
Humaira hanya diam, ia tidak mau mengatakan apapun sebagai pembelaannya. Karena Humaira memang mengaku salah sudah berbohong dan mengarang cerita tentang wanita yang bernama Ezra. Karena nama itupun sebenarnya tidak ada hanya karangan Humaira saja. Lantas, kenapa Humaira berada di tempat wanita malam?
“Kalau begitu jelaskan apa maksud kamu berbohong seperti itu? Meskipun kami bukan orang tuamu, tapi kami wajib membimbingmu ke jalan yang benar Humaira. Bahkan kamu harusnya tahu, karena kamu sempat menempuh pendidikan di kota Tarim. Lantas, apa ini?”
Humaira tidak bergeming, hanya tetesan air mata yang membasahi cadar hitamnya. Humaira menyadari kesalahan besar yang sudah ia lakukan tanpa berpikir panjang. Hanya penyesalan yang tersisa saat ini. Dan ingin rasanya Humaira mendenggelamkan dirinya ke bumi untuk menyembunyikan rasa malu dari Yulian, Khadijah dan terutama Ahtar.
“Humaura tahu kesalahan apa yang sudah Humaira perbuat, Om. Tapi Humaira mohon jangan katakan apapun kepada Papa dan Mama. Humaira berjanji akan memperbaikinya, Om.” Humaira menangis tersedu-sedu.
“Baiklah, kalau begitu Om akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jika Om melihatmu ke tempat itu lagi tanpa ada tujuan pasti, dengan terpaksa Om akan memberitahukan semuanya kepada Papa kamu.” Begitu datar, tetapi tegas.
Sejenak kesunyian menemani mereka, tidak ada suara apapun yang terdengar. Dan itu membuat Ahtar semakin bosan dan jengah dengan kebohongan Humaira. Ahtar tidak sangka jika Humaira akan memiliki sifat seperti itu, yang seharusnya hanya sifat baik dalam diri seorang wanita yang mengerti agama. Namun perilaku Humaira sangat diluar dugaannya.
“Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, Ahtar permisi dulu!” ucap Ahtar tidak mengurangi sopan santunnya.
“Silahkan Ahtar! Dan kamu Humaira, kamu boleh kembali juga ke kamarmu.” Yulian mengulas senyum.
Humaira mengangguk, lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Dan sebelum meninggalkan Yulian dengan Khadijah, Humaira menyalami mereka untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.
“Sabar, jangan terlalu keras dengan Humaira jika Hubby masih memikirkan perasaannya. Dia sama seperti putri kita, tetapi jangan sampai amarah yang ada dalam diri Hubby membuat Humaira merasa tidak nyaman berada di sini.” Khadijah mengusap dada Yulian.
Yulian menyunggingkan senyum, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Khadijah. Setelah itu mereka kembali ke kamar untuk menikmati masa pacaran berdua setelah Abizzar terlihat pulas dalam tidurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
‘Ingin aku meraihmu, bang Ahtar. Tapi semua sudah terjadi, meskipun semua itu aku lakukan hanya karenamu.’
Humaira menatap punggung Ahtar yang perlahan menghilang, karena Ahtar sudah masuk ke dalam kamarnya. Dan Humaira maish menyimpan rasa malu yang tidak bisa disembunyikan, karena setiap bertemu dengan Yulian, Khadijah dan Ahtar, selalu merasa canggung dan bingung mau berbuat apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pagi ini Ahtar tidak akan ikut sarapan bersama, karena Ahtar ada pasien yang mendadak harus menjalani operasi darurat. Bang Juna tolong beritahu Abi dan Bunda, ya!” ucap Ahtar.
Ahtar sudah siap dengan kemeja putih dan celana panjang hitamnya, membuat Ahtar terlihat lelaki dewasa yang berkharisma. Membuat semua wanita akan jatuh hati dan meleyot pada pandangan pertama. Apalagi saat Ahtar memakai sepatu pantofel yang bermerk Kickers Fernando, membuat Ahtar semakin nampak keren.
__ADS_1
“Baiklah, akan Abang beritahukan kelada Abi dan Bunda. Tapi... semalam kalian ngomongin apaan sih? Abang kepo tahu,” bisik Arjuna.
“Rahasia, Bang. Ahtar tidak mau mengumbar aib orang lain, sedangkan Ahtar saja aibnya tidak mau diumbar. Jadi, jangan tanya kenapa pada Ahtar.” Ahtar mengangkat kedua alisnya.
