
Melakukan tugas ibu rumah tangga sudah menjadi kebiasaan Khadijah setelah menikah dengan Yulian. Karena setiap hari Khadijah melakukannya dengan bantuan bik Inem yang dianggap seperti ibunya sendiri. Begitupun dengan hari ini, setiap selesai sholat subuh Khadijah menjalankan tugasnya di dapur dan Bertempur dengan alat-alat dapur yang sudah tersedia di sana.
Acara sarapan pagi pun telah digelar bersama keluarga besar Yulian, termasuk Papanya yang datang beberapa hari lalu setelah mendapatkan kabar tentang kelahiran Garda. Mungkin Papa Adhi sangatlah asing bagi Khadijah, tetapi ia berusaha untuk tetap bersikap sopan terhadap mertuanya itu.
”Papa mau diambilkan juga?”
”Oh tidak usah, Khadijah. Papa bisa ambil sendiri, kok. Kamu bisa menikmati sarapannya.”
”Iya, Pa. Khadijah mau menyiapkan makanan untuk Cahaya terlebih dahulu. Karena Arjuna sudah mulai bekerja hari ini.”
”Oh iya, silahkan!”
Cahaya sedang menyusui Garda saat Khadijah masuk ke kamarnya. Bibir Cahaya seketika melengkung sempurna sehingga menciptakan senyuman yang indah untuk menyambut kehadiran Khadijah yang jelas tengah membawa nampan yang berisi bubur dan susu untuk ibu menyusui.
”Sarapan dulu sayang ... kalau sudah selesai menyusui Garda.”
”Seharusnya Bunda tidak perlu repot seperti itu. Cahaya nanti bisa mengambil sendiri, kok.”
”Husst, jangan katakan itu. Bunda ini adalah ibu kamu, jadi wajib bagi Bunda untuk melayani kamu yang masih belum memungkinkan untuk melakukan banyak hal sendiri.”
Keduanya saling melemparkan senyum. Dalam hati Cahaya berdecak kagum dengan sosok Khadijah yang memiliki sikap dan sifat lembut seperti Aisyah. Dan rasa syukur telah terucap dalam hatinya atas perhatian yang berlebih bagaikan ibu kandung baginya.
”Sepertinya Garda sudah tertidur, biar Bunda gendong dan kamu lanjut sarapan.”
Cahaya mengangguk. Lalu memindahkan Garda ke gendongan Khadijah. Dan Cahaya berlanjut untuk sarapan agar ASI nya penuh kembali setelah diminum Garda dengan begitu kuatnya.
Air mata sejenak menggenang di mata Khadijah saat menatap Garda dalam gendongannya. Khadijah kembali memutar memorinya saat dulu pernah meninggalkan Hafizha sebelum menggendongnya bahkan memberikan ASI pertamanya.
”Bunda, kenapa?”
”Tidak Cahaya, Bunda hanya ingat saat dulu melahirkan Hafizha. Dulu ... Bunda tidak pernah merasakan momen seperti ini. Pengorbanan seorang ibu itu begitu berat, agar putrinya tidak terjerat dalam kisah masa lalu Bunda. Sehingga Bunda memutuskan untuk pergi dan menitipkan Hafizha kepada Aisyah. Karena Bunda yakin, Hafizha akan bahagia bersamanya.”
”Sudahlah, lupakan saja Cahaya. Anggap saja Bunda tidak pernah mengatakan hal ini kepada kamu. Karena akan sakit saat mengingatnya.”
Cahaya mengangguk, tetapi hatinya terketuk dan merasa berbelas kasih bagaimana pengorbanan Khadijah saat meninggalkan Hafizha yang masih baru lahir. Tetapi Cahaya menepis kan ingatannya akan hal itu, karena ia menghargai bagaimana perasaan Khadijah.
__ADS_1
”Neng, Hubby mau bicara.”
Khadijah mengangguk lalu, merebahkan Garda ke keranjang bayi yang sudah di siapkan oleh Yulian. Dan perlahan langkah kakinya mengekori tubuh Yulian yang sudah berjalan di depannya. Sesampai di kamar Yulian menyiapkan gamis yang begitu indah, tetapi dengan khas Khadijah yang tidak menyukai warna menonjol saat memakai gamis berdesain apapun.
”Pilihlah salah satu di antara gamis itu, karena Hubby ingin mengajak Neng pergi ke kantor Mr. Yuda hari ini. Dan Hubby tidak ingin jika, Neng akan berburuk sangka saat bertemu dengan Mrs. Jennifer.”
Khadijah terkekeh geli melihat Yulian yang menyiapkan segalanya untuk menciptakan momen tanpa rasa cemburu yang akan membara dan membuat Khadijah merajuk.
Khadijah memilih salah satu gamis yang sudah disiapkan Yulian untuknya. Memilih warna abu-abu dengan motif yang begitu simpel, sehingga tidak akan menjadi pusat perhatian semua orang terutama kaum adam saat melihat Khadijah. Karena itu akan menjadikan sifat yang tabaruj jika Khadijah memilih warna yang mencolok untuk membalut tubuhnya.
”Hubby, apa tidak masalah jika ... Neng ikut?”
”Tidak, dong. Demi Neng, Hubby akan melakukannya. Lagipula Arumi jiga akan ikut bersama Tristan. Jadi, Neng tidak akan sendiri di sana nanti.”
Senyum mengembang dengan sempurna, sehingga mata Khadijah terlihat begitu sipit. Yang membuat Yulian semakin jatuh hati saat memandang eloknya wanita yang kini menjadi bidadari dalam hati dan hidupnya.
