Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
BAB 67 “TC”


__ADS_3

“Ana uhibbuka fillah...”


Kembali Ahtar memimpikan kalimat itu yang diucapkan oleh seorang wanita, tetapi wanita itu jelas bukan Humaira. Bahkan cara berpakaian pun tidak tertutup layaknya Humaira yang memakai cadar. Dan mimpi itu membuat Ahtar selalu terbangun di sepertiga malam. Dalam dua rakaat tahajud nya Ahtar meminta kepada Allah untuk dipertemukan dengan gadis itu secepatnya.


Setelah menunaikan dua rakaat di sepertiga malam Ahtar memutuskan untuk kembali tidur. Karena esok hari ia harus kembali bekerja di sift pagi sampai sore dan hari itu juga Ahtar akan ada operasi sampai dua kali, yang membutuhkan waktu hingga kurang lebih tiga jam lamanya dalam setiap operasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aa... keranjangnya di taruh saja di sisi kanan. Kan, lebih enak Neng jangkau nya kalau tengah malam Abizzar menangis.” Khadijah menunjuk ke sisi kanan tempat tidurnya.


Dan sesuai dengan permintaan Khadijah, Yulian. menggeser keranjang bayi yang terbuat dari kayu itu ke sisi kanan tempat tidurnya. Setelah itu Khadijah berganti di bagian penghias, beberapa mainan sengaja di gelantungkan di atas agar Abizzar bisa melihatnya nanti.


“Alhamdulillah, akhirnya sudah selesai.” Yulian menghempaskan nafasnya.


Setelah dirasa sudah cukup Yulian dan Khadijah kini bersiap untuk menjemput sangat buah hati di rumah sakit. Sedangkan Cahaya dan Humaira tinggal di rumah, karena di rumah pun masih ada sedikit perkejaan lainnya yang harus diselesaikan.


“Hubby, Neng maunya nanti Abizzar di gendong Neng saja ya!” rengek Khadijah.


“Iya, terserah Neng saja.” Yulian mengusap puncak kepala Khadijah.


Yulian dan Khadijah pun masuk ke rumah sakit dan menelusuri lorong rumah sakit lalu menuju ke ruangan khusus bayi. Di sana ada dua perawat yang tengah memakaikan pakaian untuk Abizzar dengan pakaian khas bayi. Setelah usai salah satu perawat itupun mengajak keluar Abizzar dan memberikannya kepada Khadijah yang sudah siap untuk menggendongnya.


“Pak, silahkan temui bagian administrasi nya.” Perawat itu menunjukkan beberapa lembar kertas kepada Yulian.


“Baik, sus.” Yulian mengangguk.


Yulian megekori perawat itu dari belakang dan menuju ke bagian administrasi. Sedangkan Khadijah memilih berjalan kaki menuju di mana mobilnya telah diparkir kan.


“Sayangnya Bunda, kita akan pulang ya, Nak!”


Khadijah berceloteh panjang di depan Abizzar saat menunggu Yulian yang masih belum datang. Meskipun Abizzar tidak mengerti apa yang dikatakan Khadijah, tetapi tetap saja Khadijah menunjukkan rasa sayangnya itu. Yang membuat Abizzar terkadang tersenyum dan kadang juga menangis.


“Oek... Oek... Oek...”


“Oh sayang, Abizzar haus ya! Sini Bunda kasih susu ya sayang!”


Khadijah memberikan asinya kepada Abizzar dan seketika Abizzar menyeduh nya dengan kuat, sampai-sampai Abizzar tertidur dengan pulas dalam gendongan Khadijah.


“Neng, ayo kita pulang.” Yulian masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan pelan.


Sekitar kurang lebih satu jam lamanya akhirnya Yulian dan Khadijah pun sampai di rumahnya. Dan kedatangan mereka disambut meriah oleh Cahaya, bik Inem, Humaira dan juga Hafizha. Kebetulan Hafizha sudah pulang sekolah, karena ujian Hafizha bisa pulang lebih awal.


