Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 102 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Yulian menghela nafas panjang, beberapa kali ia juga mengucap dzikir sebagai pengingat kebesaran Allah SWT. Dan ia hanya pasrah atas takdir yang akan dijalaninya, karena menjaga dia hati tidak lah mudah.


“Andai segampang itu mengatakan semuanya kepadamu, Hafizha... Abi akan mengatakannya sekarang. Tapi... Abi tahu, hatimu akan terluka. Dan bukan hanya hatimu saja, pasti hati Bundamu pun akan sama-sama terluka jika kamu marah terhadapnya setelah mengetahui semua ini.”


Yulian merasa di penuhi dengan kebimbangan. Dan hanya kepada Tuhan ia mengadukan segala kepenatan dan keresahan dalam hatinya.


Tepat pukul 12.31 siang di Edinburgh, suara adzan dzuhur telah berkumandang. Yulian yang mendengar dengan jarak yang sedikit jauh seketika memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Dan di bawah kucuran air dingin Yulian membasahi seluruh tubuhnya, karena saat ini otaknya bunuh air untuk mendinginkannya.


“Rasanya segar sekali.” Yulian menikmati setiap percikan air yang mengalir dari ujung pangkal rambutnya hingga ujung kaki.


Setelah usai merasakan segar di tubuhnya, Yulian menyiapkan baju koko berwarna krem, sarung bermotif wayang, peci berwarna hitam pekat dan juga sajadah panjang yang sudah ia bentangkan. Sholat empat rakaat pun telah ditunaikan dengan khusu'.


Setelah mengakhiri sholat dengan dzikir Yukian menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Allah SWT.


“Ya Allah Ya Rabb... kembali hamba mengadu segala keluh kesah yang membuat hamba merasa gelisah. Berikanlah hamba kekuatan hati dan ketegaran dalam hati putri hamba, jika memang sudah tiba waktunya untuk mengetahui siapa Dia sebenarnya.”


“Karena sesungguhnya setelah kesulitan akan ada kemudahan. Aamiin.” Yulian mengaminkan doanya.


Setelah usai berdoa Yulian melanjutkan dengan membaca mushaf walaupun hanya satu ayat. Karena baginya itu wajib jika ada waktu luang, dan jika dalam perjalanan jauh sekarang juga sudah dipermudah bukan, bisa membaca melalui ponsel.


“Alhamdulillah,” ucap Yulian dengan penuh rasa lega.


Setelah itu Yulian melioat sajadah nya, tetapi ia tidak berganti pakaian dan tetap mengenakan baju koko serta sarung yang masih membalut tubuhnya dengan rapat.


“Sepi banget rumah ini, jadi merasa sendirian.” Yulian menyapu setiap sudut ruangan di rumahnya, tetapi ia tidak menemukan satu orang pun yang berada di sana.


“Itu ada Abi, apa... sebaiknya aku bertanya sekarang saja? Lagian bang Ahtar juga sedang tidur di kamar, Dia tidak akan tahu. Tapi...” Hafizha menggantungkan ucapannya.


Sejenak Hafizha mengingat dengan apa yang sudah dipesan Ahtar sebelumnya, yang membuat hatinya bimbang untuk menanyakan hal itu. Dan kini hati dan pikiran Hafizha tengah berperang hebat, yang membuatnya merasa penat jika mengingat setiap kata yang diucapkan Alex memutar dalam ingatannya.


“Aku akan menunggu, Abi. Jika dalam waktu dekat Abi tidak bertanya ataupun mengatakannya secara terang dan jelas kepadaku, maaf... hati ini tidak sekuat itu.” Hafizha menyimpan kembali segudang pertanyaan yang ingin diajukan kepada Yulian.


Yulian melihat jam yang menempel di dinding, karena jam. sudah memasuki waktu makan siang Yulian berusaha untuk membantu Cahaya dan bik Inem dengan memasak untuk dijadikan hidangan makan siang mereka bersama.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam dari Alex yang berada di seberang.


“Waalaikumsalam. Ada apa kamu menghubungiku, Tristan? Apa ada yang penting?” raya Yulian to the point.


“Begini, aku... mau melakukan pengajuan dengan perusahaan Loundry di berbagai kota. Bisa juga di Indonesia, bagaimana?”

__ADS_1


“Kalau itu bisa menguntungkan dan halal tak apa, aku setuju. Terserah kamu saja bagaimana cara memulainya, aku masih lagi... pusing.” Kepala Yulian tiba-tiba berdenyut nyeri saat kembali mengingat masalah Hafizha dan Khadijah.


Dari seberang Tristan menghela nafas panjang, ia tahu betul bagaimana masalah Yulian yang harus dihadapi ketika masalah itu datang secara bertubi-tubi.


Tristan mengiyakan ucapan Yulian, setelah itu sambungan telepon pun telah di akhiri dan Yulian kembali melanjutkan aktivitas nya di dapur. Hanya tinggal membuat bubur untuk Khadijah saja, karena yang lainnya sudah selesai.


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Sekarang... tinggal menghidangkan di atas meja saja.” Yulian tersenyum bangga.


Di saat Yulian menata beberapa piring dan makanan yang sudah di masak tadi di atas meja, tiba-tiba Hafizha datang untuk membantu.


“Hafizha bantu ya, Abi.” Hafizha berjalan mondar-mandir, mengambil makanan yang masih di atas kompor lalu dipindahkan ke atas piring, setelah itu diletakkan di atas meja makan.


