Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 57


__ADS_3

Yulian mengangguk, lalu Khadijah menyuapi Yulian dari tangan manisnya. Begitu indah, begitu membuat semuanya merasa iri. Terasa begitu nikmat saat sesuap demi sesuap masuk ke dalam mulut Yulian. Seperti pada jaman Nabi Muhammad dulu, makan dengan romantisnya bersama istri tercinta.


“Bagaimana, enak?” tanya Yulian memastikan.


Khadijah hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang ia makan, haggis sebagai makanan yang di dahulukan oleh Khadijah. Karena bayangan haggis begitu menggiurkan dan membuat Khadijah seketika merasa lalar. Hanya saja karena ada acara sejenak, makan haggis pun ditunda. Dan setelah merasa kenyang, Khadijah melanjutkan makan cranachan.


‘Ternyata makannya banyak juga ya! Tapi tak apalah, aku akan menyadari bahwa di dalam. perutnya masih ada yang memerlukan amunisi.’


Yulian mengulas senyum, seakan ia merasa kenyang sendiri saat Khadijah begitu menikmati kelezatan Cranachan dalam setiap kunyahan.


“Pelan-pelan makannya, Neng.”


Yulian mengusap puncak kepala Khadijah. Dan Khadijah menebar senyum yang begitu merekah, yang terlihat jelas saat kedua matanya menyipit. Dan Yulian merasa gemas saat melihat Khadijah seperti itu.


“Neng, jangan lupa gosok gigi dulu kalau mau tidur ... setelah itu wudhu.” Pinta Yulian saat Khadijah masuk ke kamar.


“Iya, Hubby. Hubby tidak tidur?”


”Tidur dong, kalau tidak tidur besok ngantuk pas kerja.” Canda Yulian yang membuat bibir Khadijah ikut melengkung.


Karena merasa gemas dengan candaan Yulian, Khadijah mencubit perut Yulian yang seperti iklan Elemen itu. Begitu kentara bagaimana poster tubuh Yulian saat baju yang membalut tubuh nya ia lepas. Dan tidak ada wanita yang tidak akan tergoda saat melihat bagaimana kerennya Yulian malam itu.


“Hubby kenapa buka baju seperti itu? Mau godain penulis nya ya?”


Ngalamat Khadijah merajuk karena cemburu buta dengan penulisnya...


”Tidaklah, buat apa Hubby godain penulisnya. Lagian sih ... penulisnya saja yang minta Hubby untuk buka baju. Soalnya Dia sudah memberi saran ke Hubby untuk meredam hasrat dengan berdiri di bawah kucuran air dingin.”


”Hasrat? Hasrat apa, Hubby?”


”Hasrat ingin bercinta dengan kamu, Neng. Tapi Hubby dibisikin sama penulisnya ... kalau kehamilan yang masih dini begitu rentan untuk menjalin hubungan di ranjang. Memangnya benar ya pembaca, seperti itukah?”


Khadijah tidak bisa menipu dan menahan tawa setelah mendengar keluhan Yulian. Sejenak Khadijah mengelus rambut Yulian, lalu membiarkan Yulian melakukan apa yang sudah disarankan penulis kepadanya.


Di bawah kucuran air dingin malam itu Yulian selalu menebar senyumnya. Merasakan bahagia yang tiada tara meskipun hasrat yang menjalar ke aliran darah nya telah berdesir hebat, tetapi sekuat tenaganya ia mampu menahan demi buah hati yang masih kecil di perut Khadijah.


“Kok belum tidur, Neng? Sudah malam loh ini, hampir jam dua belas.”


Yulian menatap jam yang menempel di dinding kamarnya.


“Neng mau tidurnya dipeluk sama Hubby, tapi Hubby keluarnya lama. Ya ... Neng tidak bisa tidur dari tadi, nungguin Hubby.”


Yulian menarik nafasnya dalam.


”Kenapa tidak bilang, hmm?”


Seketika Yulian mengambil posisi dan menarik tubuh Khadijah hingga masuk ke dalam dekapannya. Dan Khadijah menelisik untuk mencari kenyamanan dalam dekapan tubuh Yulian yang memberi kehangatan. Hingga akhirnya Khadijah terpejam dan berganti ke duani mimpi. Begitu halnya dengan Yulian, ikut terpejam dengan sendirinya setelah merasa tubuhnya benar-benar kelelahan.

__ADS_1


“Pagi ini bukannya jadwal kontrol ke Dokter kandungan kan, Neng?”


