
Yulian membiarkan Khadijah duduk sendirian yang masih berbalut mukena. Sedangkan ia sendiri sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena Yulian ingin menghindar dari Khadijah yah meminta hal aneh, sedangkan Yulian tidak ingin jika saja Khadijah merasa cemburu dengan Aisyah. Meskipun pada kenyataannya ia sendiri belum sepenuhnya melupakan sosok Aisyah wanita yang amat dicintainya. Dan selain menghindar dari Khadijah ,Yulian juga merasa kantuk.
“Yah, kok malah sudah tidur. Mana mendengkur lagi tidurnya, dasar.” Khadijah merasa kecewa saja dengan Yulian yang sudah tertidur pulas.
Dan akhirnya Khadijah memutuskan untuk menyusul Yulian yang sudah jauh lebih dulu memasuki alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara adzan tengah menggema, membuat Khadijah terbangun dari tidurnya. Karena setelah sholat tahajud Khadijah tidak tidur dengan pulas, tidak seperti Yulian, sehingga Khadijah mendengar dengan sangat jelas suara adzan subuh yang meminta setiap manusia untuk menghadap Allah SWT di pagi itu sebelum fajar menyingsing dengan cahaya yang bersinar.
“Hubby bangun, sudah subuh.” Khadijah mengusap pelan pipi Yulian.
Dan yang ada Yulian semakin pulas saja, karena ia merasa seperti di elus-elus dan di manja-manja oleh Khadijah. Hal itu membuat Khadijah ingin tertawa, melihat Yulian dengan tingkahnya yang lucu seperti anak bayi yang manja dengan ibunya.
“Hubby bangun, sudah subuh.” Kembali Khadijah mengusap lengan Yulian dengan pelan.
Kali ini Yulian berhasil membuka kedua matanya secara perlahan, lalu ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menjernihkan pandangannya.
“Bangun gih, sudah subuh.” Khadijah tersenyum mata kepada Yulian. Senyuman yang tercipta berdasarkan hat yang tulus.
“Kiss dulu, baru Hubby akan mandi.” Yulian menunjuk pipinya. “Ayolah Neng, tidak pernah rasanya dicium sama istri sendiri.”
Khadijah merasa malu dan ragu untuk melakukan hal yang menjadi permintaan Yulian. Karena ia pun tidak pernah melakukan hal seperti itu terhadap siapapun. Dan baru kali pertama Yulian juga memintanya untuk melakukanya.
“Ayo, Neng. Memberi semangat kepada suami itu wajib loh! Dan hal. semacam ini bisa menjamin istri masuk surga juga. Apa... Neng tak mau masuk surga, hmm?”
Khadijah menggeleng, dengan jantung yang beedebar hebat Khadijah mendekat dan mencoba untuk memberikan ciuman pertamanya kepada Yulian walaupun hanya di pipi.
__ADS_1
“Deg...”
Jantung Khadijah rasanya mau mencolos begitu saja saat tangan Yulian menahan tubuhnya dan menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Tatapan yang tidak pernah dilihat Khadijah selama ini, tatapan penuh cinta yang tulus dari dalam hati Yulian.
“Aku mencintaimu karena Allah. Dan aku ingin subuh ini kamu berada satu shaf di belakangku, aminkan setiap do'a-do'a ku setelahnya. Karena kamu adalah jawaban dari setiap do'a tahajud ku.” Yulian mencium kening Khadijah dengan lembut.
Untuk adegan romantisnya sudah dulu ya!
Dua sajadah telah terbentang, Yulian menempatkan diri di barisan imam dan sedangkan Khadijah menempatkan diri di bagian makmum. Dua rakaat pun telah dijalankan, setelah itu usai Yulian mengajak Khadijah untuk kembali membaca mushaf sebelum Abizzar terbangun dari dunia mimpinya.
Surat Al-Waqiah adalah surat yang dipilih oleh Yulian sebelum melakukan segala aktivitas di pagi itu, dengan lantunan setiap ayat yang merdu membuat Khadijah ternyuh dengan apa yang dilakukan Yulian. Di mana Yulian selalu mengingatkannya untuk menghadap Allah SWT, sang Maha segalanya.
“Oek... Oek... Oek...”
