Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 106 ”Tahajud Cinta”


__ADS_3

Pukul 02.25 sepertiga malam yang kedua, Yulian terbangun setelah mendengar suara alarm dari ponselnya. Setelah itu segera ia beranjak dari tempat duduknya dan membangunkan Arjuna yang masih terlelap di atas sofa.


”Arjuna, bangun, Nak! Yuk! sholat tahajud dulu,’ ajak Yulian.


Perlahan Arjuna merasakan usapan pelan di tangannya, matanya pun mengerjap beberapa kali setelah mendengar suara Yulian. Dan Arjuna pun terbangun, keduanya bergantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengambil air wudhu.


Dan itulah pilihan Yulian meminta Ahtar untuk dipindahkan ke ruangan VIP, agar anggota keluarganya yang sedang bertandang bisa sholat di dalam ruangan itu jika mendesak tanpa harus mencari mushola ataupun masjid di sekitar sana.


Seusai sholat dua rakaat ditunaikan Yulian membaca mushaf sebentar, karena Yulian sering membawa kitab Al-Quran kecil dalam saku bajunya. Hingga itu memeprmudahkan Yulian untuk selalu mengingat Allah SWT dan bacaan yang mendamaikan hati bagi pembacanya.


“Arjuna, kenapa kamu semalam tidak bangunkan Abi?”


“Juna tidak tega jika harus membangunkan Abi. Lagian buat apa juga Juna bangunin Abi di jam sekian,” jawab Arjuna dengan cengiran.


“Kamu itu. Ya sudah, tidur lagi gih kalau kamu masih ngantuk.” Yulian menepuk pundak Arjuna dengan pelan.


Arjuna mengangguk, tapi tangannya bergerak untuk melihat ponselnya yang diletakkan di atas nakas. Arjuna nampak terkejut melihat pesan teks di whatsapp nya dari Humaira.


[Assalamu'alaikum, bang Juna. Sebelumnya mohon maaf jika Humaira sangat lancang dan mengganggu bang Juna. Tapi Humaira cuma mau minta tolong, berikan bunga dan bingkisan yang ada di depan pintu ruangan bang Ahtar setelah bang Ahtar bangun nanti. Terimakasih! Wassalamu'alaikum.]


Kedua alis Arjuna terpaut, ia mencoba mencerna setiap kata yang ditulis Humaira. Dan untuk memastikan pesan itu benar Arjuna membuka pintu untuk melihat bingkisan dan bunga yang dimaksud Humaira.


Terlihat di bawah pintu ada sebuah bingkisan dalam paper bag dan juga seikat bunga mawar merah yang di dalam bunga itu ada memo kecil.


“Bagaimana Humaira bisa tahu jika Ahtar mengalami musibah dan dirawat di ruangan ini? Dan sejak kapan Dia ada disini?” gumam Arjuna.


Bingkisan dan bunga itu diletakkan di atas nakas dekat brankar Ahtar. Dan itu mencuri perhatian Yulian yang memang duduk disisi brankar.


“Apa itu, Juna?”


“Entahlah! Juna sendiri tidak tahu apa isinya, Abi. Ini... dari Humaira untuk Ahtar.” Arjuna mengendikkan bahu.


Setelah meletakkan dia benda itu Arjuna kembali duduk di sofa. Malam hampir menjelang subuh, Arjuna memutuskan untuk tidak kembali tidur. Dan ia lebih memilih pergi ke ruangannya untuk memeriksa data pasien yang akan menjalani cek rutin dengan kandungan mereka esok hari.


“Kenapa Humaira memberi benda semacam ini? Bunga? Apa... setelah sadar nanti aku harus bicara masalah ini dengan Ahtar. Karena aku tidak mau jika putra ku memberikan harapan kosong kepada Humaira,” putus Yulian.


Suara adzan subuh tengah berkumandang dengan lantang. Membuat Yulian bergerak menuju kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sajadah panjang yang selalu di bawanya kemanapun kini kembali dibentangkan. Dua rakaat istimewa menjelang senja tengah Yulian tunaikan, menghadap Allah sang Maha dari Segala Maha.


Setelah salam, tak lupa Yulian melantunkan dzikir dan sholawat Nabi. Dan kembali dilanjut untuk berdoa dengan menengadahkan kedua tangan meminta ampunan dan kekuatan kepada Allah SWT.


