengah mengikutinya. Tetapi, dengan siaga Ahtar sudah mencari tempat untuk berlindung agar Zuena tidak melihat keberadaannya di sana.
Kembali Zuena melangkah setelah dipastikan tidak ada yang mengikutinya. Begitu juga dengan Ahtar, kembali ikut melangkah setelah Zuena tidak merasa curiga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
“Gimana, Neng? Masih mau lanjut lagi atau...”
Belum juga Yulian menyelesaikan kalimatnya sudah mendapatkan serangan yang luar biasa dari Khadijah. Di luar dugaan Yulian, Khadijah secara tiba-tiba memberikan serangan balik. Bahkan semakin buas saja, kecupan demi kecupan menjuhani wajah Yulian. Hingga membuat Yulian tidak bisa lagi menahan hasratnya. Darah seolah berdesir hebat dan menjalar begitu cepat ke seluruh tubuh Yulian.
”Baiklah Neng, Hubby mu ini akan kembali menyerang. Bersiaplah!”
Khadijah mengangguk, lalu Yulian kembali memasukkan kejantanannya secara perlahan. Serangan demi serangan membuat Yulian dan Khadijah banjir peluh. Raungan yang terdengar membuat keduanya semakin berada di puncak kenikmatan.
Dan setelah merasa sangat lelah Yulian pun mengakhiri serangannya. Lalu Yulian mengelap keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya dengan tisu yang sudah disediakan tadi. Begitu juga dengan Khadijah, melakukan hal sama.
“Terimakasih, karena Neng sudah melayani Hubby dengan sepuasnya.” Yulian memebeikan kecupan di kening Khadijah.
“Kenapa harus berterimakasih akan hal itu? Bukankah itu sudah menjadi kewajiban seorang istri, Hubby? Melayani suami dalam segala hal itulah yang utama.” Khadijah mengulas senyum, lalu mencium punggung tangan Yulian.
“Ya sudah, ini sudah malam. Lebih baik Neng istirahat dan segera tidur. Jangan lupa besok kita harus persiapan untuk ke Medan.” Yulian membelai rambut Khadijah yang terurai.
Khadijah mengangguk, tanda jika Khadijah menuruti apa yang diminta Yulian. Dan dibawah selimut tebal Khadijah menutupi tubuhnya hingga terlelap dalam tidur. Sedangkan Yulian, ia tidak melakukan hal yang sama dengan Khadijah, karena Yulian masih terjaga.
‘Terimakasih, meskipun dulu aku tak menginginkan kehadiranmu... bahkan aku pun tak mengharapkan pernikahan ini. Tapi kenyataannya... Allah berkehendak lain. Takdir yang mempertemukan kita melalui tahajud cinta, lalu kedua anakku yang terus berupaya membujuk rayu ku untuk mencari mu lalu... menikahimu. Sungguh indah rasanya pertemuan kita, Khadijah.’
Yulian menyingkap rambut Khadijah yang menutupi sebagian wajahnya. Lalu Yulian membelai rambut panjang Khadijah, bahkan bibir Yulian pun tak pernah surut. Yulian terus tersenyum sendirian saat pertama kali bertemu dengan Khadijah sampai akhirnya mampu meluluhlantahkan hati seorang Khadijah.
Setelah cukup lama membelai rambut Khadijah, Yulian merasa kantuk. Lalu Yulian mendelik di bawah selimut tebalnya dan untuk merasakan kehangatan yang lebih Yulian melingkarkan lengannya di pinggang Khadijah. Yulian pun terlelap dalam tidurnya, hingga hanya terdengar hembusan nafas yang menderu karena kelelahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Tempat apa ini? Kenapa gelap sekali? Dan kenapa jiga Zuena datang kesini? Aku... merasa tidak tenang.” Ahtar menelisik tempat di mana saat ini ia berada.
Zuena yang tidak tahu jika Ahtar mengikutinya, ia merasa santai berada di tempat gelap tanpa adanya cahaya satupun yang menerangi tempat tersebut. Dan sepasang mata elang milik Ahtar terus memidai pergerakan Zuena yang tengah bertemu dengan seseorang.
__ADS_1
Bersambung...