Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 108 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Setelah berpikir cukup lama akhirnya Zuena pun menerima ajakan Adam yang akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ahtar, tak lain adalah dokter yang menangani penyakit Adam.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi seorang Zuena untuk menatap penampilannya, hanya dengan memoles sedikit wajahnya dengan beberapa make up yang tidak terlalu kentara dan juga mengucir rambutnya ke atas. Sedangkan pakaiannya hanya memakai celana levis panjang dan juga kaos hitam ala remaja.


“Kamu tidak salah memakai pakaian seperti ini ke rumah sakit dan bertemu dengan Dokter Ahtar? Bagaimana kalau nanti ada keluarganya, misal ayahnya begitu.” Adam melihat pakaian Zuena dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Buat apa aku harus merubah penampilanku hanya karena ada mereka atau bertemu mereka. Aku tidak mau insecure, aku mau... jadi diri aku sendiri.”


“Sudahlah! Kita jadi ke rumah sakit atau tidak?”


“Jadilah! Masa iya tidak, kasihan Dokter Ahtar.”


“Ya sudah, ayo! Lama amat.”


Adam tidak kembali mempedulikan pakain Zuena, kini iaal masuk ke dalam mobil yang di sopiri oleh pengawal pribadi Zuena. Tak lama kemudian mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Abi, sholat dzuhur nya nanti Ahtar mau jadi makmum. Abi, bisa kan... bantu Ahtar ke kamar mandi?”


Yulian mengangguk, sebagai seorang ayah ia pun merasa senang ketika melihat anaknya yang tidak pernah lalai sebagaimana kewajiban manusia saat berada di dunia.


Meskipun saat ini Ahtar tidak bisa berdiri terlalu lama paling tidak ia masih ingin menunaikan sholat lima waktu. Dan sebagai seorang ayah yang ingin selalu mengajarkan kebaikan dan kewajiban Yulian membantu Ahtar ke kamar mandi.


“Basuh dulu wajahmu, Nak. Cuci muka dulu, bersihkan mulut dan setelah itu baru berwudhu. Biar Abi bantu!”


“Ha... ha... ha... Abi tidak jijik saat membantu Ahtar gosok gigi seperti ini?”


Seketika Yulian menoleh, ia menatap Ahtar dengan menggelengkan kepalanya pelan. Sebelumnya Yulian tidak pernah membayangkan jika Ahtar akan mengatakan seperti itu. Namun Yulian hanya membalas dengan senyuman.


Sholat empat rakaat di siang hari kini telah ditunaikan oleh Yulian sebagai Imam dan Ahtar sebagai makmum.


Allah itu begitu Maha Pengampun dan Allah SWT juga mengijinkan umat-Nya untuk tetap merebahkan tubuh mereka disaat menjalankan kewajiban sholat lima waktu jika hamba-Nya benar-benar tidak mampu untuk berdiri dan duduk.


Deg...


‘Oh... God! Kembali aku melihatnya dengan gerakan seperti itu. Sebenarnya gerakan apa itu? Banyak sekali, bahkan begitu lama mereka melakukannya. Tapi... di dalam hati itu membuatku... iri.’


Tepat berada di depan ruang rawat inap Ahtar Zuena dan Adam berdiri, keduanya mengintip dibalik kaca kecil dari luar sana. Dan Zuena terus bertanya dalam hati kecilnya tentang pergerakan yang dilakukan oleh Yulian dan Ahtar, karena ia tidak pernah melihat sekalipun di luar sana.


Gereja lah yang selalu dijadikan Zuena untuk beribadah. Begitu juga dengan Adam, karena kedua orang tua mereka menganut agama Kristen.


“Kalian siapa, ya? Kenapa ada di depan pintu ruangan ini?”


Suara Hafizha mengagetkan Zuena dan Adam disaat masih berdiri di sana.


“Saya Adam, sorry jika keberadaan kami mungkin sudah mengganggu. Tapi... kami memiliki niat baik, ingin menjenguk Dokter Ahtar.” Suara Adam terdengat begitu ramah dengan khas dewasanya.


“Oh... mau jenguk Bang Ahtar! Ya sudah, kalian masuk saja!” ajak Hafizha.


Hafizha membuka pintu dengan pelan, dan saat itu Yulian dan Ahtar baru saja usai melakukan sholat dzuhur berjamaah.


“Assalamu'alaikum, Abi... Bang Ahtar,”


Hafizha menyalami Yulian dan Ahtar. Sedangkan Adam dan Zuena hanya mengekori Hafizha dari belakang.

__ADS_1


“Kenapa kamu kembali lagi, Nak?”


“Itu loh Abi, laptop Hafizha ketinggalan.” Hafizha mengarahkan telunjuknya ke arah meja.


“Dan... mereka siapa?”


Yulian menatap Zuena dan Adam dengan tatapan nanar. Bahkan tatapan Yulian semakin menajam saat melihat pakaian Zuena yang tidak wajar.


