
Yulian tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan akhirnya ia pun limbung. Seketika Ahtar menghampirinya dan berusaha menyadarkan kembali dengan memanggil beberapa kali namanya seraya menepuk pelan pipi Yulian. Namun, hasilnya nihil, karena Yulian masih belum kunjung membuka matanya.
”Kak Juna...!”
”Kak Juna...!”
Beberapa kali Ahtar memanggil Arjuna yang masih berada dibawah. Dan tidak lama kemudian Arjuna dan Cahaya pun masuk ke dalam kamar Yulian. Sontak mereka merasa terkejut melihat Yulian tidak sadarkan diri dengan kepalanya yang berada dalam pangkuan Ahtar.
”Ahtar, apa yang terjadi dengan Abi?” tanya Arjuna bergetar.
”A ... aku juga tidak tahu, Bang. Tiba-tiba Abi jatuh dan tidak sadarkan diri.” Terang Ahtar, lalu mereka segera membawa Yulian ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Yulian disambut oleh beberapa suster, lalu tubuhnya dipindahkan di atas branker dan suster pun mendorongnya sampai ke dalam ruang UGD. Dan tidak lama kemudian seorang dokter berjalan cepat menuju ke ruangan tersebut untuk memeriksa keadaan Yulian.
Ahtar, Arjuna dan Cahaya serta Abdullah telah setia menunggu di luar sana. Menanti seorang dokter keluar dan memberikan penuturan atas kondisi Yulian yang tiba-tiba pingsan. Terlihat jelas raut wajah Arjuna dan Ahtar tengah mengkhawatirkan kondisi ambruknya Yulian.
Setelah kurang lebih lima belas menit mereka menunggu akhirnya dokter pun keluar dari dalam ruang UGD. Dan dengan segera Ahtar serta Arjuna menghampiri dokter tersebut untuk meminta keterangan kondisi Yulian.
”Bagaimana Dok, kondisi Abi kami?” tanya Ahtar dan Arjuna bersamaan?
”Tentang kondisi pak Yulian tidak perlu dikhawatirkan, karena beliau hanya terlalu capek dan banyak pikiran saja. Mungkin ... dirawat satu malam di sini sudah cukup untuk memulihkan tenaganya.” Ahtar dan Arjuna seketika mengucap rasa syukur sembari mengusap dada masing-masing.
”Terima kasih, Dok!”
__ADS_1
”Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu! Dan nanti bisa dilanjut di ruang administrasi untuk menebus obat dan segalanya.” Ahtar dan Arjuna hanya menganggukkan kepala mereka pelan untuk mengiyakan ucapan dokter tersebut.
Sesuai intruksi dari dokter tadi, Yulian terlihat keluar dari dalam ruang UGD lalu, dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Akan tetapi, Arjuna meminta ruang VVIP untuk rawat inap Yulian, agar Yulian bisa beristirahat dengan nyaman dan yang menunggunya pun bisa leluasa tidur di dan beristirahat di dalam ruangannya.
”Ahtar, abang ke ruang administrasi dulu untuk mengurus biayanya. Kamu temani kakak kamu di ruangan Abi.” Ahtar pun mengangguk lalu, melajukan langkahnya menuju ke ruangan Yulian.
Sedangkan Arjuna ia harus ke ruang bagian administrasi terlebih dahulu untuk mengurus masalah biaya dan obat yang memang diperlukan oleh Yulian saat kondisi tubuhnya yang tidak stabil.
Ahtar menatap tubuh Yulian yang terkulai lemas di atas branker dengan wajah pucat nya. Terbesit ada rasa penyesalan dalam diri Ahtar saat kembali mengingat pertikaian antara dirinya dengan Yulian. Bahkan Ahtar menyimpan butiran air bening dalam pelupuk matanya, seolah siap untuk tumpah kapan saja.
”Umi ... Ahtar ingin rasanya memenuhi keinginan terakhir Umi, tapi kenapa begitu sulit? Ahtar juga tidak ingin membuat Abi seperti ini ... tapi Abi terlalu membekukan hatinya. Ahtar bingung harus bagaimana, Umi...”
Tangis pun pecah, pelupuk mata Ahtar tak mampu membendung nya lagi. Ahtar menangis tergugu merasakan kelemahan pada di suatu titik yang membuatnya dilanda rasa bimbang yang memuncak.
”Hapus air mata kamu, Ahtar! Umi tidak menyukai anak lelakinya lemah seperti ini.” Ahtar pun menyeka air matanya dengan pelan. Tapi dadanya masih terasa begitu sesak. Seolah sulit untuk bernafas maupun menghembuskan nafasnya.
