Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 139 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Dua mobil BMW berwarna putih dan hitam itu telah melesat dari tempatnya berhenti dan segera menuju ke rumah sakit Hermina Medan. Dalam mobil yang melaju pertama Khadijah tidak hentinya menangis, pikirannya kalut dan kacau balau. Rasa khawatir berkecamuk dalam dadanya, dan air mata yang terus mengalir telah membasahi cadar yang ia kenakan.


“Bunda tenang, ya! Banyak berdoa.” Hafizha memeluk Khadijah, merengkuh dengan kekuatan yang ada.


“Semoga saja Abi mu tidak kenapa-napa. Semoga Allah memberikan perlindungan untuk Abi mu,” ucap Khadijah dengan bergetar.


“Iya, Bun. Semoga.” Hafizha mengangguk.


Sengaja anak-anak Yulian menguatkan diri agar air mata mereka tidak jatuh. Terutama Hafizha, sebagai perempuan hatinya akan mudah perasa setelah mendengar berita duka itu. Tetapi, Hafizha berusaha untuk tetap tegar dengan sekuat tenaga, menahan air mata yang hampir memenuhi pelupuk matanya.


Ahtar sesekali menatap kaca spion di depannya untuk memantau kedua wanita yang duduk di jok belakang. Sedangkan papa Adhi, lebih memilih diam dengan bayangan-bayangan yang memenuhi pikirannya.


Dan sedangkan Arjuna mengendarai mobil yang melaju di belakang mobil Ahtar. Di dalam mobil itu ada Cahaya dan Garda yang sengaja ikut untuk melihat kondisi Yulian di rumah sakit Hermina Medan.


“Bagaimana kalau nanti Abi kenapa-napa? Baru juga tadi Abi menjemput kita, memberikan kita kebahagiaan dengan hadiah yang Abi berikan. Tapi kenapa detik kemudian Abi mengalami hal seperti ini?”


Bayangan Yulian terus melintas di kepala Arjuna. Rasa takut yang memuesakkan dadanya kembali membuatnya mengingat baik bagaimana ia harus berjuang untuk menerima kenyataan pahit kehilangan orang tua kandungnya. Dan dengan kehadiran Yulian dengan Aisyah, Arjuna mampu mendapatkan kasih sayang itu kembali. Kebahagiaan yang terus menemaninua setiap hari.


“Sabar, Mas. Inilah peran seorang manusia di dunia, sedangkan kita tidak tahu peran yang bagaimana. Takdir sedang memainkan perasaan kita. Hanya sabar yang harus kita tinggikan,” ucap Cahaya menenangkan.


Arjuna tidak merespon lagi, dan beberapa detik kemudian mobilnya telah memasuki area parkir. Begitu juga dengan mobil yang dikendarai Ahtar. Kedua memarkirkan mobil dengan segera, setelah uti mereka semua berlarian menelusuri lorong rumah sakit Herminda Medan untuk mencari ruang UGD.


Khadijah mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan ruangan itu. Dan setelah melihat tulisan yang terpampang jelas di depan pintu berwarna putih itu, Khadijah mendekat. Lalu, dari belakang di ekori anak-anak nya dan juga papa Adhi.


Khadijah berdiri di depan pintu itu, mencoba melihat bagaimana keadaan di dalam sana. Tetapi, Khadijah tidak bisa melihat apapun dari luar, sedangkan tidak ada juga orang yang bisa ditanyai tentang kondisi Yukian saat ini.


“Hubby, Neng... rindu. Neng Khawatir di sini. Semoga Hubby tidak apa-apa.” Khadijah terus berharap jika Tuhan masih berpihak kepadanya.


“Sabar, Bun. Kita tunggu sambil duduk saja di sana, ya!” pinta Hafizha.


“Tidak. Bunda mau tetap berada di sini, Bunda tidak mau kemana-mana.” Khadijah sentak memberikan jawaban dengan nada sedikit meninggi.

__ADS_1


Ahtar dan Arjuna yang melihat Khadijah seperti membuat hati keduanya terluka. Betapa pedih rasanya melihat Khadijah yang begitu mencintai Yulian kini harus dihadapkan cobaan yang belum diketahui bagaimana Tuhan harus mengujinya. Bahagia atau... kembali berduka.


“Kamu duduk saja, dek. Biar bang Ahtar yang temani Bunda di sini.” Ahtar meminta Hafizha.


“Tidak, Bang. Hafizha juga ingin tetap di sini, hati Hafizha merasa tidak tenang.” Air mata yang terbendung kini akhirnya telah tumpah.


“Hapus air mata kamu, dek! Perbanyaklah berdoa, karena bang Ahtar tahu_Adek Abang itu kuat.” Ahtar merengkuh tubuh Hafizha dan mendekapnya dalam kehangatan.


Hafizha mengangguk, ia segera menyeka air mata itu. Setelah cukup tenang Hafizha melerai pelukannya. Dan tidak lama kemudian seorang dokter dengan sneli yang melekat di tubuhnya dan dengan stetoskop yang melingkar di lehernya telah keluar dari dalam ruangan itu.


“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” cecar Khadijah dengan pertanyaannya.


