Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chaptee 114 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Acara makan siang telah digelar, semua duduk di atas ambal yang sudah dibentangkan oleh Yulian. Yulian, Ahtar, Arjuna dan Hafizha duduk melingkar, sedangkan Khadijah ia lebih memilih untuk menyuapi Alex disaat jam makan siang tersebut.


“Abi, kenapa pesan makannya banyak sekali? Sedangkan kita hanya berlima. Opa Alex juga sudah dapat jatah makan dari rumah sakit.” Hafizha mengamati setiap menu yang tersaji.


“Tidak apa kan, jika Abi ingin banyak makan. Lagipula selain kita berlima ada juga yang Abi undang makan. Sebentar lagi juga datang.” Yulian menatap wajah anak-anaknya secara bergantian.


Ahtar, Arjuna dan Hafizha hanya saling pandang saja. Karena mereka memang tidak tahu siapa yang telah diundang oleh Yulian dalam acara makan sederhana yang hanya di gelar di rumah sakit, bukan restoran mahal ataupun di rumah.


Seperti yang Yulian katakan tadi, Faruq mengetuk pintu dari luar. Dan seketika dipersilahkan masuk oleh Yulian. Selang lima menit kemudian kembali pintu diketuk secara pelan.


“Masuk saja, Nak!” ucap Yulian.


Zuena dan Adam pun masuk lalu keduanya mengambil duduk di sebelah Yulian. Zuena duduk tepat di hadapan Ahtar, membuat Zuena merasa nervous saja saat beberapa menit lalu telah beradu tatap dengan Ahtar.


“Ya sudah, selamat makan!” ucap Yulian.


Ahtar, Arjuna, Hafizha dan Yulian menengadahkan tangannya dan membaca doa makan. Zuena yang melihatnya hanya menunduk dan ketika mereka sudah mengaminkan doa makan Zuena pun ikut mengaminkan di dalam hatinya.


‘Entah apa yang kalian baca sebelum mengambil makanan yang sudah tersaji. Dan saat kalian melakukan itu... aku merasa ingin mengikutinya. Semoga makanan yang kita makan akan berkah.’ Zuena bermonolog dalam hati.


Semua mengambil piring lalu, mengambil nasi dan lauk yang sudah tersaji. Ada ayam bakar, iga bakar dan juga makanan yang lainnya.


Faruq dan Adam mengelus perutnya yang merasa kenyang setelah makan sampai dua piring sekaligus. Sedangkan Zuena hanya makan sedikit saja, karena ia benar-benar mengatur pola makannya agar tidak terlalu gemuk.


“Alhamdulillah,” ucap Ahtar bersamaan dengan Arjuna dan Hafizha.


Selang beberapa detik kemudian Yulian juga sudah menyelesaikan makannya. Namun ia harus minta ijin keluar ruangan karena mendadak Tristan menelponnya.


“Boleh saya bantu?”


Hafizha menoleh saat Zuena menawarkan bantuannya, lalu Hafizha mengangguk sembari mengulas senyum.


Saat Hafizha dan Zuena tengah sibuk merapikan ambal yang digelar untuk acara makan siang obrolan terus menemani keduanya. Nampak seru dan sehati saja yang mereka obrolkan.


‘Kenapa Hafizha bisa sedekat itu dengan Zuena? Kira-kira... apa yang mereka obrolkan bersama?’


Diam-diam ada yang merasa iri dengan kedetakan Hafizha dan Zuena. Bahkan Ahtar merasa penasaran dengan topik yang menjadi obrolan di antara mereka.


“Jangan menatapnya seperti itu! Ingat, jaga pandanganmu, Ahtar.” Yulian menepuk pundak Ahtar.


Sontak Ahtar terkejut, bahkan ia terperanjat saat Yulian tahu ia tengah menatao Zuena secara diam-diam.


“Tidak kok, Abi. InsyaAllah... Ahtar bisa menjaga pandangan Ahtar.” Ahtar memalingkan wajahnya dan memandang Arjuna yang sibuk dengan ponselnya.


Yulian hanya geleng-geleng saja melihat tingkah Ahtar yang masih berpura-pura tidak menatap Zuena. Sedangkan Yulian beberapa kali sudah menangkap Ahtar mencuri-curi padang saat makan siang tadi.


“Bagaimana Neng, sudah nyuapi Papa nya?”


“Sudah kok, Hubby. Ini Neng sedang makan siang juga.” Khadijah menunjukkan piring yang berada di pangkuannya.


“Ya sudah, habisin gih makannya. Hubby minta ijin keluar sama Abdullah boleh?”


“Mau kemana?”


Sudah jelas jika Khadijah memperlihatkan sikap jelous di hadapan Yulian. Sifat cemburunya mulai muncul hanya mendengar Yulian yang meminta ijin hendak keluar.

__ADS_1


“Tenang saja Neng, hanya mau... cari baju, sarung, peci dan... sajadah saja kok untuk Papa.”


