
Setelah satu minggu berlalu kini Yulian dan Khadijah kembali ke rumah. Keluarga dan para sahabat pun menyambut kehadiran mereka dengan meriah. Sehingga tawa riuh terdengar memenuhi seisi rumah. Hari yang bahagia tak mungkin mereka sia-siakan begitu saja, oleh karena itu sesi kameramen sudah disiapkan untuk membidik gambar mereka semua.
”Ini giliran pengantin baru. Kalian harus berfoto berdua saja. Dan selanjutnya bersama Hafizha.”
Tristan dan Arumi pun mengatur posisi Yulian dan Khadijah. Di mana beberapa gaya telah terbaik dengan romantis, karena setiap gaya mereka saling memandang dan beradu tatap. Dan setelah itu Hafizha berada di tengah sisi mereka. Lucu, momen membahagiakan dan mengharu biru telah menyelimuti mereka semua.
”Dan sekarang ... giliran makan-makan...”
Giliran waktunya makan-makan Abdullah selalu bersemangat empat lima. Meskipun badannya terlihat kecil, tapi sungguh... makannya paling banyak. Namun, perilakunya itu selalu membuat mereka tertawa. Bahkan Abdullah lah yang paling dekat dengan Hafizha, karena hanya Abdullah yang mampu menenangkan tangis Hafizha di kala sedang merajuk.
”Giliran makan saja semangat, hmm.” Tristan mencebik.
”Tak apa kan, Tristan. Jarang-jatang kita itu makan gratis di rumah Yulian. Dan ini mumpung gratis.” Abdullah nyengir.
Tristan menggelengkan kepala setelah melihat tingkah Abdullah yang bisa dibilang tidak tahu malu. Wkwkwk...
Semua keluarga dan para sahabat Yulian menikmati hidangan yang sudah disediakan. Sedangkan Yulian, ia asik mengobrol dengan Hafizha si kecil. Yang kini sudah berusia empat tahun, membuat semua orang merasa semakin gemas saja kepadanya.
”Abi, apa Izha punya Umi baru?”
”Iya dong sayang, tapi ... panggilnya jangan Umi ya!”
”Terus apa dong, Abi?”
”Panggil Bunda saja,” sahut Khadijah.
Khadijah tersenyum bahagia setelah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Hafizha, dan kini mereka dipertemukan dalam kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan olehnya. Menjadi istri dari Yulian, dulu hanya keinginan semu. Dan sekarang telah menjadi nyata setelah berkali-kali harus melewati masa sulit melupakan cinta yang dulu pernah tumbuh di hatinya. Justru saat ini, cinta itu harus ternanam di dalam hatinya lagi untuk tetap mencari ridho-Nya.
__ADS_1
”Sekarang sudah malam, apa kalian semua mau tidur disini juga, hah?”
Para sahabat Yulian memang betah jika di depan mereka ada camilan, apalagi kejahilan mereka sudah mereka rencanakan. Di mana mereka akan mengganggu malam pengantin baru. Meskipun mereka tahu bahwa malam itu bukanlah malam pertama bagi Yulian dan Khadijah, tapi mereka yakin... Yulian dan Khadijah belum melakukan masa itu.
”Wah ... tambah seru itu kalau kita bermalam disini. Iya kan, Tristan?”
”Betul itu, Abdullah. Kita bisa makan gratis seperti yang kamu katakan tadi.”
Tristan dan Abdullah tertawa tanpa mengudarakan suara setelah melihat betul ketidak relaan Yulian akan kehadiran mereka yang tidak kunjung pergi dari rumahnya. Dan kehadiran mereka sungguh membuat Yulian merasa jengkel. Ingin rasanya Yupian mengusir secara kasar, tapi hati nuraninya merasa tak enak hati. Jika tanpa mereka, mungkin kini tak ada yang namanya pernikahan antara Yulian dengan Khadijah.
”Terserah kalian sajalah! Kalau begitu ... lebih baik aku tidur saja.”
”Eits, jangan pergi dong, Yulian. Kita itu masih disini, masa iya kamu main pergi saja. Itu namanya tidak sopan.”
”Tapi ini sudah malam, masa iya kalian tidak mengantuk? Aku saja sudah mengantuk, lelah juga.”
