
Abdullah dan Tristan segera beranjak dari tempat tidur lalu mereka segera memakai pakaian mereka yang tergeletak di sembarang tempat. Sehingga mereka hanya memakai celana boxster tanpa memakai kaos yang menutupi tubuh putih mereka. Karena keduannya asli warga berdarah biru, sehingga mereka memiliki kulit putih.
”Sahabat macam apa kalian ini, hmm? Sudah tidur di kamar orang, tak beradab pula.” Umpat Yulian sedikit merasa kesal, tetapi tidak dari hatinya.
”Ya maaf, Yulian. Kami tidak tahu kalau ini kamar kamu. Soalnya kami sudah ngantuk berat, setelah meminum minuman yang kamu berikan kepada kami. Jadi ... ya bukan salah kami kalau kami berperilaku seperti ini.” Yulian menahan tawa, sesaat ia mengingat sudah menjahili dua sahabatnya itu.
’Aku baru ingat, minuman teh semalam sudah aku campur dengan obat tidur. Dan setelah mereka molor, target ku ternyata sudah molor duluan. Hmm, apes. Tapi lucu melihat mereka berdua.’ batin Yulian.
Di saat Abdullah dan Tristan melakukan kelahirannya semalam, ternyata Yulian lebih jahil daripada mereka. Membuat kedua sahabatnya lekas tidur agar ia bisa segera berduaan dengan Khadijah, tapi kenyataannya berbeda. Karena Yulian harus bermalam sendirian di sisi kanan kamarnya. Kamar yang dibuat tidur saat Antar tinggal di sana. Namun, Khadijah tidak mengetahui akan hal itu, sehingga Khadijah langsung menuju ke kamar Yulian dengan pemandangan yang mengejutkan.
”Sudah, lebih baik kalian bersih-bersih gih. Aku tunggu di ruang sholat, kita sholat subuh bersama. Khadijah, bangunkan Hafizha ya!”
”Tapi Hubby, Hafizha tidurnya nyenyak loh. Kasihan kalau dibangunkan sekarang, biarkan saja Dia tidur dulu.” Yulian sejenak menghembuskan nafas.
”Emm ... Humaira nya Hubby, Hubby kan sudah bilang ... jika sudah waktunya sholat tiba, maka jangan di tunda lagi untuk menjalaninya. Begitu juga Hafizha, Dia tidak boleh meninggalkan sholat subuh yang hanya sedikit waktunya. Jadi, bangunkan Dia!”
Yulian mengucapkannya selembut mungkin, agar Khadijah tidak merasa tersinggung lagi setelah beberapa hari lalu pernah mengalami hal serupa. Namun, rasa belas kasih seorang ibu begitu melekat dalam jiwa Khadijah, sehingga ia menolak perintah Yulian dengan sedemikian alasan yang diberikan kepada Yulian.
”Tapi Hubby, Hafizha itu masih kecil. Usianya saja masih empat tahun. Jadi ya ... tak apa lah jik tidak melakukan sholat subuh.”
Yulian mengusap wajahnya, ia tidak tahu bagaimana lagi cara berbicara dengan Khadijah. Ingin berbicara kasar, tapi itu bukan sifatnya. Sedangkan berbicara dengan tutur kata yang lembut sudah ia lakukan. Entahlah, bagaimana cara memberi pengertian terhadap seorang wanita. Mbak penulis, tolong beri tipsnya dong!
’Sabar, Yulian! Ini itu tuh ujian untuk kamu memperjuangkan cinta.’ Tips dari mbak penulis.
”Iya, Hubby tahu kalau Hafizha masih kecil. Tapi ... alangkah baiknya jika kita mendidiknya mulai dini dengan mengajarkan kewajiban. Sholat lima waktu itu penting bagi kita,”
Sejenak Khadijah terdiam, mencerna setiap tutur kata yang diucapkan Yulian. Setelah itu, kaki Khadijah melangkah dan menuju ke kamar Hafizha hendak membangunkan putrinya itu. Namun saat tiba di sana, Khadijah sudah dikejutkan dengan apa yang dilihatnya. Khadijah tidak pernah menyangka jika Hafizha sudah bangun, bersih dan harum.
”Hafizha, ternyata sudah bangun.” Hafizha tersenyum tipis.
