
Khadijah merasa terkejut dengan apa yang ia tenteng di tangannya. Sungguh ia tidak mempercayai Yulian akan memberikan baju yang kekurangan bahan itu kepadanya. Dan Khadijah juga merasa ragu untuk memakainya, karena selama menjadi istri Yulian ia belum pernah memakai lingerie, meskipun ia pernah memuaskan Yulian beberapa kali. Dan yang dipakai saat itu tetaplah gamis yang menutupi tubuhnya.
”Hubby, tidak salah memberikan Neng hadiah seperti ini? Kenapa tidak es krim saja?” cicit Khadijah.
”Seorang suami mana ada salah dalam memilih sebuah hadiah untuk istrinya. Bukankah... itu bagus untuk dipakai malam ini, hmm?”
”Tapi, kan...” Khadijah menarik nafas. ”Baiklah! Neng akan memakainya, tapi jangan lama-lama ya, takut masuk angin nanti.”
Yulian pun terkekeh melihat Khadijah akhirnya mengiyakan keinginannya. Meskipun ada rasa kasihan dalam hati Yulian saat meminta Khadijah untuk memakai baju yang kurang bahan itu, tapi tidak salah juga jika Yulian ingin melihat Khadijah mengenakannya walaupun satu kali.
Khadijah keluar dari kamar mandi. Sedikit risih saat memakai lingerie, karena pakaian itu benar-benar menerawang untuk dipakai. Bahkan Khadijah merasa malu saat ia memakai baju tetapi tetap saja bagaiamana tubuhnya terlihat dari luar.
”Tidak perlu malu dan risih seperti itu. Ikhlas tak memakainya, hmm?”
Yulian menahan tawanya saat Khadijah terlihat tidak rela. Tetapi malam itu Yulian akan tetap memaksa Khadijah untuk memakainya.
”Iya, Neng ikhlas kok. Akan Neng lakukan apapun yang Hubby mau.”
”Masa seperti itu? Benar nih, mau melakukan yang Hubby mau?”
Khadijah mengangguk dengan malu-malu.
”Baiklah! Kalau begitu ... puaskan Hubby malam ini.”
”Dengan senang hati.”
Segera Yulian melakukan aksinya tanpa menunggu lagi. Karena Yulian tidak ingin Khadijah memakai baju lingerie terlalu lama. Seperti yang dikatakan Khadijah, takut jika Khadijah akan sakit karena terlalu lama memakainya.
Sensor... Sensor... Sensor...
Dan pembaca tidak boleh ngintip ya... nanti matanya bintitan loh kalau ngintip malamnya Yulian dengan Khadijah.
Setelah melakukan hal yang indah bagi pasutri itu, kini mereka sejenak merebahkan tubuh di atas kasur dengan terlentang. Nafas yang menderu masih begitu terasa dalam setiap yang mereka hembuskan. Banjir peluh pun telah membuat mereka merasa lelah dalam keremangan.
”Terimakasih, Neng...”
Yulian memberikan kecupan di kening Khadijah sebagai tanda terimakasih nya, yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Khadijah. Dan malam itu bukan lah malam pertama bagi mereka. Malam itu adalah malam yang kesekian, setelah rasa cinta dan rasa percaya sudah terpatri dalam hati.
Setelah melepas rasa lelah Yulian meminta Khadijah untuk mandi terlebih dahulu. Setelah itu, Khadijah berganti pakaian dengan pakaian yang cukup menutupi lekukan tubuhnya. Daster, mungkin saat ini pakaian itu bukanlah pakaian yang begitu asing bagi kita semua para kaum hawa, kan? Meskipun di kota Edinburgh, tetapi daster tetaplah ada di sana.
”Kenapa belum tidur, hmm?”
”Masih nungguin Hubby, kan maunya Neng tidur dipelukan Hubby.”
Tanpa ada rasa malu lagi Khadijah meminta pelukan dari Yulian untuk menghangatkan tubuhnya dalam dinginnya malam. Dengan senang hati pula Yulian memberikan hal itu kepada Khadijah. Wanita yang kini namanya tersemat dalam hati.
Dan hingga akhirnya mereka pun terlelap dalam dunia mimpi.
Seperti biasa, Khadijah melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Dan hal yang paling disukai adalah membuat menu sarapan pagi dengan serat gizi yang cukup, yang selalu dibantu oleh bik Inem.
