Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
BAB 101 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Buat apa kamu menghubungi orang lain? Come on baby! Aku adalah Ayahmu, Ayah kandung mu.” Alex mendekati Hafizha saat jam istirahat berlangsung.


Hening...


Hafizha tidak menanggapi ucapan Alex, dan suara Alex yang mengudara mampu ditangkap oleh Ahtar saat ponsel Hafizha masih terhubung dengan ponsel Ahtar.


Deg...


Dari kejauhan Ahtar merasa lunglai, sontak ia merasa terkejut dengan suara yang tak asing itu. Bahkan seketika itu juga Ahtar bersiap untuk segera menuju ke sekolahan Hafizha dan memastikan Hafizha baik-baik saja.


“Ahtar, kamu mau kemana?” tanya Yulian.


Yulian melihat putra nya itu tengah menegang, bahkan seketika terperanjat dari duduknya saat Yulian dan Khadijah baru keluar dari ruangan.


“Abi, Bunda... maaf, Ahtar tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ahtar harus pergi dulu, assalamu'alaikum.” Ahtar menyalami Yulian dan Khadijah secara bergantian.


Ahtar seketika langsung menekan pedal gas setelah motor sport nya sudah dinyalakan. Lalu, dengan kecepatan tinggi Ahtar menuju ke sekolah Hafizha agar cepat sampai sebelum Hafizha terpengaruh dengan kata-kata Alex. Meskipun itu benar adanya, tetapi Ahtar tidak mau jika Hafizha terluka hatinya setelah menerima kenyataan tentang hidupnya di masa lalu.


“Itu Om Abdullah.” Ahtar menghampiri Abdullah uang menunggu di mobil.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam Ahtar.


“Waalaikumsalam,” balas Abdullah.


Abdullah terkejut dengan kedatangan Ahtar di sana, tak lain luka dengan Ahtar yang menjelaskan kepada Abdullah apa yang menjadi tujuannya datang ke sekolah Hafizha.


Setelah mengerti, Abdullah segera menghubungi Yulian yang masih berada di rumah sakit tengah menanti antrian obat yang harus dibawa pulang olehnya. Sedangkan Ahtar berusaha untuk mencari keberadaan Hafizha di dalam ruang lingkup sekolah.


“Assalamu'alaikum, Yulian.” Suara Abdullah terdengar begitu tegang.


“Waalaikumsalam, Abdullah. Ada apa kamu menghubungiku? Dan suaramu... kenapa seperti tegang begitu?”


“Gawat, Yulian...” Abdullah menggantungkan ucapannya.


“Gawat kenapa?”


“Alex sudah berani menemui Hafizha di sekolah. Ahtar datang kesini,” terang Abdullah.


Seketika Yulian merasa terkejut mendengar berita di luar dugaannya itu. Sontak rasa khawatir pun menyelinap dalam hatinya. Dan ingin rasanya saat itu juga ia pergi ke sekolah Hafizha, tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan Khadijah di saat keadaan Khadijah baru saja membaik.


“Abdullah, tolong bantu Ahtar menemui Alex. Aku... tidak bisa meninggalkan Khadijah sendirian di rumah sakit.”


Yulian mencari tempat yang cukup aman untuk berbicara dengan Abdullah tanpa Khadijah bisa mendengarnya. Jika itu terjadi maka, kondisi Khadijah akan drop lagi. Dan Yulian tidak mau hal itu terjadi.


Dari seberang Abdullah mengiyakan permintaan Yulian, setelah panggilan terputus Yulian kembali duduk di samping Khadijah, di kursi ruang tunggu bagian pengambilan obat.


“Ada apa, Hubby?” tanya Khadijah dengan suara lembut.


“Tidak ada kok, Neng. Hanya masakah di kantor saja,” jawab Yulian berusaha tenang.

__ADS_1


Khadijah mengangguk, ia tidak menatuh rasa curiga ketika Yulian berusaha untuk memberikan jawaban alibi saja. Karena Yulian sangat pandai menyimpan rahasia agar tidak membuat khawatir siapapun.


