
...”Assalamu'alaikum, Khadijah. Apakabar sahabatku ... di mana pun kamu berada, aku berharap kamu tetap baik-baik saja dan semoga tetap berada dalam lindungan Allah SWT....
...Oh iya ... Hafizha sudah tumbuh menjadi anak yang sholehah. Andai saja kamu mau menikah dengan Mas Yulian waktu itu, pasti kita akan membesarkan Hafizha bersama....
...Khadijah ... di mana pun kamu berada jika Allah kembali mempertemukan kamu dengan keluargaku, terutama dengan Mas Yulian. Aku mohon, rengkuh lah jemarinya sekuat tenaga. Meskipun bahunya terlihat kokoh, tapi hatinya rapuh dan jiwanya merasa kesepian....
...Andai kamu tahu ... saat ini ingin rasanya aku bertemu dan mengobrol banyak hal kepadamu sebelum maut merenggut nyawaku, Khadijah. Tapi sayang, Allah belum menentukan takdir untuk kita bertemu kembali. Dan ... kini aku sedang kritis, kanker menyerang tubuhku dengan begitu cepat. Sehingga aku tak mampu menahan rasa sakitnya lagi....
...Khadijah ... ini adalah permintaan terakhirku, tolong jagalah keluargaku dalam balutan kasih sayangmu....
...Aisyah Fadillah, sahabatmu.”...
Begitu membaca surat dari Aisyah, linangan air mata Khadijah tiada hentinya mengalir dan terus membasahi pipinya. Namun, Khadijah seketika menyeka air mata yang sudah terlanjur membasahi cadar hitamnya setelah Ia mengingat bubur yang akan dibuat untuk Yulian.
”Lihatlah Aisyah, aku merawat Yulian yang sedang sakit disini. Aku ... membuatkan bubur untuknya, semoga saja Yulian menyukainya.” Khadijah mengulas senyum tetapi, hatinya seolah terhunus belati yang sangat tajam.
Setelah usai membuat bubur segera Khadijah menghidangkan nya kepada Yulian. Derap langkah pun dilakukan oleh Khadijah untuk menuju ke kamarnya. Dan tak lupa bubur yang dibuatnya berada di atas nampan yang ia bawa. Lalu, bubur pun dihidangkan.
”Makanlah bubur ini, setidaknya tenagamu akan terisi setelah ada asumsi yang mengisi perutmu.” Netra Yulian terus memidai setiap pergerakan langkah Khadijah.
__ADS_1
”Baiklah! Terima kasih ... atas perhatian yang sudah kamu lakukan untukku, Khadijah.”
Khadijah menundukkan pandangannya, netranya tak mampu menatap Yulian. Hatinya bergejolak ingin menerima pernikahan dengan Yulian seperti apa yang dipinta Aisyah, tetapi rasa ragu masih menguasai tubuhnya. Sehingga Khadijah memutuskan untuk menunggu setelah di rasa waktu itu akan tiba.
’Tahan hawa nafsumu, Khadijah. Sabar ... jika memang Yulian adalah takdir dan jodohmu, maka Dia tak akan pernah berpaling lagi.’ batin Khadijah.
”Aku tidak pernah memberikan perhatian apapun kepadamu, Yulian. Itu aku lakukan hanya sekedar membantu, karena aku tahu kamu sedang sakit. Jika sudah merasa lebih baik, segera pergilah dari sini. Aku tidak mau jika ... ada yang melihatmu berada disini. Takut ... akan menimbulkan fitnah.”
”Apa kamu sedang mengusirku Khadijah? Tidak pantaskah kamu mengusirku yang sedang sakit?”
Khadijah terdiam, ada rasa tidak tega pula untuk mengusir Yulian yang masih sakit. Karena itu terlihat jelas dari raut wajah Yulian yang masih pucat. Namun, Khadijah akan tetap memegang teguh tamengnya. Tembok besar harus menutupi dirinya dari fitnah yang keji. Karena akan sia-sia hijrahnya jika ia akan tetap membiarkan dirinya mengulang masa lalu yang kelam.
”Tidak apa-apa jika memang aku harus pergi dari sini sekarang juga. Aku masih mengingat Hafizha putriku yang masih kecil, pasti Dia sedang merindukanku. Dia tak akan pernah membutuhkan kasih sayang seorang Ibu dengan tulus. Hanya aku ... orang tua yang akan menjadi Ayah serta Ibu baginya.”
