
Khadijah terkejut saat melihat bingkisan yang dibawa oleh Yulian untuknya. Bahkan membuat mata Khadijah berkedip-kedip saat melihat es krim yang dibelikan Yulian khusus untuk nya. Di mana es krim itu di bentuk love dengan rasa warna-warni, ada strawberry, mangga, melon dan juga nanas.
”Bagaimana, suka kan?”
Khadijah mengangguk-ngangguk tanpa mengeluarkan suara. Dan Arumi merasa iri saat melihat es krim milik Khadijah yang seakan meleleh di hati. Bahkan Arumi baru tahu kalau Yulian bisa se romantis itu dengan Khadijah setelah kepergian Aisyah.
”Yulian itu so sweet ya. Eh, ngomong-ngomong ... kamu tidak marah sama Yulian setelah di mall waktu itu?”
Es krim yang melumer di mulut Khadijah seketika terhenti. Dengan segera Khadijah menelan es krim itu lalu mengobrol dengan Arumi setelah berada di kantin rumah sakit. Dan Arumi selalu mendengarkan cerita Khadijah yang terdengar begitu menarik baginya.
”Tidak. Awalnya sih iya tapi ... setelah main hujan-hujannan berdua jadi nggak marah. Bahkan maunya main hujan-hujannan berdua lagi.” Khadijah nyengir.
”Hujan-hujannan? Perasaan tidak ada hujan dari satu minggu lalu sampai sekarang.”
Arumi telihat bingung dengan apa yang dikatakan Khadijah. Sedangkan Khadijah hanya terkekeh melihat kebingungan yang di alami Arumi. Ingin rasanya Khadijah menceritakan semuanya apa yang terjadi antara dirinya dengan Yulian. Namun, itu bukanlah hal yang harus diumbar kan? Cukup dirinya, Yulian dan Allah yang mengetahui bagaimana mereka beradu di bawah kucuran air dingin saat berada di kamar mandi.
Khadijah melanjutkan makan es krim nya yang hampir meleleh. Meleleh di luar dan dalam, sehingga kenikmatan yang dirasakan Khadijah menjadi double.
------
”Yulian, kamu apakan Khadijah kok bisa seperti itu?” bisik Tristan.
Yulian tidak hanya datang sendirian di rumah sakit, Tristan pun ikut dengannya setelah tahu bahwa Arumi berada di sana. Dengan rasa penasaran yang membuncah Tristan pun bertanya kepada Yulian tips apa yang sudah membuat Khadijah bersikap manis terhadapnya. Seperti setiba di rumah sakit, Khadijah terlihat manja kepada Yulian setelah melihat bingkisan yang dibawa olehnya.
”Cukup es krim saja. Kan, aku beli dua es krim buat Hafizha dan juga Khadijah. Sudah, begitu saja.”
Tristan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh Tristan dibuat bingung dengan jawaban Yulian.
__ADS_1
’Masa iya cuma hanya es krim saja sudah buat Khadijah seperti itu?’ batin Tristan.
Yulian mengacuhkan Tristan yang masih terlihat bingung dengan apa yang sudah dikatakannya. Lalu, kaki Yulian melangkah menuju ke brangker Cahaya. Di mana di samping Cahaya selalu ada Arjuna yang setia menemani Cahaya 24 jam. Itulah sifat yang ditanamkan oleh Yulian dalam diri Arjuna. Menjadi suami yang harus siap siaga jika istri membutuhkan bantuan suami, seperti saat ini.
”Bagaimana, Cahaya? Sudah jauh lebik baik?”
”Sudah baik kok, Pa. Hanya masih nyeri saja di bagian perutnya, mungkin itu bekas jalannya operasi kemaren.”
”Iya, yang sabar saja. Karena itulah keistimewaan seorang wanita, meskipun nanti akan berubah dalam bentuk tubuh, wajah dan cara berpenampilan tetapi ... seorang wanita akan tetap yang menjadi utama dan di agungkan.” Cahaya manggut-manggut, membenarkan perkataan Yulian.
”Juna, sudah makan belum? Kalau belum, tadi Abi bawa makanan. .. bisa kamu makan.”
”Sudah kok, Bi. Tadi saat Cahaya ditemani Bunda sama yang lain Arjuna pergi ke kantin sebentar untuk membeli makan.”