“Maaf, pasien kehilangan banyak darah. Dan kita tidak bisa melakukan itu karena stok di rumah sakit dengan golongan darah O sudah habis. Apakah di antara keluarga pasien ada yang memiliki golongan darah_yang sama?” tutur dokter yang menangani Yulian.


Ahtar dan Arjuna hanya saling tatap, karena mereka tahu betul apa golongan darah mereka. Tidak sama, itulah yang sangat memilukan bagi keluarga Yulian. Arjuna sudah jelas tidak sama, Ahtar juga tidak memiliki golongan yang sama. dengan Yulian, karena golongan darah Ahtar sama dengan Aisyah.


Dan saat semua masih mencari solusi, karena kebingungan bagaimana harus mendaptkan golongan darah O, karena golongan darah O memmag tidak mudah di dapat.


“Abang juga bingung, karena Abang juga tidak tahu rumah sakit yang memiliki golongan darah tersebut. Kita berdoa saja sama Allah, semoga saja rumah sakit ini bisa segera mendapatkan golongan darah O untuk Abi.” Arjuna menepuk bahu Ahtar yang seolah sudah runtuh.


Khadijah yang mendengar hal itupun tangisnya semakin menjadi. Rasa khawatir benar-benar menyeruak hatinya. Gelisah, mondar-mandir ke kanan dan ke kiri saat berada di depan pintu ruang IGD, itulah yang hanya bisa Khadijah lakukan.


“Ya Allah Ya Tuhanku, berikanlah kemudahan bagi hamba-Mu yang sholeh. Hamba mohon kepada-Mu, permudahkan kami dalam mendapatkan golongan darah O untuk lelaki yang hamba cintai di dunia ini.” Monolog Khadijah yang membuat bibirnya tak berhenti berkomat-kamit membaca doa.


Tiga puluh menit...


Satu jam...


Hampir satu jam setengah pihak rumah sakit belum juga mendapatkan golongan darah O. Hingga membuat keluarga Yulian kembali merasakan khawatiran yang mendalam.


“Bagaimana, Dok? Apakah rumah sakit sudah mendapatkan darahnya?” tanya Ahtar memastikan.

__ADS_1


“Alhamdulillah, sudah ada. Dan kami harus segera melakukan tindakan, jika tidak_”


“Berdoa saja untuk yang terbaik nanti.”


Dokter tidak mau memberikan harapan palsu kepada pihak keluarga pasiennya tetapi, dokter itupun jiga tidak ingin membuat keluarga pasiennya hancur jika kegagalan dalam menanganinya saat berada di ruang operasi nanti. Karena dokter hanyalah manusia yang menjadi perantara, membantu semampu mereka untuk menyelamatkan, sedangkan hidup dan mati sudah berada di tanga Tuhan. Dan takdir tidak bisa dihindari oleh manusia itu sendiri.


“Baik, Dok. Silahkan! Tolong lakukan yang terbaik untuk Abi saya.”


“InsyaAllah.” Dokter itupun mengangguk.


Setelah memebeikan keterangan kepada pihak keluarga pasiennya, dokter itupun masuk ke ruang operasi setelah Yulian dipindahkan ke ruang operasi. Dan darah yang dibutuhkan pun sudah tersedia, tim dokter segera melakukan tindakan lanjutan agar pasien mampu melewati masa kritis.


Khadijah yang terus berdiri di depan pintu berwarna putih itu masih tidak berhenti menangis. Hati dan pikirannya benar-benar kacau, bayangan Yulian terus saja melintas dalam pikirannya. Apalagi saat malam itu, di mana Yulian meminta sesuatu kepada Khadijah.


“Neng... Neng percaya tidak sama takdir?”


“Percaya, Hubby. Takdir itu memang seuatu hal yang tidak bisa dirubah oleh manusia. Dan hanya Allah yang mampu mengubahnya.”


“Kalau seandainya takdir membawa kita untuk berpisah, apa Neng menyetujuinya?”


“Hm... Itu diluar kehendak kita, Hubby. Sebuah pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan, bukan? Jika takdir akan memisahkan kita, Neng hanya mau dengan kematian lah kita dipisahkan. Itu lah yang selalu Neng doa kan, karena Neng mau ‘selamanya’ dengan Hubby.”


“Semoga. Tapi, kalau seandainya nanti Hubby yang akan lebih dulu dipanggil sama yang Maha Kuasa, ikhlaskan kepergian Hubby. Dan jangan pernah tinggalkan anak-anak, jaga mereka selalu. Dan Neng harus mencari kebahagiaan tanpa adanya Hubby disamping Neng nanti.”


Obrolan malam itu terngiang-ngiang di pikiran Khadijah. Dengan menggelengkan kepalanya Khadijah pun berkata dengan amat pelan, “Tidak. Tidak mungkin jika Engkau akan menjemputnya kan, Tuhan? Ini bukanlah suatu pertanda perkataannya malam itu. Aku percaya, kamu akan baik-baik saja.”


Hiks... Hiks... Hiks...


Tangis yang tiada hentinya itu sungguh membuat pilu hati mereka semua. Karena bagi mereka amanah yang diberikan Aisyah baru saja mereka jalankan, kebahagiaan mulai terpancar kembali dari sang ayah mereka. Namun, mungkinkah kebahagiaan itu akan menjadi kesedihan dalam detik selanjutnya?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2