Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 105 ”Tahajud Cinta”


__ADS_3

Hafizha masih menangis sesenggukan, ia tidak bisa memikirkan hal yang lain lagi untuk sekedar menenangkan dirinya.


Sesaat kemudian ambulans pun datang, dengan segera Ahtar dibawa masuk ke dalam. Wanita itupun terus menemani Hafizha hingga rumah sakit. Dan setiba di rumah sakit Ahtar segera dipindahkan ke atas brankar, lalu dibawa masuk ke ruang UGD agar mendapatkan pertolongan pertama.


“Ijin saya masuk, Dok! Saya mau lihat Abang saya yang ada di dalam,” rengek Hafizha.


“Maaf Dek, tapi adek tidak bisa ikut masuk ke dalam. Tolong tinggi di luar saja ya!” pesan perawat yang menutup pintu.


Wanita berparas cantik, berkulit putih dan hidung mancung itu masih setia menemani Hafizha yang semakin bergetar dalam tangisnya.


Tring... Tring... Tring...


Ponsel Ahtar berdering, tertanda di sana ada nama Abi tengah melakukan panggilan. Namun Hafizha tidak segera menerima panggilan itu, karena pikirannya masih terkecai. Rasa khawatir, takut, gelisah telah bercampur menjadi satu.


‘Apa harus aku yang menerima panggilan itu?’ tanya Zuena dalam hati.


Zuena tidak membutuhkan waktu untuk berpikir lebih lama, menurutnya panggilan itu penting setelah melihat nama Abi dalam panggilan itu, sehingga harus segera diterima.


“Halo, assalamu'alaikum, Ahtar.” Yulian menyapa dengan lembut.


“Maaf, ini saya Zuena. Saya...” Zuane menghentikan ucapannya, ia jadi ragu untuk mengatakan jika pemilik ponsel itu tengah mengalami kecelakaan.


Yulian yang sedang bersama Abdullah hanya saling pandang saat mendengar suara perempuan, tak lain adalah suara Zuena. Yulian memutar kedua bola matanya ke atas, mencoba berpikir pemilik suara perempuan itu. Karena suara itu bukanlah suara Hafizha ataupun perempuan yang dikenalnya.


“Maaf, ini dengan siapa ya? Bukankah ini benar ponsel milik Ahtar, putra saya?” tanya Yupian memastikan.


“Maafkan saya sebelumnya jika saya sangatlah lancang karena, sudah menerima panggilan Anda, Pak. Tapi ... putra Anda mengalami ... kecelakaan, Pak.” Terang Zuena dengan nada amat pelan.


Deg...


Bagaikan dihantam batu yang amat besar, hingga membuat kepala Yulian berdenyut nyeri. Dengan perasaan yang masih bercampur aduk, melebur menjadi satu Yulian mencoba untuk menguatkan dirinya dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT yang bertubi-tubi masuk dalam kehidupannya.


“Bagaiamana keadaan putra saya sekarang?” tanya Yulian to the point.


“Masih dalam penanganan Dokter, saat ini... adiknya lah yang menunggu di rumah sakit Royal Infirmary.”


“Baiklah! Terimakasih karena sudah memberitahu saya,”


Obrolan pun terputus, Abdullah segera menekan pedal gas untuk menuju ke rumah sakit umum di Edinburgh. Sesekali Yulian mengucap dzikir sebagai penenang hatinya dalam rasa kegundahan dan kegelisahan.


Mobil Abdullah pun memasuki area parkir rumah sakit Royal Infirmary, berhubung malam yang sudah larut tidak banyak mobil pengunjung ataupun orang yang ingin membesuk sanak saudara terparkir di sana hingga memenuhi area parkir. Dan itu membuat Abdullah merasa bebas mau parkir di sebelah mana saja.


“Ayo! Abdullah.” Yulian berlari kecil menuju ke ruang UGD.


Abdullah mengikuti Yulian dari belakang. Dan saat suasana tegang masih menyelimuti hati Yulian, Abdullah mencoba menghubungi Arjuna untuk segera tiba juga di rumah sakit Royal Infirmary, tempat Arjuna bekerja bersama Ahtar.

__ADS_1


Deg...


