
Setelah malam kian melarut akhirnya Yulian mengakhiri percakapan dengannya bersama Arjuna. Kini mengambil posisi untuk merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
Tepat pukul dua malam Yulian terbangun, lalu memutuskan untuk pergi ke mushola dan melakukan sholat tahajud. Tak lupa pula Yulian melangitkan do'a kepada Allah dengan rasa cinta. Setelah usai dari mushola Yulian memilih tinggal di mushola rumah sakit. Lalu membaca mushaf yang selalu dibawa dengan bentuk kecil, sehingga mudah dibaca dimana saja.
’Beberapa hari aku tidak membacakan surat pendek sebelum Khadijah tidur. Apa Dia ... merindukan aku untuk menbacakannya?’ batin Yulian.
Setelah usai membaca mushaf, Yulian meraih ponselnya lalu mengirim pesan kepada Khadijah.
”Assalamu'alaikum, Neng Khadijah. Bagaimana tidurnya ... nyenyak tidak?”
Karena masih belum mendengar suara adzan subuh dapat dipastikan Khadijah belum membuka pesan dari Yulian, jangan kan membuka... bangun pun belum. Karena jam masih menunjukkan pukul tiga malam.
------
”Syukurlah Hafizha tidak bangun. Aku bisa melakukan sholat tahajud sebelum subuh.”
Khadijah melakukan sholat dua rakaat di sepertiga malam. Namun, ia tidak melanjutkan dengan membaca mushaf, karena Khadijah mau melanjutkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, sekedar membantu pekerjaan bik Inem.
”Hubby mengirim pesan? Ada apa ya?”
Dengan rasa penasaran yang berada di dalam hatinya, Khadijah segera membaca pesan singkat dari Yulian.
”Alhamdulillah, nyenyak kok, Hubby. Bagaimana dengan Hubby sendiri?”
Pesan terkirim, tidak lama kemudian Yulian membalasnya.
”Alhamdulillah, Hubby jiga nyenyak. Kamu lagi apa di rumah? Sudah sholat tahajud?”
”Alhamdulillah sudah, Hubby. Ini mau lanjut membersihkan rumah, membantu bik Inem. Kasihan kan, kalau bik Inem harus kerja banyak terus.”
”Ya sudah, tapi jangan sampai kecapean.”
__ADS_1
”Insyaa Allah, Hubby.”
Pesan pun telah diakhiri, Khadijah segera menuju ke ruang cuci dan memulai pekerjaannya dengan mencuci pakaian yang kotor. Setelah itu dilanjut membersihkan seluruh rumah sampai benar-benar kinclong. Hingga adzan subuh terdengar menderu di telinga Khadijah, lalu menghentikan pekerjaan dengan segera untuk menunaikan sholat subuh. Setelah itu dilanjutkan lagi sesi pendapuran, kali ini dibantu oleh bik Inem. Karena bik Inem sudah bangun kala itu. Bahkan Hafizha si kecil sudah bangun dan sudah bersih.
”Izha mau dimasakin apa sama Bunda?”
”Apa saja Bunda, yang pasti akan terasa enak dan nikmat jika kita memperbesar rasa syukur. Iya kan, Bun?”
”Itu memang benar. Siapa yang ngajarin seperti itu?”
”Ya pasti Abi lah, Bun. Hafizha itu tumbuh bersama Abi, Om Abdullah dan bik Inem. Terkadang Mama Arumi juga pernah kesini bersama Om Tristan.”
Celoteh Hafizha di pagi hari dengan jawaban yang jujur dari hati. Dan kini tumbuh menjadi gadis kecil tetapi memiliki sifat yang dewasa, bersikap lemah lembut dan bijak layaknya orang dewasa. Dan hal itu membuat Khadijah merasa takjub, tidak salah jika ia memberikan dan meninggalkan Hafizha bersama Aisyah dan Yulian.
Di sela percakapan yang ada, tiba-tiba pintu diketuk secara pelan dari luar. Bik Inem yang mendengar pun ingin segera membuka pintu itu dan memastikan siapa yang sudah bertamu sepagi itu. Sedangkan matahari pun belum menampakkan cahayanya sedikitpun.
”Kita lihat sama-sama saja, Bik. Nanti bukan orang bertamu lagi. Takutnya ... maling.” Hafizha yang mendengar seketika terkekeh geli.
Khadijah sejenak terdiam, setealh mencerna perkataan Hafizha ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil nyengir.
