
Hafizha manggut-manggut, ia mengerti apa yang dimaksud Khadijah. Dan tepat pukul jam setengah delapan malam Hafizha di antar oleh Abdullah ke rumah Mariana.
Di dalam ruangan itu hanya ada Yulian, Khadijah, Ahtar dan juga Humaira. Seakan Yulian ingin melakukan persidangan kepada Ahtar dan Humaira. Karena Yulian tidak mau percaya begitu saja dengan omongan Humaira tentang seorang wanita yang melarangnya untuk mendekati Ahtar.
“Sekarang Abi dan Bunda mau bicara dengan kalian berdua. Dan kami mohon kalian menjawab dengan jujur setiap pertanyaan kami.” Yulian menatap Humaira dan Ahtar dengan tatapan tajam.
“Baik, Abi... Bunda.” Ahtar mengangguk.
Humaira hanya menunduk sembari mengangguk. Dan sikap Humaira membuat Khadijah merasa aneh dalam setiap gerak geriknya. Bahkan Humaira tidak berani menatap Yulian maupun Khadijah yang sesama wanita. Seperti ada hal yang tersembunyi, yang ditutup dengan rapat.
“Untuk pertanyaan pertama Abi akan ajukan kepada kamu, Ahtar.”
“Baik, Abi.”
__ADS_1
“Apa kamu memiliki teman seorang perempuan? Tepatnya teman istimewa.” Yulian menatap Ahtar tajam.
Pertanyaan itu sontak membuat Ahtar menatap Yulian dengan tatapan penuh tanya.
“Maksud Abi apa? Mana mungkin Ahtar memiliki teman perempuan? Jangan aneh, Bi.”
“Lalu... siapa wanita yang bernama Ezra?” tanya Yulian menyelidik.
Ahtar mencoba mengingat nama yang disebut oleh Yulain, siapa tahu saja ia memang memiliki teman dengan nama itu. Namun, Ahtar tetap tidak mengingat pemilik nama Ezra. Bahkan Ahtar merasa tidak mengenal nama itu.
“Deg...”
Hati Humaira seketika merasakan debaran yang tidak beraturan, tetapi bukan debaran hati yang meleyot saat bertatapan dengan seorang lelaki, melainkan debaran yang dirasakan karena rasa takut.
__ADS_1
“Humaira, bagaiamana? Bisakah kamu menjelaskan apa yang dikatakan Ahtar?”
Humaira terdiam, mencoba berpikir bagaimana cara menjawab perkataan Yulian yang memojokkan dirinya. Bahkan setelah Ahtar mengatakan hal yang jujur membut Humaira semakin merasa takut.
“Humaira, jika kamu tidak sedang membohongi kami maka jelaskan kepada kami. yang sejujurnya. Siapa wanita pemilik nama Ezra?”
“Maafkan Humaira, Om dan Bunda Khadijah. Tetapi Humaira benar-benar tidak tahu semua itu, yang Humaira tahu Ezra adalah wanita yang memang bekerja di tempat itu. Tapi sungguh, Humaira tidak bermaksud membohongi kalian.” Binar mata Humaira memperlihatkan binar mata ketakutan.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal? Bukannya tadi Om sudah memberikan kamu waktu untuk menjawab dengan jujur, tapi kamu justru berbohong.”
Humaira hanya diam, ia tidak mau mengatakan apapun sebagai pembelaannya. Karena Humaira memang mengaku salah sudah berbohong dan mengarang cerita tentang wanita yang bernama Ezra. Karena nama itupun sebenarnya tidak ada hanya karangan Humaira saja. Lantas, kenapa Humaira berada di tempat wanita malam?
“Kalau begitu jelaskan apa maksud kamu berbohong seperti itu? Meskipun kami bukan orang tuamu, tapi kami wajib membimbingmu ke jalan yang benar Humaira. Bahkan kamu harusnya tahu, karena kamu sempat menempuh pendidikan di kota Tarim. Lantas, apa ini?”
__ADS_1
Humaira tidak bergeming, hanya tetesan air mata yang membasahi cadar hitamnya.