“Abi, boleh tidak jika Izha gendong dedek bayinya?”

__ADS_1


“Boleh dong sayang, kan Abizzar adeknya kak Izha juga.” Sambung Khadijah sembari mengulas senyum.


Biarpun Khadijah kini sudah menjadi istri dari Yulian, tetapi Hafizha masih belum terbiasa meminta ijin ketika hendak melakukan kegiatan apapun, hanya kepada Yulian dan kedua kakaknya saja Hafizha sering meminta ijin. Dan Hafizha pun juga masih belum mengetahui jika Khadijah adalah ibu kandungnya.


“Izha gendong keluar ya bersama kak Cahaya.” Ijin Izha, lalu Abizzar digendong keluar setelah Yulian mengangguk.


Dan di saat hanya ada Khadijah dengan Yulian di kamar, Yulian pun mengudarakan suaranya dan membahas hal pribadi mereka.


“Neng, mau sampai kapan Neng menutupi identitas asli Neng sebagai ibu kandung Hafizha?”


“Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya, Hubby. Biarkan saja Hafizha tahu dengan sendirinya, untuk saat ini biarkan nama Aisyah yang menyandang sebagai ibu kandungnya.”


“Bagi Neng, memang nama Aisyah yang pantas melekat di hatinya. Neng tak apa, berada di sampingnya saja sudah cukup.” Khadijah mengangguk, meyakinkan Yulian.


Yulian mengulas senyum, lalu mengusap lembut puncak kepala Khadijah dan merengkuhnya dalam pelukan. Yulian merasa beruntung saja mendapatkan wanita yang dulu pernah di sia-siakan. Dan hati serta matanya mampu dibukakan atas ijin Allah melalui tahajud nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ahtar, abang lihat kamu sepertinya sedang risau seperti itu. Ada apa?”


Saat hendak pulang Arjuna menjumpai Ahtar yang tengah duduk melamun di lobi rumah sakit. Hingga membuat Arjuna tertarik untuk duduk di sampingnya.


“Ah... Bang Juna.”


“Ada apa, hmm? Kamu tidak bisa menipu Abangmu ini.” Arjuna menatap lekat netra Ahtar.


“Ahtar hanya... merasa tidak suka saja ada Humaira. Hati Ahtar tercubit bang, melihat seorang gadis yang begitu beraninya menatap yang bukan makhramnya.” Dengus Ahtar.


Arjuna menghela nafasnya, ia mencerna apa yang dikatakan Ahtar. Di mana Arjuna juga merasa ada benarnya atas apa yang dikatakan Ahtar. Namun, Arjuna juga tidak bisa berbuat apapun atas apa yang terjadi, sama seperti Ahtar sendiri. Dan mau tidak mau Ahtar harus pulang juga ke rumah.


“Hati-hati di jalan. Jangan terlalu dipikirkan dengan kehadirannya, serahkan saja semua kepada Allah. Karena hanya Allah yang Maha Mengetahui.” Arjuna menepuk pundak Ahtar.


Ahtar mengangguk, lalu ia berpisah dengan Arjuna. Meskipun mereka searah dan serumah, tetapi mereka memutuskan untuk berangkat dan pulang sendiri-sendiri. Arjuna memilih mengendarai mobil sebagai kendaraannya, sedangkan Ahtar memilih mengendarai motor sport nya sebagai kendaraannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat adzan magrib sudah menderu dengan seru, Yulian bersiap untuk menjadi imam dalam sholat berjamaah yang digelar di rumahnya. Khadijah pun menyiapkan sarung, baju koko dan juga peci yang diletakkan di atas kasur.


“Makasih ya Neng, sudah mau menyiapkan semuanya untuk Hubby.” Yulian merengkuh jemari Khadijah.


“Itu sudah menjadi kewajiban Neng sebagai seorang istri. Sudah sana gih, dipakai tuh bajunya terus ambil air wudhu. Keburu ditungguin sama anak-anak.”


