
Yulian menandatangani surat itu, dan pertemuan pun telah diakhiri setelah mendapatkan sebuah titik temu yang menjadi hasil pertemuan mereka. Dan saat Yulian hendak keluar dengan Aidan tanpa sengaja ia melihat Himaira yang duduk di sisi pojok kanan restoran itu dengan seorang lelaki. Akan tetapi Yulian tidak dait melihat siapa lelaki itu dengan jelas, karena wajah lelaki itu tertutupi oleh tiang.
‘Kira-kira siapa lelaki itu? Mengapa tidak jelas wajahnya?’
Rasa penasaran pun memuncak, hingga membuat Yulian kembali mencari duduk di sisi kiri Humaira untuk mencari tahu siapa lelaki itu.
“Aku mencintaimu, Humaira. Ijinkan aku menemui kedua orang tuamu dan menyatakan tujuanku kepada mereka.” Fadil menatap Humaira yang tengah menundukkan pandangannya.
“Maafkan aku, kak Fadil tapi... aku tidak bisa melakukan itu. Aku... belum siap untuk menikah. Maaf, sekarang aku harus pergi. Assalamu'alaikum,”
Setelah mengucapkan salam Humaura seketika pergi dari restoran itu. Dan lelaki yang bernama Fadil tidak bisa mencegah Humaira yang sudah oergi jauh darinya. Meskipun seorang Fadil ingin mengikat Humaira dengan janji suci, tetapi Fadil juga tidak ingin memaksa Humaira yang seringkali memberi penolakan kepadanya.
‘Fadil? Nama itu... mengingatkanku dengan Kak Fadil, kakak kandung Aisyah. Entah mengapa sampai saat ini aku merasa sepi jika bayangan kalian semua melintas walaupun hanya sekelebat saja. Rindu terkadang menyeruak saat aku menginginkan kebersamaan keluarga kita seperti dulu. Tapi Allah berkehendak lain, dan sekarang kalian bahagia di sana.’ Yulian membuka dompetnya dan melihat foto yang membidik gambar anggota keluarga besar Aisyah.
‘Tidak Yulian, itu hanya masa lalu yang harus kamu jaga, tetapi tidak untuk dirindukan. Ingat, ada Khadijah dan Abizzar dalam hidupku.’
Setelah melihat Humaira yang menghilang dari restoran, Yulian memutuskan untuk segera kembali ke kantor dan melihat beberapa dokumen keuangan yang belum sempat dicek olehnya. Hanya Arman yang dijadikan orang kepercayaan nya dalam memegang keuangann kantor yang masuk maupun keluar.
Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang, saat perjalanan kembali Yulian melihat Humaira tengah berada di sebuah tempat yang memang tidak pantas untuk dikunjungi. Sehingga Yulian memutuskan untuk menghentikan mobilnya setelah berada di pinggir jalan.
”Humaira,” panggil Yulian pelan.
Humaira yang mengenali suara Yulian seketika menoleh, ia dibuat takut dengan kehadiran Yulian yang secara tiba-tiba.
“Ada apa? Kenapa kamu mendatangi tempat seperti ini? Seharusnya kamu tahu, ini bukanlah tempat yang baik dan pantas untuk kamu kunjungi. Ayo, ikut Om pulang sekarang juga!”
Yulian tidak akan memarahi Humaira di sana, karena akan membuat malu saja jika dipinggir jalan Yulian marah-marah dan hasilnya akan ada setiap sepasang mata yang melihat kemarahannya itu.
“Baik, Om.” Humaira mengangguk.
__ADS_1
Humaira merasa takut, jika Yulian akan marah kepadanya. Meksipun ada tujuan lain di tempat itu, tetapi Humaira tidak ingin memancing pembicaraan tentang masalah itu. Jika menimbulkan ribut besar maka, kedua orang tuanya dapat dipastikan akan tahu dan marah kepadanya pula. Sehingga Humaira hanya diam saja disepanjang jalan.
“Mandilah! Setelah itu, Om mau bicara denganmu. Temui Om Yulian di ruang mushola rumah ini.” Yulian meninggalkan Humaira setelah berada di dalam rumah.
“Baik, Om.”
Humaira seketika menuju ke kamarnya dengan langkah cepat, sehingga ia tidak menyadari jika ada Hafizha dan bik Insm yang sedang berada di ruang tengah.