Setelah mengantri di nomor 231 kini saatnya giliran Yulian mengambil obat untuk Khadijah. Yulian beranjak dari duduknya dan menemui petugas obat di sana. Dan setelah mendapatkan obat itu tak lupa Yulian memberikan tiga lembar uang ratusan, dengan mata uang Euro di kota Edinburgh.


“Ya sudah, sekarang kita pulang atau... mau mampir ke suatu tempat dulu, Neng?”


“Emm...” Khadijah membulatkan bola matanya ke atas, seolah tengah memikirkan seuatu yang akan menjadi keputusannya.


“Kita pulang saja deh, Hubby. Neng... sudah merindukan Abizzar.” Setelah berpikir panjang akhirnya Khadijah memilih untuk langsung pulang.


Yulian manggut-manggut, ia mengiyakan keputusan Khadijah. Dan Yulian pun mendorong kursi roda yang menjadi tempat duduk Khadijah hingga ke tempat parkir. Sedangkan beberapa barang yang akan di bawa pulang sudah di bawa oleh Arjuna lebih dulu.


“Terimakasih ya, Nak.” Tidak lupa Khadijah selalu menghargai setiap perlakuan kedua putra sambungnya itu.


“Sama-sama, Bun. Ini juga sudah menjadi tugas Juna. Bunda jangan sungkan begitu.” Arjuna menutup kembali pintu mobil itu setelah Yulian membantu Khadijah masuk ke dalam.


Setelah itu Yulian masuk di bagian jok belakang, duduk di samping Khadijah. Sedangkan Arjuna berada di jok depan bersama sopir yang akan mengemudikan mobil Yulian.


Sekitar satu setengah jam akhirnya mereka pun sampai juga di kediaman Yulian. Sebagai suami yang selalu siaga Yulian membukakan pintu lalu membantu Khadijah untuk keluar dan kembali duduk di atas kursi roda.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam ketiganya setelah berada di depan pintu.


Bik Inem yang mendengarnya pun seketika membuka pintu untuk menyambut majikannya itu. Setelah pintu di buka dengan lebar dari arah lantai dua terdengar suara derap langkah kaki yang menuruni anak tangga.


“Abi, Bunda... kalian sudah pulang,” ujar Cahaya.


Cahaya yang habis dari kamar Abizzar segera turun dari anak tangga lalu, menyalami Yulian dan Khadijah secara bergantian. Tidak lupa pula Cahaya menyalami sang suami yang berdiri di belakang, begitu halnya Arjuna mengecup kening Cahaya sebagai tanda kasih dan sayangnya terhadap seorang istri.


Abizzar yang sudah satu tahun usianya, mulai berceloteh ini itu dengan suara yang belum jelas. Hal itu membuat tawa menggema di ruangan itu dan memekakkan telinga bagi yang mendengarnya.


“Bunda harus istirahat dulu ya sayang, kalau sudah sembuh benar Bunda pasti akan mengajak Abizzar bermain. Doakan Bunda semoga cepat pulih.” Khadijah mengembalikan Abizzar dalam gendongan Cahaya.


“Aamiin,” ucap seluruh orang yang berada disana secara bersamaan.


“Sini, Hubby gendong saja biar mudah dan cepat sampai di kamar.” Yulian tengah bersiap untuk menggendong Khadijah.


Namun Khadijah menepis tangan Yulian, ia merasa malu dan tidak enak hati jika Cahaya, Arjuna maupun bik Inem akan mengatasinya sebagai wanita yang manja.


“Kenapa, Neng?”


“Neng malu, Hubby. Lihat tuh! Ada Cahaya, Arjuna dan bik Inem loh,” bisik Khadijah malu-malu.


Yulian pun tersenyum dengan jawaban Khadijah yang baginya itu adalah hal yang menggemaskan. Dan tanpa meminta ijin lagi kepada Khadijah, Yulian menggendong Khadijah begitu saja. Hingga membuat Khadijah tidak bisa berkutik dalam gendongan Yulian.


