Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
BAB 99 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

“Baiklah, Ahtar akan mengingatnya. Tapi... kalau boleh tahu seberapa besar Bunda mecintai Abi?”


Sejenak Khadijah terdiam, ia menarik nafas panjang sebelum mengatakan kepada Ahtar seberapa besar cintanya kepada Yulian. Cinta yang membuatnya tidak bisa lupa dengan sosok lelaki tampan, yang selalu di langit kan namanya dalam setiap sholat tahajud malam yang ditunaikan oleh Khadijah itu sendiri. Setelah Khadijah memantapkan untuk berhijrah, memperdalam agama Islam yang sempat ditinggalkan.


“Cinta itu indah Ahtar, dan cinta Bunda memang besar untuk Abi mu, tapi satu hal yang tidak bisa kita hilangkan sebagai manusia, yaitu besar cinta kita kepada Allah SWT itu lebih penting dan berharga. Karena... Allah yang selalu berkuasa, sebesar apapun cinta itu ketika Allah tidak merestui maka... tidak ada kata cinta untuk bersatu.” Terang Khadijah dengan tutur kata yang amat lembut.


“Iya, Bun. Apa yang Bunda katakan itu benar, tapi... Ahtar tidak pernah merasakan debaran yang aneh saat... dekat dengan Humaira. Tapi... Ahtar pernah merasakan debaran itu ketika... Dia datang.”


“Maksud kamu, Ahtar? Kamu sudah menemukan tambatan hati kamu? Siapa Dia? Sebagai seorang ibu Bunda boleh tahu, kan?” tanya Khadijah bertubi-tubi.

__ADS_1


“Masalahnya itu... Ahtar tidak bisa melihat dengan jelas gambaran tentang Dia, Bun. Soalnya... hanya mimpi.” Ahtar terkekeh.


Khadijah tersenyum saja melihat tingkah konyol Ahtar, dan itu membuat keduanya semakin akrab seperti seorang anak yang tengah berbincang dengan ibu kandungnya.


Ahtar meminta Khadijah untuk beristirahat karena hari sudah malam. Jam dinding pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan sebagai seorang dokter Ahtar mengerti pasiennya membutuhkan waktu untuk istirahat. Sehingga Ahtar menunggu Khadijah di luar agar Khadijah bisa tenang saat beristirahat.


“Aku rasa semua data dan konsepnya sudah benar. Taman itu akan dibuat di sisi tengah, sehingga dapat dipastikan akan ada kalangan anak muda yang mengunjinginya. Dan setelah proposal ini disetujui, aku akan urus tentang Hafizha. Dia... berhak tahu siapa dirinya.”


Kemantapan Yulian yang akan menceritakan siapa Humaira seakan tidak bisa dirubah lagi. Karena cepat atau lambat Hafizha akan tahu, begitu juga dengan Alex yang akan tahu anaknya. Namun, Yulian juga akan meningkatkan keamanan untuk keselamatan keluarganya.

__ADS_1


Sebelum lekas tidur Yulian memutuskan untuk mengambil air wudhu dan melakukan sholat taubat, tidak lupa pula ia membaca mushaf meskipun hanya satu ayat saja.


Doa memohon keselamatan telah dipanjatkan oleh Yulian, kembali ia berserah kepada Allah tentang masalah yang kini tengah dihadapinya. Dan ia tidak mau jika kehilangan keluarganya hanya karena Alex yang kembali melakukan kejahatan.


“Allahumma inna nas aluka salamatan fiddiini wa 'aafiyatan fil jasadi waziaadatan fil'ilmi wabarakatan firrizqi wataubatan qablal maut warahmatan 'indal maut wamaghfiratan ba'dal maut allahumma hawwin'alainaa fii sakaraatil maut wa najjata minanaari wal'afwa indal hisaab.”


“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan ketika beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut.”


Setelah mengaminkan doa nya, Yulian membaca surat An-Nasr. Surat yang hanya memiliki tiga ayat, yang berati pertolongan.

__ADS_1


__ADS_2