
Baju gamis itupun sudah selesai dibungkus dengan indahnya. Setelah itu Yulian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Dan sore itu tiba-tiba langit berubah menjadi mendung hitam, menandakan bahwa hujan akan segera turun. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi Yulian jika saja ia akan kehujanan di jalan nanti. Karena jelas Yulian akan berlindung di dalam mobil.
“Derrr... Derrr...”
Tiba-tiba suara petir telah menggetarkan seluruh jiwa manusia yang mendengarnya dan rasa takut pun sudah pasti singgah di tubuh mereka. Karena suara itu jelas terdengar, bagaikan di atas kepala Yulian saat itu juga.
“Astaghfirullah hal azim, Ya Allah... aku hanya bisa berpasrah kepadaMu saja.” Yulian tetap berusaha fokus dalam menyetir.
Sore itu memang jalanan tampak sepi, hanya beberapa saja yang melintas saat hujan turun dengan lebatnya. Dan dengan sangat hati-hati Yulian mengemudikan mobilnya karena jalanan yang cukup licin akibat derasnya hujan. Dan saat berhenti di lampu merah Yulian mengedarkan pandangannya ke sekitar area jalan itu hingga pandangannya tertuju pada seseorang. Bahkan Yulian menatap tajam seorang lelaki yang tengah berdiri di pinggir jalan sisi kiri.
“Tidak mungkin Dia kembali lagi. Tapi... itu seperti Dia.” Ada rasa tidak nyaman di dalam hati Yulian saat mengingat dengan kasat mata lelaki yang berada sisi kiri jalan itu.
Lampu merah telah berganti hijau, membuat Yulian harus melajukan kembali mobilnya dan akhirnya hanya wajah samar saja yang ia dapatkan tanpa memastikan siapa lelaki yang berdiri di sana.
“Ya Allah, lindungilah keluargaku. Semoga saja lelaki itu bukanlah Dia.” Yulian terus bergumam dalam hati.
Tidak lama kemudian Yulian akhirnya sampai di rumah. Kedatangannya sudah disambut oleh anak, istri, menantu bahkan cucunya. Dan setiap orang mendapatkan hadiah yang dibungkus dengan paper bag termasuk Abdullah dan bik Inem. Akan tetapi yang diberi hadiah khusus adalah Khadijah dan Hafizha. Dua wanita itu lah yang selalu diutamakan oleh Yulian. Khadijah sebagai seorang istri yang patut untuk dijadikan ratu, sedangkan Hafizha adalah putri dari ratu itu.
“Hubby, ini bagus sekali! Pasti mahal ya?” tanya Khadijah setelah menenteng gamis itu.
“Neng, semahal apapun barang itu pasti Hubby akan membelinya. Terutama apa yang Neng suka, pasti Hubby akan berusaha untuk memanuhinya.” Yulian merengkuh jemari Khadijah.
”Hubby, bukan itu yang Neng minta. Ya... alhamdulillah Neng bersyukur karena memiliki suami seperti Hubby yang tidak pernah kekurangan apapun. Bahkan kebutuhan dan keinginan Neng bisa terpenuhi saat ini juga. Tapi... Neng sudah terbiasa hidup mandiri.”
“Dan Neng belajar dari kemandirian itu, di mana Sang Nabi tidak menolok ukur seberapa kaya kita sebagai umat-Nya. Dan Shahih Muslim Juz 4 hal. 1987 no. 2564 pun menyebutkan akan hal sama.”
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa kalian dan tidak juga harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian.”
Yulian tersenyum mendengar Khadijah memaparkan apa yang dipahami nya tentang Islam dan juga isinya. Dan apa yang diinginkan Yulian akhirnya terwujud, melihat sisi lembut dan yang paling lembut dari Khadijah. Namun sayang, Yulian tidak tahu siapa yang akan menemaninya saat di surga nanti. Mengingat istri pertamanya adalah Aisyah.
“Dan Nabi Yunus pun memiliki dzikir yang ampuh dan bahkan sangat ampuh dalam menghilangkan kesusahan, kesulitan dan rasa takut.”
“Laa ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.”
__ADS_1
Yulian kembali tersenyum, begitu juga dengan Khadijah yang ikut tersenyum setelah Yulian membaca dzikir dari Nabi Yunus. Dan ilmu Islam Khadijah bertambah, karena ia belum mengetahui akan dzikir Nabi Yunus selama mempelajari Islam.
“Mungkin Neng benar dengan apa yang Neng katakan itu. Tapi Neng harus tahu, wajib bagi seorang suami menjadikan istrinya layaknya ratu dan membahagiakan istrinya itu. Karena setiap perbuatan yang dilakukan seorang suami termasuk pekerjaannya, akan dilancarkan jika istrinya meridhoi serta mendoakannya.”
Khadijah tersenyum, ia merasa tersanjung dengan setiap ucapan yang Yulian lontarkan dengan tutur begitu lembut. Membuat Khadijah pasrah saat Yulian mulai melepas tali ikatan cadar nya.
‘Ya Allah, kenapa jantungku seperti ini? Seperti pada saat pertama Dia melakukannya.’
Hati Khadijah beedetak tak beraturan, merasakan seperti saat pertama kali Yulian melakukan hal itu pada saat hendak melakukan malam pertama setelah pernikahannya hampir satu bulan.
Setelah membuka taki cadar itu Yulian menariknya hingga terlepas, wajah Khadijah pun terlihat begitu jelas. Paras cantik yang bercahaya membuat Yulian betah menatapnya. Dan saat Yulian ingin mengecup bibir Khadijah yang merah merona tiba-tiba saja petir kembali menyambar. Terdengar begitu keras, hingga Khadijah beralih ke Abizzar yang berada di ranjangnya.