“Istirahat gih! Nanti kalau membutuhkan apapun segera panggil Hubby. Hubby ada di bawah, mau bertemu dengan Cahaya dan Arjuna sebentar.”


Khadijah mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Yulian. Karena masih dalam pengaruh obat Khadijah pun memejamkan kedua matanya karna tidak bisa menahan rasa kantuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


“Tut... Tut... Tut...”


Yulian mencoba menghubungi Ahtar, tetapi tidak tersambung. Setelah itu Yulian mencoba menghubungi Abdullah, tetapi tetap sama. Nomor ponsel Abdullah tidak bisa terhubung. Dan itu membuat Yulian semakin merasa khawatir dengan Hafizha.


“Abi, ada apa?” tanya Arjuna.


Arjuna yang melintas di hadapan Yulian dan melihat Yulian dengan gurat wajahnya yang menyimpan rasa khawatir, seketika Arjuna ingin tahu apa yang terjadi.


“Alex... sudah menemui Hafizha di sekolah. Bahkan Alex siah mengatakan kepada Hafizha jika Dia adalah Ayah kandungnya.”


“Lalu?”


“Abi tidak tahu, Ahtar dan Abdullah tidak bisa dihubungi. Dan Abi tidak mungkin jika pergi ke sana, nanti Bunda mu justru akan curiga jika Abi tidak ada di rumah.”


Hening...


Arjuna tidak memiliki titik temu dalam masalah itu, karena Arjuna juga tidak bisa pergi ke sekolah Hafizha.


“Maafkan Juna, Abi. Juna tidak bisa kesana untuk memastikan, karena Juna harus kembali ke rumah sakit.”


“Tidak apa-apa, Abi mengerti akan tugasmu itu.” Yulian menepuk pundak Arjuna dengan pelan.


Arjuna pun kembali ke rumah sakit lagi setelah menyalami Yulian. Dan tidak lama kemudian Ahtar pulang bersama Hafizha, sedangkan Abdullah ada di belakang motor Ahtar.


Yulian yang mendengar salam dari luar seketika membuka pintu dan menyambut Ahtar dan Hafizha. Keduanya seketika menyalami Yulian setelah masuk ke dalam.


“Bagaimana sekolah kamu hari ini, Hafizha?” tanya Yulian basa-basi.


Yulian berusaha untuk bersikap biasa saja, agar tidak begitu kentara jika dakm hatinya tengah merasa khawatir andai Hafizha akan bertanya yang sebenarnya.


“Alhamdulillah baik. Tapi... ada suatu kejadian saat Hafizha di sekolah tadi.” Hafizha menatap tajam Yulian, seolah tengah menelisik jika saja Yulian sedang menyimpan sebuah rahasia.


“Apa itu, Nak? Apa ada kegiatan baru di sekolah? Atau... hal yang lainnya, hmm?”


“Bukan. Ini tentang... seseorang yang bernama Alex.”


Deg...


Jantung Yulian seolah berhenti berdetak. Rasanya ia tidak sanggup jika mengatakan kebohongan yang selama ini sudah ditutup rapat olehnya dan akan mendapati Hafizha yang akan terluka.


“Memangnya siapa orang itu? Dan... ada apa dengannya?”


Hafizha menghela napas beratnya, ia merasa tidak siap jika menanyakan hal itu secara kengsung kepada Yulian.


“Dek, ikut Abang yuk!” ajak Ahtar.


Ahtar tidak mau jika Hafizha tahu sebelum saatnya tiba. Dan Ahtar pun menarik lengan Hafizha untuk pergi ke kamarnya dengan alasan absurd.


‘Maafkan Abi dan semuanya, Nak. Bukan maksud Abi ingin menutupi semuanya untuk selamanya. Tapi... jika Akex sudah berada di tempat yang aman, InsyaAllah Abi akan siap mengatakan semuanya kepadamu.’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2