“Ada apa ya dengan Mbak Humaira itu?”
Dan... jiwa bik Inem pun meronta ingin tahu, istilahnya di jaman sekarang adalah kepo.
“Mana Izha tahu lah, Bik. Ngapain juga ngurusin orang lain, meskipun... perilakunya salah.” Hafizha mengendikkan bahunya.
“Salah bagaimana sih, Non? Memangnya mbak Humaira pernah melakukan kesalahan apa?”
“Rahasia. Sudah ah, jangan ngegibah melulu bik. Ingat... Do... SA.” Hafizha terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore, tepatnya pukul lima sore kala itu. Yulian yang sudah pulang dari kantor pun segera menuju ke kamarnya untuk membersihkan tibuhnya yang terasa lengket karena keringat mengucuri punggung dan anggota tubuhnya yang lain.
“Assalamu'alaikum, Neng.” Yulian membuka pintu kamarnya.
“Wa'alaikumsalam. Eh, Hubby sudah pulang ternyata.” Khadijah segera menyalami tangan Yulian.
“Ya sudah, Hubby mau mandi dulu setelah itu Hubby mau bicara dengan Humaira.”
Yulian masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritualnya di dalam sana.
__ADS_1
“Anak Bunda sudah ganteng nih! Sekarang... kita turun dulu yuk, mencari tante Hafizha.” Khadijah menggendong Abizzar.
Setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Yulian, Khadijah menggendong Abizzar ke bawah dan mencari keberadaan Hafizha. Namun yang ditemui bukan Hafizha maupun bik Inem, melainkan papa Adhi.
“Mau kamu ajak kemana Abizzar, Khadijah?”
“Ini Pa, Khadijah sedang mencari Hafizha untuk memintanya menjaga Abizzar. Karena Khadijah mau keluar sebentar ke toko untuk membeli keperluan Khadijah.” Khadijah menyunggingkan senyum.
“Ya sudah, biar Papa saja yang menjaga Abizzar. Kamu pergi saja dulu tak apa.”
Karena ada hal yang ingin dibeli secara mendesak Khadijah memberikan Abizzar ke dalam gendongan papa Adhi. Dengan mengendarai motor Khadijah mencari toko terdekat untuk membeli keperluannya. Dan keperluan Khadijah bersifat rahasia, tidak baik jka disebutkan di sini. Wkwkwk
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Istri yang baik, terima kasih Khadijah karena... kamu selalu menyempatkan diri untuk menyiapkan pakaianku. Seperti...” Yulian menggantungkan ucapannya ke udara.
Yulian segera memakai baju koko berwarna coklat muda dengan sarungnya yang bermotif wayang, sesuai yahh sudah disiapkan Khadijah untuknya.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ushalliy fardhal-ashri arba'a raka'atin mustaqbilal-qiblati ada-an ma'muman lillahi ta'ala.”
“Allahu akbar...”
Yulian mengangkat kedua tangannya, dan gerakan sholat empat rakaat telah ia tunaikan dengan khusu'. Tidak lupa juga kalimat dzikir dan sholawat selalu ia baca setelah melakukan sujud terakhir. Dan setelah itu hal yang paling akhir dilakukan Yulian adalah membaca doa.
“Ya Allah Ya Robbi. Hamba tahu hamba bukanlah manusia yang memiliki sifat sempurna. Bahkan kebaikan pun hamba tidak memilikinya, terkadang... api kemarahan menyulut dalam hati ini. Dan kini hamba kembalikan amarah itu kepada-Mu, hamba ingin memiliki sifat penyayang dalam diri hamba. Bahkan saat melihat anak gadis teman hamba tengah berada di tepat yang Engkau benci, hamba kngin Engkau melembutkan hati hamba saat menuturkan hal baik kepada Humaira. Aamiin...”
Empat rakaat pun telah usai ditunaikan oleh Yulian, sekarang saatnya ia hanya duduk sembari menanti kehadiran Humaira yang mengiyakan permintaannya tadi.
“Assalamu'alaikum, Om Yulian.” Humaira mengetuk pintu.
__ADS_1
“Wa'alaikumsalam, duduklah kamu, Humaira.” Yulian menunjuk tempat yang nyaman untuk Humaira duduk.
Bersambung....