Yulian menyunggingkan senyum, tanpa ia sadari Hafizha sudah beranjak semakin dewasa. Namun tetap saja, Yulian tidak mau gegabah dalam memutuskan sesuatu keputusan.


“Alhamdulillah, akhirnya sudah selesai. Dan kamu Hafizha, bisa panggil kak Cahaya, Abang mu, dan juga sekalian om Abdullah sekaligus bik Inem. Minta kepada mereka untuk segera makan siang, takutnya makanan ini keburu dingin jika ditunda.”


“Baik, Abi.” Hafizha mengangguk, lalu melangkahkan kaki dan menuju tempat di mana orang yang disebut Yulian berada.


Yulian menyiapkan bubur hangat ke dalam mangkuk, tidak lupa juga segelas air putih lalu keduanya diletakkan di atas nampan. Setelah itu Yulian membawanya ke kamar, setiba di kamar terlihat Khadijah sudah terbangun.


“Sudah bangun, Neng,” ucap Yulian setelah membuka pintu.


“Ya sudah, makan dulu! Hubby sudah membuatkan bubur untuk Neng, dan dijamin enak.” Yulian menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut Khadijah setelah membaca doa.


Khadijah beguyu menikmati bubur yang sengaja dibuat Yupian untuknya. Ada rasa gurih dan unsur kelezatan tersendiri bagi Khadijah, karena Yulian membuatnya dengan penuh cinta.


Dengan sabar Yulian menyuapi Khadijah hingga bubur itupun habis tidak tersisa dan diakhiri dengan bacaan hamdalah sebagai rasa syukur karena sudah diberi khidmat oleh Allah SWT.


“Ya sudah, minum obatnya dulu! Setelah itu, baru istirahat lagi,” ucap Yulian.


“Yah, harus sekarang ya minum obatnya? Apa tidak bisa... ditunda?” tawar Khadijah.


Yulian tersenyum tipis, lalu diusap nya puncak kepala Khadijah.


“Kenapa memangnya, Neng? Minum obat itu biar Neng cepat sembuh. Terus kita...” Yulian menggantungkan ucapannya.


Khadijah memincingkan sebelah alisnya, seolah ia penasaran dengan apa yang akan Yulian ucapkan.


“Terus kita apa? Kok tidak dilanjutin sih ngomongnya?”


“Terus kita pindah ke Medan, melakukan terapi di sana saja. Bagaimana? Apa Neng setuju? Kalau tidak sih, juga tidak apa-apa.”

__ADS_1


Khadijah pun mengangguk, tanda ia setuju jika pindah ke Medan. Karena satu yang diinginkannya saat ini, berkunjung ke makam Aisyah. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, rasa rindu begitu terasa di hati Khadijah. Biarpun tidak bertemu dengan Aisyah, setidaknya Khadijah bisa mendoakan saat berkunjung di makamnya nanti.


“Abi belum makan, mau Hafizha ambilkan?” tawa Hafizha.


Yulian mengangguk, senyum dari Yulian tak pernah memudar saat Hafizha memperlakukannya bagaikan ayah kandung. Tetapi hatinya begitu pilu saat mengingat betapa malangnya nasib Hafizha di masa lalu.


“Terimakasih ya, Nak! Kamu tidak makan lagi?”


“Hafizha sudah kenyang kok Abi. Hafizha... temani Abi saja ya duduk disini,”


“Terserah kamu saja,”


Hafisha yang duduk di sebelah Yulian terus menatapnya tanpa berkedip. Dan itu membuat Yulian merasa heran, karena jarang sekali Hafizha seperti itu. Namun, Yulian membiarkan saja Hafizha yang menatapnya seperti itu, karena bagi Yulian itu menggemaskan.


“Kenapa Abi makannya sambil senyum-senyum begitu?”


“Lha terus, kenapa kamu menatap Abi seperti itu? Pasti... ada maunya?”


Yulian menatap Hafizha dalam, hingga menembus ke dasar sanubari Hafizha. Dan itu sungguh membuat Hafizha merasa nyaman, mendapatkan kasih yang tulus dari seorang ayah.


“Kok Abi tahu?”


“Abi ini Ayah kamu, Abi tahu kamu lebih dari diri kamu sendiri, Nak. Abi selalu tahu bagaimana kamu, keinginan kamu dan semua hal tentang kamu. Jadi katakan saja, apa yang saat ini kamu inginkan dari abi.”


Yulian kembali melanjutkan makannya hingga habis dan membiarkan Hafizha yang tengah berdiam. Hafizha tengah berpikir jika saja Yulian bukanlah ayah kandungnya makan hatinya pun akan potek, hancur melebur. Ada rasa takut jika Yulian tidak akan sayang lagi dengannya.


Hiks... Hiks... Hiks...


Terdengar suara tangis lirih dari Hafizha, ia tidak bisa menahan lagi apa yang menjadi beban dalam pikirnya saat ini. Mungkin akan terasa berat, tapi itu kenyataan yang harus dihadapinya.


“Kenapa kamu malah menangis, Nak? Apa Abi menyakiti hatimu, hmm?”


“Abi... boleh tidak jika Hafizha bertanya sesuai hal kepada Abi?”


Yulian menoleh, di tatap nya Hafizha yang sudah tertunduk menyembunyikan tangisnya.


“Apa benar... Hafizha ini bukanlah... anak kandung Abi dan Umi Aisyah? Hiks... Hiks... Hiks...”


Deg...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2