”Sholat lah! Sudah waktunya memenuhi kewajibanmu sebagai muslim. Jangan sampai telat! Abi dan Umi tidak pernah mengajarkan kepada kita mengurungkan waktu saat sholat sudah tiba, bukan?”
Ahtar menganggukan pelan kepalanya, mengiyakan perintah Arjuna. Lalu, Ahtar melangkah pergi... meskipun terasa berat meninggalkan Yulian yang masih belum sadarkan diri, tapi memenuhi kewajiban seorang muslim itu lebih utama. Sedangkan Arjuna, ia sudah menjalankannya terlebih dahulu bersama Cahaya dan kini ia menggantikan Ahtar yang duduk di samping branker.
”Ya Allah, permudahkanlah urusan kami di dunia demi menyatukan satu ikatan yang Engkau halalkan. Pertemukan kami dengan wanita pilihan Engkau, bunda Khadijah.” Bayangan Khadijah terngiang dalam pikiran Arjuna.
Bukan hanya Aisyah yang saat itu menyesali kepergian Khadijah, Arjuna dan Ahtar pun ikut menyesal_mengingat kebaikan dan ketulusan Khadijah selama mereka mengenalnya. Di mana Khadijah merelakan satu-satunya putri yang dilahirkan untuk diasuh oleh Aisyah dan Yulian. Bahkan Khadijah dengan tegas menolak menikah dengan Yulian, karena satu alasan_tidak ingin melukai wanita lain terutama Aisyah.
__ADS_1
---------
”Ya Allah ... aku sebagai hamba-Mu meminta satu hal yang terasa sulit untuk digapai saat ini. Pertemukanlah kami dengan bunda Khadijah kami, Ya Allah. Aku memohon hanya kepada Engkau ... Tuhan yang memiliki segala Kesempurnaan.” Kedua putra Yulian melangitkan do'a yang sama. Meminta segera dipertemukan dengan Khadijah yang kini entah dimana.
Khadijah, setelah pergi meninggalkan Aisyah dan Yulian kini masih belum diketahui keberadaannya. Entah tinggal di Surabaya atau kembali ke Edinburgh, di mana tempat itu menjadi tempat pertama kali bertemu dengan keluarga Yulian.
Setelah beberapa jam Yulian memejamkan kedua matanya, kini perlahan mulai terbuka. Pandangannya menyeluruh, menyapu setiap sudut dan langit-langit ruangan itu. Setelah kesadarannya sudah kembali dengan sepenuhnya, sontak ia terkejut. Rumah sakit adalah tempatnya kini merebahkan tubuh yang masih terasa lemas.
”Rumah sakit,” ucap Yulian lirih.
”Abi, sudah sadar? Ahtar panggilkan dokter dulu ya, Bi.” Yulian masih merasa bingung bagaimana bisa ia berada di sana.
Tanpa menunggu waktu yang lama Ahtar pun keluar dari ruangan Yulian dan berteriak beberapa kali memanggil dokter agar segera memerikaa keadaan Yulian yang baru sadar kembali.
”Ahtar, kenapa kamu memanggil dokter?” tanya Cahaya.
”Ada apa dengan Abi, Ahtar?” tanya Arjuna.
Keduanya merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Yulian. Karena secara tiba-tiba Ahtar memanggil dokter dengan antusias dan berteriak. Sehingga membuat Arjuna dan Cahaya berpikir bahwa telah terjadi sesuatu dengan Yulian di dalam sana.
”Tidak apa-apa, kak. Tapi ... Abi sudah sadarkan diri.” Arjuna dan Cahaya seketika mengucap rasa syukur kepada Allah, telah mengembalikan kesadaran Yulian dengan segera.
Dokter pun masuk ke dalam ruangan, lalu memeriksa kesehatan Yulian kembali yang dilihat dari detak jantung, tensi darah dan tidak lupa mengamati selang infus yang menemani Yulian malam itu.
”Coba pak Yulian tarik nafas lalu hembuskan secara perlahan!” pinta dokter.
__ADS_1
Yulian melakukan perintah dokter dengan perlahan. Dan setelah mengikuti setiap perintah dokter, Yulian dinyatakan baik-baik saja dan tidak memiliki suatu riwayat penyakit yang akan membahayakan tubuhnya. Hanya rasa capek dan beberapa hal yang memenuhi pikirannya membuat Yulian merasa sakit dan hingga akhirnya mendapatkan perintah dari dokter untuk menginap selama beberapa hari di rumah sakit sampai kondisi kesehatan Yulian benar-benar sudah pulih.
”Kalian tidak perlu merasa khawatir lagi! Doa kan saja agar kesehatan pak Yulian segera pulih seperti sedia kala.” Arjuna mengantarkan dokter keluar dari ruangan itu. Sedangkan Ahtar, ia masih setia berdiri di samping Yulian.