Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 129 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Tiga lembar tiket menuju ke Medan telah disiapkan oleh Yulian. Hal itu membuat Khadijah nampak senang, bahkan binar matanya terlihat begitu kentara jika bahagia telah dirasakannya. Sesuatu hal yang dinantikan selama ini akan menjadi kenyataan.


“Dengarkan Abi baik-baik. Kalian harus tinggal sementara waktu disini terlebih dahulu sampai urusan kalian benar-benar selesai. Arjuna dan Ahtar cepat ajukan kepada pihak rumah sakit surat perpindahan kerja kalian. Dan Hafizha, pikirkan baik-baik tentang ujian kamu. Sesudah lulus nanti Abi harap kamu bisa menempuh pendidikan di Medan, agar kita bisa berkumpul dan menetap di Medan.”


Keputusan tersebut telah diambil oleh Yulian. Karena itu adalah yang terbaik sekaligus Yulian ingin menguji bagaimana cara anak-anaknya bersikap dewasa sampai saatnya tiba untuk pindah ke Medan dan berkumpul bersama lagi. Dan Yulian juga ingin menguji hati Ahtar saat berdekatan dengan Zuena tanpa ada pengawasan secara langsung dari Yulian sendiri.


“Bagaimana, apa kalian setuju dengan keputusan Abi? Jika kalian diam saja Abi anggap itu adalah persetujuan dari kalian.” Yulian menatap wajah ketiga anaknya yang berada di hadapannya.


“Baik, Abi. Arjuna akan mengurus terlebih dahulu masalah di rumah sakit. Jika sudah selesai semuanya Arjuna akan membawa Cahaya dan Garda ke Medan.” Arjuna mengangguk, tanda setuju dengan keputusan yang dibuat Yulian.


“Ahtar juga setuju,”


“Iya, Hafizha juga setuju. Lagipula pas juga satu bulan lagi pas bulan puasa, meskipun tidak bisa bersama menikmati disini tetapi pas lebaran nanti kita bisa berkumpul lagi.” Hafizha begitu bersemangat saat mengucapkan bulan ramadhan dan hari raya idhul fitri.


“Ok, Abi rasa permasalahan liburan ke Medan sudah selesai. Sekarang kita kaum lelaki akan membahas tentang Opa Alex. Bagaimana sunah yang dianjurkan dalam Islam sebagai lelaki yang sudah baligh.”


“Dan Ahtar... Arjuna, ini tugas kalian. Karena kalian yang paling tahu seluk beluk rumah sakit, jadi tugas ini Abi serahkan kepada kalian. Kalau bisa... besok kalian lakukan.”


Ahtar dan Arjuna tersenyum semirk, tanda mereka bersemangat untuk melakukan tugas dari Yulian. Tapi dibalik rasa semangat itu keduanya menahan tawa tanpa suara.


Setelah memberikan tugas kepada Ahtar dan Arjuna obrolan semuanya telah diakhiri, lalu mereka kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Arjuna bersama Cahaya berjalan menuju ke kamar hendak menemui Garda, Ahtar menuju ke kamar Adam, Hafizha menuju ke kamarnya untuk melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya, sedangkan Yulian masih mengobrol ringan dengan Khadijah dan Alex di ruang keluarga.


“Tugas apa yang kamu maksud itu, Yulian? Kenapa harus bersama Ahtar dan Arjuna? Kenapa juga ke rumah sakit?” cecar Alex dengan beberapa pertanyaan.


Yulian tidak langsung menjawab pertanyaan dari mertuanya itu, justru mengulas senyum selebar mungkin. Membuat Khadijah ikut tertawa dan itupun membuat Alex semakin bingung.


“Emm... masalah itu Papa ikuti saja Ahtar dan Arjuna besok saja. Sekarang Yulian mau menemani Abizzar di kamar, kasihan sendirian. Permisi, Pa!” ujar Yulian sembari menyembunyikan tawa.


Khadijah ikut meninggalkan Alex yang masih duduk di ruang keluarga_yang masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Yulian tadi. Sungguh kasihan Alex, mengapa juga Yulian tidak langsung mengatakannya saja. Dan Alex haya bisa menebak-nebak saja dalam angan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Assalamu'alaikum.” Ahtar mengucap salam sembari mengetuk pintu kamar Adam.


Tidak lama kemudian Zuena membuka pintu kamar itu. Terlihat Ahtar terkejut saat melihat Zuena berdiri di depannya dengan wajah yang tak biasa.