“Ya Allah Ya Tuhanku, hamba kembali menghadap-Mu dengan segala kekurangan hamba. Hamba hanya ingin berserah kepada-Mu atas semua cobaan yang Engkau hadapkan dalam kehidupan hamba. Dan hamba yakin, Engkau pilihkan bahu hamba untuk tetap kuat menghadapinya. Karena tidak ada cobaan yang menguji umat-Mu melebihi batas kemampuannya.” Yulian mengaminkan doanya.


Setelah berdoa Yulian tetap mengingat Allah dengan membaca mushaf meskipun hanya satu ayat saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hafizha menata kembali hatinya setelah terbangun dari tidur. Ia masih merutuki kebodohan yang sudah diperbuatnya. Sesekali air mata menetes begitu saja. Namun ia segera menyeka air mata itu ketika Cahaya membuka pintu kamarnya yang memang tidak dikunci.


“Kak Cahaya, ada apa?” tanya Hafizha dengan suara parau.


“Tidak kok, Dek. Kakak hanya ingin memastikan kamu sudah bangun.” Cahaya menggeleng pelan.


“Hafizha sudah bangun dari tadi kok, Kak. Sudah sholat subuh juga. Apa... kak Cahaya mau Hafizha bantu?”


“Tidak, Dek. Hanya saja Kakak mau masak dulu, kamu bisa bantu temani Bunda?”


Hafizha tersenyum, lalu mengangguk. Ia tidak ingin menolak dengan cuma-cuma permintaan Cahaya. Dan Hafizha juga sekalian ingin minta maaf kepada Khadijah jika sikapnya sudah berlebihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ahtar mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, lalu perlahan ia membuka kedua matanya. Hanya dinding berhias putih yang mampu ditangkap oleh pandangannya.


“Hafizha!” teriak Ahtar.

__ADS_1


Yulian yang masih membaca mushaf seketika menghentikan bacaannya itu. Lalu ia segera menghampiri Ahtar dan terlihat Ahtar nampak bingung dengan keberadaannya saat ini.


“Ahtar, alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak.” Yulian menitihkan air mata.


Bukan berarti Yulian adalah lelaki yang cengeng, tetapi yang namanya seorang Ayah tidak ingin melihat anak-anak nya terkapar tak berdaya di rumah sakit. Apalagi Ahtar adalah penantiannya bersama Aisyah selama dua tahun. Dan kehadiran Ahtar adalah anugrah terindah yang sudah diberikan dalam kehidupannya.


“Abi, dimana Hafizha? Apa... Dia baik-baik saja?”


“Kamu yang tenang, jangan banyak bergerak terlebih dahulu, Nak.”


“Tarik napas dalam dan keluarkan perlahan.” Ahtar mengikuti.


Setelah Ahtar dirasa cukup tenang Yulian pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Bahkan Yulian juga menceritakan tentang Zuena, tetapi keduanya belum sempat untuk bertemu.


Ahtar bernapas lega mendengar cerita tentang adiknya yang memang tidak kenapa-kenapa, tidak lecet sedikitpun. Dan sembari menanti dokter yang bertugas melakukan visite kepada Ahtar, obrolan ringan telah menemani ayah dan anak itu.


”Oh iya, Abi sampai lupa. Ini ada bingkisan dan juga bunga dari... Humaira.” Yulian memberikan bingkisan dan bunga itu kepada Ahtar.


Ahtar nampak bingung, ia juga berpikir untuk apa Humaira memberikan bingkisan dan bunga yang menurutnya itu berlebihan. Tidak wajib bagi seorang perempuan memberikan hal semacam itu kepada bukan mahram nya.


“Buka saja, Abi juga ingin tahu apa isi yang ada di dalam paper bag coklat itu. Jika itu pantas kamu dapatkan Abi setuju, jika tidak makan sebaiknya... kembalikan ke pemberinya.”


”Tapi bukan maksud Abi tidak menghargai pemberian nya, tapi... kita sebagai seorang lelaki harus bisa menjaga attitude dan juga menjaga apa yang seharusnya Humaira jaga.”


Ahtar mengangguk, ia mengerti dengan apa yang diucapkan Yulian. Meskipun panjang lebar tetapi memiliki arti yang mudah dimengerti.


Ahtar merogoh benda kecil yang berada di dalam paper bag coklat itu, terlihat sebuah jam tangan bermerk setelah dikeluarkan.


“Bagaimana, Abi? Apa Ahtar harus mengembalikannya?”


