
Yulian terdiam, tengah memikirkan apa yang dikatakan Tristan ada benarnya juga. Bayangan Khadijah yang terkadang memijat kakinya sendiri terlintas dalam pelupuk mata Yulian.
Tanpa menanti bagaimana kelanjutan aksi pencuri itu, Yulian menyalakan mesin mobilnya lalu dilajukan dengan kecepatan sedang.
“Assalamu'alaikum, Neng.”
Yulian mengucapkan salam setelah membuka pintu kamarnya.
“Syukurlah, kalau kamu sudah tidur.” Yulian mengulas senyum. “Terlihat nyenyak sekali malahan. Dan aku tidak mau mengganggumu.”
Yulian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Hanya sekedar ingin mencuci muka, menggosok gigi lalu mengambil air wudhu. Setelah itu merebahkan tubuhnya dan mencari posisi ternyaman untuk tidur. Menelisik tubuh Khadijah, bahkan memeluk tubuh Khadijah dari belakang untuk memberikan kehangatan pada tubuh Khadijah, meskipun malam itu mereka sudah memakai selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh mereka.
“Hubby... sudah pulang,”
Khadijah mengerjapkan matanya sejenak saat merasa perutnya ada yang menindih, tak lain itu adalah tangan Yulian yang tengah memeluk tubuhnya. Lalu Khadijah mengulas senyum, ia tatap lekat wajah Yulian.
‘Terima kasih sudah memberikan cinta itu untukku... I love you so much my husband...’ batin Khadijah.
Saat Yulian mengalihkan pandangannya dan merubah posisi tidurnya, seketika Khadijah berpura-pura memejamkan mata, karena ia tidak ingin kepergok Yulian jika sedang memandangi wajah tampannya. Jika itu terjadi, maka Khadijah akan merasa malu.
“Sudah jam tiga pagi. Lebih baik aku ambil air wudhu saja untuk sholat tahajud.” Putus Yulian setelah mengambil ponselnya yang berdering karena alarm dari ponsel Yulian menandakan sudah jam tiga.
Kecupan dilayangkan ke kening Khadijah sebelum Yulian beranjak dari tempat tidurnya. Setelah itu ia. segera menuju ke kamar mandi untuk kembali membersihkan wajah, gosok gigi dan mengambil air wudhu. Setelah usai melakukan ritual di kamar mandi Yulian segera membentangkan sajadah panjangnya. Dengan baju koko lengkap beserta peci nya, Yulian melakukan takbir untuk memulai pergerakan sholat.
“Ya Allah... Ya Robbi-ku... kembali hamba meminta kepada Engkau atas apa yang menimpa hamba, semoga Engkau perluas dan perbesar hati hamba atas pencurian di supermarket mini hamba. Dan kembali hamba meminta... jagalah keluarga hamba dimana pun mereka berada, saat raga tidak bisa terus menjaga meraka... disaat mata tidak bisa terus mengawasi mereka dan disaat lisan tidak bisa mengajari mereka untuk memperbanyak mengucapkan istighfar. Aamiin...”
Yulian mengaminkan do'a setelah tangannya menengadah meminta perlindungan dan hati yang sabar saat cobaan kembali menghadang kehidupannya. Karena hanyalah kepada Allah SWT kita bisa mengadu dan meminta apa yang kita inginkan. Asalkan sifat sabar, kerja keras dan do'a, tetap menjadi hal yang utama untuk meraih kesuksesan.
Di saat Yulian tengah melangitkan do'a, ada sepasang mata yang menatap dengan mata yang sendu. Ada air mata yang menggenang dipelupuk mata Khadijah. Dan seolah air mata itu siap tumoah saat itu juga, tetapi ia pertahankan agar tidak jatuh. Karena ia tidak ingin membuat Yulian semakin bersedih, hanya beribu pertanyaan yang masih terpendam dalam hati.
“Aku akan tidur lagi. Rasanya kantuk begitu menderaku.” Yulian mengambil posisi untuk kembali tidur.
Kali ini Khadijah merubah posisi tidurnya, karena takut ketahuan Yulian. Di mana ia menatap tepat pada wajah Yulian yang ikut menatapnya juga. Sehingga Khadijah begitu merasa hangat dalam setiap hembusan nafas Yulian yang mengudara.
