
Rembulan telah memancarkan cahayanya di kala malam telah tiba. Jam yang menempel di dinding masih menunjukkan pukul enam petang. Dan setelah seluruh keluarga Yulian melakukan sholat maghrib bersama, kini aktivitas mereka berganti di ruang makan untuk mengisi perut yang sudah meminta jatah makan.
Beberapa masakan sudah berjejer di atas meja, makanan yang selalu memiliki gizi berprotein tinggi adalah masakan yang selalu diutamakan oleh keluarga Yulian.
”Hubby mau diambilkan lauk apa?” tanya Khadijah.
Telah berjejer lauk kesukaan seluruh anggota keluarga, di mana ada ayam goreng, ikan bakar, daging panggang dan masih ada lagi lauk yang menjadi utama. Dan Yulian memilih ayam goreng dengan nasi, sayur asam dan sebagai pelengkapnya ada sambal terasi.
Mereka makan dengan lahapnya, tanpa ada suara piring yang berdetang hingga mengeluarkan bunyi nyaring. Dan setelah usai melakukan makan malam, Khadijah membersihkan sisa piring dan makanan yang sudah mereka makan.
”Cahaya bantu ya, Bunda!”
”Tidak perlu Cahaya, biarkan Bunda saja yang membersihkan semuanya. Toh ada bik Inem yang nanti akan membantu Bunda. Kamu istirahat saja,”
Tak ada bantahan dari Cahaya, karena ia menuruti apa yang dikatakan Khadijah. Dan kebetulan malam itu Cahaya merasa tubuhnya begitu lelah, membutuhkan istirahat yang cukup di saat kehamilannya sudah semakin membesar. Sehingga Cahaya memutuskan untuk duduk sambil nonton TV yang ditemani oleh Hafizha.
-------
”Bik, nanti kalau sudah selesai semuanya saya mau boleh bicara sebentar?”
”Boleh kok, tapi mau bicara apa ya, Nyonya?”
”Jangan panggil Nyonya, panggil saja Khadijah. Anggaplah saya sebagai putri bik Inem.” Bik Inem tersenyum seraya mengangguk pelan.
Pekerjaan di sesi dapur akhirnya telah usai. Kini di ruang samping duduklah Khadijah dengan bik Inem. Mereka tengah mengobrol hal ringan saja, yang membuat Khadijah merasakan kenyamanan seperti saat bicara dengan ibunya sendiri. Bahkan Khadijah menceritakan masalah rumah tangganya kepada bik Inem, karena Khadijah percaya bik Inem akan menjaga rahasianya.
__ADS_1
”Khadijah, yang memiliki hati dan perasaan itu bukan hanya seorang perempuan saja. Lelaki juga memilikinya, yang harus dijaga oleh istrinya. Dan masalah melakukan kewajiban itu ... bibik tidak tahu harus mengatakan apa. Kamu harus memikirkannya sendiri sebaiknya istri itu bagaimana.”
Tutur lembut bik Inem telah membuat Khadijah terdiam dan merenungkan kesalahan yang selama ini sudah dilakukannya kepada Yulian. Tat kala ia belum memenuhi kewajiban nya sebagai seorang istri dengan sepenuhnya. Dan kembali Khadijah meminta kepada Allah jalan yang terbaik agar dipermudahkan dalam segala urusannya, termasuk ingin membahagiakan Yulian sebagai suaminya.
-------
”Hubby,” panggil Khadijah lirih.
Yulian yang sedang sibuk di depan layar laptop seketika mengarahkan pandangannya setelah mendengar suara lembut memanggilnya. Lalu, Yulian memutuskan untuk menutup laptopnya dan mengakhiri pekerjaannya. Karena mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh seorang istri itu adalah cara menghargainya sebagai seorang wanita.
”Ada apa, katakan saja!”
”Humaira ingin minta maaf jika tadi ... cemburu telah menguasai hati Ira dan bahkan ... sampai marah pula sama Hubby.”
Yulian terkekeh geli mendengar kata cemburu yang mewakili rasa cinta dari Khadijah untuknya. Tak disangka bahwa Khadijah mengungkapkan rasa cemburunya itu secara langsung kepada Yulian.
