
Empat rakaat pun telah usai ditunaikan oleh Yulian, sekarang saatnya ia hanya duduk sembari menanti kehadiran Humaira yang mengiyakan permintaannya tadi.
“Assalamu'alaikum, Om Yulian.” Humaira mengetuk pintu.
“Wa'alaikumsalam, duduklah kamu, Humaira.” Yulian menunjuk tempat yang nyaman untuk Humaira duduk.
Di hadapan Yulian, Humaira hanya menundukkan pandangannya, dibalik yang ia lakukan saat itu ada rasa takut yang menyelimuti diri. Hingga ia pun tidak berani untuk sekedar beringsut menyamankan posisi duduknya.
“Humaira, Om lihat tadi kamu berada di restoran tengah bersama seorang lelaki. Jika kamu ijinkan, Om ingin tahu siapa lelaki itu.” Yulian menatap Humaira dengan tatapan teduh.
__ADS_1
Setelah mendengar pertanyaan yang menohok nya, Humaira hanya diam sambil menelan saliva nya sendiri. Dan Humaira merasa bingung darimana ia akan menceritakan siapa lelaki yang bertemu dengannya di restoran Tattu pagi tadi.
“Katakan saja! Selama kamu tinggal di sini kamu adalah tanggungjawab Om. Dan sebagai orang tua Om tidak ingin kamu masuk ke dunia yang menyesatkanmu sendiri nantinya.”
“Apalagi Om lihat di restoran tadi pagi kalian hanya bertemu berdua saja, tidak ada teman yang menemani kalian. Jangan sampai kamu kehilangan kendali jika orang ketiga di antara pertemuan kalian adalah setan.”
Humaira masih menundukkan pandangannya, ia tidak berani menatap Yulian untuk memberikan jawaban dari setiap pertanyaan Yulian tadi. Namun, Yulian terus mendesak Humaira untuk mengatakan siapa lelaki yang bersamanya tadi.
“Jangan, Om. Baiklah, Humaira akan mengatakan dengan jujur siapa lelaki itu kepada Om Yulian. Tapi Om jangan mengatakan apapun kepada Papa ataupun Mama.” Humaira memberanikan diri mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
Yulian manggut-manggut, ia menanti dengan rasa tidak sabar untuk mendengar Humaira menjelaskan semua seperti apa yang dilihatnya tadi.
“Lelaki itu bernama Adam. Dia adalah salah satu Mahasiswa di Universitas Al-Ahgaff di kota Yaman. Di mana itu adalah Universitas yang dulu Humaira menimba ilmu.”
Dan Humaira akhirnya menceritakan tentang Adam yang memiliki perasaan kepadanya, bahkan Adam pernah meminta Humaira untuk mengatur waktu agar Adam bisa berkunjung di rumahnya untuk bertemu dengan Tristan dan Arumi yang sebagai kedua orang tua Humaira. Karena Adam mempunyai tujuan dan maksud yang baik, daripada mengajak Humaira ke jalan yang sesat. Namun, Humaira selalu menolak permintaan Adam termasuk hari itu.
“Om tidak ingin ikut campur dalam permasalahan kamu itu. Tapi Om di sini hanya akan mengingatkan, jangan sampai kamu bertemu lagi dengannya tanpa ada seorang teman sebagai saksi. Karena jika itu kamu ulangi lagi, Om tidak tahu apa yang akan terjadi.”
“Hati setiap manusia itu berbeda-beda, terkadang sama dengan bibir yang berucap. Tetapi terkadang juga berbeda, lain di mulut lain di hati. Dan Om tidak tahu bagaimana sifat asli Adam itu, maka dari itu hindarilah pertemuan yang akan menimbulkan fitnah.”
__ADS_1
Humaira manggut-manggut, ia mengiyakan permintaan Yulian. Dan setelah itu Yulian meminta Humaira untuk kembali ke kamarnya, karena ia pun juga akan kembali ke kamar tercinta dan menemui sang pujaan hati sekaligus sang buah hati.