“Hafizha juga tidak tahu mereka siapa, Abi. Tapi... mereka mengenal bang Ahtar, katanya mau jenguk.”


“Iya, Om. Saya Adam, pasien Dokter Ahtar. Dan ini... sepupu saya, Zuena.” Adam pun ikut bersuara saat Yulian menatap keduanya.


Yulian manggut-manggut, meskipun tidak tahu pasti tetapi tatapan itu berubah dengan senyuman yang menyambut kehadiran Adam dan juga Zuena.


Sedangkan Ahtar yang merasa tengah menjadi topik obrolan mereka hanya diam saja, karena Ahtar merasa tidak mengenal sama sekali tentang keduanya.


“Bang, sepertinya Hafizha... mengenal wanita itu,” bisik Hafizha.


Ahtar hanya diam saja, dibiarkan Hafizha mengoceh sendirian. Bahkan Ahtar sekali saja tidak menatap Zuena yang tengah mengobrol dengan Yulian dan Adam di sofa ruangan itu.


“Terimakasih! Karena niat kalian berdua baik terhadap putra saya. Maaf jika Dia selama ini kurang baik dalam bertutur sapa dengan kalian, pasiennya.” Yulian kembali menyepa dengan senyuman.


Zuena merasa bahagia yang membuncah dada ketika bersama dengan Yulian. Bahkan obrolan Yulian serasa berbeda dengan ayahnya sendiri, tak sedekat saat bersama Yulian.


“Maaf, bolehkah saya bertanya sesuatu kepada Anda, Pak?”


Suara Zuena yang mengudara membuat Ahtar dan Hafizha seketika mengarahkan pandangan mereka ke arah Zuena tengah duduk.


”Silahkan! Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui, Nak!”


“Tadi saat saya berada di luar saya melihat Anda dan... Dokter Ahtar melakukan gerakan, tapi saya tidak mengerti gerakan apa itu?”


“Itu namanya sholat, Nak.” Yulian hanya tersenyum saja.


“Seorang muslim dan muslimah wajib menjalankan sholat lima waktu, yaitu subuh sebelum matahari terbit, dzuhur ketika matahari sedang berada di tengah-tengah, ashar ketika sore hari sebelum matahari terbenam, maghrib ketika humrah masyriqiyah hilang dari ufuk timur dan sedangkan isya' ketika malam hari.”


“Tidak apa jika kamu ingin tahu gerakan itu, Nak. Bukankah di kota ini banyak sekali yang menganut berbagai agama juga. Yang terpenting kita harus saling menghargai satu sama lain.”


Kembali Yukian tersenyum, yang membuat Zuena ikut tersenyum. Bahkan senyum itupun menular ke Ahtar dan juga Hafizha, tetapi senyum itu telah memudar dari bibir Ahtar ketika melihat Tristan datang bersama Humaira.


“Aku ada kerjakan yang tidak bisa aku tunda, ini tentang proyek kita yang berada di... Kanada. Dan kali ini aku akan kembali menitipkan Humaira bersama keluargamu, Yulian.”


Deg...


Ahtar yang mendengar jelas ucapan Tristan ingin sekali rasanya menolak. Tapi yang berhak memberikan jawaban hanya Yulian, Abinya yang sebagai kepala rumah tangga.


“Aku akan menerima, asalkan kamu tidak pergi lebih dari lima hari. Kamu harus tahu Tristan, meskipun kamu sahabatku tetapi aku tidak bisa membiarkan putrimu masuk dalam rumahku begitu saja. Karena di sana ada lelaki yang bukan mahramnya.” Yulian mempertegas ucapannya.


“Iya, Yulian. Aku mengerti maksudmu itu.” Tristan manggut-manggut.


Setelah itu Tristan berpamitan kepada Yulian dan Humaira. Dan setelah kepergian Tristan, Ahtar segera mengembalikan barang yang sudah Humaira berikan kepadanya. Mungkin akan terlihat tidak sopan, tetapi Ahtar tidak mau menyimpan terlalu lama.


Ahtar berusaha untuk berdiri dengan dibantu Hafziha. Lalu diberikannya bingkisan dan bunga itu kepada Humaira yang berdiri di sisi Yulian.


“Humaira, maaf! Mungkin perbuatanku ini akan terlihat tidak sopan dan bisa saja menyakiti hatimu. Karena... aku tidak bisa menerima ini semua. Tapi sebelumnya... aku berterima kasih,” ucap Ahtar dengan nada yang amat lembut.

__ADS_1


Manik kecoklatan Humaira menyimpan air mata yang menggenang di sana. Bahkan peluouk matanya sudah berembun, air mata siap jatuh kapan saja. Dengan hati terluka dan kecewa Humaira menerima kembali benda itu.


“Bang Ahtar, apa memang tidak ada kesempatan sekali lagi untuk Humaira mendapatkan cinta Abang?” tanya Humaira dengan hati yang bergemuruh.


