
Dua hari sudah berlalu dengan begitu cepat, kini Yulian sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Dan selama Yulian masih harus menjalani perawatan di rumah sakit, antara Ahtar dengan Arjuna tidak ada yang membahas tentang Khadijah dan meminta Yulian menikah dengan Khadijah nanti jika sudah dipertemukan.
”Alhamdulillah, hari ini Abi sudah diperbolehkan untuk pulang. Ada yang tidak sabar menanti kepulangan Abi, loh!” ujar Ahtar seraya mengudarakan senyum.
”Hafizha, pasti Dia sudah merindukan Abi. Benar, bukan?” tanya Yulian memastikan.
”Benar, Bi. Dan ada satu hal lagi yang akan membuat Abi nanti bahagia.” Yulian memincingkan kepalanya dan berusaha berpikir apa yang dimaksud oleh Ahtar.
”Tentang apa itu, Ahtar?” tanya Yulian penasaran.
”Rahasia,”
Yulian mengembangkan senyum untuk membalas senyum Ahtar yang sedari tadi tiada henti menarik kedua ujung bibirnya. Ya... memang Ahtar dan Abdullah yang menjemput Yulian siang itu, karena Arjuna harus menemani Cahaya di rumah yang sedang tidak enak badan.
Canda dan tawa telah menemani antara anak dan ayah saat berada di perjalanan menuju pulang. Dan Abdullah hanya tersenyum simpul saat melihat tawa di antara mereka melalui kaca spion. Ada rasa kagum dengan Ahtar yang memiliki sikap bijak, seperti kedua orang tuanya.
”Ahtar, kamu memang pandai merendahkan ego mu dan menjaga bagaimana perasaan Yulian. Dan kamu beruntung Yulian, Ahtar telah mewarisi sifat penyayang dari kalian berdua.” Sesekali Abdullah memandang Ahtar dan Yulian dari kaca spion.
------
Semua orang tengah menyambut kepulangan Yulian dari rumah sakit, termasuk Arumi dan Tristan. Mereka terlalu sayang kepada Yulian, oleh karena itulah mereka meminta Yulian untuk menikah kembali. Dan mereka tahu, Yulian memang membutuhkan sosok pendamping dalam hidupnya setelah Aisyah pergi untuk selamanya. Namun, hal itu tidak pernah Yulian sadari karena ia hanya terlalu cinta dan tidak rela kehilangan Aisyah.
”Selamat datang kembali, Yulian.” Yulian menatap satu persatu orang yang menyanginya dengan rasa haru yang membuat pelupuk matanya berembun.
__ADS_1
”Terima kasih, kalian masih peduli dengan ku. Aku beruntung memiliki kalian,”
”Itulah hebatnya keluarga, Yulian. Kamu membalut kami dengan kasih sayang dan kebaikan yang tulus dari hati kamu ... itu tidak akan mudah hilang begitu saja dalam ingatan kami sampai kapanpun.” Yulian manggut-manggut, membenarkan ucapan Tristan sebagai sahabatnya.
Berkumpul kembali telah membuat Yulian merasa bahagia dan hal lain yang membuatnya semakin bertambah bahagia adalah kehamilan Cahaya. Karena Cahaya sudah mengandung kembali setelah dulu pernah mengalami keguguran.
Suasana bahagia di kediaman Yulian telah menyelimuti mereka. Canda dan tawa tiada hentinya mengudara, membuat seisi rumah menjadi gempar atas rasa bahagia yang mungkin jarang terjadi jika, Ahtar sudah kembali ke Korea untuk menuntaskan pendidikannya. Sedangkan Arjuna dan Cahaya, mereka akan tinggal bersama dengan Yulian sampai kandungan Cahaya merasa kuat untuk melakukan perjalanan jauh.
"Emm... kali ini aku ingin bicara serius dengan kalian. Mungkin aku memang salah ... saat menanggapi saran kalian untuk menikah lagi dengan kemarahan.”
”Dan mungkin aku juga salah ... tidak mencari keberadaan Khadijah selama ini. Sedangkan aku tahu ... Dialah yang melahirkan Hafizha.”
