Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 7


__ADS_3

Yulian mendengar rengekan Hafizha yang berada di depan kamarnya. Karena merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Yulian berlari kecil menuju pusat suara untuk memastikannya dan diikuti oleh Arumi dengan Luisa. Dan setelah sampai di sana, Yulian hanya menatap iba Hafizha yang merengkuh jemari Khaira seraya menggoyang-goyangkan tangan Khaira.


”Umi, Izha jangan ditinggal lagi! Hiks ... hiks ... hiks,”


Hening...


Semua terdiam dan menatap Hafizha dengan rasa iba. Kasihan ... itu sudah pasti, karena sebelum Hafizha mampu menggeliatkan pandangannya ke seluruh indahnya dunia, dia harus kehilangan dia sosok ibu yang menyayanginya. Dan entahlah... dimana Khadijah saat ini tidak ada yang tahu.


Hanya penulis yang tahu dimana Khadijah berada... wkwkwk.


”Yulian,” batin Khaira.


Khaira melihat bahwa ada Yulian yang tengah memandang ke arahnya yang masih bersama dengan Hafizha. Dan itu membuat Khaira harus segera menyeka air mata yang sempat tumpah. Lalu, Khaira berbalik untuk beradu tatap dengan Hafizha. Memberikan sebuah pengertian kepada Hafizha bahwa ia harus benar-benar pergi dari rumah itu.


”Izha sayang, maaf ya kalau tante harus pergi. Jangan panggil tante dengan sebutan Umi! Karena tante Khaira bukan Umi nya Hafizha.” Khaira mengusap pipi Hafizha dengan lembut.


”Izha ... pengen tante Khaira ada di cini. Jangan pelgi!” rengek Hafizha.


”Izha ... tante Khaira masih ada perlu yang harus diurus. Jadi, tante Khaira harus pergi dulu dari rumah kita. Kalau ada waktu nanti tante Khaira akan kesini menemui Izha.” Sela Yulian yang berjalan menghampiri Hafizha.


Yulian berjongkok dan menjajarkan tinggi tubuhnya dengan Hafizha, sehingga mereka pun saling tatap. Hati Yulian begitu remuk melihat air mata Hafizha telah luruh merindukan sosok ibu mendampingi hidupnya. Tapi... apa boleh buat, hanya Yulian yang mampu menjadi seorang ibu sekaligus ayah untuk Hafizha.


Yulian menyeka pelan air mata yang masih keluar dari ujung pelupuk mata bulat itu. Untuk meyakinkan Hafizha, Yulian memberikan senyuman merekah dibalik sedihnya yang menyesakkan dada.


”Baiklah, kalau begitu tante Khaila boleh pelgi dan Izha akan tunggu disini.” senyum manis telah terukir dengan indah di bibir mungil Hafizha yang sesekali sesenggukan.


Setelah itu Yulian mengusap pelan rambut Hafizha yang terurai berai. Kembali Yulian memberikan senyuman untuk menyemangati Hafizha agar tidak bersedih lagi. Dan hal itu membuat Khaira ikut terharu, air matanya kembali luruh begitu saja.


”Maafkan saya, jika pertemuan singkat ini telah menimbulkan perpisahan dan kesedihan untuk Hafizha. Tapi sungguh ... saya tidak ...”

__ADS_1


”Ini bukan kesalahan kamu, Khaira. Mungkin ... Hafizha hanya merindukan sosok seorang Ibu yang kebetulan cara berpakaiannya sama seperti kamu. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan apapun.” Sela Yulian yang membuat kalimat Khaira terhenti.


”Baiklah! Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum.” Khaira kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.


Satu langkah...


Dua langkah...


”Tunggu!” pekik Arumi.


Seketika langkah Khaira terhenti setelah Arumi menghentikannya. Dan kembali Khaira harus berbalik, bertatap muka dengan Arumi yang kini berada di belakangnya. Perlahan Khaira mengangkat wajahnya, memastikan ada tujuan apa Arumi menghentikannya. Menghentikan langkah yang hampir saja membuatnya terbebas dari rumah itu.


”Ada apa Anda menghentikan langkah saya?” tanya Khaira dengan nada rendah dan sopan.


”Maafkan saya, tapi saya tidak bermaksud menghentikan langkahmu. Saya Arumi, bolehkah saya mengetahui nama kamu?”


”Maaf, ada perlu apa?”