”Sudah dong, Bunda. Abi kan, selalu mengajarkan kepada Hafizha untuk bangun di saat subuh, lalu sholat bersama dengan Abi.”
Hati Khadijah berdenyut, pelupuk matanya menyimpan air mata. Namun, air mata itu tidak tumpah di depan Hafizha yang selalu menebarkan senyum di depannya. Setelah itu, Khadijah menuntun Hafizha ke ruang khusus untuk sholat bersama. Di sana sudah ada anggota keluarga yang tengah bersiap untuk melakukan sholat bersama.
__ADS_1
Dua rokaat pun telah usai dilakukan dengan Yulian sebagai imam. Setelah itu, semua melanjutkan aktivitas masing-masing. Bik inem menuju ke dapur untuk melakukan tugasnya, menyiapkan makanan untuk sarapan pagi bersama. Dan semenjak kandungan Cahaya yang sudah membesar, hanya bik Inem saja yang bertugas di dapur dan membersihkan seisi rumah. Karena Yulian selalu melarang Cahaya untuk melakukan aktivitas yang berat. Jelas, karena Cahaya menantu satu-satunya Yulian. Sehingga Yulian menyayanginya seperti putrinya sendiri.
”Bik Inem, bolehkah ... jika saya membantu?” tanya Khadijah tanpa mengurangi sopan dan santunnya.
”Emm ... tidak perlu Nyonya, biarkan saya saja yang memasak. Ini juga sudah tugas saya,”
”Bik, jangan panggil saya dengan Nyonya. Bukankah dulu ... saya sudah pernah tinggal disini selama beberapa hari, jadi ... bersikap biasa seperti waktu dulu.”
”Tapi, kali ini status Nyonya berbeda, sudah menjadi istri Tuan Yulian. Jadi wajib untuk saya memanggil dengan Nyonya.”
”Jangan seperti itu, Bik. Bersikap biasa saja, karena tidak ada bedanya sebelum atau sesudah menjadi istri dari Tuan rumah ini. Kita sama saja di mata Allah,”
Akhirnya bik Inem mengiyakan perkataan Khadijah, lalu mereka melakukan tempur bersama di dapur dengan alat masak dan bahan-bahan yang akan mereka masak. Dan setelah beberapa menit kemudian bau harum masakan telah menguar ke udara hingga menusuk hidung setiap orang yang menciumnya.
”Apa perlu bantuan?”
Kehadiran Yulian mengejutkan bik Inem dan Khadijah yang masih sibuk memasak. Bahkan membuat bik Inem menahan tangis. Karena jauh sebelumnya bik Inem pernah melihat pemandangan serupa saat Yulian masih menyandang status sebagai suami Aisyah. Di mana dulu Yulian sering menggoda Aisyah di kala sedang memasak masakan kesukaannya. Dan air mata yang terbendung pun tumpah, membuat bik Inem harus berlari menjauh dari Yulian dan Khadijah.
”Bik Inem, mau kemana?”
”Sudahlah Hubby, jangan bersikap konyol seperti itu. Mana ada hantu seperti Hubby, yang ada itu malaikat.”
”Malaikat? Pencabut nyawa dong.” Kembali Khadijah tertawa.
”Ah sudahlah Hubby, jangan buat ketawa mulu. Nanti malah gosong loh ayamnya.” Khadijah mengarahkan telunjuknya ke wajan penggoreng yang masih nangkring di atas kompor.
Seketika Yulian terkekeh melihat tingkah lucu Khadijah. Karena tidak mau menggangu lagi, Yulian memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Meneliti beberapa berkas yang belum dilihatnya setelah satu pekan ia mengambil libur.
Saat berjalan di depan ruang samping Yulian mendengar suara tangisan yang terisak. Dan suara itu mengundang Yulian untuk mencari tahu siapa orang yang berada di balik tembok.
”Bik Inem, kenapa menangis?” tanya Yulian memastikan.
”Tuan.” Sontak bik Inem terkejut dan seketika menyeka air matanya. ”Saya tidak menangis kok, Tuan. Saya hanya ... kelilipan saja.”