Arjuna mendengus kesal karena Ahtar tidak mau memberitahukan tentang apa yang dibicarakan semalam antara Yulian, Khadijah, Humaira dan juga Ahtar itu sendiri. Sedangkan jiwa Arjuna sudah meronta ingin tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti biasa, Khadijah disibukkan dengan Abizzar yang masih kecil, kini sudah berusia satu tahun. Membuat Yulian segera memikirkan rencananya untuk ke Medan. Menjenguk makam Aisyah dan keluarga yang lain, yang memang dimakamkan satu lokasi dengan Aisyah.
“Pagi ini Abi mau bicara dengan kalian.” Yulian mengudarakan suaranya setelah sarapan pagi usai dilangsungkan.
Semua menatap ke arah Yulian yang memang duduk di kursi paling ujung. Dan semua anggota keluarga nya yang ikut sarapan pun mendengarkan baik-baik apa yang akan dikatakan Yulian saat itu juga, kecuali Ahtar yang sudah berangkat ke rumah sakit sedari tadi.
“Minggu depan Papa ingin mengajak kalian ke Medan. Apa kalian setuju?”
“Asikkk... Akhirnya aku healing juga ke Medan.” Hafizha bersorak gembira.
“Hubby hati-hati pergi ke kantornya. Ingat, jangan jelalatan tuh matanya. Harus di... JA... GA.” Khadijah memasangkan dasi ke leher Yulian.
“Iya, sudah pasti Hubby akan menjaga pandangan. Masa iya Neng mau cemburu sama OB wanitawanita, hmm?”
“Iya siapa tahu saja OB Wanitanya ganjen, godain Hubby terus hati Hubby meleyot juga bagaimana?”
“Mana ada yang begitu, Neng.” Yulian terkekeh. “Hati Hubby akan meleyot saat mendapatkan kasih sayang, cinta, perhatian dan kiss pagi dari Neng Khadijah.”
Meskipun hanya kalimat bualan Yulian yang receh, tetapi Khadijah sudah dibuat bahagia. Khadijah menundukkan kepalanya dan menyembunyikan rasa malu yang membuat pipinya merah merona, untung saja Khadijah memakai cadar hingga tidak nampak jelas saat Yulian melihatnya.
Yulian pun berangkat ke kantor, tetapi sebelumnya ia harus ke rumah sakit dan bertemu dengan Ahtar. Ada hal yang ingin dibicarakan Yulian secara pribadi dengan Ahtar, hingga ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tanpa ada yang tahu.
“Semoga saja Ahtar menyetujui rencanaku ini, dan Dia akan membantuku.”
Yulian memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan. Setelah itu ia menelusuri lorong rumah sakit untuk mencari ruangan Ahtar yang berada di lantai dua. Dan saat menelusuri lorong rumah sakit Yulian tiada hentinya mendengar pujian dari kaum wanita terhadap Ahtar, tak lain putra nya itu.
__ADS_1
‘Apa putraku begitu pandai dalam menggait wanita? Tapi... sampai saat ini Ahtar tidak mengenalkan satupun wanita kepadaku.’
“Tok... tok... tok...”
Yulian mengetuk pintu ruangan Ahtar, tetapi yang membuka pintu itu seorang perawat yang dijadikan asisten oleh Ahtar. Dan perawat itulah yang tahu betul seluk beluk jadwal Ahtar bagaimana di rumah sakit.
“Bapak bisa menunggu di ruangan Dokter Ahtar kalau mau. Nanti saya akan sampaikan kepada beliau jika Anda menunggunya.” Perawat itu begitu sopan.
Meskipun sudah terlihat cukup umur tetapi perawat yang bernama Talia itu sungguh bersikap sopan dan santun terhadap siapapun.
“Baiklah, saya akan menunggunya di ruangan ini. Jika operasinya masih lama, maka saya akan pergi.”
“Baik, Pak. Kalua begitu saya permisi dulu ke ruang operasi.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Assalamu'alaikum, Khadijah.”
“Wa'alaikumsalam, Arumi. Bagaimana kabar kamu di sana?”
“Alhamdulillah aku baik di sini. Bagaimana denganmu sendiri?”
“Baik juga kok. Kapan kamu pulang, aku kangen sama kamu.” Binatang mata Khadijah menunjukkan binar kerinduan.
“InsyaAllah besok lusa, Khadijah. Oh iya, bagaimana Humaira? Apa Dia baik-baik saja?”
“Deg...”
Saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Arumi, seketika Khadijah mengingat bagaimana Humaira mengakui kesalahannya semalam. Namun, Yulian juga sudah berjanji kepada Humaira untuk tidak mengatakan apapun kepada Tristan ataupun Arumi. Dan dengan terpaksa Khadijah juga ikut berbohong kepada Arumi.
‘Maafkan aku, Arumi. Ini semua aku lakukan untuk kebaikan Humaira.’
Bersambung...
__ADS_1