“Tentu, itu bukanlah hak mu menerima. Meskipun Humaira sudah memberikannya dengan ikhlas, tapi... kalian tidak memiliki ikatan apapun. Bahkan teman saja tidak, karena Abi tidak pernah mengajarkanmu akan hal itu, bukan?”


Ahtar kembali mengangguk dan segera memasukkan kembali ke dalam paper bag tanpa membuka kaca yang menjadi wadah jam tangan itu, lalu pandangan Ahtar teralihkan ke memo kecil yang berada di dalam bunga.


“Kalau masalah memo itu... Abi tidak mau tahu dan Abi juga tidak ingin bertanya apa isinya. Sekarang... Abi mau menghubungi Bundamu.” Yulian mengulas senyum seraya menepuk pundak Ahtar pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Selamat pagi, Bun. Bunda... mau Hafizha bantu ke kamar mandi dulu atau bagaimana?” sapa Hafizha.


Khadijah nampak terkejut mendapati apa yang dilihatnya saat ini. Hafizha berubah dengan begitu cepat, membuat Khadijah bingung harus bersikap bagaimana. Namun, jelas di hatinya tengah berbunga. Kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata semata.


“Iya. Hafizha, Nak... Apa... kamu sudah memaafkan Bunda?”


Sejenak Hafizha terdiam, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mendekat dan mendekap tubuh Khadijah.


“Bunda, bolehkah Hafizha memeluk Bunda?”


Sontak Khadijah mengangguk, rasa bahagia membuncah dadanya. Bagaikan sebuah anugerah terindah yang dinantikan selama ini. Bahkan air mata menggenang di pelupuk matanya saat kehangatan tengah dirasakan.


‘Ya Allah, rasanya hamba benar-benar bahagia. Hamba... percaya atas Kuasa-Mu.’


Khadijah mengeratkan dekapannya, mangusap lembut punggung Hafizha layaknya menenangkan hati anaknya. Dan sudah sedari lama momen itu dinantikan oleh Khadijah, tetapi selama ini hanya ia pendam agar Hafizha tidak akan pernah tahu masa lalu buruk yang dihadapinya. Namun Khadijah salah, Allah telah membuka semuanya.


“Bunda, kini Hafizha bisa merasakan pelukan seorang Ibu yang benar-benar tulus mencintai anaknya. Dulu... Hafizha hanya bisa mendapatkan pelukan seperti ini dari Abi, tanpa merasakan pelukan dari Umi.” Hafizha merasa nyaman dan damai saat berada dalam dekapan Khadijah.


Saat momenn yang mengharuskan tengah berlangsung tiba-tiba ponsel Khadijah berdering, membuat pelukan itu harus segera dilerai.


“Assalamu'alaikum, Hubby.” Khafijah berusaha menyeka air mata yang menetes di pipinya.


“Wa'alaikumussalam, Neng. Bagaimana semalam? Apa tidurnya nyenyak?”


“Alhamdulillah.” Khadijah mengangguk.

__ADS_1


Ada rasa lega dalam hati Yulian mendapati senyuman di ujung bibir Khadijah. Mungkin Khafijah belum mendengar kabar tentang Ahtar, hingga tak ada rasa khawatir untuk menanyakan bagaimana kondisi Ahtar saat itu.


“Mandi gih, baunya sampai kecium loh sama Hubby.”


“Mana ada kecium sampai di situ, Hubby? Tapi... ngomong-ngomong Abi ada dimana sekarang? Kenapa tidak pulang?” cecar Khadijah dengan beberapa pertanyaan.


“Ada lah di suatu tempat, Hafizha tahu dimana Hubby saat ini kok. Yang pasti Neng tidak perlu khawatir.” Yulian mengembangkan senyumnya.


Khadijah mengangguk, tidak lama kemudian obrolan pun telah diakhiri. Rasa penasaran hadir begitu saja dalam hati Khadijah. Hingga ia tidak bisa memendam rasa keingintahuan nya tentang Yulian.


Dan pada akhirnya Hafizha pun menceritakan betapa kejamnya preman itu menusuk Ahtar hingga tidak sadatkan diri. Bahkan Hafizha juga menceritakan seorang wanita yang menolongnya pada malam itu.


“Astaghfirullahhalazimmm...” Hati Khadijah merasa teriris mendengar cerita Hafizha.