‘Aku tidak tahu masalah apa yang tengah menimpamu, Hubby. Dan entah kenapa di saat kamu terluka aku yang tersiksa... di saat kamu bersedih aku yang menangis.. dan di saat kamu tertawa... tawa itu menular. Ada rasa bahagia yang tersimpan dalam hati.’
‘Ya Allah, apakah ini yang namanya istri sebagai tulang rusuk suami? Baru pertama kali aku merasakannya... meskipun banyak sekali masa yang sedih, aku tetap saja menyukainya. Bahkan wajib bagiku untuk tetap berada di sampingnya dalam duka maupun suka.’
Khadijah menatap wajah dan mata yang selalu memberikan keteduhan untuknya saat menatap mata itu. Khadijah tidak bisa membendung lagi rasa sedihny. Saat mengingat ada tangan yang selalu memberikan kelembutan dalam setiap belaian untuknya, ada tangan yang selalu setia menghapus air matanya... dan ada tangan yang selalu sabar menuntunnya.
__ADS_1
“Satu tetes...”
“Dua tetes...”
Air mata telah menetes di tangan Yulian. Dan Yulian yang belum sepenuhnya menjelajah ke dunia mimpi mampu merasakan air mata itu. Sehingga Yulian kembali membuka mata untuk. memastikan.
Saat Yulian membuka mata, ia melihat sepasang mata Khadijah tengah terpejam tetapi air mata keluar dari ujung matanya. Seperti apa yang dikatakan Khadijah, tangan Yulian selalu setia menghapus air matanya.
“Hubby tahu, Neng tidak sedang tidur, kan?” tanya Yulian.
Khadijah tetap memejamkan kedua matanya. Namun, air mata kembali membasahi pipi nya. Ia merasa tidak mampu jika menatap sendu mata Yulian.
“Baiklah, jika Neng tidak mau membuka mata dan mengatakan kenapa menangis... maka Hubby tidak akan memaksa. Tapi semoga saja dengan kecupan dan pelukan ini Neng bisa merasa tenang.”
Yulian mengecup kening Khadijah, lalu memeluk tubuh Khadijah meskipun itu susah saat Khadijah tengah menghadap ke arahnya. Kembali Yulian memejamkan kedua matanya untuk masuk ke alam mimpi kembali.
Dan Khadijah merasa cukup tenang dalam dekapan Yulian. Dan saat Khadijah mendapati Yulian sudah tertidur pulas, maka Khadijah berusaha untuk melerai pelukan Yulian dengan memindahkan tangan yang setia berada di atas pinggang Khadijah. Lalu ia melakukan ritual di kamar mandi sebelum melakukan sholat tahajud.
Mukena berwarna putih tanpa banyak motif telah Khadijah pakai dan terbentang lah sajadah panjang sebagai alas untuk melakukan sholat tahajud.
‘Ya Allah, hamba ingin selalu menjadi istri yang setia menjaga hatinya, menjaga cintanya, menjaga senyumnya dan menjaga aibnya. Aamiin...’
Setelah usai melakukan sholat tahajud, Khadijah melanjutkan dengan membaca mushaf seraya menunggu suara adzan subuh dikumandangkan.
---------
“Neng, bolehkah Hubby bertanya?” tanya Yulian saat berada di mobil.
Pagi itu Yulian ingin mengajak Khadijah ke suatu tempat, berhubung hari minggu. Karena Hafizha akan pergi latihan main piano yang ditemani Abdullah. Sedangkan Arjuna dan Cahaya mereka pasti akan berlibur bersama, istilahnya quality time bersama keluarga tercinta saat libur kerja. Jika kalian bertanya Ahtar, pasti ia akan melakukan kegiatan diluar sebagai fotografer.
“Tanya apa, Hubby?”
“Kenapa semalam Neng menangis? Apa ... tangan Hubby terlalu kencang meluknya ya?”
“Tidaklah, Hubby.”
“Lalu? Katakan saja kenapa!”
“Neng ... mendengar doa Hubby saat sholat tahajud. Dan Neng merasa ... Hubby sedang menyembunyikan sesuatu dari Neng.”
__ADS_1
Seketika Khadijah menundukkan pandangannya. Kembali air mata menggenang di pelupuk matanya. Ingin ia segera menepiskan semua itu, tetapi keburu tangan Yulian mengarah ke dagu Khadijah dan perlahan mengangkat wajahnya yang tengah mendung.