Suara tangis Abizzar membuat Yulian seketika berdiri, lalu menggendong Abizzar dalam dekapan tangannya. Sedangkan Khadijah sudah melakukan aktivitasnya di dapur membantu bik Inem memasak untuk disajikan pagi nanti.
Khadijah yang mendengar suara Yulian seketika menghentikan pekerjaannya dengan memayikan kompor. Setelah itu Khadijah mengambil duduk untuk memberi ASI kepada Abizzar yang merasa haus.
“Hubby mau apa?” tanya Khadijah yang melihat Yulian berjalan mendekati bik Inem.
“Mau bantu bik Inem masak lah, Neng. Masa iya cuma lihatin saja, lagipula masakan Hubby tidak kalah dengan masakan bik Inem. Iya kan, Bik?”
Bik Inem seketika mengangguk setelah mendengar namanya telah disebut oleh Yulian. Dan itu membuat bik Inem terkekeh.
Yulian mulai melakukan pemotongan ayam di atas telenan. Dan suaranya pun mengundang anak dan menantunya menuju ke dapur karena penasaran apa yang terjadi di sana. Begitu juga dengan Humaira.
“Abi... Abi sedang apa di dapur?” tanya Hafizha merasa heran.
__ADS_1
“Masak dong sayang, masa iya baca mushaf.” Yulian tersenyum.
“Masak kok begitu sih, Bi? Bisa rusak seketika tuh telenan.” Hafizha menunjuk telenan yang di depan Yulian.
Seketika Cahaya, Khadijah, Arjuna, Ahtar, bik Inem dan juga Humaira terkekeh geli melihat tingkah Yulian yang begitu absurd. Dan Hafizha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat akan hal itu.
“Abi, potong nya jangan seperti itu. Sini, biar Ahtar contohin.” Ahtar meminta Yulian untuk bergeser.
Kini Ahtar lah yang memegang pisau dan ayam yang masih utuh. Sedangkan ayam yang sudah dipotong Yulian bisa dipastikan hancur, dagingnya terlalu dipotong lembut oleh Yulian.
“Pertama... kita harus membedah secara pelan dada sampai bawah hingga membelah ayam menjadi dua. Setelah itu, keluarkan usus dan organ tubuh yang lainnya.” Ahtar berbanding balik dengan Yulian, begitu lembut dan pelan saat memotong ayam itu, bagaikan membedah tubuh manusia saja saat berada di ruang operasi.
Yulian, Khadijah, Cahaya, Arjuna, Hafizha, bik Inem dan Humaira kembali tertawa. Karena tingkah Yulian maupun Ahtar tidak ada benarnya, membuat Arjuna tepok jidat melihat abi dan adiknya yang benar-benar melakukan kekonyolan di pagi hari.
“Dek, mau potong ayam atau mau melakukan pembedahan pada tubuh manusia, hmm?” tanya Arjuna.
“Ya... potong ayam lah, Bang. Potong nya ya seperti ini, pelan tapi pasti.” Ahtar terkekeh.
Kembali Arjuna menggelengkan kepalanya, karena tidak mau diam saja dan merasa greget dengan tingkah Yulian dan Ahtar, Arjuna pun ikut terjun bekerja di dapur. Dan ketiga lelaki itupun melakukan aksi di dapur bagaikan seorang koki handal.
Setelah Ahtar usai memotong ayamnya, Arjuna membersihkan setiap daging yang terpotong dan sedangkan Yulian membuat bumbu opor ayam. Karena pagi itu Yulian ingin menghidangkan opor ayam untuk sarapan bersama, walaupun ayamnya bukanlah asli ayam kampung tetapi kehadiran ayam patut untuk disyukuri dan menjadi santapan lezat.
Khadijah sudah selesai memandikan Abizzar, mendandani Abizzar seganteng mungkin, memakai baju yang bergambar hewan dengan wewangian ala aroma minyak telon dan lainnya, membuat Abizzar menjadi pusat perhatian mereka semua. Dan Garda juga tidak kalah gantengnya dengan Abizzar.
Saat acara sarapan bersama akan dilangsungkan Abizzar dan Garda bermain terlebih dahulu dengan bik Inem. Dan yang lainnya mengambil duduk seperti tempat biasa mereka duduk.
Bersambung...
__ADS_1