“Begitulah, Bun. Dan sekarang... Hafizha tidak tahu bagaimana kondisi bang Ahtar. Bahkan Hafizha juga tidak tahu kemana wanita itu pergi, karena Dia tidak pamit sama Hafizha.” Terang Hafizha dengan tutur lembutnya.


”Baiklah! Kalau begitu, sekarang bantu Bunda untuk ke kamar mandi. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Abangmu.”


Hafizha nampak ragu untuk memgiyakan atau hanya sekedar memberikan anggukan. Karena Hafizha tahu betul bagaimana kondisi Khadijah pasca kecelakaan itu. Namun, Khadijah tetap bersi kekeh hingga Hafizha tidak bisa lagi menolak.


Hafizha menyiapkan beberapa makanan yang sudah dimasak Cahaya bersama bik Inem ke dalam rantang. Beberapa makanan itu akan dibawa ke rumah sakit untuk dijadikan sarapan bersama.


“Om Abdullah, kita ke rumah sakit ya! Mumpung hari ini Hafizha masih libur,” pinta Hafizha.


Abdullah mengangguk, lalu ia membantu membukakan pintu saat Khafijah hendak masuk di bagian jok tengah. Setelah di rasa sudah siap Abdullah pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang petugas tengah membawakan sarapan untuk Ahtar yang disediakan di kantin rumah sakit. Bubur dengan tekstur lembut yang disertai kuah tanpa rasa berlebihan. Itulah makanan yang harus disantap oleh Ahtar selama masa pemulihan di rumah sakit.


“Mau Abi suapin, hmm?”


“Ha... ha... ha... masa iya Ahtar kembali menjadi anak kecil lagi. Tidak lah Abi, Ahtar bisa makan sendiri kok,” elak Ahtar.


Meskipun perut Ahtar masih terasa ngilu saat bergerak sedikit saja, tetapi Ahtar ingin melakukannya sendiri. Belajar mandiri itu penting agar tidak bergantung terhadap orang lain.


Keduanya tertawa bersama saat mengenang masa kecil Ahtar yang disuapin bubur oleh Arjuna. Karena waktu itu hanya Arjuna lah yang terus menemani Ahtar saat sibuk ke luar kota, sedangkan Aisyah sibuk dengan beberapa busana yang harus dirancang.


“Abi, terimakasih!”


“Terimakasih? Untuk apa Ahtar, hmm?”


“Terimakasih ... karena Abi sudah menjadi seorang Ayah yang terus mendidik dan membesarkan kami dengan balutan kasih sayang meskipun Umi tidak lagi di samping kita. Dan... masih banyak lagi,”


“Ha... Ha... Ha... Itu sudah kewajiban Abi sebagai orang tua, Nak. Dan namun tidak perlu berlebihan seperti itu, meskipun Abi akui itu sulit saat menjadi singel parent.


Obrolan telah bergulir, tanpa sadar dokter pun datang hendak memeriksa kondisi Ahtar pagi itu setelah sadarkan diri pasca insiden itu.


Dokter menyatakan kondisi Ahtar mengalami perkembangan yang amat cepat, karena fisik Ahtar yang selalu terjaga membuat pemulihan menjadi cepat. Hanya saja luka tusuk itu belum mengering, harus benar-benar dijaga agar tidak terkena air atau terlalu banyak bergerak.


Dokter pun berpamitan hendak memeriksa pasien lain. Sedangkan Yulian mengupas beberapa butir obat untuk Ahtar minum di pagi itu.


“Assalamu'alaikum,” ucap Hafizha dan Khadijah bersamaan.


“Waalaikumsalam,” jawab Yulian dan Ahtar hampir bersamaan.


Kehadiran Hafizha dan Khadijah sukses membuat Yulian terkejut, bukan hanya Yulian saja tetapi Ahtar pun juga merasakan hal yang sama. Namun dalam hati kecil Yulian dan Ahtar merasa bahagia melihat Hafizha sudah mampu menerima kenyataan tentang masa lalu Khadijah.


Hafizha menyalami Yulian dan Ahtar, begitu juga Khadijah mencium punggung tangan Yulian.


“Bang, itu... Apa?” tanya Hafizha.


Deg...

__ADS_1


Hafizha melihat bingkisan paper bag dan seikat bunga mawar yang masih teronggok di atas nakas. Bukan maksud Ahtar ingin memamerkan, tetapi Yulian belum sempat mengembalikan kepada Humaira.


Bersambung...


__ADS_2