
Hal itu membuat Khadijah mengurungkan niatnya untuk menghampiri Yulian, tetapi belum sempat ia kembali memutar arah Yulian sudah memanggilnya dan melambaikan tangan kepadanya. Bahkan Yulian meminta Khadijah untuk menemuinya di taman itu.
“Bagaimana ini Ya Allah? Papa tidak boleh tahu jika itu Yulian dan ini aku. Dan aku... aku harus memenuhi panggilan Yulian.”
Khadijah mengurungkan niatnya untuk memutar arah, dan kini Khadijah melanjutkan langkahnya menuju di mana Yulian berdiri di taman itu.
Ingin rasanya Khadijah abai dan tidak berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Alex di depannya. Tetapi...
“Bruak...”
Ternyata hal tak terduga telah terjadi, Khadijah mengalami kecelakaan yang membuat tubuhnya terpental jauh dari lokasi awal setelah sebuah truk menabraknya.
Kecelakaan itu membuat Yulian diam terpaku, bagaikan petir telah menyambarnya dengan sangat keras. Jantung nya pun seakan berhenti berdetak, lidahnya kelu dan kakinya pun terasa begitu kaku. Namun Yulian harus berusaha kuat, tidak ingin merasa rapuh dan menjadi orang yang sangat terluka.
“Neng Khadijah...” teriak Yulian.
Yulian berlari menghampiri tubuh Khadijah yang tergeletak di pinggir jalan. Terlihat banyak bersimpah darah yang keluar dari kepala Khadijah. Membuat Yulian merasa lemas tidak berdaya.
“Neng... Bertahanlah! Berjanjilah untuk kuat. Hiks... Hiks... Hiks...” Air mata Yupian pun meluruh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Suara apa itu, Mas?” tanya Cahaya.
“Mas juga tidak tahu. Mungkin... kecelakaan.”
Suara itu begitu keras hingga Cahaya dan Arjuna mampu mendengarnya saat berada di dalam rumah. Karena merasa penasaran mereka pun segera keluar untuk memastikan suara apa yang sudah mereka dengar.
“Mas, bukankah itu... Abi.” Khadijah menunjuk ke arah ujung jalan.
__ADS_1
“Deg...”
“Bunda...”
Seketika Arjuna dan Cahaya berlari menuju di mana Yulian tengah duduk bersimpuh sembari memangku kepala Khadijah. Dan tangis pun pecah saat Cahaya dan Arjuna tahu bagaimana kondisi Khadijah yang cukup parah.
“Dek Cahaya, kamu tenangkan Abi sebentar. Mas mau menelpon ambulans terlebih dahulu.” Arjuna merogoh ponselnya yang berada di dalam saku celananya.
Tidak lama kemudian sambungan telepon telah di terhubung, dengan segera Arjuna meminta ambulans segera datang di Jalan Victoria. Dan setelah menghubungi ambulans Arjuna beralih ke nama Ahtar, lalu menghubungi nomornya tetapi tidak ada jawaban sekalipun dari Ahtar.
“Dek, kenapa kamu tidak angkat teleponnya? Ini darurat.” Arjuna terus berusaha menghubungi Ahtar, tetapi hasilnya masih sama, tidak ada jawaban.
“Hafizha, aku akan mencoba menghubunginya.”
Tidak lama kemudian panggilan telepon Arjuna diterima oleh Hafizha. Sejenak Arjuna mengatur nafas yang menderu.
“Assalamu'alaikum, Bang Juna.” Dari seberang Hafizha mengucap salam dengan lembut.
Tiba-tiba lidahnya begitu kelu untuk memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpa Khadijah kepada Hafizha dan juga Ahtar yang mungkin saja mereka masih bersama. Namun, apapun yang terjadi Hafizha dan Ahtar harus tahu bagaimana kondisi Khadijah.
“Bang... masih di sana, kan?”
Pertanyaan Hafizha membuat lamunan Arjuna terbuyarkan.
“Ah iya, Abang masih di sini. Dan... Abang mau memberitahukan sesuatu hal kepadamu, Dek. Tapi... jangan terkejut, tenangkan hatimu setelah mendengarnya.” Arjuna mengatur nafas panjangnya.
“Apa, bang?” tanya Hafizha yang sudah tidak sabar lagi ingin mendengarnya.
“Dek... Bunda mengalami kecelakaan...”
__ADS_1
Arjuna menceritakan apa yang sedang dilihatnya, di mana parahnya kecelakaan Khadijah yang menyayat hati saat menceritakannya.
“Deg...”
Hafizha berdiri mematung, ia menjatuhkan ponselnya setelah mendengar kabar itu dari Arjuna. Air matanya pun tidak mampu terbendung, tumpah dan mengalir bagaikan air sungai yang mengalir deras.
Tubuh Hafizha hampir saja ambruk, untung saja ada Ahtar yang siaga. Dan ketika melihat Hafizha yang menangis tergugu membuat Ahtar merasa khawatir. Jika saja adiknya itu sudah dijahati oleh seseorang dan tidak bisa melawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Dek, kamu temani anak-anak di rumah bersama bik Inem. Katakan kepada bik Inem apa yang baru saja terjadi, sekaligus mintalah kepada beliau untuk memberikan doa kepada Bunda.”
“Baik, Mas. Kalian hati-hati!”
Arjuna mengangguk, lalu memindahkan tubuh Khadijah di atas brankar rumah sakit dengan pelan yang dibantu oleh Yulian dan petugas sopir ambulans.
Arjuna memasangkan jarum infus ke punggung tangan Khadijah. Setelah itu Arjuna memeriksa detak jantung Khadijah untuk memastikan kondisi Khadijah saat itu.
‘Alhamdulillah, Bunda masih bisa bertahan.’ Arjuna bermonolog dalam hati.
“Abi,” panggil Arjuna lirih.
Sungguh Arjuna merasa pilu melihat hancurnya seorang Yulian untuk ketiga kalinya. Karena hanya Arjuna yang tahu bagaimana pedihnya seorang Yulian saat Aisyah koma pasca melahirkan Ahtar, lalu meninggalnya Aisyah karena penyakit yang dideritanya. Dan saat ini terulang kembali Khadijah mengalami kecelakaan hebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Pegangan yang erat saat berada diboncengan Abang, Dek. Karena Abang akan sedikit kebut agar segera sampai di rumah sakit.” Ahtar menafika kedua lengan Hafizha dan meminta Hafizha untuk mengeratkan pegangannya.
Hafizha mengangguk, memegang erat baju hem yang dipakai Ahtar saat itu. Dan di sepanjang jalan Hafizha tak hentinya menangis.
__ADS_1
‘Rasanya tidak enak sekali, Ya Allah. hamba merasa hampa saat mendapatkan kabar ini. Hamba mohon kepadaMu Ya Allah, selamatkanlah Bunda Khadijah.’
Bersambung...