Beberapa masakan telah disajikan di atas meja makan. Dan semua bau harum dan gurih dari masakan tersebut menguar ke udara, yang membuat seluruh anggota keluarga mendatangi ruang makan sebelum saatnya sarapan pagi tiba.
__ADS_1
”Bunda, baunya harum dan gurih. Sepertinya ... iga bakar itu menggoda perut Hafizha.”
Seketika semuanya terkekeh geli mendengar pengakuan sang putri kecil. Tanpa menunggu lagi semua mengambil posisi, dengan bacaan doa mereka memulai acara sarapan bersama. Dan di sela-sela acara tersebut tiba-tiba Yulian merasa tidak enak dengan tubuhnya.
”Uwek... uwek...”
Yulian segera meninggalkan sarapan paginya lalu menuju ke kamar mandi. Dan Khadijah yang merasa khawatir seketika menyusul Yulian. Lalu memijat tengkuk Yulian untuk meredakan mualnya.
”Hubby kenapa? Sakit?”
”Tidak tahu, Neng. Tiba-tiba perut Hubby seperti diracun.”
”Diracun? Tapi Neng tidak memasukkan racun apapun kok saat memasak tadi.”
Disaat rasa mual masih membuat perut Yulian merasa tidak enak, Yulian berusaha menyempatkan diri untuk mengulas senyum dan mengusap lembut puncak kepala Khadijah.
”Bukan seperti itu juga maksud Hubby, Neng. Tapi...”
”Uwek... uwek...”
Kembali Yulian memuntahkan makanan yang tadi sempat dicerna nya. Bahkan tubuh Yulian seketika merasa lemas tidak berdaya. Karena tidak ada asupan makanan yang mengisi perutnya dan memberikan kekuatan untuk tenaganya.
”Masa iya sih Hubby masuk angin. Kan, yang pakai lingerie semalam, Neng.” Bisik Khadijah dengan begitu pelan. Sehingga hanya Yulian yang mampu mendengarnya.
Ingin rasanya Yulian tertawa terbahak mendengar perkataan absurd Khadijah. Namun, kesehatannya membuat tubuh Yulian benar-benar tidak berdaya untuk sekedar tersenyum. Bahkan wajah Yulian terlihat pucat, membuat rasa khawatir menyelimuti seluruh anggota keluarga.
”Biar Ahtar periksa kondisi Abi.”
”Tidak apa-apa, Abi juga tidak demam. Bahkan semuanya normal. Mungkin Abi hanya kecapean saja. Tidak perlu khawatir,” tutur Ahtar.
Dengan perhatian Khadijah menyuapi Yulian bubur buatannya yang masih hangat. Setelah itu Khadijah meminta Yulian untuk meminum obat yang sudah diberikan Ahtar kepadanya. Dan Khadijah membiarkan Yulian beristirahat di kamar, sedangkan ia harus melanjutkan tugasnya dalam acara nanti malam.
’Kamu... ternyata lucu. Membuatku merasa gila saat bayanganmu menari-nari dalam pelupuk mataku. Apakah cinta memang segila ini? Ya Allah, jangan pisahkan aku dengannya ... wanita yang sudah Engkau hadirkan dalam hidup hamba dan ... wanita yang mampu membuka hati hamba yang pernah terkunci.’
Yulian terlelap dalam tidurnya, karena efek obat yang sudah diminum olehnya.
Singa telah tiba, Khadijah dan yang lainnya masih sibuk mendekorasi ruangan yang akan dipakai untuk acara tasyakuran Garda nanti malam. Penuh canda tawa di sela kesibukan mereka, sehingga membuat mereka semua semakin membuat hubungan mengerat dalam arti sebuah keluarga. Namun sayang, Yulian tak ikut serta untuk memeriahkan acara tersebut. Karena kondisinya masih lemah.
”Khadijah, kamu desain yang sebelah sana ya! Aku akan atur tulisan namanya Garda Ranggi di di tengah.” Khadijah mengangguk, mengiyakan perkataan Arumi.
Kekompakan begitu terjalin, hingga akhirnya acara mendekorasi telah usai. Begitu indah dengan nuansa islami yang tidak akan pernah hilang.
Sejenak mereka semua beristirahat, lalu sholat dzuhur bersama. Setelah usai melakukan sholat dzuhur Khadijah, Arumi dan bik Inem menyiapkan makanan untuk dijadikan santapan siang itu. Dan tidak lupa Khadijah membuatkan bubur lagi untuk Yulian.