Yulian seketika menghentikan langkahnya setelah mendapati Hafizha duduk termangu dengan tangis yang masih menemaninya saat menunggu Ahtar dalam masa pemeriksaan.


‘Rasanya tak sanggup, Nak. Melihat tangismu seperti itu, Abi juga yakin jika kamu diselimuti luka yang amat dalam. Maafkanlah Abi, Nak.’ Yulian bermonolog dalam hati.


Yulian melangkah dengan pelan, niat hati ingin menghampiri Hafizha dan merengkuh nya dalam dekapan kehangatan. Namun...


‘Abi,’ ucap Hafizha lirih.


Hafizha menatap Yulian yang berdiri di sisi kanan nya, dan saat melihat Yulian tak ada kebencian dan kemarahan yang terpendam dalam hati Hafizha. Bahkan, Hafizha seketika beranjak dari duduknya dan setelah itu berlari kecil menyambut kedatangan Yulian.


“Bluk,”


Hafuzha masuk ke dalam dekapan Yulian. Tangisnya kembali pecah, bahkan suaranya yang lembut berubah dengan suara parau sehabis menangis. Matanya yang lentik dengan khas bola mata birunya sudah sembab karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


“Jangan menangis lagi ya, Nak! Abi suda ada disini, doakan saja Abang mu baik-baik saja.” Yulian mengusap punggung Hafizha dengan lembut.


“Abi, Hafizha minta maaf. Andai saja Hafizha tidak seperti anak kecil, pasti bang Ahtar tidak akan pernah mengalami hal seperti ini. Hiks... hiks... hiks...”


“Jangan sesali apa yang sudah terjadi, anggap saja ini sudah jalan Allah yang diberikan kepada kita untuk kembali menguatkan hati yang rapuh. Sudah, tenangkan pikiranmu, Nak.” Yulian mengecup kening Hafizha.


Hafizha sudah merasa damai dalam dekapan Yulian yang menghangatkan tubuhnya. Dokter juga sudah keluar setelah hampir satu setengah jam lamanya berada di dalam UGD. Dan tidak lama kemudian perawat telah medorong brankar Ahtar menuju ke ruang rawat inap.


“Dokter, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Yulian to the apoint.


Yulian, Hafizha dan Abdullah akhirnya bernafas lega mendengar apa yang sudah dipapatkan dokter Edric. Dan setelah itu Ahtar dipindahkan di ruangan VIP, sesuai yang dipilih oleh Yulian. Karena ia tidak mau waktu istirahat putranya akan terganggu, sekaligus juga orang yang akan membesuk Ahtar bisa merasa nyaman dengan ruangan yang memiliki fasilitas memidai.


“Lebih baik kamu sekarang pulang, biar Om Abdullah yang mengantarkan kamu, Nak.”


“Kasihan Bunda mu juga, Dia... ikut memikirkan kondisimu yang tiba-tiba saja pergi dari rumah.” Yulian menyunggingkan senyum tipis.


Hafizha mengangguk, ia mengiyakan perkataan Yulian. Baginya rasa bersalah kepada Khadijah masih menyesakkan dalam dadanya, hingga membuat Hafizha merasa sulit untuk. sekedar menghirup udara yang segar.


Setelah berpamitan kepada Yulian, Hafizha melangkah meninggalkan ruangan itu dengan di antar oleh Abdullah.


‘Ahtar, Abi bersyukur memilikimu. Kamu... benar-benar menjaga adikmu,’ ucap Yulian dalam batin.


Yulian mengambil duduk di sisi kiri brankar, ditatap nya wajah Ahtar yang memang mirip dengan Aisyah. Tampan, berkulit putih dan bermata kecoklatan.


“Oh iya, ngomong-ngomong... kepaa aku tidak. melihat pemilik suara wanita tadi? Dan seingatku hanya melihat Hafizha duduk sendirian tadi.”


Yulian berusaha mengingat Hafizha yang memang duduk sendiri di ruang tunggu tanpa ada wanita lain yang menemani Hafizha di sisinya.


”Ah sudahlah, biarpun tak menemukan keberadaan wanita itu... dalam hati kecil ini sangatlah berterimakasih kepadanya. Ya Allah... terimakasih karena Engkau mengirimkan orang baik kepadaku.” Yulian tersenyum tipis.