__ADS_1
”Sudahlah, bik Inem jangan berbohong kepada saya. Saya sangat hapal betul dengan bik Inem, karena kita tidak tinggal hanya sebentar. Sudah bertahun-tahun kita tinggal bersama, jadi ... jangan bohongi saya.”
Bik Inem akhirnya menceritakan apa yang membuatnya bersedih. Rasa rindu bik Inem terhadap Aisyah seakan hadir begitu saja, momen Yulian dengan Aisyah yang dulu sering dilakukan berdua kini harus dilihat oleh bik Inem saat Yulian menggoda Khadijah. Namun, tak ada rasa benci ataupun kecewa setelah Khadijah menyandang status sebagai istri Yulian saat ini. Dan yang ada hanya rasa bahagia melihat Yulian yang bahagia setelah menikah.
”Bibik hanya ... merasa rindu sama Neng Aisyah. Tapi maaf Tuan, bukan maksud bibik ingin mengingatkan Tuan kepada Neng Aisyah di saat kebahagiaan itu ada. Bibik hanya...”
”Bik, jangan meminta maaf atas apa yang bibik rasakan. Mungkin saja itu hal yang wajar, karena bik Inem selalu bersama kita sejak Ahtar lahir. Jadi ... tidak masalah jika bik Inem merasa rindu dengan Aisyah.”
”Iya, Tuan. Maaf kan bik Inem yang...”
”Bik, jangan bersedih! Bagaimana kalau kita berkunjung ke makam Aisyah saja. Emm ... itupun kalau Hubby tidak keberatan dan memberi ijin. Karena ijin dan ridho seorang suami itu penting.” Potong Khadijah saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Yulian dengan bik Inem.
Anggukan pelan telah dilakukan oleh Yulian seraya mengulas senyum. Setelah itu mereka kembali ke ruang makan untuk melakukan rutinitas pagi, karena semua keluarga juga sudah menanti di sana. Bahkan cacing-cacing di perut Yulian protes ingin segera diberi isi. Dan seusai sarapan pagi Yulian segera pergi ke kantor untuk menjalan tugasnya mencari nafkah.
”Humaira nya Hubby di rumah saja ya, Hubby tidak akan lama pergi ke kantornya.”
”Kenapa? Apa tidak di marahi sama yang lain? Atau..."
”Karena Hubby ingin cepat pulang dan berkembang biak dengan kamu, Humaira ku.” Mata Khadijah membulat sempurna.
”Kenapa ekspresinya begitu, hmm? Jangan bilang kalau kamu tidak tahu apa berkembang biak itu. Atau ... kamu masih ingin menguncinya dariku?”
”Ah sudahlah, Hubby berangkat saja. Humaira nya akan tinggal di rumah dan menanti.”
Khadijah buru-buru mencium punggung Yulian yang dibalas kecupan di kening oleh Yulian. Dan tidak lupa mengusap pelan puncak ubun-ubun Khadijah. Yang mampu memberikan arti tersendiri bagi Khadijah. Di mana rasa sayang yang ada di dalam diri Yulian.
Saat berada di perjalanan Yulian meminta Tristan untuk membuat jadwal temu dengan klien di undur, jika itu bisa dilakukan olehnya. Karena ia ingin mengajak keluarganya berkunjung ke makam Aisyah di Medan. Dan dalam pikirnya pun terbesit tentang Khadijah yang tidak pernah disangka olehnya jika Khadijah akan mengusulkan hal itu. Dan selama tiga bulan terakhir Yulian tidak berkunjung ke makam Aisyah, hanya lantunan do'a yang dilangitkan agar Aisyah tenang di alam yang berbeda.
”Ssssttttt...”
Abdullah seketika menginjak pedal rem dan menghentikan mobilnya begitu saja. Sehingga membuat Yulian dan Tristan ikut terbentur di bagian jok tengah.
”Abdullah, ada apa?”
__ADS_1
”Tidak apa-apa ... hanya saja ada kucing lewat.” Abdullah nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Ingin rasanya Yulian menggantikan posisi duduk Abdullah, agar ia cepat sampai di kantor. Karena pada hari itu ada pertemuan penting dengan klien. Akan tetapi ia tidak bisa membiarkan Abdullah hanya duduk saja, sehingga ia membiarkan Abdullah kembali melajukan mobilnya tanpa berganti posisi dengannya.