“Iya, Hubby. Apa Hubby mau ikut?”


“Jelas itu tidak ingin terlewatkan. Hubby akan mengantar Neng ke rumah sakit terlebih dahulu, setelah itu mengantar pulang. Lalu ... Hubby akan kembali ke kantor.”


“Hubby akan muter-muter dong nanti. Kasihan ah, Hubby pasti capek nanti. Dan ke kantornya pasti kesiangan.”


“Tak apa.”


Setelah acara sarapan pagi sudah dilaksanakan Yulian bersiap untuk mengantar Khadijah ke rumah sakit. Memeriksakan kandungan Khadijah yang sudah memasuki empat bulan. Sehingga perut Khadijah sudah terlihat membuncit. Membuat Khadijah semakin sayang dan bahkan setiap pagi tak lupa Yulian memberikan kecupan ke perut Khadijah.


“Dokter, bagaimana dengan kandungan istri saya?”


“Hmm ... begitu penasaran banget sih, Abi. Tidak sa... ba... ran.” Ujar Arjuna penuh dengan penekanan.


Khadijah tertawa kecil saat putra sambungnya kembali menggoda Yulian. Karena dengan candaan yang akan menimbulkan tawa, kedekatan antara ayah dengan putra-putrinya akan tercipta semakin erat. Apalagi setelah meninggalnya Aisyah, hanya Yulian lah yang selalu mengerti bagaimana perjuangan seorang ibu yang membesarkan anak-anak mereka dengan kasih sayang.


”Juna, jangan bercanda. Ini adik ku loh, jadi abang itu yang baik.”


“Jadi Bapak itu ... harus sabar.”


Tidak hentinya Yulian dan Arjuna saling menggoda satu sama lain. Tetapi tidak ada kemarahan sama sekali di antara mereka.


‘Baru kali ini aku merasakan hangatnya keluarga yang dipenuhi dengan canda tawa yang tidak pernah pupus dan memudar. Bukan seperti keluarga ku di kala itu.’ batin Khadijah saat mengenang kembali perpisahannya dengan ibu kandungnya.


“Alhamdulillah ... pergerakan bayinya begitu aktif. Detak jantungnya terdengar begitu kencang, menandakan adik aku sehat dalam kandungan Bunda. Pastikan Bunda terus meminum vitamin yang Juna berikan.”


Hadeh, ribetnya Yulian Dan Khadijah. Padahal bisa cek kandungan di rumah, lah ini malah repot-repot ke rumah sakit. Bikin capek saja harus keliling.


Tak apalah wahai penulis ... biarkan waktu kebersamaan Yulian dengan Khadijah begitu panjang sebelum Yulian harus ke kantor.


Penulis pun hanya bisa ... mencebik.


“Setelah periksa kandungan, mau kemana? Ada yang mau dikunjungi atau dibeli?”


“Mau ... makan es krim. Boleh kan, Hubby?”


“Boleh, asal tidak terlalu banyak. Okay, Neng...”


Khadijah mengangguk, mobil pun dihentikan setelah sampai di depan penjual es krim berbagai rasa. Dan terlihat binar mata Khadijah begitu bahagia saat masih di luar toko itu.


“Duduk saja, Neng. Hubby pesan kan dulu sesuai kesukaan Neng.”


”Iya Hubby, terimakasih.”


Yulian mengangguk, langkah pun ia lakukan menuju ke kasir pemesanan. Tidak lupa es krim berbagai rasa telah di pesan olehh Yulian, karena sejak pertama kali Yulian membelikan Khadijah es krim berbagai rasa, sejak itu pula Khadijah menyukainya. Bahkan dijadikan makanan favorit saat masa kehamilannya.

__ADS_1


“Mau makan disini atau ... makan setiba dirumah nanti?”


“Disini saja ya, Hubby. Neng merasa kaki Neng pegel.”


Yulian menghela nafas, lalu mengangguk mengiyakan permintaan Khadijah. Rasa tidak tega tiba-tiba hadir dalam diri Yulian, sehingga ia meminta Khadijah untuk meletakkan kakinya di atas pangkuannya.


“Malu sama semua orang, Hubby. Nanti dikiranya Neng istri yang manja dan tidak sopan sama suami.”


“Ini kan, permintaan Hubby sendiri Neng. Jangan pikirkan kata orang lain, karena kita pun tidak wajib menggunjing mereka secara diam-diam. Lagipula jika mereka membicarakan Neng, nantinya ... yang dapat pahala itu Neng. Iya, kan?”