Yulian menatap segelas air yang di bawa oleh Tristan. Memastikan bahwa itu bukanlah minuman yang beralkohol, secara dulu Tristan sering meminumnya, dan membuat Yulian patut untuk mencurigainya. Bahkan Yulian menciumnya aroma minuman itu, lalu ia meminumnya setelah tahu bahwa itu hanya minuman teh hijau. Minuman yang disukainya sedari dulu.
Malam pun telah melarut dan kesunyian telah tercipta, tetapi tidak dengan Tristan, Abdullah, Arjuna dan Yulian. Karena mereka masih bercanda tawa bersama di ruang tengah yang cukup megah di rumah itu. Dan pada pukul dua belas tepat akhirnya mereka mengakhiri canda tawa mereka.
”Aku tidur disini saja dan kamu tidur di sana, Abdullah.”
”Kamu saja yang tidur di sana, Tristan. Aku mau disini, empuk kasurnya.”
Kedua sahabat Yulian kini kembali berulah. Hanya tempat tidur saja mereka harus bercekcok dulu. Kesel kan jadinya mbak penulisnya itu. Dan seharusnya Yulian juga bercekcok tanam bersama Khadijah, ini malah Khadijah sudah molor duluan bersama Hafizha. Ngalamat Yulian dan mbak penulis tepok jidat bersama-sama.
’Ya Allah, ikhlaskan aku dalam menjaga keinginannya. Dan sabarkanlah aku untuk menunggunya menyerahkan semuanya kepadaku.’ batin Yulian.
__ADS_1
Yulian menatap sejenak wanita yang disayanginya itu, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Hal sama pun dilakukan kepada Hafizha, mencium kening dan mengusap lembut puncak kepala mereka. Setelah itu, Gulian menutup kembali pintu kamar Hafizha, lalu ia pergi ke kamarnya untuk merebahkan tubuh yang terasa begitu lelah.
”Andai kamu tidur disini, pasti kehangatan akan tercipta.” Yulian menatap ke arah langit-langit seraya membayangkan wajah Khadijah yang berseri-seri.
Tidak lama kemudian mata Yulian terpejam, entah di jam berapa ia benar-benar melepas rasa lelahnya. Begitu pulas tidurnya, tetapi saat suara adzan berkumandang Yulian harus kembali. bangun untuk melakukan sholat subuh. Begitu halnya dengan Khadijah, ia terbangun dan menyadari bahwa ia tertidur di kamar Hafizha saat menceritakan dongeng sebelum tidur kepada Hafizha.
’Ya ampun, aku kok bisa ketiduran disini? Lalu ... apa Hubby sudah bangun ya? Dan Hubby ... tidur dimana?’ Khadijah bertanya-tanya di dalam hati.
Khadijah beranjak dari tempat tidurnya, perlahan ia membuka pintu agar tidur Hafizha tetap terjaga. Lalu Khadijah menuju ke dapur, mencari minum untuk meredakan rasa dahaganya.
”Apa Hubby ada di kamar ya? Haruskah aku pergi kesana?”
Khadijah melangkahkan kaki untuk menuju ke kamar Yulian. Lalu mengetuk pintu dengan pelan, tetapi tak ada suara dan pintu juga tak kunjung dibuka. Namun, pintu itu tidak dikunci dan Khadijah memutuskan untuk membukanya pelan. Seketika Khadijah terkejut dengan pemandangan di dalam sana. Hancur rasanya jika melihat dua insan tengah bermalam di sana.
Khadijah tak kuat melihat pemandangan itu, sehingga ia berteriak hingga memekik telinga Yulian. Dan Yulian yang mendengarnya pun seketika datang ke pusat suara.
”Ada apa, Khadijah?” tanya Yulian sedikit bergetar.
”Itu ... lihat di dalam!”
”Astaghfirullah, benar-benar ini.”
Yulian seketika masuk dan membangunkan Abdullah yang tengah memeluk Tristan bagaikan guling saja. Bahkan mereka berdua melepas baju, sungguh tidak normal bukan?
”Bangun Tristan, Abdullah!” teriak Yulian.
Yulian beberapa kali menimpuk tubuh Tristan dan Abdullah dengan bantal untuk membangunkan mereka. Dan ketika mereka membuka mata, justru mereka yang berteriak setelah melihat apa yang mereka lakukan.
__ADS_1
Hadeh, ada-ada saja ya sahabat Yulian itu. Konyol dan lucu, tapi mereka juga bisa berpikir bijak saat ada masalah.