”Abdullah, kenapa Dia masih bertahan dalam tamengnya? Begitu teguh pendiriannya, seakan sulit untuk meluluhkan hatinya. Lalu ... bagaimana cara untuk menanamkan cinta dihatinya jika ... aku merasa sesulit ini?”
”Jangan khawatir seperti itu, Yulian. Jika kalian takdir dan berjodoh, pasti Allah akan mempermudahkan mu untuk menerobos tembok yang tebal dan tinggi, meluluhkan hatinya yang keras, mengarungi lautan yang luas dan jangan lupa untuk selalu mengucap bismillah sebelum mendekatinya.”
__ADS_1
Rasanya hampir menyerah untuk mendapatkan hati Khadijah dan meyakinkan Dia dalam pernikahan yang tidak akan sia-sia dan semata-mata hanya pernikahan di atas kertas saja. Namun, Yulian kembali melanjutkan do'a dalam sujud di sepertiga malam.
Sholat sunah tahajud dilakukan oleh Yulian dengan sekhusu' mungkin dan dilakukan dengan penuh cinta terhadap Allah SWT. Tak lupa untuk melangitkan do'a dalam penghujung sujudnya.
”Ya Allah ... perluaskanlah dada ini dalam menghadapi keteguhan hatinya. Turunkan ego ini dalam setiap menyikapi kemarahannya dan jika Engkau mentakdirkan aku dengan wanita yang bernama Khadijah, maka mudahkanlah aku dalam setiap kali mendekatinya. Mudahkanlah aku untuk meyakinkan hatinya. Aamiin Ya Robbal Alamin.”
’Ya Allah Ya Tuhanku ... aku hanyalah hamba-Mu yang sering melakukan dosa. Maafkan aku Ya Allah ... aku sudah berani mencintai lelaki yang bernama Yulian, tapi hatiku masih memegang teguh tameng untuk menjadi wanita mulia. Wanita yang ingin menjaga marwahnya. Jika lelaki yang bernama Yulian adalah jodohku, maka dekatkanlah kami dalam naunganmu yang mulia.’
Dibawah langit yang sama, tetapi di bawah atap yang berbeda... ada dua insan yang saling melangitkan do'a yang sama. Biarpun hasrat ingin memiliki tengah menggebu di dalam diri Khadijah, tetapi ia harus tetap menjaga marwahnya yang dulu kala pernah hancur. Begitupun dengan Yulian, meskipun dirinya begitu menginginkan cinta dari Khadijah, tetapi ia harus melalui beberapa rintangan untuk meyakinkan hati Khadijah yang pernah patah karena seorang lelaki.
Malam yang melarut telah menciptakan kesunyian yang mendalam bagi Yulian. Mengingatkannya dengan kenangan bersama Aisyah di kala dulu.
”Aisyah, istriku. Jika pernikahan antara aku dan Khadijah adalah keinginanmu, maka do'a kan lah kami untuk segera menyatu dalam ikatan suci. Agar kami tidak terjebak dalam fitnah yang begitu keji.” Yulian menatap lekat foto Aisyah.
Perlahan jemari Yulian bergerak untuk mengusap lembut foto Aisyah yang dibingkai dengan begitu indah. Kecupan lembut pun dilayangkan ke foto Aisyah. Dan ia pun mendekap erat bingkai foto itu dalam pelukannya.
”Aisyah, apakah aku terlalu egois jika memegang teguh pendirian ku? Apakah aku wanita jahat yang membangun tembok tebal dan tinggi untuk melindungi marwah yang ingin kujaga? Aisyah... aku harus bagaimana?”
__ADS_1
Cadar hitam pemberian Aisyah pun dipeluk erat dalam dekapan Khadijah. Air mata pun membasahi cadar itu, beberapa kali Khadijah juga mencium kain hitam itu dengan penuh kelembutan. Rasa rindu begitu membuncah dada saat pelupuk matanya di penuhi bayang-bayang Aisyah.
Entah kenapa dulu Aisyah begitu yakin jika Khadijah adalah wanita yang tepat menjadi penggantinya dalam memberikan balutan kasih sayang untuk keluarganya. Dan Allah pun telah merestui do'a Aisyah dengan mempertemukan kembali Khadijah dengan Yulian. Akan tetapi, mungkinkah Yulian mampu meyakinkan hati Khadijah?