“Astaghfirullahalazim,” pekik Ahtar.


Seketika Ahtar membalikkan tubuhnya karena tidak berani bertatap muka dengan Zuena.


“Haaa!”


Saat mendengar suara Ahtar baru lah kesadaran Zuena merasa penuh. Dan berapa malunya seorang Zuena dengan rambut yang acak-acakan sekaligus hanya memakai kaos singlet serta celana pendek saja.


“Maaf, Dok! Ada... perlu apa Dokter Ahtar kemari?”


Dengan nada pelan yang bercampur dengan rasa ragu Zuena memberanikan diri untuk bertanya kepada Ahtar. Begitu juga dengan Ahtar mengatakan apa tujuannya ke kamar Adam.


“Perkembangannya cukup baik, tapi saya minta untuk satu malam lagi menginap disini. Agar saya lebih mudah memantau keadaan kamu, Adam.” Terang Ahtar setelah memeriksa kesehatan Adam.


“Terimakasih, Dok! Maaf jika kami berdua sudah merepotkan Dokter dan kelaurga.”


“Tidak masalah. Anggap saja kita teman, bukan antara pasien dengan dokternya. Dan... panggil saja Ahtar, tanpa embel-embel gelar saya.” Ahtar tertawa amat pelan, tapi tetap membuat hati Zuena terpesona.


“Memangnya Dokter Ahtar mau berteman dengan saya? Sedangkan saya...”


“Sudahlah! Lupakan tentang latar belakang kamu, Adam. Kita semua itu sama di mata Allah SWT, tak ada yang beda.”


“Ya sudah, saya permisi dulu! Kembalilah istirahat, dan kamu juga... Zuena.” Ahtar mengulas senyum.

__ADS_1


Tanpa tatapan yang mengisyaratkan sebuah cinta Ahtar mampu membuat hati Zuena dega-degan, bahkan ingin rasanya mencolos begitu saja. Tapi Zuena selalu menahan rasa yang bergejolak di dalam dadanya.


Ahtar sudah berlalu pergi, tetapi Zuena masih enggan untuk memalingkan pandangannya dari arah pintu. Seolah bayangan Ahtar masih melekat di sana, hal itupun membuat Adam tertawa sendiri melihat tingkah Zuena yang senyum-senyum sendirian.


‘Aku tahu dan sangat sadar dengan perasaan ini. Tapi aku tidak bisa memilikimu apalagi... cinta itu.’ Zuena bermonolog dalam hati.


Adam merasa iba dengan kisah asmara Zuena, apalagi saat melihat tatapan Zuena berubah menjadi sendu, hati Adam ikut teriris.


‘Aku tahu kamu wanita yang kuat. Karena aku tahu siapa kamu Zuena.’


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Khadijah nampak bahagia malam itu, bibirnya pun tak pernah surut dan selalu mengembang hingga membantuk senyuman yang manis. Dan hal itu mampu ditangkap oleh mata elang Yulian, hingga senyum itupun telah menular ke bibir Yulian_bagaikan virus.


”Hubby lihat Neng dari tadi senyum-senyum terus, kenapa?”


“Itu tandanya Neng sedang bahagia, Hubby. Neng tidak pernah merasakan bahagia seperti malam ini. Dan Neng mau mengabadikan momen penting ini dalam memori ingatan Neng.” Khadijah kembali mengulas senyum.


Bayangan Alex saat mengucapkan kalimat syahadat dan juga beberapa momen membahagiakan yang lainnya masih melekat dalam ingatan Khadijah. Dan Yulian turut ikut bahagia dengan apa yang tengah dirasakan Khadijah.


“Neng... bagaimana? Mau tidak yang tadi siang?”


Tidak ada alasan lain lagi yang mampu diberikan Khadijah untuk menolak. Hanya dengan anggukan sembari menyunggingkan senyuman Yulian mampu menangkap jika Khadijah mau melakukan hal yang diinginkan olehnya saat ini.


“Tapi... tunggu dulu!”


Khadijah menghentikan pergerakan Yulian yang hendak melepaskan cadar Khadijah.


“Kenapa, Neng? Ada apa lagi?”

__ADS_1


“Neng... mau ganti baju dulu. Baju yang lebih... ****.”


Khadijah berlari dan menghilang dari hadapan Yulian.


__ADS_2