Khaira masih terpaku, mencerna apa yang baru saja dilontarkan oleh Arumi. Kerjasama? Khaira masih dibuat tidak mengerti, sehingga ia melontarkan pertanyaan kepada Arumi untuk memastikan. Begitu pula dengan Yulian, ia juga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Arumi.


”Kerjasama apa?”


”Kerjasama apa?”


Secara bersamaan kalimat pertanyaan itu keluar dari bibir Yulian dan Khaira. Sehingga sukses membuat mereka menjadi canggung, kaku dan sejenak merasa hening. Yang tadinya Khaira menegakkan pandangannya kini kembali tertunduk karena merasa malu seorang Yulian telah melontarkan pertanyaan yang sama dengannya.


”Apalagi ini Ya Allah? Jangan libatkan aku dalam hal ini lagi!” batin Khaira.


”Tolong jelaskan kepadaku, Arumi!”

__ADS_1


Akhirnya suara Yulian telah memecahkan keheningan yang sejenak melanda mereka. Lalu, Arumi menjelaskan secara pelan kepada mereka apa tujuan mengajak Khaira untuk kerjasama. Di mana Arumi ingin Khaira menjadi model dalam sesi pemotretan yang beberapa hari lagi akan dilakukan. Namun, itu masih samar, karena Khaira belum memberikan jawaban apapun untuk memastikan dan mengiyakannya.


”Jika kamu tidak mau, kami tidak akan memaksa. Karena itu hak mu, Khaira.”


Dalam hati Yulian ada rasa harap_Khaira mau menerima tawaran Arumi sebagai model sesi pemotretan gamis yang akan segera lounching dalam Aisyah Galery di Edinburgh. Bahkan jika, mampu diterima oleh kebanyakan anak remaja, wanita dewasa dan semua kalangan perempuan, maka Aisyah Galery dijamin akan semakin maju dan bertambah pesat pemasukannya.


”Maaf sebelumnya, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada kalian, apakah boleh?” tanya Khaira dengan nada sopan.


” Silahkan!”


”Kenapa kalian menunjuk saya sebagai modelnya? Bukankah ... Mbak Arumi juga wanita bercadar?” pertanyaan yang begitu menohok Arumi.


”Maafkan saya Khaira, saya tidak selembut dan seanggun Aisyah. Memang benar saya bercadar, tapi saya tidak bisa memerankan seutuhnya jiwa wanita bercadar yang memiliki kadar rasa malu yang amat tinggi. Tapi ... semua saya kembalikan kepada kamu, jika tidak mau ... tidak apa-apa.” Mata kecoklatan itu berembun. Perlahan air mata Arumi luruh dan akhirnya membasahi cadar nya.


Hening...


Sejenak Khaira terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Arumi kepadanya. Begitu sulit untuk sekedar memberikan jawaban iya atau tidak. Khaira masih dibuat bimbang untuk memutuskannya. lagi dan lagi, Khaira melontarkan pertanyaan kepada Arumi yang membuat Arumi semakin bersedih. Di mana masa itu begitu sulit untuk dijalaninya menjadi seorang muslim tanpa kehadiran Aisyah.


”Bukankah seorang model harus berjalan berlengkok-lengkok dan memperlihatkan lekuk tubuh mereka?”


”Saya tahu maksud kamu, Khaira. Tapi ini tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Kamu cukup diam,”


”Maaf, saya tidak bisa. Saya harus pergi sekarang juga.”


Semua terlonjak kaget dengan jawaban Khaira yang diberikan dengan tegas. Menolak keras apa yang diajukan Arumi, Yulian dan Luisa kepadanya. Setelah memberikan penolakan, Khaira memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Dan saat berucap salam Khaira menundukkan pandangannya, semata menyembunyikan air mata yang keluar dari pelupuk matanya.


”Bagaimana jika itu yang meminta Aisyah? Pemilik asli Aisyah Galery? Apakah kamu mau memenuhi permintaannya?” teriak Yulian dengan nada keras.


”Deg.”

__ADS_1


Langkah kembali terhenti, detak jantung Khaira seakan merasa ikut berhenti. Rasa terkejut jelas terlihat dari raut wajahnya yang tersembunyi. Dan sebelum berbalik Khaira menyeka air matanya agar tidak terlihat oleh Yulian dan Arumi, jika ia sedang menangis.


”Apa Yulian mengenliku? Kenapa Dia membawa nama Aisyah yang udah meninggal? Apalagi ini Ya Allah?” batin Khaira.


__ADS_2