’Iya juga ya, mana ada maling di waktu subuh. Pastinya kan, semua orang sudah bangun jadi ... malingnya takut.’ batin Khadijah.
Bik Inem melanjutkan langkah kakinya dan menuju ke pintu depan. Dan seketika bik Inem dikejutkan oleh kehadiran yang selalu dirindukan oleh keluarga Yulian. Siapa lagi kalau bukan tampan dan berkharisma, Ahtar Admajaya.
Dengan segera Ahtar mengucap salam lalu mencium punggung tangan bik Inem. Setelah itu keduanya masuk langsung menuju dapur dan menyapa Khadijah serta Hafizha.
---------
Mentari pagi telah menyingsing, memberi kehangatan pada seluruh kota Edinburgh. Dan pagi itu Yulian belum melakukan rutinitasnya di kamar mandi, karena Yulian tidak membawa pakaian ganti. Hingga akhirnya Yulian meminta Abdullah untuk membawa pakaian gantinya agar ia segera pergi ke kantor.
Dan tidak lama kemudian rombongan keluarga Yulian sudah tiba di rumah sakit, kecuali Hafizha. Karena Hafizha pagi itu harus pergi sekolah yang ditemani oleh Abdullah dan bik Inem. Sehingga yang datang ke rumah sakit hanya Khadijah, Ahtar dan Arumi.
__ADS_1
”Assalamu'alaikum,”
”Wa'alaikumsalam!” jawab semua bersamaan.
Seolah pagi itu Yulian mendapatkan kejutan yang luar biasa. Kedatangan Ahtar yang secara tiba-tiba membuat senyum semua mengembang sempurna. Untung melepas rindu, mereka saling berpelukan satu sama lain. Hingga mereka lupa akan waktu, terutama Yulian.
”Sudah jam delapan. Abi sudah terlambat, Abi mau berangkat dulu ke kantor.”
Dengan terburu-buru Yulian memasukkan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya. Lalu ia mengucap salam sebelum ia meninggalkan ruangan Cahaya yang akan berlanjut ke ruang khusus bayi untuk sekedar menengok Garda.
’Neng tahu banyak orang, tadi juga melepas rindu sama Ahtar. Tapi kan, tidak perlu lupa sama masakan yang dibawa Neng bawa. Hubby ngeselin deh,” batin Khadijah.
Khadijah jelas merajuk atas sikap Yulian yang acuh terhadapnya, dan Yulian sendiri tidak ngeh atas sikapnya yang sudah salah bahkan membuat Khadijah marah. Hingga akhirnya suara Ahtar mengudara dan menyadarkan Yulian akan Khadijah yang berada di sana.
”Abi tidak lupa kan, sama Bunda?”
Semua menahan tawa saat langkah Yulian seketika terhenti.
”Tuh kan, anaknya saja tahu kalau ada Bunda nya disini. Masa iya suami lupa sama istrinya sendiri. Bahkan sarapan yang sudah dibawa pun tidak di sentuh. Pasti mau makan bersama dengan Mrs. Jennifer itu, kan?”
’Huh, merajuk lagi. Kenapa juga aku bisa lupa sama Khadijah yang ikut kesini? Ya Allah, semoga saja marahnya tidak lama.’ batin Yulian.
Dengan langkah gontai Yulian menuju di mana Khadijah berdiri, lalu menyodorkan tangannya agar Khadijah melakukan tugas istri dengan baik. Tidak lupa juga Yulian memberikan kecupan di kening Khadijah seraya berbisik.
”Nanti, mau dibawakan apa? Es krim lagi mau?”
”Tidak ah, nanti kalau kebanyakan makan es krim terus flu bagaimana?”
”Iya juga. Tapi kalau flu, nanti merajuk di kasur sama Hubby.” Seketika Khadijah menatap tajam Yulian sembari mencubit pinggangnya.
Dan Yulian hanya terkekeh geli melihat bagaimana ekspresi Khadijah yang bergelut manja kepadanya. Meskipun tidak nama terlihat, tapi Yulian bisa merasakan perubahan Khadijah sedikit saja. Sehingga Yulian merasa tidak malu lagi jika ia ingin meminta Khadijah untuk memberikan kepuasan kepadanya.
__ADS_1
Yulian pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan setiba di kantor ia segera menuju ruangannya lalu membuka laptop dan beberapa berkas untuk ia teliti kembali.