Khadijah mengangguk pelan, mengiyakan kebenaran yang sudah dikatakan Yulian kepadanya. Dan sekarang tak ada lagi. pertengkaran atau rasa yang terpendam, kecuali merobohkan benteng pertahanan yang masih kokoh. Begitu pula dengan Yulian, ia tidak ingin jika Khadijah merasa kecewa jika ia memaksa Khadijah untuk segera memuaskan hasratnya.
”Dengarkan Hubby sebentar saja. Sedewasa apapun wanita, mereka itu sama.” Khadijah membulatkan matanya.
”Maksud, Hubby?”
Sejenak Yulian tersenyum tipis, lalu jemarinya merengkuh jemari Khadijah. Dan tatapannya begitu teduh, membuat Khadijah merasa nyaman saat berada dalam tatapan itu.
”iya, wanita itu akan sedih ketika tidak dihargai ... akan sedih ketika seseorang yang disayang berubah ... akan sedih ketika dibohongi, tidak peduli sekecil apapun. Karena mereka merasa dihargai mulai dari hal kecil.” Khadijah berdecak kagum saat kalimat itu terlontar dengan lembut dari Yulian.
__ADS_1
”Oleh sebab itu, Hubby memilih menghentikan pekerjaannya lalu ... mendengarkan Ira bicara. Benarkan, seperti itu?”
”Benar.” Khadijah tersenyum mendengarkan kebenaran itu.
Setelah semua rasa ego hilang, Yulian kini beraksi dengan lukisan yang sudah dibelinya tadi dari Mr. Yuda. Dengan bantuan Abdullah Yulian membawa dua lukisan itu ke kamarnya. Dan itu membuat semuanya merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Yulian. Bahkan Arjuna yang melihatnya bertanya-tanya untuk siapa dan untuk apa lukisan itu?
”Abi, ini untuk siapa dan untuk apa?”
”Ini untuk Abi dan Bundamu. Dan Abi ingin memajangnya di kamar Abi, agar Bundamu peka dengan arti yang tergambar dari lukisan ini.”
”Bwahahahaha...”
Seketika tawa Abdullah pecah begitu saja setelah Yulian mengatakan apa yang menjadi tujuannya. Karena Abdullah tahu, bagaimana hubungan rumah tangga antara Yulian dengan Khadijah selama ini. Tapi bukan berarti Abdullah orang yang sok tahu, loh ya. Hal itu bisa diketahui oleh Abdullah karena Yulian selalu bercerita kepadanya tentang kisah asmara dan benteng yang sudah dibangun. Dan Yulian mempercayai Abdullah, karena Abdullah orang yang selalu memberikan penuturan baik kepadanya.
”Tapi kan, tidak segitunya juga, Abi. Pasti Bunda juga akan peka jika Abi pepetin terus Bundanya.” bisik Arjuna.
Meskipun suara Arjuna pelan, tetapi masih mampu di dengar oleh telinga Abdullah yang tajam. Sehingga membuat Abdullah semakin terpingkal saja. Bukan hanya Abdullah, Arjuna ikut terkekeh dengan tingkah absurd Abinya itu. Sedangkan Yulian, ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya nyengir.
”Ah sudahlah, lagipula juga sudah terlanjur ke beli, kan. Tak apa juga jika tetap di pajang di kamar.”
Yulian masih berkeinginan untuk memajang dua lukisan itu di kamarnya. Dan sampai di kamar Yulian segera memajang di dinding dengan paku untuk memperkuat daya tempelnya. Setelah terpajang berjejer, Yulian pun bernafas lega. Ia merasa lelah dan tenaganya telah terkuras saat memajang lukisan di dinding. Bahkan keringat telh mengucur di pelipisnya.
’Mengapa selelah ini hanya memasang lukisan saja.’ batin Yulian.
”Yulian, kalau sudah selesai dan kamu tidak membutuhkan bantuanku lagi ... aku mau ijin keluar dulu.” Yulian mengangguk.
__ADS_1
Dan kini hanya Yulian sendiri yang berada di dalam kamar. Karena Khadijah masih menemani Hafizha beli es krim bersama bik Inem di supermarket depan. Sehingga Khadijah tidak tahu apa yang sudah dilakukan Yulian di rumah. Dan tidak tahu bagaimana ekspresi Khadijah setelah melihat lukisan yang terpajang di kamarnya.