Tanpa menunggu waktu lama lagi Khadijah dan Yulian langsung tancap gas menuju ke TKP tanpa adanya Abdullah yang mengantar mereka. Karena Abdullah harus mengantar Hafizha ke sekolah.
”Hubby, Neng kok malu ya mau menyapa Papa Adhi. Sepertinya itu ... ada yang aneh, rasa sungkan.”
”Neng tidak perlu sungkan sama Papa Adhi. Beliau itu orang yang baik, tidak mudah marah sama siapapun. Anggap saja seperti Papa Neng sendiri, karena Papa Adhi sudah menganggap Neng sebagai putri kandungnya.”
Mata Khadijah berkedip-kedip seperti boneka. Dan itu membuat Yulian semakin gemas dengan Khadijah. Ingin ia menerkam nya saat itu juga, tetapi Yulian tahu diri harus bersikap bagaimana. Sehingga desiran hebat yang sempat menjalar ke tubuhnya segera ia tahan bagaimana pun caranya.
Setelah beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di kantor Mr. Yuda. Dan tidak lama kemudian disusul mobil Tristan yang juga sudah sampai di sana. Sehingga mereka masuk bersama ke dalam gedung yang dibangun begitu besar, tinggi dan megah.
”Subhanallah, banyak sekali properti dan lukisan yang begitu indah.” Ungkap Khadijah saat melihat beberapa properti dan lukisan yang terpampang di sana.
Khadijah dan Arumi terus berdecak kagum dengan keindahan lukisan yang sudah diciptakan dengan kesempurnaan. Terasa begitu nyata, saat Khadijah melihat lukisan seorang lelaki yang rela mengorbankan nyawa agar wanitanya tetap hidup di dunia.
’Indah, Ya Allah.’
Netra Khadijah terus memindai setiap lukisan yang menempel di dinding setiap ruangan. Hingga pandangannya terhenti saat Mrs. Jennifer berada di dalam ruangan Mr. Yuda.
”Hallo, Nyonya Khadijah dan Nyonya Arumi.”
__ADS_1
Jennifer menyapa Khadijah dan Arumi dengan begitu lembut. Tetapi mata Jennifer tak hentinya memandang Khadijah dengan tatapan yang sulit di artikan.
Yulian dan Tristan memperkenalkan istri mereka kepada Mr. Yuda. Yang menyambut dengan hangat atas kehadiran mereka. Canda dan tawa riuh telah memenuhi ruangan Mr. Yuda yang amat luas. Bahkan di sana Mr. Yuda menyajikan makan siang untuk dijadikan santapan mereka bersama, yang sudah dipesan sebelumnya oleh Mr. Yuda dari sebuah kafe yang cukup terkenal dengan berbagai khas makanan dari mancanegara.
”Silahkan, nikmati saja makan siang kita bersama. Jarang sekali kita akan bertemu rame seperti ini.”
Kembali tawa lepas begitu saja dan memekik telinga.
Dan mereka pun menyantap makan siang dengan rasa syukur yang berlimpah. Dan beberapa menit kemudian Khadijah minta ijin untuk pergi ke toilet sebentar yang ditemani oleh Jennifer. Karena Jennifer yang menjadi petunjuk jalan saat pergi ke toilet, yang jaraknya cukup jauh dari ruangan itu.
”Khadijah.”
”Ada apa, ya?”
”Jauh berbeda dengan Khadijah yang dulu. Apa kain yang menutupi wajahmu ini hanyalah penutup kedokmu yang dulu saja, hah?”
Khadijah begutu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Jennifer. Penasaran pun menyelimuti Khadijah, sehingga pertanyaan telah dilontarkannya untuk memastikan siapa Jennifer yang sebenarnya.
”Apa maksud, Anda?”
”Jangan berpura-pura polos di depanku, Khadijah. Masa kamu tidak ingat denganku? Jennifer Leonard.”
Mata Khadijah terbelalak saat medengar nama itu. Karena ia tahu betul siapa pemilik nama Jennifer Leonard. Tak lain adalah wanita yang dijadikan selingkuhan Alex, ayah kandung Khadijah serta ayah dari Hafizha.
”Lalu, apa maksud dari perkataan kamu?”
Khadijah berusaha tenang dan seolah tidak mengenal Jennifer.
”Aku hanya merasa heran saja ... bagaimana seorang Yulian yang memiliki hati begitu baik bisa menjadi suamimu, wanita yang tidak baik-baik. Wanita yang memiliki masa kelam bersama ayahnya sendiri.”
”Terima kasih, karena kamu sudah mengingatkan betul masa lalu saya yang kelam. Jika kamu mempermasalahkan suamiku, maka saya akan menjawab bahwa pertemuan di antara saya dengan Mas Yulian itu adalah takdir yang indah ... yang sudah diciptakan Allah SWT untuk kami.”
Hati Khadijah berkecamuk, ingin rasanya ja menjadi seperti dulu. Tidak peduli dengan perasaan orang lain, sehingga dengan bebas bisa membalas ucapan Jennifer yang tidak ia sukai. Namun kini berbeda, Khadijah yang dulu sudah hilang dari muka bumi. Dan yang ada hanya Khadijah berhati lemah lembut, memiliki jiwa yang tangguh, tetapi saat ini ia merasa rapuh. Bayangan Yulian yang menyanyanginya begitu tulus sejenak menari-nari di pelupuk matanya. Ada rasa takut jika Yulian mengetahui pedihnya masa lalu yang sudah di alaminya. Entah Aisyah menceritakan akan hal itu kepada Yulian atau tidak.
Dengan air mata yang tidak dapat di bendung Khadijah pergi meninggalkan Jennifer yang masih berada di toilet. Bahkan Khadijah tidak kembali ke ruangan Mr. Yuda.
__ADS_1