“Iya... iya... baru mau berduaan saja, eh malah diusir secara halus.” Yulian manyunkan sedikit bibirnya.

__ADS_1


Khadijah hanya tertawa geli melihat wajah Yulian yang tengah merajuk bagaikan anak kecil yang tidak dibelikan permen.


Dan ketika semuanya sedang menunaikan ibadah sholat maghrib, Khadijah masih menikmati kebersamaannya dengan Abizzar. Karena Khadijah masih dalam masa nifas, sehingga tidak diijinkan untuk melakukan kewajibannya sebagai muslimah.


“Neng mau ikut makan bersama atau mau di antar saja ke kamar makanannya, hmm?”


“Neng makannya nanti saja Hubby, tapi tidak perlu di antar ke kamar. Nanti Neng ambil sendiri saja di dapur.”


Yulian manggut-manggut, lalu ia keluar dan menutup pintu kamarnya kembali. Setelah itu Yulian menuruni anak tangga untuk menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada seluruh anggota keluarganya, bik Inem, Abdullah dan juga Humaira yang duduk dengan rapi.


Seperti biasa, Yulian memimpin do'a sebelum acara makan malam bersama dilangsungkan dengan rasa syukur agar tercipta rasa khidmat di dalamnya.


“Neng, makan dulu yuk!”


Yulian membawakan sepiring nasi dengan lauk sayur bayam dan juga ayam goreng. Lalu ia membangunkan Khadijah yang tanpa sengaja ikut tertidur saat menyusui Abizzar.


“Iya, Hubby.” Perlahan netra Khadijah mengerjap, lalu terbuka dengan sempurna.


“Kenapa dibawain makanan? Tadikan, Neng bilangnya mau ambil sendiri.” Terlihat begitu kentara wajah Khadijah yang masih merasa kantuk.


“Tak apa kan jika, Hubby membawakannya. Lihat tuh, sampai ketiduran begitu. Kalau tengah malam Abizzar merasa lapar dan Bundanya belum isi perut bagaimana? Lagipula masa iya Neng mau ambil nasi dan lauk sambil merem.”


Khadijah berhasil dibuat tertawa oleh Yulian, bahkan tawanya lepas begitu saja dan membuat Abizzar terbangun.


“Oek... Oek... Oek...”


Segera Yulian meraih Abizzar ke gendongannya untuk menenangkan tangis yang memekik telinga. Dan saat Yulian masih berusaha menenangkan Abizzar, Yulian meminta Khadijah untuk segera mengisi perutnya dengan makanan yang sudah dibawa tadi.


“Anak Abi kenapa melek terus? Kok tidak tidur-tidur sih. Apa mau... dibacakan sholawat saja, Nak?”


“Ho... ho...” Beberapa kali Abizzar merespon yang dikatakan Yulian dengan menggerakkan bibirnya dan bersuara meskipun hanya kata ho saja.


Dan Yulian pun menenangkan Abizzar dengan membacakan sholawat sampai beberapa kali, hampir membuat kaki Yulian merasa pegal karena sudah dua jam lebih berdiri. Dan tepat pukul sepuluh malam Abizzar akhirnya tertidur juga. Setelah tidur Yulian merebahkan tubuh mungil Abizzar di atas ranjang yang sudah disiapkan tadi.


“Akhirnya... sudah tidur juga.” Yulian bernafas lega.


“Apa Hubby sudah merasa capek?”


“Sebenarnya kaki Hubby yang terasa pegel. Tapi tak apalah, Abizzar juga merasa nyaman bahkan tangisnya hilang kalau dibacakan sholawat.” Yulian mengulas senyum saat netra elangnya masih menatap tajam wajah Abizzar yang masih begitu kecil.


“Ya sudah, sini Neng pijitin kakinya.” Khadijah menepuk pelan kasur empuknya.


Yulian menuju di mana Khadijah memintanya untuk duduk di atas ranjang yang tidak jauh dari posisi ia duduk saat itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2