”Hubby, bangun!”
Dengan begitu pelan Khadijah memanggil Yulian dan mengusap lengan Yulian agar segera bangun. Namun, Yulian tidak kunjung bangun juga.
’Kenapa Hubby tidak bangun juga, ya? Tapi... tidak demam kok tubuhnya. Biasa saja malah ... dan wajahnya juga tidak terlihat pucat lagi. Terus, kenapa tidak bangun-bangun?’ batin Khadijah.
Kembali Khadijah memanggil Yulian dan memberikan usapan lembut di pipi nya. Dan tidak lama kemudian Yulian membuka matanya, lalu menggeliatkan pandangannya.
__ADS_1
”Ada bidadari cantik ternyata,”
”Hubby, jangan ngadi-ngadi gitu deh. Ini masih siang, jangan ngegombal.”
”Nih, Neng bawakan bubur untuk Hubby. Makan ya, lalu minum obat lagi.”
Khadijah membenarkan posisi Yulian untuk duduk. Dan Yulian hanya menurut saja, sedangkan kan tahu benar tubuhnya sudah baik-baik saja. Hanya ingin melihat seberapa perhatian Khadijah terhadapnya, istilahnya Yulian tengah menguji Khadijah.
’Hmm... Yulian mulai, kan. Nanti kalau ketahuan Khadijah bisa merajuk loh! Dan bingung lagi deh mau merayu seperti apa.’ Ujar penulis.
Yulian memakan bubur yang disuapkan Khadijah sampai habis. Namun, saat Khadijah memintanya untuk minum obat, Yulian menolaknya dan mengatakan kepada Khadijah bahwa ia sudah baik-baik saja.
”Tapi nanti kalau merasa sakit terus mual lagi bagaimana? Hibby harus minum obat pokoknya.”
”Ish, Neng kok jadi pemaksa sih. Maksanya malah suruh minum obat lagi. Maksa itu yang enakan dikit dong, seperti ... diminta memuaskan Neng, pasti tanpa dipaksa Hubby langsung mau.”
Seketika tabokan mendarat di lengan Yulian, sehingga Yulian merintih kesakitan.
”Sakit, Neng. Kasar amat sih jadi istri.”
”Habisnya, Hubby sendiri yang... Me... sum.” Ujar Khadijah penuh penekanan.
Yulian seketika terbahak, benar-benar ia sebucin itu saat merajut rumah tangga bersama Khadijah. Apalagi sebelumnya tidak ada kisah cinta di antara mereka, sehingga hubungan itu tercipta dengan sikap dan sifat bak anak remaja yang masih kasmaran bahkan tengah dimabuk asmara.
”Yulian, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa sudah jauh lebih baik?” tanya Papa Adhi.
”Alhamdulillah sudah kok, Pa.”
”Alhamdulillah, syukurlah. Ya sudah, kamu duduk saja dan Khadijah... kamu temani Yulian duduk disini. Lagipula... bukankah, kamu belum makan siang?”
”Benar Neng, apa yang dikatakan Papa?”
Khadijah mengangguk seraya menundukkan pandangannya.
”Kenapa tidak bilang sama Hubby kalau Neng belum makan siang, hmm?”
”Memangnya kenapa?”
”Ya... kan, tadi bisa makan bareng sama Hubby.”
”Tapi tadi kan, hanya bubur. Dan sedangkan Neng tidak sedang sakit, Hubby.”
”Tidak apa juga makan bubur walaupun tidak sedang sakit. Biar so sweet, Neng.”
Di saat tadi tabokan yang mendarat, kini cubitan telah dilakukan Khadijah di perut Yulian. Dan kembali Yulian merasa kesakitan, tetapi justru di balas dengan mata melotot oleh Khadijah. Karena Khadijah merasa malu sedangkan papa Adhi masih berada di sana.
’Dasar, anak oon. Bagaimana bisa Yulian bersikap sebucin itu? Apa saking lamanya menduda?’
Dan fiks, penulis jadi terbahak mendengar suara hati papa Adhi yang melihat tingkah absurd anaknya. Sedangkan Yulian bukanlah anak muda lagi. Sedangkan umurnya sudah menua, tapi tetap saja jiwanya jiwa anak muda. Wkwkwk...
Acara tasyakuran telah dilangsungkan atas kelancaran yang diberikan Allah. Dan kini semua kembali bersiap untuk melanjutkan istirahat di kamar masing-masing.
__ADS_1
Bersambung....