Khadijah menurut saja, meletakkan kedua kakinya di pangkuan Yulian. Dan pijatan pelan telah dilakukan oleh Yulian agar kaki Khadijah tidak merasakan pegal lagi.


Sesampainya di rumah Yulian segera menancapkan pedal gas dan melajukan dengan kecepatan sedang. Biarpun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, Yulian tidak harus terburu-buru untuk dekat sampai di kantornya. Sebagai CEO besar, bebas kapan saja datang.


“Bagaimana, apa sudah ada hasil dari penjualan properti satu minggu lalu?”


“Seperti sebelumnya, kali ini penjualan semakin meningkat. Perusahaan mengalami keuntungan yang sangat luar biasa. Tapi ... ada sedikit masalah di bagian supermarket mini milikmu.” Yulian menautkan kedua alisnya.


”Maksud kamu apa, Tristan?”


Tristan menatap tajam Yulian. Seolah ada masalah besar di supermarket mini yang didirikan Yulian di sana.


“Kita kehilangan beberapa barang dan juga uang dibagian kasir.”


Dengan aturan nafas dan istighfar Yulian beruasah menenangkan diri dari berita yang begitu mengejutkan untuknya. Dan setelah mengetahui titik permasalahan di supermarket mini miliknya, Yulian seketika menuju ke sana.


Sudah hampir sore Yulian merajuk di ruang CCTV supermarket mini miliknya. Namun, di kamera tersebut tidak memperlihatkan dengan jelas siapa yang sudah berani mencuri barang yang bukan miliknya. Beberapa kali pegawai yang menjaga supermarket mini milik Yulian meminta Yulian untuk melaporkan kejadian pencurian itu. Karena yang mereka curi barang-barang yang dijual dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan uangnya yang hilang ada sepuluh juta.


Dan hal itu membuat Yulian mengalami kerugian. Tetapi Yulian tidak mendesah ataupun mengeluh atas kejadian itu.


“Biarkan saja, jangan laporkan apapun tentang hal ini kepada polisi. Karena kita tidak bisa melaporkan dengan gambar yang tidak jelas seperti itu. Bagaimana kita bisa yakin kalau itu perempuan atau laki-laki, wajahnya saja ditutupi dengan topi seperti itu.”


“Kenapa pak Yulian begitu baik dengan orang itu? Sedangkan Dia saja sudah membuat kerugian di toko ini.”


“Tidak masalah, jika kita ikhlas dalam menghadapi segala cobaan ini ...maka Allah akan lebih menyayangi kita sebagai hamba-Nya. Yakinlah, setiap hal yang terjadi ... tetap ada hikmahnya.”


Pegawai toko itu berdecak kagum, melihat Yulian sebagai atasannya tidak pernah menghakimi siapapun yang melakukan kejahatan kepadanya. Hati Yulian terlalu lumer kepada pencuri, terutama pencuri hatinya.


Yulian menutup kasus itu dan tidak membawanya ke kantor polisi. Akan tetapi, Yulian masih merasa penasaran dengan pemilik wajah di balik topi hitam yang menutupi wajah pencuri itu.


‘Jika aku memang mengenalnya aku hanya akan menegurnya. Tapi jika tidak, aku akan pasrahkan semuanya kepada-Mu.”


Yulian tidak mau membiarkan pikiran dan hatinya terkecai. Sehingga ia memilih untuk menghentikan mobilnya di Masjid, lalu ia mendirikan sholat ashar di sana. Tidak lupa membaca mushaf sebagai penenang hatinya.


Setelah usai melaksakan empat rakaat menjelang senja, kini waktunya kembali menemui sangat tambatan hati. Mengembangkan senyum itu hal yang selalu dilakukan oleh Yulian saat membuka pintu rumah, karena Khadijah lah yang selalu menyambut kepulangannya dari kantor.


Yulian juga selalu membawakan bingkisan kecil untuk diberikan kepada Khadijah. Karena pada dasarnya seorang istri akan merasa senang dibawakan bingkisan dari suami, meskipun di dalamnya hanyalah hal kecil, seperti sebuah buku tentang islam, buku novel dan buku bacaan lainnya. Karena Khadijah setelah dinyatakan hamil, ia selalu menggeluti hobinya, menjadi penulis novel islami dan ada juga beberapa diantara lainnya. Dan menjadi pengajar sudah Yulian larang, karena Yulian tidak mau Khadijah merasa kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2