Untuk menenangkan Khadijah, Yulian memberikan pelukan untuknya. Khadijah menangis menderu dalam. delapan Yulian. Ia kembali megingat rasa yang begitu rumit saat dijalankan. Akan tetapi tetap disukai dan dipertahankan jika waktu tetap berpihak kepadanya.
“Katakan saja Neng, siapa tahu Hubby bisa mendapatkan solusi untuk masalah Neng. Agar Neng tidak menangis dan bersedih lagi.”
“ Satu detik...”
“Dua detik...”
“Tiga detik...”
“Hubby, Neng merasa tidak becus sebagai seorang istri. Saat suaminya mengalami masalah ... Neng tidak tahu sama sekali....”
Ucapan Khadijah seketika terhenti, karena jari Yulian bertengger di bibir Khadijah.
“Itu bukan salah, Neng. Hubby hanya tidak ingin membebani Neng saat hamil besar seperti ini. Karena ada yang harus kita jaga bersamanya, yaitu ini.” Yulian mengelus perut Khadijah yang sudah semakin besar.
Meskipun seperti itu tetap saja, Khadijah masih merasa bersedih. Ia merasa tidak berguna bagi seorang suami, harusnya ia bisa menjadi istri yang mampu membantu suami, walaupun hanya sekedar masukan semata.
Dan kembali Khadijah berpotres, ”Tapi Neng istri Hubby, setidaknya Hubby memberitahukan Neng semua itu. Bukan malah memendamnya sendiri.” Yulian tersenyum tipis.
“Neng, Hubby tahu Neng adalah istrinya Hubby. Tapi inilah kewajiban Hubby saat menjadi pemimpin rumah tangga. Menyimpan seberat apapun beban yang tengah dihadapi... Hubby harus kuat untuk menopangnya.”
“Allah menciptakan bahu lelaki lebih kuat daripada seorang wanita. Dan lelaki adalah pelindung bagi wanitanya seperti surat An-Nisa' ayat 34.”
“Ar-rijālu qawwāmụna 'alan-nisā`i bimā faḍḍalallāhu ba'ḍahum 'alā ba'ḍiw wa bimā anfaqụ min amwālihim, faṣ-ṣāliḥātu qānitātun ḥāfiẓātul lil-gaibi bimā ḥafiẓallāh, wallātī takhāfụna nusyụzahunna fa'iẓụhunna wahjurụhunna fil-maḍāji'i waḍribụhunn, fa in aṭa'nakum fa lā tabgụ 'alaihinna sabīlā, innallāha kāna 'aliyyang kabīrā.”
“Artinya: Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”
Khadijah menatap mata teduh Yulian yang selalu membuatnya merasa nyaman saat menatapnya. Memberikan keteduhan dan kedamaian bagi Khadijah dalam binar matanya, dan saat itu juga begitu kentara jika Yulian tidak ingin Khadijah merasa terbebani atau ikut bersedih atas apa yang sudah membuat kerugian yang cukup besar dari supermarket mini miliknya. Meskipun uang Yulian pada akhirnya tidak akan pernah habis, tapi uang di dalam supermarket mini miliknya adalah sebagian besar gaji untuk para peburuh di sana.
Dan saat itu juga Yulian menceritakan kepada Khadijah sebagaimana kejadian itu. Karena tetap saja meskipun Yulian sudah melarang Khadijah untuk tidak ikut memikirkan hal itu, tapi rasa ingin tahu Khadijah terlalu tinggi, sehingga pada akhirnya Yulian pun menceritakan hal itu.
“Bagaimana kalau pencuri itu kembali lagi jika Hubby tetap tidak melaporkan Dia ke polisi?”
“Sabar ... itu adalah kunci utama kita sebagai hamba-Nya. Ingatlah satu hal Neng, ada hikmah dibalik suatu kejadian. Allah tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Percayalah!”
Khadijah mengangguk. Dan kini tawa bahagia telah menyelimuti mereka saat melihat pemandangan sebuah taman yang terhiasi dengan rerumputan yang hijau. Bahkan mereka selalu berswafoto dalam setiap momen dan pemandangan di Taman Meadows, Edinburgh.
__ADS_1