__ADS_1


Rasa kantuk yang mendera hebat tak bisa dipungkiri lagi, bahkan tubuhnya terasa begitu lelah hingga membuat Yulian terlelap begitu saja. Dan saat terlelap ada seseorang dibalik pintu tengah mengintip sebagaimana kondisi Ahtar malam itu.


‘Hati ini merasa teriris melihatnya hanya terbaring lemah tak berdaya seperti itu. Dan aku hnya meminta Kepada-Mu , Tuhanku. Jagalah Dia dalam setiap langkahnya dan sehatkanlah kembali tubuhnya seperti sedia kala.’


Orang itupun pergi karena tak bisa menahan air mata yang sudah mengembang di pelupuk matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Permisi! Di mana Dokter Ahtar dirawat?” tanya Arjuna to the point.


Petugas pun telah disibukkan dengan meneliti data pasien yang masuk di rumah sakit itu. Dan setelah Arjuna tahu dimana Ahtar menjalani perawatan inap, dengan segera ia meluncur ke ruangan itu.


‘Abi sudah tertidur ternyata,’


Arjuna memutuskan untuk duduk di sofa dan tidak ingin mengganggu tidur Yulian yang terlihat begitu lelap. Sampai-sampai Yulian tidak merasa kedatangan Arjuna.


Arjuna ikut terlelap setelah merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


‘Bunda, maafkan Hafizha yang tidak mendengarkan penjelasan dari Bunda maupun Abi terlebih dahulu dan hanya bisa main pergi begitu saja.’


Hafizha dalam sepanjang perjalanan hanya memikirkan penyesalan yang datang diakhir. Yang tidak bisa dulang kembali selain mengucapkan kata maaf dan dimaafkan untuk menghapus luka yang mengeruak jiwa.


“Jangan terlalu banyak merenung dalam diam mu saat ini, Hafizha. Serahkan semuanya kepada yang Di Atas, InsyaAllah... semua akan baik-baik saja.” Abdullah mencoba meyakinkan Hafizha untuk melepas sejenak perasaan yang membuat Hafizha selama mendapatkan hantakan baru besar yang mengenai kepalanya.


“Sudah! Lupakan apa yang sudah terjadi, maafkan Bunda mu di masa lalunya yang menurut mu itu adalah hal yang sangat menjijikkan sekalipun. Karena yang berhak menghakimi bukanlah kita sesama manusia, melainkan Allah SWT Sang Pencipta alam semesta di akhirat kelak.”


Hafusha terdiam, ia kembali merenungkan kesalahannya itu terhadap Khadijha. Hingga setiba di rumah Hafuzha hanya ingin bersujud di bawah kaki Khadijah.


Hafizha membuka pelan pintu kamar Khadijah. Setelah itu ia pun masuk dan menatap lekat wajah Khadijah yang meneduhkan dan damai saat terlelap.


‘Mungkin ini memang takdirku jika memiliki wajah yang hampir mirip dengan Bunda Khadijah. Karena buah pun tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.’


Hafizha tidak mau mengganggu tidur Khadijah dan ia pun pergi lalu naik anak tangga menuju ke kamarnya. Dan sebelum tidur Hafizha mengambil air wudhu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


‘Dokter Ahtar, itu kenapa namanya hampir mirip dengan Dokter ahli bedah jantung di rumah sakit ini, ya? Apa... mereka orang yang sama?'


Pikiran Zuena masih berpusat pada Ahtar, apalagi saat Zuena melihat dengan amat jelas preman itu menusuk perut Ahtar tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun.


“Non, sudah malam. Sudah waktunya untuk lekas tidur sekarang!” ucap pengawal Zuena.


“Jangan hiraukan aku! Aku masih ingin menyendiri, jadi tolong jangan terima panggilan dari siapapun itu termasuk... Daddy ku.” Zuena memperingatkan pengawal pribadinya itu.

__ADS_1


Tak ada bantahan dari pengawal Zuena, yang dilakukan hanya mengangguk pelan dan membiarkan Zuena kembali berada di posisinya.


Bersambung...


__ADS_2