Yulian mengangguk dan menepuk pelan bahu Arjuna. Setelah itu Yulian mengambil duduk di sofa untuk melepas rindu bersama Ahtar yang masih berjarak sangat jauh dengannya, tetapi tetap dekat di hati seorang ayah dan anak.
’Ya sudahlah! Mungkin saja Dia sedang sibuk.’ batin Yulian.
Karena menghubungi Ahtar begitu sulit, Yulian melanjutkan langkah ke mushola yang ada di rumah sakit untuk menanti sholat ashar. Secara jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dan tidak lama kemudian terdengar suara adzan dari Masjid yang berada di luar rumah sakit. Begitu mendengar suara adzan Yulian segera menunaikan sholat ashar.
’Ya Allah... Ya Robbi, hanya kepada-Mu aku mengadu, mengeluh dan meminta. Dan kini aku sangat berterima kasih atas harta berharga yang sudah Engkau titipkan dalam hidupku.‘
’Cinta untuk Khadijah dan juga anak-anak akan selalu aku jaga, membahagiakan dan menjaga tawa mereka ingin selalu aku perjuangkan. Semoga Engkau... selalu memberikan aku kelancaran dalam mengarungi semua kehidupan.’
Tidak lupa setelah sujud terakhirnya Yulian meminta kepada Allah dengan melangitkan do'a. Setelah do'a di amini olehnya, Yulian kembali ke ruangan Cahaya dan meminta Khadijah, Hafizha dan bik Inem untuk pulang. Sedangkan Yulian sendiri ingin ikut menemani Arjuna.
”Neng kan, masih pengen disini loh, Hubby. Masa disuruh pulang.”
__ADS_1
Khadijah memanyunkan bibirnya sedikit ke depan.
”Neng Khadijah, Hubby hanya tidak mau kamu merasa lelah. Jadi, pulang saja ya sama Hafizha dan bik Inem, nanti di antar sama Abdullah.”
”Lha terus, Hubby tidak ikut pulang gitu?”
”Tidak. Maaf ya, Hubby harus menemani Arjuna menjaga Cahaya.”
Sebenarnya rasa tidak ikhlas telah terukir di dalam hati Khadijah. Akan tetapi mau tidak mau ia harus menuruti perkataan sang suami. Karena ridho suami sama dengan ridho Allah. Dan jika melanggarnya maka akan berdosa, dosa besar bagi seorang istri.
Sebelum membiarkan Khadijah melangkah keluar dari ruangan, Yulian tengah berbisik kepada Khadijah.
”Tak apa kan, jika Hubby tetap disini? Dan ada kejutan juga buat kamu dan Hafizha di rumah yang sudah menanti.” Seketika netra kecoklatan Khadijah membulat dengan sempurna.
”Ya sudah, keburu maghrib nanti. Hati-hati di jalan!”
Kecupan pun mendarat di kening Khadijah. Tak lupa juga Arjuna mencium punggung Khadijah sebagai rasa hormat antara yang muda kepada orang yang lebih tua. Dan akhirnya Khadijah kembali pulang di antar kembali oleh Abdullah.
Yulian dan Arjuna duduk di sofa ruangan itu seraya membahas tentang pekerjaan yang akan dilamar oleh Arjuna. Karena sangat dirasa tidak mungkin jika ia akan meninggalkan Cahaya bersama Garda di Edinburgh sendirian. Sehingga Arjuna ingin melamar pekerjaan di salah satu rumah sakit, salah satunya rumah sakit tempat Garda dilahirkan. Dan rencana selanjutnya Arjuna ingin memiliki tempat tinggal sendiri, bukan berati tidak mau tinggal bersama di rumah Yulian. Akan tetapi, Arjuna memiliki alasan tersendiri yaitu tak ingin mengganggu hubungan rumah tangga Yulian dan Khadijah yang memang perlu merajut cinta bersama.
”Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusan kamu maka ... Abi akan usahakan mencari rumah untuk kalian.”
”Terima kasih, Abi. Dan nanti kami akan sering berkunjung untuk menjenguk Abi, Hafizha dan Bunda.”
”Tapi jika kami yang merindukan kalian, maka kami yang akan datang. Karena Garda juga masih terlalu kecil untuk di ajak perjalanan terus menerus.” Arjuna manggut-manggut membenarkan perkataan Yulian.
Setelah malam kian melarut akhirnya Yulian mengakhiri percakapan dengannya bersama Arjuna. Kini mengambil posisi untuk merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
__ADS_1