“Oh begitu. Baiklah! Neng ijinin kalau hanya beli itu saja keluarnya. Tapi ingat! Jangan kelayapan kemana-mana kalau sudah selesai.”


“Tidak akan. Neng tenang saja!” ucap Yulian seraya manoel dari Khadijah.


Hafizha, Arjuna dan Ahtar yang sering melihat pemandangan mesra antara Abi dan Bundanya hanya terkekeh saja. Memang Khadijah memiliki sifat pencemburu, tetapi anak-anaknya sangat menyukai hal itu. Karena kedekatakan antara Yulian dengan Khadijah akan tercipta bahkan mereka akan saling peduli, mengasihi dan mencintai satu sama lain.


Yulian mengecup kening Khadijah dan Khadijah menyalami punggung tangan Yulian. Setelah itu Yulian menuju ke parkiran, di sana sudah ada Abdullah yang menunggunya sedari tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Khadijah, boleh Papa bertanya kepadamu?”


Alex mengudarakan suaranya setelah usai minum obat yang diberikan oleh dokter, tak lain adalah Ahtar.


”Papa mau bertanya apa kepada Khadijah?”


“Bagaimana perjalanan hidupmu setelah waktu itu? Dan... bagaimana kabar Mama mu?”


Hening...


Khadijah sejenak terdiam, ia menghela nafas panjang sebelum menceritakan kehidupan pahit yang penuh lika-liku perjuangan_yang harus dihadapinya setelah kabur dari cengkraman Alex yang terus mengurungnya untuk memuaskan hawa nafsu yang menggebu.


“Panjang Pa. Khadijah bertemu dengan Aisyah, istri pertama Yulian. Bahkan tanpa sengaja Khadijah kembali dipertemukan dengan Aisyah di Medan. Dia wanita yang cantik dan baik hati, bahkan Aisyah meminta suaminya untuk menikahi Khadijah yang tengah berjuang melahirkan Hafizha. Namun, Yulian tidak mau karena ia takut tidak bisa membahagiakan kedua istrinya kelak.”


“Khadijah menyerah, Khadijah meninggalkan Hafizha bersama keluarga Yulian. Karena Khadijah tidak mau merusak rumah tangga orang lain, Pa.”


“Sedangkan Mama... sudah meninggal setelah pulang dari sini, Pa. Khadijah saja tidak tahu kapan Mama meninggal, Khadijah hanya tahu tempat makamnya saja.”


“Maafkan Papa, Khadijah. Papa... benar-benar menyesali perbuatan Papa yang amat keji. Bahkan hidupmu dan Ibumu susah karena Papa.” Alex tergugu, air mata yang menggenang di pelupuk matanya tak mampu dibendung lagi.


“Sudahlah! Pa. Sekarang kita harus lebih menata masa depan kita dan kita lupakan saja masa lalu itu. Biarkan Allah SWT yang akan mengadili perbuatan kita di masa lalu.” Khadijah menyeka air matanya.


Alex mengangguk, ia juga menyeka air matanya. Setelah itu obrolan kembali dilanjutkan, sesekali Alex bertanya tentang Yulian dan bagaimana cinta itu timbul di hati Khadijah. Sedangkan yang Alex tahu Yulian adalah duda dengan dua anak lelaki.


“Khadijah sendiri tidak tahu bagaimana rasa itu muncul dalam hati Khadijah, Pa. Dan yang membuat Khadijah merasa yakin menerima khitbah Yulian karena kegigihannya dan perjuangannya.” Khadijah tersenyum.


Sejenak Khadijah mengingat bagaimana awal pertemuannya dengan Yulian. Khadijah juga mengingat saat Yulian rela berada dibawah kucuran air hujan yang amat deras, hingga membuat Yulian jatuh sakit dan demam tinggi.


“Sekarang Papa yakin, kamu sudah menemukan lelaki yang tepat untuk masa depanmu. Meskipun Yulian seorang duda tetapi... Papa melihat jiwanya masih muda. Rasa sayangnya terhadapmu tak pernah luntur. Bahkan keromantisan yang diciptakan Yulian sukses membuatmu tersipu malu.” Alex menatap lekat manik Khadijah.


Khadijah tersenyum dan tersipu malu, ia mengakui kebenaran yang diucapkan oleh Alex terhadap Yulian.


Yulian akhirnya kembali setelah dua jam keluar bersama Abdullah. Tak lupa ia mengucap salam saat membuka pintu ruangan Alex. Khadijah pun menyambut dengan senyum, lalu meraih tangan Yulian dan menyalaminya. Begitu juga Arjuna, Ahtar dan Hafizha, ikut menyalami Yulian.


Yulian tidak lupa menyalami Alex yang kini menjadi mertuanya. Alex pun membiarkan Yulian melakukan hal tersebut, meskipun bagi Alex itu adalah hal berlebihan. Karena Alex sendiri tak pernah melakukan itu seperti sebagaimana Yulian melakukannya.