‘Ya Allah, sungguh aku seorang hamba yang tidak bisa menahan nafsu yang menggebu saat melihat paras cantiknya bidadari dunia.’ Yulian bergumam di dalam hati.
“Neng, Hubby mau mandi dulu! Tapi Nneg jangan pergi dari kamar dan juga jangan memakai lagi cadar nya. Ingat, pesan suami itu penting.” Yulian pun masuk ke kamar mandi.
“Iya, Hubby.” Khadijah terkekeh geli.
“Neng duduk saja di sini, Hubby mau sholat dulu!”
“Iya, Hubby.” Khadijah mengangguk.
Yulian menuju ke mushola kecil yang ada di rumahnya. Dan satu persatu anak dan menantunya berdatangan mengisi ruangan itu untuk melakukan sholat maghrib berjama'ah. Dan begitu pula Humaira pun juga ikut berada dalam barisan makmum wanita.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Yulian menoleh ke kanan laku ke kiri.
Dan makmum pun mengikuti pergerakan sholat Yulian. Dan setelah itu Yulian membacakan dzikir yang bisa menghapus dosa meskipun dosa tersebut sebanyak buih lautan. Kembali makmum mengikuti Yulian membaca dzikir.
“Subhanallah wabihamdihi.”
Dan setelah lima belas menit kemudian sholat dan bacaan dzikir sudah selesai mereka tunaikan. Dan berlanjut ke acara makan malam bersama yang sudah disiapkan oleh Cahaya, bik Inem dan juga Humaira.
Seperti biasa, Yulian memimpin bacaan doa sebelum makan dan yang lain menengadahkan tangan mereka, ketika doa usai dibacakan mereka mengaminkan doa itu. Berterimakasih atas kenikmatan yang sudah diberikan Allah SWT kepada mereka.
__ADS_1
Tidak ada suara yang terdengar di dalam ruangan itu, begitu juga dengan bunyi piring yang berdenting. Tidak ada sama sekali, dengan begitu pelan dalam mengambil nasi yang dimasukkan ke dalam sendok. Makan pun mereka jaga dalam setiap mengunyah agar tidak menimbulkan bunyi. Karena hal semacam itu adalah hal yang dicintai Allah dan Nabi Muhammad.
“Neng, makan dulu gih! Abizzar biar Hubby saja yang menggendongnya. Lagipula Abizzar juga sudah dari tadi tidurnya, sekarang giliran waktunya bermain dengan Abi nya.” Yulian mengulas senyumnya saat berada di hadapan Abizzar yang belum mengerti apa itu senyum.
Khadijah hanya geleng-geleng saja melihat Yulian yang berusaha menghibur dan mengajak Abizzar bermain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bang, jajan yuk! Enak tuh kalau makan yang hangat-hangat setelah hujan begini.” Hafizha tersenyum begitu manis.
“Jajan apa sih, Dek?”
“Jajan... Cilok.” Hafizha nyengir.
“Mana ada jajan begituan, Dek? Yang ada hanya di Indonesia paling banyak membuat makanan seperti itu. Lagian, kenapa tidak buat saja sendiri, lebih higenis jika itupun ada di luaran sana.” Ahtar manoel janggut Hafizha.
“Ya sudah, bang Ahtar yang buat ya! Adeknya yang lihatin, kalau sudah jadi tinggal bantuin makan.” Hafizha senyum pepsodent, memperlihatkan sederet giginya yang rapi.
Dan Ahtar tidak bisa menolak permintaan Hafizha, karena sayangnya sangat besar terhadap Hafizha. Hingga apapun yang diminta Hafizha pasti terpenuhi, tetapi bukan berarti Ahtar ingin memanjakan Hafizha. Hanya saja menyayangi Hafizha saat mengingat tidak mendapatkan kasih sayang sang ibu sadari kecil. Dan bertemu dengan Khadijah itupun sudah berusia dua tahun.
Ahtar dan Hafizha menuju ke dapur, segera mengeksekusi bahan yang ada di dapur dan apa saja yang diperlukan untuk membuat cilok. Makanan yang sangat diinginkan oleh Hafizha sebagai cemilan malam setelah hujan.
“Coba baca tuh apa saja yang dibutuhkan bahannya, dek.” Tunjuk Ahtar pada ponselnya.
“Pertama tepung tapioka. Terus bumbu yang lengkap, sambal kacang, kecap dan juga saus.” Hafizha membacakan resep yang diperlukan seperti yang ada di dalam ponsel Ahtar.
Ahtar mulai membuat dengan pertama menuangkan tepung tapioka ke dalam baskom. Setelah itu diberi bumbu lengkap tak lupa air hangat untuk melembutkan adonan. Dan saat adonan belum merata, Hafizha mengambil sedikit lalu di colek kan ke hidung Ahtar yang mancung.
“Dek, kotor. Apa-apaan sih?”
Ahtar merasa jengkel hidungnya terlihat kotor karena tepung. Dan Ahtar ber antusias ingin membalas perbuatan Hafizha yang ikut mencolek hidung Hafizha dengan tepung yang sama. Sehingga adonan cilok tak selesai dibuat karena kebanyakan canda dan tawa di antara Ahtar dengan Hafizha. Dan saat itu ada bibir yang tertarik dengan sempurna saat melihat tawa lepas itu.
Bersambung...
__ADS_1