Yulian, Ahtar, Hafizha, Adam dan Zuena seketika terkejut dengan pertanyaan Humaira. Bahkan Ahtar seketika berbalik, mata emangnya menatap tajam Humaira dan menilisik wajah Humaira yang tertutupi akan cadar.


“Tidak ada. Kenapa kamu tidak menyerahkan saja semua ini kepada Allah SWT? Seharusnya kamu tahu Humaira, jika kamu mencintai umat-Nya maka kamu harus lebih dulu mencintai Tuhan-Nya.” Ahtar tidak lagi bisa menahan amarahnya.


Suara keras itu begitu menggema dalam ruangan itu. Bahkan memekak kan telinga yang mendengarnya. Yulian yang mendengarnya begitu terkejut, ingin rasanya ia melerai adu mulut itu. Tetapi Yulian ingin melihat seberapa dewasanya Ahtar dalam bersikap dan bertutur kata.


‘Dia... lelaki yang tidak mudah didekati. Tapi... kharismanya membuat daya tarik ku meronta.’ Zuena bermonolog dalam hati.


“Allah SWT saja memberikan kesempatan untuk hamba-Nya bertaubat. Lalu kenapa bang Ahtar tidak bisa memberikan aku kesempatan juga?”


“Karena aku tidak memiliki rasa cinta untukmu, Humaira. Dan aku memiliki rasa itu hanya kepada satu wanita... Zuena.” Ahtar menjawab asal dengan pernyataan alibi saja.


Sontak Yulian, Hafizha, Adam dan Humaira terkejut, bahkan Zuena yang namanya disebut hatinya ikut bergetar dan juga merasa speechless.


”Ahtar... Humaira, tolong akhiri semua ini! Ini di rumah sakit, bukan di tempat umum.” Yulian seketika merasa kepala berdenyut nyeri.


“Dan kamu Humaira, Abi akan mencarikan kamu tempat yang lebih baik daripada rumah Abi. Ikut Abi sekarang!”


Dengan derai tangis yang terus mengalir Humaira mengekori Yulian keluar dari ruangan itu dan menuju ke tempat parkir. Tak lama kemudian mobil itupun dilajukan oleh Yulian dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dalam ruangan itu masih diselimuti keheningan, ada rasa canggung yang dalam diri Ahtar terhadap Zuena yang masih berdiri di sana.


‘Sadar Zuena, ini tidak mungkin terjadi. Dia... terlalu baik untukmu. Lupakan ucapannya dari ingatanmu!’ ucap Zuena dalam hatinya.


“Maaf! Dokter Ahtar, sepertinya kami harus pergi dulu. Semoga Anda lekas sembuh dan segera pulih, agar bisa mengobati pasien Anda seperti saya,” pamit Adam.


Karena merasa tidak enak hati Adam pun menarik Zuena untuk keluar dari ruangan itu begitu saja. Namun saat derap langkah masih terdengar dengan segera Ahtar mengudatakan suara lelakinya, khas lelaki dewasa.


“Terimakasih! Kamu sudah hadir dalam hidupku.” Tanpa menoleh Ahtar mengungkapkan rasa terimakasih nya kepada Zuena.


Adan terus saja menarik lengan Zuena dan akhirnya mereka pun benar-benar meninggalkan rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Abi akan mengatakan kepada Papa mu, jika Abi membiarkan kamu tinggal disini untuk sementara waktu. Apa yang terjadi di rumah sakit tadi, jangan pernah ulangi!”


“Kamu harus bisa menjaga marwah yang sudah kamu jaga selama ini, Humaira. Tak pantas jika kamu pun terus menerus mengejar cinta di dunia. Serahkan lah semua kepada Allah SWT, karena jodoh tidak akan pernah tertukar dan sudah ditulis dalam buku abadi.”


“Nanti Abi akan meminta Abdulkah untuk mengantarkan beberapa pakaian kamu yang diperlukan selama ku tinggal di sini. Dan juga... keperluan kamu.”


Yulian pun berpamitan setelah merasa Humaira aman bersama Dania, salah satu teman Khadijah yang tinggal di sebuah kontrakan kecil, tetapi muat jika dijadikan tempat tinggal hanya dua orang saja.


Saat dalam perjalanan kembali menuju ke rumah sakit Yulian terus mengingat, memutar kembali ucapan Ahtar tentang Zuena. Bahkan Yulian merasa tak yakin dengan perasaan Ahtar sendiri.


Sesekali Yulian menarik napas beratnya, mengingat kisah cinta Ahtar yang serumit itu, lebih rumit kisahnya dulu saat bersama Aisyah. Meskipun dulu harus saling tarik ulur terlebih dahulu untuk saling menguatkan satu sama lain. Namun ini berbeda...


”Bagaimana bisa Ahtar mengucapkan hal sebodoh itu? Bagaimana jika Zuena merasakan sakit hati jika Ahtar salah dalam menyebut nama pujaan hatinya yang sebenarnya.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2