”Yulian sudah membelikan beberapa baju koko, sarung dan juga peci untuk Papa. Jadi, pas sudah pulang nanti Papa bisa pakai,” ucap Yulian.


“Terimakasih, ya Yulian. Kamu... memang lelaki baik.” Alex merasa bangga mempunyai menantu yang baik hati dan mampu memberikan kasih sayang kepada Khadijah dan Hafizha.


Sudah sore, jam sudah menunjukkan pukul 03.12. Yulian mengajak Khadijah untuk kali pulang bersamanya. Sedangkan Ahtar diminta untuk menjaga Alex sembari memantau kondisi jantung Alex yang masih harus menjalani perawatan.


“Adam dan Zuena, kalian bisa pulang bersama kami. Masuk saja ke mobil, jangan sungkan!” ajak Yulian.

__ADS_1


”Tidak, Abi. Terimakasih, tapi... kami bisa pulang sendiri, kok.” Zuena mencubit pinggang Adam dan seolah memberi kode.


“Iya, Abi. Tidak perlu repot-repot, kita bisa pulang sendiri kok.”


Adam dan Zuena saat itu juga berpamitan kepada Yulian, tak lupa mereka menyalami Yulian, Khadijah, Arjuna dan Hafizha.


Mobil pun dilajukan dengan kecepatan sedang. Yulian dan Khadijah yang duduk di jok tengah tidak hentinya saling tatap dan saling bermanja. Sedangkan Arjuna dan Hafizha yang duduk di jok belakang mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Hanya Abdullah yah duduk di kursi depan sebagai sopir.


“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Yulian heran.


Khadijah mengeratkan genggaman tangannya dan seakan tak ingin melepasnya begitu saja.


“Neng... bahagia, Hubby.” Khadijah mengulas senyum sembari menatap dalam mata bulat Yulian.


Yulian mengerutkan kening, ia tidak mengerti arti bahagia yang dimaksud oleh Khadijah. Entah rasa bahagia karena bertemu dengan Alex yang berubah menjadi orang baik serta Alex pun ingin bertaubat. Atau bahkan bahagia karena hal lain.


“Memangnya bahagia kenapa, hmm?”


“Ada banyak keajaiban dari Allah dalam kehidupan Neng, Hubby. Contohnya hari ini, Neng melihat sendiri perubahan dari Papa, bahkan Papa juga bangga memiliki menantu seperti Hubby.” Khadijah menyandarkan kepalanya di bahu Yulian.


Yulian terkekeh saja mendengar pujian dari Khadijah. Dan diusap nya pelan puncak kepala Khadijah karena merasa gemas terhadap Hafizha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ahtar, boleh Opa bertanya?”


Alex mengudarakan suaranya, mencoba untuk mengakrabkan diri dengan Ahtar yang sedang duduk di sisi kanannya.


“Silahkan!” jawab Ahtar singkat.


“Emm... Jika kamu bukan Dokter yang menangani Opa, apa kamu... mau menemani Opa disini?”


Seketika Ahtar menoleh, lalu menatap Alex yang masih terbaring lemah di atas branker. Seulas senyum telah mengudara dari bibir Ahtar, karena tak pernah ada rasa dendam ataupun menyimpan kemarahan terhadap siapapun.


“Saya ... tetap akan menemani Anda. Karena Anda adalah Ayah dari Bunda saya. Dan saya pun juga harus menghormati orang jauh lebih tua daripada saya, seperti yang sudah diajarkan Abi saya.”


Dalam hati Alex berdecak kagum terhadap Yulian yang benar-benar sudah mendidik anak-anak nya dengan didikan yang kental akan agama. Islam adalah agama yang memiliki kedudukan tinggi, dan itu dipercayai oleh Alex setelah mengenal lelaki seperti Yulian.


“Jika kamu menganggap saya adalah Ayah dari Bundamu, kenapa kamu tidak memamggil saya dengan Opa? Seperti Hafizha memanggil saya dengan seperti itu.”


“Baiklah! Ahtar akan memanggil Anda dengan Opa,” putus Ahtar kemudian.


Alex turut bahagia dengan keluarga barunya, keberadaannya selalu disambut baik oleh keluarga Yulian. Dan kini Alex menyadari betapa pentingnya sebuah kebersamaan dalam keluarga itu sendiri.


“Ahtar, berapa usiamu saat ini?”


Deg...


‘Kenapa Opa Alex menanyakan usiaku? Apa aku sudah terlihat tuir?’ Ahtar bertanya dalam hati.


“Saya... Dua puluh lima tahun, Opa. Tapi... Kenapa tiba-tiba Opa menanyakan usia Ahtar? Apa... Ahtar terlihat tua?”


“Tidak. Hanya saja... sudah waktunya untukmu menikah, Ahtar. Tidak baik jika kamu menunda-nunda waktu untuk menikah di usia tua puluh lima. Labih baik menikah muda saja daripada keburu hatimu dikuasai nafsu.” Alex menepuk punggung tangan Ahtar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2