”Mulai besok, aku akan meminta bantuan Abdullah untuk mencari keberadaan Khadijah. Tapi ... jika suatu hari kita sudah dipertemukan dengannya, aku ... mohon sama kalian untuk tidak memaksaku menikahinya dengan segera.” Semuanya menatap tajam Yulian, mendengarkan dengan seksama dan mencerna tentang apa yang dilontarkan Yulian.
”Hati yang beku dan mengeras ... tidak akan selamanya akan seperti itu. Pasti Allah akan meluruhkan salah satu hati di antara kalian nanti. Nabi Muhammad pun juga menikah kembali setelah kepergian bunda Khadijah dengan janda, istri dari sahabatnya yang tiada dan juga anak di bawah umur, yaitu bunda Aisyah.” Sela Ahtar yang memotong ucapan Arjuna. Dan hal itu membuat Yulian terdiam dengan seribu bahasa.
Hening...
Satu detik...
Dua detik...
”Ahtar ijin sebentar, ada yang harus Ahtar urus sebelum besok kembali ke Korea. Assalamu'alaikum,” ucap Ahtar tanpa mengurangi rasa sopan dan santunnya terhadap para tetua.
__ADS_1
Satu persatu meninggalkan Yulian yang tengah bersandar di atas ranjangnya. Akan tetapi, mereka bukan bermaksud untuk tidak peduli dengan Yulian lagi, melainkan memberikan waktu agar Yulian benar-benar merenungi hal yang membuat sedih kedua putranya.
------
Abdullah masuk ke dalam kamar Yulian dengan membawa nampan yang berisi bubur serta beberapa obat yang harus diminum oleh Yulian malam itu. Kehadiran Abdullah sontak membuat Yulian terkejut, sehingga ia melontarkan pertnyaan kepada Abdullah.
”Kenapa kamu yang mengantarkan makanannya, Abdullah? Dimana Arjuna, Cahaya dan ... Ahtar?”
”Arjuna sedang menemani istrinya istirahat di kamar, karena kehamilannya yang masih muda membuatnya merasa lemas. Sedangkan Ahtar, ia mengerjakan skripsinya. Kenapa?”
”Tidak,”
”Tidak apa, Yulian, hmm? Merasa kehilangan tanpa kehadiran mereka?”
Yulian terdiam, merasakan apa yang diucapkan oleh Abdullah memang benar. Seakan ia merindukan kehadiran kedua putra kesayangan nya itu. Dan ia kembali berpikir bahwa kebodohan telah singgah dalam dirinya lagi. Kini Yulian hanya merutuki kebodohan nya itu.
”Bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu, Yulian. Jangan menipu Allah, jika kamu masih bingung... maka meminta petunjuk lah kepada Allah di penghujung malam.” Yulian menatap Abdullah dan mencerna setiap kata yang terucap dari bibir Abdullah.
Abdullah pergi meninggalkan Yulian yang masih di dalam kamarnya. Setelah Abdullah pergi, Yulian sejenak melupakan kebodohan yang membuatnya terasa jauh dengan kedua anaknya. Dan bubur yang dibawa Abdullah kini telah ia makan sesuap demi sesuap. Ada rasa tidak enak dalam setiap kunyahan_jelas itu ia rasakan, karena kondisi kesehatannya yang belum stabil membuat mulutnya merasa pahit saat memakan apapun dan selain itu, Yulian masih memikirkan bagaimana cara membuat Arjuna dan Ahtar memberikan nya waktu.
--------
”Ya Allah ... hamba kurang pandai bersyukur atas apa yang sudah Engkau berikan kepada hamba. Bahkan kini hamba kembali mengadu atas rasa bimbang yang menyelimuti diri hamba. Hanya satu yang hamba minta kepada Engkau Ya Allah ... berikanlah hamba petunjuk dari-Mu atas permasalahan yang harus hamba hadapi.” Dalam seperti tiga malam Yulian melantunkan do'a nya, mengadu kepada Allah SWT sebagai Tuhan Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
Sehabis sholat sunnah tahajud yang dilakukan dengan penuh rasa cinta terhadap Tuhannya, Yulian melanjutkan membaca mushaf untuk meredam otaknya yang terkadang masih memikirkan permasalahannya yang bisa saja memicu api kemarahan. Yulian membaca mushaf sampai pukul dua malam. Setelah itu, ia melanjutkan tidurnya yang membuat kedua matanya tidak bisa terbuka dengan lebar.